Home / Pemuda / Cerpen / Aku dan Si Mbah

Aku dan Si Mbah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comEntahlah! Rasanya tidak masuk akal bagiku ketika kudengar cerita Uwakku tentang Mbah Saif. Sosok yang belakangan ini kerap kudengar namanya dari mulut-mulut keluargaku, ah tidak! Sudah merembet pula rupanya pada tetangga kiri kanan rumahku. Pasalnya, cerita ini dimulai ketika seminggu yang lalu Uwak Tiur diminta untuk menemani salah seorang temannya di pabrik, pergi berobat.

Sudah sebulan belakangan ini, temannya itu merasakan sakit di kepala. Bermacam-macam obat sakit kepala yang dibelinya di kedai dekat rumah maupun pabrik, tak ada yang berhasil menyembuhkannya. Ke dokter, ia tak mau. Biaya mahal, diagnosa penyakit pun tak jelas menurutnya. Jadilah mereka pergi ke rumah Mbah Saif atas saran dari penjual obat dekat pabrik. Berdua dengan kereta, mereka melewati jalanan yang penuh dengan pohon-pohon tua. Hingga di ujung belokan jalan, tampak rumah panggung sesuai alamat yang diberikan penjual obat siang tadi.

“Ada paku-paku yang keluar dari kepala temenku itu. Berkarat, namun ada juga yang masih baru. Banyak! Ada 12 paku.”

“Seharusnya Wak ambil. Lumayan buat persediaan paku di rumah.”

“Asal kau tau, pakunya harus dibuang ke sungai atau ditanam. Bukan buat dipakai lagi. Nanti bisa kau pula yang kena santet!” Repet Wak Tiur padaku.

Uwak Tiur mempercayai kehebatan Mbah Saif, sebab mujurnya, esok tak ada lagi keluhan sakit di kepala yang keluar dari mulut temannya itu.

Cerita yang hebat itu mempengaruhi Bu Rustam. Mertuanya yang lumpuh, hendak ia bawa ke Mbah Saif agar sembuh dan bisa berjalan kembali. Hanya saja proses itu belum sempat ia lakukan, mengingat harus keluar kota selama tiga hari dalam tugas dinas. Tapi tak sama dengan Mpok Niluh. Ia begitu semangat membawa anak gadisnya bertemu Mbah Saif agar segera mendapat jodoh. Usia anak perawannya yang hampir kepala tiga itu ternyata membuat Mpok Niluh kalut tak dapat mantu.

Dari Mbah Saif mereka mendapat “oleh-oleh” bunga-bunga cantik untuk dimandikan, jamu untuk diminum, dan dibukakan aura. Aura apa coba? Bentuknya pun tak jelas! Aura yang kutahu, ya Aura Kasih penyanyi di TV. Namun lagi-lagi komentarku di pandang sinis.

“Bau kencur mana ngerti!”

Hebatnya lagi, penjual kedai nasi di depan kompleks rumahku jadi laris manis setelah mengunjungi Mbah Saif. Padahal dulunya sepi. Aku jadi penasaran bagaimana ia melakukan semua ini?

“Jadi bertambah rezekinya Uni,”

“Iya Alhamdulillah, Mbah Saif rancak!”

“Hm, ramai karena oleh-oleh Mbah Saif, atau karena harga yang diturunkan ya?” komentarku yang spontan itu mendapat cubitan dari Mama dan tatapan polos dari Uni.

***

Pagi-pagi perutku rasanya sakit sekali. Bajuku basah karena keringat dingin menahan sakit. Aku berteriak-teriak memanggil Mama, namun sampai suaraku tertahan di kerongkongan tak dapat di keluarkan, Mama tetap tak jua datang menghampiri. Kupecahkan saja gelas yang ada di meja untuk menarik perhatian. Dan berhasil! Mama datang.

“Ya Allah, kamu kenapa, Nak?”

“Sakit perut, Ma.”

“Sampai keringat dingin, Mama carikan obat dulu ya.”

Sepuluh menit berikutnya Mama kembali dengan obat sakit perut. Kuminum, lalu istirahat sejenak. Dua jam berikutnya aku berulah lagi. Perutku kembali sakit. Mama mencoba mengolesiku dengan minyak yang dicampur bawang merah, lalu aku disuruh tidur. Namun ulahku belum selesai sampai di situ, karena esok paginya aku merengek sakit perut lagi.

“Kita bawa ke tempat Mbah Saif aja, Yan,”

“Ke dokter saja lah kak Tiur.”

“Kau ini, dokter sekarang tak bisa dipercaya. Sudah, kutemani kau ke sana.”

Sepanjang jalan ke tempat Mbah Saif, Uwak Tiur mengomentari sikapku yang selama ini sering menjelek-jelekkan Mbah Saif. Uwakku yang tambun itu mengatakan, aku harus menyesali semua komentarku yang lalu, kalau nanti Mbah Saif berhasil menyembuhkanku.

Parahnya lagi, ia menduga sakit perut yang kualami karena kualat sering mengatai Mbah Saif. Ah, Uwakku itu, ternyata sudah banyak meninggalkan….

***

Kedatangan kami disambut seorang lelaki sepuh. Penampilan yang tercermin dari orang yang dibanggakan uwakku ini terlihat seperti layaknya seorang Kiai besar. Ia mempersilakan kami masuk dan tak banyak basa-basi, langsung menanyakan sakitku.

“Sakit apa?”

“Perutnya Mbah, dari kemarin katanya sakit. Udah dikasih obat dan disapukan minyak bawang, tapi belum sembuh juga.”

“Golekkan dia di sini.”

Aku disuruh berbaring di hadapan lelaki sepuh ini. Ia memeriksa perutku yang di atasnya telah ia taruhkan kain sarung, lalu perlahan ia menarik sesuatu dari perutku.

“Bungkusan hitam?” Pekik Mama dengan penuh keheranan.

“Setelah ini langsung dibuang saja ke sungai. Besok kembali lagi.” Komentarnya singkat dan dingin.

Besoknya bukan bungkusan hitam tak jelas entah apa isinya lagi yang keluar dari perutku, tapi beberapa jarum patah yang semuanya berkarat. Mama bolak-balik istighfar melihatnya. Di hari ketiga kedatanganku, banyak tamu yang berkunjung mengharap kesembuhan dari Mbah Saif. Ada lima belas orang, tak terhitung dengan keluarga yang ikut mengantar. Ini waktu yang tepat bagiku untuk bertanya.

“Mbah, apa tanggapan mbah dengan riwayat hadits Imam Muslim yang isinya, Nabi Muhammad melarang mendatangi para kaahin?” Ia tak menjawab. Hanya memandangku semenit, lalu fokus dengan pasiennya.

“Lalu ada lagi riwayat Bukhari-Muslim, yang isinya nabi mengatakan bahwa kaahin itu bukan apa-apa’.”

“Tapi yang kukatakan benar dan sembuh.”

“Kalaupun apa yang dikatakana kaahin itu benar, itu adalah suatu kebenaran yang disambar oleh seorang jin lalu jin itu menjelaskannya kepada telinga walinya, lalu mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” Kukatakan komentar itu sambil membaca buku catatan kecilku yang telah kutulis beberapa hari yang lalu dari sebuah sumber di internet.

Semua orang memandangiku. Tak terkecuali Mama dan Uwak Tiur. Aku masih tetap menampilkan wajah naifku sambil menatap Mbah Saif, menanti jawaban. Orang yang ditunggu jawabannya malah menatapku balik tak karuan.

“Kalau kau anggap aku salah, lalu kenapa kau datang padaku? Bukankah shalatmu tak akan diterima selama empat puluh hari?”

“Cerdas!” Aku tertawa sambil mendengar pertanyaan si Mbah.

“Sakit perut itu hanya modus saya agar bisa ketemu si Mbah. Jadi saya ikuti saja permainan Mbah yang malah mengeluarkan bungkusan hitam tak jelas, begitupun dengan paku-paku dari perut saya. Wong perut saya aman sentosa kok!”

“Lagi pula kalau saya tidak datang, maka uwak saya ini akan terus membanggakan Mbah di depan orang-orang. Itu artinya, akan semakin banyak orang yang salah jalur dan semakin banyak pula dosa yang berserakan. Saya mahasiswa ingusan berhak menegur dengan ilmu yang telah didapatkan.”

“Jadi bapak ibu, menutup rapat jalan yang menuju kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat. Kalau sakit, lebih halal datang ke dokter. Lebih baik kehilangan banyak uang daripada kehilangan surga.” Ceramahku mirip ustadzah. Semuanya diam. Sama halnya dengan Mbah Saif. Namun matanya lebih menyala ke arahku.

“Oya Mbah, jangan mempermalukan kita dengan memanfaatkan pakaian suci itu. Ayo Ma, Wak, kita pulang.” Ajakku tanpa mau berpanjang lebar urusan lagi.

“Tunggu, Nak! Kaahin itu apa ya?” Tanya salah seorang ibu pengunjung.

“Alamak, sudah dijelaskan panjang lebar, tak paham juga kah? Gawat ibu-ibu ini”, batinku.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 6,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pilar Aisyah
Penulis bernama Riska H Akmal. Lahir di Medan, Juni 1990. Seorang cerpenis yang bergiat sebagai anggota muda FLP-SUMUT.

Lihat Juga

Ilustasi. (inet)

Judika, Lagu, dan Aku