Home / Berita / Internasional / Asia / Menjadi Minoritas, Muslim di Cina Tidak mau Berpangku Tangan

Menjadi Minoritas, Muslim di Cina Tidak mau Berpangku Tangan

Masjid Xiao Lao di Zhengzhou, China. (Foto - Erwindar/detiknews)
Masjid Xiao Lao di Zhengzhou, China. (Foto – Erwindar/detiknews)

dakwatuna.com – Cina.  Menjadi kelompok minoritas, apalagi di sebuah negara komunis tak menjadikan umat Islam minder. Sejumlah umat muslim di Cina misalnya justru makin kreatif. Khususnya dalam hal mencari dana yang akan digunakan untuk pembinaan umat.

Meski sebenarnya pemerintah China memberikan sejumlah bantuan dana untuk pembangunan masjid dan pembinaan umat, namun pemeluk Islam di sana tak mau berpangku tangan. Di kawasan Kota Tua Zhengzhou, pengurus Masjid Xiao Lao menjalankan sejumlah bisnis.

Seperti, usaha rumah makan halal, toko buku, serta toko perlengkapan busana muslim. “Keuntungan dari bisnis ini digunakan untuk membayar pengurus masjid dan pembinaan umat Islam,” kata Habibulah Ibnu Huda (39 tahun) salah satu pengurus masjid, di Zhengzhou China, Sabtu (26/10) pekan lalu.

Pemerintah China menurut Habib tak pernah menghalang-halangi pengurus masjid dalam menjalankan bisnis. Misalnya untuk mengurus izin pendirian restoran halal, atau membuka toko perlengkapan busana muslim.

“Semua tidak ada masalah, pemerintah tak pernah mempersulit kami untuk mendapatkan izin (usaha),” kata Habib.

Selama bulan puasa restoran halal yang dijalankan oleh pengurus masjid di Zhengzhou tetap buka pada siang hari. “Kan ada masyarakat yang tidak puasa. Kami tidak masalah, yang puasa ya puasa, yang tidak ya silakan makan,” kata Habib.

Sikap tak mau berpangku tangan juga ditunjukkan oleh umat Islam di Guilin yang masuk dalam wilayah otonomi Guangxi Zhuang. Ada sekitar 7000 pemeluk Islam di Guilin. Ismail, seorang Imam di Masjid Jalan Chongsan mengatakan, tahun 2014 nanti akan dibangun sebuah Islamic Center di Guilin.

Bangunan yang akan menjadi pusat pembinaan umat Islam itu akan dibangun di bekas masjid tertua di Jalan Ximenwai Bandar Guilin. Luas seluruh bangunan mencapai 20.000 meter persegi. Menurut Ismail selain untuk pembinaan umat, sebagian gedung akan digunakan sebagai area komersil.

“Tiga lantai paling bawah akan disewakan,” kata Ismail yang memiliki nama Mandarin Ruan Jin Kuan itu di Guilin, Rabu (23/10) lalu. Rencananya akan dibangun 150 unit kios yang akan disewakan dengan tarif 500.000 Yuan per tahun.

Menurut Ismail dana pembangunan gedung Islamic Center yang mencapai 130 juta Yuan itu berasal dari Persatuan Umat Islam Guilin, bantuan dari pemerintah Cina, dan sumbangan sejumlah donatur.

Nantinya semua keuntungan dari menyewakan tempat usaha itu akan digunakan untuk pembinaan umat Islam di Guilin. Begitulah, umat Islam di Cina yang tidak mau dimanja. Mereka tak mau hanya mengandalkan uluran tangan dari pemerintah.

Tak ditemuai adanya kotak amal, atau pengurus masjid yang meminta sumbangan dana di pinggir-pinggir jalan. (detik/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Tenaga Kerja Asing

KAMMI Sindir Jokowi Pro Asing-Aseng dan Tidak Berpihak pada Buruh Lokal