Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tempat Terbaik (Bagian ke-3)

Tempat Terbaik (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sekarang tiba pada bagian secuil jawaban bagi teman-teman yang pernah menanyakan kepadaku, “Sist Ummu Azzam, apakah yang kalian cari dengan berpindah-pindah negara?” atau ada pertanyaan yang seperti ini, “Kelihatannya enak sekali jalan-jalan terus, nih… Apakah mencari tempat terbaik yang banyak duitnya?” banyak model kalimat sejenis itu, dan kemarin pagi adalah puncaknya, seorang saudari berkata dengan nada emosi, “Bantuin S2 ini nih! Kan harusnya duit turun dari langit kalau di luar negeri!” yang berbicara memiliki penampilan acak-acakan dengan celana pendek ketat dan kaos tanpa lengan, namun merupakan muslimah.

Karena yang berkata seperti itu sepatutnya segan terhadap Mas Angga, kemarin pagi hadir ‘taushiyah singkat’ sebagai jawaban darinya. “Pertama, jika sudah dewasa, mbok ya bajunya juga menampilkan usia dewasa, kasihan nanti orang tua dan saudara laki-lakinya kudu dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ta’ala sebab paha dan ketiaknya dipertontonkan ke mana-mana, sayangilah dan hargai diri sendiri, sekaligus jangan rugi sisa usia, mumpung masih hidup, masih muda, dan sehat, gitu…”

Meski kalimat bijak telah didengarnya, saudari kita ini berkilah, “Gue juga niatnya mulia! Cari ilmu setinggi mungkin, trus ikutan program mengajar ke seluruh nusantara, ikhlas tulus, gak mengejar materi…” seolah menempelkan tuduhan bahwa lawan bicaranya adalah pengejar materi.

“Kalau niat mulia, lurus, tulus, cantik, penampilan dan kata-kata juga harus menyiratkan niatnya…” pendek saja kata-kata Mas Angga. Dan selanjutnya kulembutkan dengan mengulangi perjalanan kami meskipun mungkin ia bosan mendengarnya. “Dear, Semoga Allah SWT menjaga hati dan ragamu supaya memang tulus berjiwa mulia. Kalau ingat dua belas tahun yang lalu, betapa banyak bukti keberkahan nikah di usia muda, Abu Azzam tidak memiliki jeda waktu menganggur. Bayangkan, di awal kuliah saja, sudah menjadi asdos dan menjaga labs, dan ketika lulus— dua kali ia telah resmi diterima di perusahaan milik negara, *LN, lulus di *GN juga, dan di tiga BUMN lainnya. Berkat doa semua keluarga pula, alhamdulillah, ternyata bukan menjadi pegawai negara adalah tempat ‘berkarya’ terbaiknya. Ketika ada niat lurus dan kemauan teguh, pasti ada jalan…”

“Kalau berada di luar negeri, kita semata-mata tadabur alam dan melihat fakta-fakta kekuasaan Allah SWT, selama ini kan cuma tau dari majalah, buku, bacaan dan berita-berita di ragam media, ada kalanya berita merupakan racikan orang-orang yang berkepentingan. Pindah company, karena mencari yang lebih berkah. Insya Allah, tolong doakan semoga istiqamah…” lanjutku.

Saudara-saudariku, tak banyak yang mengetahui bahwa kami pun sudah kenyang ‘ditawari sogokan-sogokan’ yang dapat menjerumuskan kepada neraka jahanam. Negeri pertiwi telah gelap dengan lingkaran setan kolusi yang hanya Allah ta’ala saja dapat menghancurkan para pelakunya.

Kalau berada di luar negeri, dan berprestasi, tetap tidak menutup kemungkinan hadirnya godaan dunia yang dapat menjerumuskan kita pada lembah kehinaan. Demikian pula tabahnya Mas Angga untuk tidak menerima empuknya jabatan jika terus setia berada di perusahaan internasional (yang bertempat di Krakow) tempo hari. Nuraninya menolak karena tidak nyaman akan ‘support’ yang harus diberikan kepada cabang-cabang usaha di negara illegal, Israel laknatullah.

Negeri-negeri Arab pun demikian, saham-saham pemimpin muslim telah bercampur bersama para musuh Islam, pemimpin-pemimpin munafik secara sadar membunuhi umat Islam sendiri. Ketika kita sadar bahwa perusahaan (tempat kita berkarya dan meluahkan segala energi) menopang keganasan tentara-tentara Yahudi, liberal para sekuler di bumi Palestine, Suriah, Mesir dan lainnya, maka di manakah posisi kita sesungguhnya?! Jujurlah pada diri sendiri, secuil bantuan untuk suatu kebaikan ada pahalanya, demikian pula sepercik bantuan peluru penghancur saudara kita pun ada azab-Nya.

Bea siswa yang bertaburan pun, waspadailah! Pilahlah dengan nurani, dipikirkan secara matang. Semisal kalian menerima bea siswa dari sebuah bank-kemudian seumur hidup harus mengabdi di bank tersebut, dan seumur hidup memakan riba sebagai hasil usaha, silakan tanyakan suara hati sendiri, nyamankah hidup dengan gelimang harta riba, enakkah memakan apa yang telah Allah SWT larang dengan tegas dalam kitab-NYA?!

Dukungan dari tenaga-tenaga IT (Information Technology) di dunia ini pun bukan tak ada ‘kengerian’-nya, bayangkan saja ada teman-teman yang secara sadar ‘telah nyaman menjadi support IT’ di perusahaan judi, rumah billiar besar, dan perusahaan minuman keras internasional, bahkan menikmati bonus-bonus sebagai hasil penjualan konsumsi haram itu, na’udzubillah mindzaliik… Sungguh, kalau hati dan otak berjalan normal, seharusnya kita punya kesimpulan bahwa tidak ada yang lebih baik selain meninggalkannya, mencari pekerjaan halal dan berkah.

Hidup di dunia bukanlah untuk memamer-mamerkan diri, apa yang melekat pada kita adalah sementara, semua akan diambil-Nya kembali, hanya amalan terbaik yang tersisa sebagai bekal kita. Jadi, rentetan gelar akademik, gelar kebangsawanan dan status jabatan, apalagi jumlah harta kekayaan, sungguh tiada berguna, yang terpenting adalah mendekap ilmu-Nya, amalan shalih diri atas wasiat Kitabullah dan sunnah rasul-Nya (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam).

Seorang sister lain pernah bertanya lagi, “Seserius itu banget yah hidup? Jalani santai ajalah…” Apabila santai dimaknai sebagai bermalas-malasan dan ‘mengikuti aliran air’, hendaknya kita harus ingat bahwa aliran air selalu jatuh ke bawah, dan jatuh itu sangat menyakitkan. Jika ‘jatuh’ masih berada di dunia, masih sempat bertaubat, tentu masih beruntung. Tetapi kalau santai bermaksud selalu malas serta dalam kelalaian dan tiba-tiba telah ‘jatuh’ ke azab-Nya yang pedih, duh… na’udzubillah minzaliik. Kita punya pilihan masing-masing, yang serius memilih jalan-Nya, ataukah yang santai ‘jalan-jalan’ dan berpaling dari-Nya, semua ada pertanggungjawaban di hari nan pasti.

“Jadi, untuk apakah bekerja itu, untuk apa capek-capek berpindah lokasi, padahal kan kita cinta akan kesederhanaan, sedangkan pindah-pindah tentu mengeluarkan banyak dana dan boros?” tanya saudaraku yang lain lagi. “Secara finansial, keluarga kita mengalami kemunduran. Apalagi jika dibandingkan dengan wilayah Timur Tengah yang tidak ada pajak, air dan listrik gratis, jalanan dan parkir gratis…Namun, itu kalau dilihat oleh mata nafsu manusia, ketenangan hati adalah bayaran atas hal ini. Kalau suami tenang berkarya mencari nafkah, anak-anak dan istri tenang pula dalam berkarya, terasa kian berkah kehidupan rumah tangga, maka apa lagi yang dikhawatirkan, teman? Dalam suatu waktu, aku pernah berpikir betapa capek, letih, dan banyaknya pengeluaran atas perjalanan demi perjalanan. Namun hanya sesaat saja, aku sudah begitu mensyukuri segalanya, masih banyak saudara-saudariku ‘korban runtuhnya PT DI, lumpur Lapindo, pengungsi dari Suriah, dll’ yang merasa berbahagia dapat melalui perjalanan hidup dengan tetap optimis kepada-Nya, subhanallah!”

Tempat yang nyaman menurut kita, bisa jadi bukanlah tempat terbaik. Karena sebaik-sebaik tempat adalah di sisi-Nya, dalam keberkahan dan keridhaan-Nya. Maka sepanjang episode hidup ini, mari bersiap siaga atas qadha dan qadar-Nya. Panjatkan rasa syukur dan berserah diri, sungguh Allah Maha Kaya, Maha Segalanya,

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakal…” (QS. At-Taubah: 129)

      Hitungan matematika kita berbeda dengan perhitungan adil dari Allah ta’ala. Percayalah, hampir seluruh mukminin dan mukminat telah membuktikan betapa Allah SWT Maha Hebat, perhitungan manusia banyak meleset, dan pertolongan-Nya merupakan solusi yang selalu hadir dengan tanpa disangka-sangka.

Sebagaimana ada kumpulan teman dengan honor mengajar yang amat minim, namun mereka bahu-membahu dalam aktivitas kebaikan, sungguh tiada menyangka bahwa mereka telah bertahun-tahun menghidupi puluhan yatim piatu di daerah ibu kota. Juga seorang saudara yang kakak-adiknya berjumlah sembilan orang, ayahnya mengundurkan diri dari sebuah jabatan bagus di sebuah perusahaan tembakau, dan kemudian ‘hanya’ membuka warung sederhana serta menjajakan es keliling kampung, tetapi sembilan bersaudara ini dapat bersekolah hingga perguruan tinggi, subhanallah!

Sister kita pun demikian, ibunya menjadi pengasuh bayi di ibu kota, meninggalkan ketiga anak kandung yang telah yatim, namun sang ibu begitu gigih berjuang, puluhan tahun fokus mencari rezeki halal, dan kini ketiga anak shalih itu sudah menamatkan sekolah dengan lancar. Bahkan ketiganya menjadi pengusaha yang terbilang sukses. Menjadi sarjana, doktor, guru, direktur bukanlah hal membanggakan buat mereka yang sangat bersahaja ini, mereka bangga dengan orang tua yang telah menjaga kehalalan rezeki. Subhanallah walhamdulillah…

Aku masih selalu ingat sebuah nasihat pernikahan dari seorang sahabat, “Sukseskan rumah tangga dengan cara ‘tidak mencampur antara yang halal dengan yang haram’… ya ukhti… barakallah!”

Semoga menjadi renungan bagi kita semua, empuk dan nyaman serta berlimpahnya kenikmatan kita di ‘posisi’ saat ini bisa saja merupakan tanda-tanda bahaya di masa mendatang. “Apakah Allah SWT ridha dengan pekerjaan kita, Apakah Allah SWT memberkahi langkah kita saat ini, Apakah usia kita dihiasi dengan amalan shalih, ataukah dibaluri dengan kemaksiatan?” sejumlah tanya yang menjadi bagian muhasabah diri kita.

Mari kita lakukan yang terbaik untuk Allah ta’ala, cinta utama kita. Apabila makan, minum, bersilaturahim, berperjalanan, dan aktivitas lainnya bukan karena Allah SWT, sungguh alangkah sia-sianya sisa usia. Di mana pun berada, kita punya kesamaan doa, yaitu ingin menjadi ‘khusnul khatimah’, selamat di dunia dan akhirat, maka apa saja yang menjauhkan kita dari keselamatan dan ridha-Nya, tentu lebih baik ditinggalkan secepatnya. Sebelum ajal hadir di depan mata.

Ibnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan”.

Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya”. Kabar bahagia bagi orang beriman.

Aku pernah mengeluhkan keraguan pada-Mu yaa Rabbi, lantas Engkau hibur dan melimpahkan pelajaran lagi, dan lagi. Aku yakin bahwa segala derap langkah mungil ini akan selalu berbahagia dan berkah dalam dekapan bimbingan dan hidayah-Mu. Bahkan kalimat hadits ini menjadi inspirasi indah, “Sesungguhnya tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, kecuali Allah memberimu yang lebih baik daripadanya.” (HR. Ahmad, 5/363 dengan sanad shahih, Al-Baihaqi, 5/335, Waki’ dalam Az-Zuhd serta Al-Qadha’i dalam Musnad-nya).

Wallahu a’lam bisshawab.

Saling doa yah, semoga Allah SWT menyiapkan tempat terindah dan terbaik bagi kita, Salam Ukhuwah, @bidadari_azzam, Kuala Lumpur, Dzulhijjah 1434 H.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa