Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Secarik Kisah Antara Kau dan Aku

Secarik Kisah Antara Kau dan Aku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Syahdan, empat puluh hari menjelang maut menjemput, satu daun yang bertuliskan nama seorang anak manusia dari pohon yang terletak di atas ‘Arasy akan gugur. Daun yang gugur itu lantas akan diambil oleh sang malaikat maut untuk mempersiapkan berbagai perangkat sebuah momen. Momen di mana manusia tersebut akan pergi selamanya dari kefanaan dunia dan memasuki episode baru dalam kehidupannya di bilangan barzakh. Usut punya usut, takdir serta nasib manusia secara rinci detik demi detik, tiap desahan nafas, degupan jantung, kerlipan mata, hingga aliran darah yang memerah, jua telah tertoreh di daun dari pohon yang berdiri amat kokoh itu jauh hari sebelum perempuan mulia berjuluk Bunda mengantarkannya ke dunia.

Begitu pula dengan secarik kisah antara kau dan aku. Kau telah datang dari belahan bumi yang jauh, meski tak sejauh pencarian Adam kepada Hawa yang kemudian bersua di Padang Arafah. Mungkin lukisan bianglala yang telah menghantarkanmu padaku. Mungkin juga semilir gelombang aura telah sampai kepadamu sebelum kau coba ’tuk menyelami Atlantis yang tinggal legenda hanya untuk menyambangiku. Atau bisa jadi ada iradah yang memberimu aufklarung untuk menghentikan segala kedespotisan yang telah membuaiku sejak lama. Satu hal yang kuyakini dengan pasti, perkara itu bukanlah sekadar de ja vu atau khamr telah membuat sebuah muslihat jahat untuk mensubstitusi pilar-pilar keimanan dengan berbuncah nafsu semesta kebumian. Makhluk-makhluk suci bersayap di belahan langit ke tujuh telah dititahkan oleh Sang Pemilik Cahaya untuk menuangkan aksara demi aksara namamu di Lauh Mahfuzh untuk mengikrarkan mitsaqan ghaliza dengan lelaki tegar pelindungku.

Bila maut dinisbatkan dengan gugurnya daun dari pohon di atas ’Arasy, mungkinkah ’azzam itu lantas dikejawantahkan dalam kedekatan daun-daun kita di sana? Tak perlu kau menautkan sampan rapuh agar bisa mendayungnya hingga ke ujung Tanjung Pengharapan untuk sekadar mendapatkan jawaban. Laiknya untaian beberapa huruf Hijaiyyah pada mukadimah beberapa firman-Nya, biarlah itu menjadi rahasia Ilahi yang seluruh panca indera kita tak akan mungkin mampu memahaminya. Mungkin kelak jika kau dan aku mendapatkan syafa’at dari manusia yang paling dicintai-Nya untuk merasakan debu za’faran, mendiami bangunan-bangunan dari batu perak dan emas yang berperekat mutiara dan permata yaqut, meminum susu dari sungai-sungai yang tak pernah berhenti mengalir, dan mendapati cahaya yang demikian kemilau, kau dan aku akan meraih jawabannya.

Di atas sajadah panjang yang menghampar, keabadian babak demi babak yang telah kau dan aku lalui masih tetap menyimpan berjuta misteri. Terkadang khauf senantiasa meraja, tetapi bukankah Dia telah mengajari kita untuk juga mengepakkan sayap roja’? Ketawazunan inilah yang akan menggiring kau dan aku melagukan bait-bait cinta di sepertiga malam. Tak peduli akan hangatnya peraduan dilingkupi selimut berbulu domba. Tak gubris akan elegi syahdu dari mimpi warna warni. Tak risau akan kelopak-kelopak yang membentak ingin dipejamkan. Bila Qais menggigil saat memanggil Laila di keheningan malam, mungkin aku yang dhaif demikian pula adanya. Bila Drupadi begitu loyal terhadap Pandawa, maka sejatinya ikhtiarku adalah seperti itu. Di tepi danau yang dulu pernah menenggelamkan Narcisus, aku akan berkaca. Di situ akan kembali ku lihat dengan jelas, bahwa sempurna bukanlah namaku. Beribu kepongahan pernah dan bahkan mungkin sedang kubangun dengan kokohnya. Berjuta kenistaan jua telah dan sedang ku buat dengan eloknya.

Di tengah guliran jengat rumput jarum yang membasah dan bermain lincah menggoda sang olfaktorius, sujudku pada-Nya agar tiap pinta bisa diijabah. Mungkin kau sedang beranjangsana ke Andromeda saat itu, mungkin juga cahaya bintang Venus terlalu terang hingga tuturmu kaku untuk mengutarakan sejumput semiotika cinta, atau bahkan jera tengah membentang di jiwamu. Satu yang pasti, syair itu memang lirih kulantunkan hingga epidermismu tak bisa merasa. Inginku kau, segaraning nyawaku, bisa mengisyaratkannya secara profunda hingga kau paham tiap jenak untaian isi nuraniku. Karena meski munajatku tak berima, tiap denyut selalu ada namamu.

* Hari ini, tepat enam tahun yang lalu, seorang perempuan dan lelaki memulai satu titian kehidupan. Berikhtiar ‘tuk bisa mengenal satu sama lain. Berupaya ‘tuk dapat memahami setiap takdir Allah dan senantiasa ridha terhadapnya. Sejatinya, perjalanan masih teramat panjang. Onak dan duri pun telah siap menanti di sepanjangnya. Bahwa ketaqwaan adalah satu-satunya ruh yang akan bisa menghempas segala badai yang datang. Insya Allah. (1 Muharram 1429H – 1 Muharram 1435H)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sekarang tinggal di Korea Selatan.
  • mohsodiq

    boleh share ya.. : )

    Tahun nya pas Bener dengan Milad kami.. :) 6tahun…

Lihat Juga

Ilustrasi. (top1walls.com)

Kisah Baru