Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pemahaman Baik, Samudera Kebahagiaan

Pemahaman Baik, Samudera Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sepertinya kita harus belajar banyak dari seorang tukang parkir. Bagaimana tidak? Karena lewat dia ada pelajaran tentang makna hidup yang bisa didapat. Ada makna penerimaan tulus yang bisa dipetik.

Seorang tukang parkir bekerja seharian penuh menjaga kendaraan bermotor milik orang lain. Mulai dari mobil yang sederhana sampai mobil berkelas yang mahal harganya. Mulai dari sepeda motor yang standar hingga sepeda motor yang berjibun harganya. Ketika ada kendaraan masuk maka si tukang parkir bergegas menyongsong kendaraan itu, namun ketika kendaraan tersebut keluar dari tempat parkir maka si tukang parkir pun membiarkan kendaraan itu pergi. Dia tidak ngotot dengan kendaraan yang pergi, karena toh dia sadar mobil dan motor itu bukan miliknya. Kewajibannya hanya menjaga barang tersebut, jika pemiliknya datang maka dengan kerelaan dia membiarkan sang pemilik membawa apa yang menjadi miliknya itu. Sampai di sini bisakah kita pahami? Bahwa semua yang ada dan menemani kita saat ini sejatinya bukanlah milik kita. Apakah dia itu orang tua kita, apakah dia itu teman, apakah dia itu barang-barang kesayangan kita, atau apapun itu sebenarnya semuanya hanyalah hak pakai bagi kita termasuk jiwa kita sekalipun. Sesuai dengan analogi di atas, maka si tukang parkir adalah kita dan semua yang menemani kita saat ini adalah kendaraan bermotor yang sedang diparkir dan kita berkesempatan untuk menjaganya, namun hanya beberapa saat. Sebab pemilik sejati dari semua itu hanyalah Allah yang memiliki hak untuk mengambil apa yang telah Dia titipkan kepada kita.

Nah, jika kesadaran seperti itu yang kita kembangkan maka jelas kebahagiaan hidup akan mendapati diri kita. Kenapa? Karena sejatinya jika hati telah memahami hakikat keberadaan sesuatu di dunia dan paham sekali kalau semuanya akan binasa maka kesungguhan untuk selalu berbuat baik dari hari ke hari akan muncul. Tidak ada kesedihan yang terlalu berlebihan jika kita kehilangan sesuatu yang teramat disayang, sebab kita paham semuanya hanyalah milik Allah. Yang perlu kita lakukan ketika kejadian menyakitkan itu terjadi dan menimpa diri kita adalah mengintrospeksi diri dan bersabar. Semoga ALLAH ganti dengan yang lebih baik. Pun begitu halnya jika kegembiraan menyapa hidup kita, tidak ada rasa girang yang berlebihan yang bahkan mampu membuat kita lalai dan merasa sedikit sombong, karena sejatinya kita tahu rasa itu tidak akan kekal dan mungkin saja ALLAH sedang menguji kita dengan segala kesempatan bagus dan kebercukupan.

Sulit memang menjadi orang yang sadar tentang pemahaman ini, namun itulah tugas kita. Menyelami diri, membenamkannya dalam hakikat pemahaman baik atas segala kejadian yang menimpa diri.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik