Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merawat Kuncup di Musim Politik

Merawat Kuncup di Musim Politik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Tuan, kau tak perlu menghabiskan ribuan batang pohon itu, untuk dijadikan lembar lembar mutaba’ah yang rapi jua teratur, kau hanya perlu memotivasinya, menyuntik semangat padanya.

Kau tak perlu menegaskan ukir urat marah di lehermu, atau menekur sayu dalam tatap lesumu, akan betapa buruk kemajuannya.

Yang perlu kau lakukan hanya, seperti yang diungkap akhir surat Al-Fath. Merawat tunas itu, terus sampai ia besar, kokoh…  kelak kau akan dapati kebahagiaan, dan mereka akan peroleh jengkel, marah…

Tuan, kaupun demikian, sejatinya kau juga masih di kategori tunas, yang perlu dirawat, dimotivasi. Tapi kini kau telah punya lengan, jangkauan, kau bisa menyiram dirimu sendiri, kau bisa auto motivating, tarbiyah dzatiyah itu.

Kau tak bisa, kau tak boleh berdiri nyaman di atas khusnudzanmu akan betapa hebat pertahanan dirinya, betapa sempurna motivasi sepuluh tahun lalu itu melekat di jiwanya. Kau perlu ngobrol santai dengannya, dengan bahasa yang ia pahami, dengan intonasi yang dapat membekas dalam ringkih jiwa di saat lemah ruhiyahnya itu.

Ini seputar hal hal kecil saja, shalat berjamaah, shawamah dan qawamah…

Dengan bahasanya, dengan frekuensinya, ngobrol tuan! Bukan perintah, apalagi murka. Dan kau tak bisa menganggapnya cukup cekatan mengoleksi segala tarbi dzatiyah dari celah celah zaman itu.

Itulah mengapa, dia sering menemukan siklus hari hari berat dalam jejak jejak ruhiyahnya, dan menemukan hari hari manis di bagian lainnya. Karena sungguh dia, dan kaupun mengakuinya, betapa manusianya dirinya, engkau tuan…

Karena ia mengingat, karena engkau mengingat, bahwa syahdan, Syaikh tarbiyah itu pernah berujar merdu pada sang menteri komunikasi, tentang tunas ini yang tak boleh kau tinggal begitu saja, setelah kau tanam, rawat ia dengan cinta, dengan sebagaimana keluwesan petani dakwah seharusnya.

Kalau kalau kau mau menjawab, bahwasanya kau tak pernah meninggalkannya, apalagi engkau meninggalkan dirimu sendiri, kalian selalu dalam koridor yang seharusnya! Maka berkenanlah buka halaman halaman sebelumnya. Ragamu mungkin ada di sana, tapi bisa jadi kadang tidak dengan hatimu…

Tuan, ini mestinya pekerjaan jangka panjang yang tak lekang dimakan musim politik, tapi bilangan sisa beberapa bulan ini juga tidak membatasimu untuk berkata terlambat. Ketuk pintunya, kalau kaupun merasa gersang, gersanglah bersamanya, menceburlah bersamanya, menangislah bersamanya…

Karena jauh sebelum raga raga itu bertemu dalam seriusnya struktur, tegasnya komando, gentingnya medan perang, undanglah hati hati mereka dalam reuni cinta denganmu, atau bertamulah padanya, buat pesta cinta kecil kecilan…

Kiranya ini akan menjadi energi tambahan bagi ruang kosong pasukan ruhiyah yang akan maju duluan membela dakwah yang dengan lancang kini dinista kaki tangan thagut Army itu…

Tuan…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Mencontoh Nabi dalam Berpolitik