Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tempat Terbaik (Bagian ke-2)

Tempat Terbaik (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah ta’ala senantiasa, selalu hadir hikmah-Nya sebagai didikan kepada kita di setiap kejadian. Tatkala datang masa ‘hectic’ super-sibuk, kita begitu merindu waktu luang. Tatkala hadir masa sakit, kita jadi kangen untuk segera sehat kembali. Namun kita masih sering lupa dan lalai bahwa akan ada hari yang telah tertulis dengan pasti, hari menutup mata sebagai tanda batas usia, yang semoga ketika hari itu tiba, kondisi aktivitas kita adalah karya terbaik di hadapan-Nya, aamiin.

Seusai Ramadhan lalu, mbakku Titin berbagi cerita. “Dek, kemarin malam aku bermimpi bertemu temanku, seorang akhwat yang sudah berpulang hampir setahun lalu. Sewaktu terbangun, tak terasa air mata ini berlinang, rasanya rindu mengingat kemuliaan hatinya. Beliau adalah dokter Ummi Fadhilah, dek, rumahnya hanya beberapa meter dari rumahku. Seorang dokter yang mengabdikan dirinya hanya untuk menolong sesama tanpa pamrih. Bayangin dek, dia tidak pernah memungut biaya jasanya itu…”

Pasti beliau merindukan sosok shalihat tersebut, “Sungguh masyarakat sekitar yang tidak berpunya sangat senang ketika berobat, sangat terbantu, karena tidak dipungut biaya. Dan di usia perkawinan yang lebih dari 10 tahun, beliau belum dikaruniai putra sampai beliau berpulang, tapi kesabarannya luar biasa, hidupnya sangat qana’ah, terbilang sederhana (tidak memamerkan diri dan angkuh atas profesi dan ilmunya…) Beliau sangat dermawan, lemah lembut, penyayang, sehingga semua orang menyayanginya.” Lanjutnya terharu.

“Aku banyak belajar dari beliau. Anak-anak kan kalau sakit tidak mau (diperiksa) oleh dokter selain beliau dan alhamdulillah memang cocok. Subhanallah, Beliau juga sangat bahagia ketika melihatku berhijab, aku dipeluknya, ry… dengan mata berkaca kaca. ‘Congrats…’ dan aku sampai sungkan jika berobat, karena beliau selalu menolak uang bayaran yang kusodorkan. Suatu pagi, ry,  ketika beliau berangkat kuliah (karena beliau melanjutkan spesialis-nya) beliau terjatuh dari sepeda motor, beliau koma di rumah sakit, hingga di hari ke tujuh perawatan, beliau menghembuskan nafas yang terakhir… yang membuatku sedih sekali, beliau meninggal di saat kami sekeluarga sedang berada di luar kota, sehingga kami tidak sempat menengoknya, apalagi menghadiri pemakamannya. Ya Allah… aku shock mendengarnya, dek, amat kehilangan… dia bukan selebritis, bukan pula seorang pejabat, tapi subhanallah, masyarakat amat kehilangan sosok dokter idola ini. Jadi yang menyalatkan dan mengiringi ke pemakaman berjumlah ribuan, ry… wajah sedih dan banjir air mata di mana-mana. Allah telah mengambil milik-Nya kembali yang amat disayangi-Nya…

Beberapa hari kemudian aku bermimpi bertemu dengannya, dia sangat cantik, wajahnya bersinar, menyapa sambil tersenyum, beliau menciumku, memelukku sambil berkata, “Jangan sedih lagi, yah bu… aku sudah bahagia di sini…” Yaa Allah, setelah itu aku belajar untuk mengikhlaskannya. Alhamdulillah puji syukur kepada-Mu Ya Rabbi, Engkau pertemukan hamba-Mu ini dengan orang yang istimewa…” betapa indahnya ketika mengenang sahabat yang shalih/at, hadir inspirasi dan semangat untuk memperbaiki diri. Alangkah malunya diri kita jika tidak belajar dari pengalaman hidup sehari-hari, padahal Allah ta’ala melimpahkan akal pikiran nan sempurna bagi hamba-hamba-Nya.

Sementara itu, tak lama rehat setiba di Kuala Lumpur, sebuah pesan hadir di alamat emailku. “Innalillahi wa inna ilayhi roji’uun… Calon suami sister kita meninggal…” Ternyata sister kita di Krakow, seorang muslimah muallaf yang akan menikah dalam hitungan empat hari di minggu itu, harus bersabar membatalkan pernikahannya. Calon suaminya meninggal dunia saat kecelakaan di jalan raya wilayah Egypt. Betapa terkejut dirinya, apalagi ia mengenang kata-kataku saat sehari sebelum perpisahan kami di Old Town Krakow, “Sist, semoga secepatnya ada ‘undangan’ yah… segeralah menikah, dear!” kala itu aku kian menyemangatinya untuk menyegerakan pernikahan, sebab budaya ‘tunangan’ memang makin parah melumuri pemuda-pemudi Islam. Bahkan ada dua sister muallaf yang telah bertunangan dengan orang Arab selama tujuh dan sembilan tahun, belum juga ‘sah’ ijab-qabul, namun telah ber-travelling bersama ke mana-mana.

“Aku tidak mendukung pertunanganmu, namun aku tentu berduka melihat kesedihanmu, sist… Namun ada Allah ta’ala yang sudah pasti menjadi penghibur kita semua…” salah satu kalimatku kepadanya. Ia masih sedikit emosi sehingga berujar, “Saya rasanya mati juga! Lebih baik saya juga mati, sist! Kami belum mengikat janji pernikahan, bagaimana mungkin saya dapat menuntut kebersamaan hingga jannah-NYA?! Apa masih ada kesempatan, sist?!”

Semua saudari kita di Krakow turut menghiburnya, “Bukankah kita semua saudara, sist? Semua akan dikumpulkan-Nya di tempat terbaik, jangan khawatir, jangan risau, inilah ujian atas keislamanmu, sahabat…” kami semua berdoa semoga sister ini tetap istiqamah dalam cahaya Islam, semoga kian bertambah keimanan kepada Allah Yang Esa dengan hadirnya hentakan dalam hidupnya. Tidak banyak media yang mengangkat tema unik tentang banyaknya muallaf di Eropa, namun salah satu motivasi menjadi muslim adalah pernikahan, alias ‘dikarenakan cinta kepada lawan jenis’, terutama jika pria muslim tersebut kaya harta meskipun tak mampu mengajarkan Islam yang kaaffah kepada pasangannya (yang muallaf). Bungkamnya para pemimpin di banyak negara akan hal ini juga tak lain karena ujung-ujungnya adalah urusan dana, bisnis, alias uang dan kenyamanan perut. Na’udzubillahiminzaliik…

Maka kita harus mengucapkan selamat dan berbahagia atas ‘ujian naik kelas’ bagi saudara-saudari  yang telah menempuh banyak cabaran ini, termasuk sister dokter sohib mbak Titin dan muallaf di Krakow, ada sist Kamila dan Rena pula yang pernah membuktikan diri bahwa “keislaman” dirinya bukan karena ‘sosok manusia/lawan jenis’. Hentakan dan kejutan di setiap jalan hidup membuat kita harus yakin bahwa Allah SWT sangat menyayangi hamba-hamba-Nya.

Beberapa hari usai pemakaman jenazah calon suaminya, sister menulis pesan kembali, “Thanks for all duas, pure beautiful heart… I know that he is in the best place already…” subhanallah, tiada tempat terbaik di dunia fana ini, karena kita hanya ‘transit’ saja. Allah ta’ala menyediakan kehidupan abadi bagi insan beriman yang percaya akan hari pertanggungjawaban.

Sungguh, petiklah secuil pelajaran dari pengalaman saudara-saudari kita, raihlah hikmah-Nya, sehingga ketika berada dalam situasi dan suasana yang mungkin ada sedikit kesamaan dengan itu, kita dapat lebih tegar dan meneguhkan keikhlasan diri akan takdir-Nya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka…” (QS. At-Taubah: 111)

Sakaratul Maut, kejadian dahsyat yang merupakan proses perpisahan kita dengan segala kefanaan dunia. Tiba-tiba terkenang Nek Asih yang merupakan salah satu pasien kanker yang kami kunjungi di sebuah rumah sakit. Dalam satu ruang ekonomi itu, terdiri atas 10 pasien dengan riwayat penyakit yang sama, dan mereka semua berada dalam kondisi stadium III dan stadium akhir kanker (di rahim). Pada menit perjumpaan itu, si nenek hanya bisa senyum datar dengan sedikit menganggukkan kepala, beliau hanya terbaring dengan ‘hiasan’ infus dan selang keteter. Wajah tua itu lebih sering terpaku pada langit-langit ruangan, seolah telah sadar bahwa usia diri hanya tersisa beberapa jam saja.

Tak sampai 12 jam pada pagi harinya, kami telah diberitahukan oleh dokter bahwa si nenek telah melanjutkan perjalanannya, meninggalkan dunia dengan tenang, innalillahi wa inna ilayhi roji’uun…

Subhanallah, kalau sudah mengingat sakaratul maut, pastilah lidah kita kelu dan hati selalu bertanya, “Apakah Allah ta’ala ridha pada aktivitasku? Apakah hamba bisa melalui proses kematian dengan sebaik-baiknya, dengan kemudahan dan menjadi ‘khusnil khatimah’?” pantas saja kalau merenungi makna kematian merupakan pelajaran paling baik untuk meluluhkan keangkuhan diri kita. Apalagi jika kemalasan telah menggelayuti raga.

Demikian pula tatkala orang tuaku bercerita bahwa sahabat ayahku, tetangga kami, Om Budi, beliau meninggal beberapa bulan yang lalu. Om Budi punya dua rumah, yang satu di Plaju, yang satu di Kenten- Palembang, kira-kira seperti jarak Tangerang-Depok kalau wilayah Jabodetabek. Pada hari itu, Om Budi masih menginap di Plaju. Hanya saja, dikarenakan anak-anak dan istrinya sedang berkumpul semua di Kenten, sorenya beliau datang juga ke kenten. “Kumpul juga dengan kalian donk!” katanya saat anak dan cucunya bertanya, “Katanya masih mau menginap di Plaju, Ayah?”

Selepas Maghrib, beliau mengobrol dengan ayahku. Usai bercengkerama lama layaknya tetangga akrab, beliau pamitan pulang. Rumahnya bersebelahan saja, jadi tak sampai semenit beliau sudah berada di tengah keluarganya. Setelah makan malam, dan berbincang-bincang dengan keluarga, istrinya melihat perubahan pada muka Om Budi, “Apa masuk angin Pak? Kok pucat?” seraya memijat suaminya.

“Nggak enak badan bu….” jawab Om Budi. Malam itu beliau tak bisa tidur, hingga tengah malam ketika anak dan cucunya mulai terlelap satu-persatu. Tiba-tiba, “Bu, aku merasa gak enak-enak nih bu… panas, gerah….” Om Budi menuju ke dapur, ia bukakan pintu belakang rumah dengan lebar. Istrinya melihat isyarat yang tidak biasa, selama ini mereka tak pernah membuka pintu belakang, apalagi di malam hari. Om Budi duduk selonjoran di dekat pintu, mendongak seolah menyambut sesuatu yang datang, yang orang lain tak dapat melihatnya. Mukanya terpana, entah memandangi apa yang ada di langit malam.

“Ada apa Pak? Kita maaf-maafan yah pak, Maafkan semua kesalahanku…” ujar istrinya, dengan kalimat yang mulai terdengar panik. “Iya bu, aku juga…” lirih Om Budi, kerongkongannya mulai tersekat. Sang istri membisikkan dua kalimat syahadat, seraya beristighfar… Tak sampai lima menit, Istrinya menyadari bahwa sang suami telah dijemput oleh malaikat maut. Genggaman tangannya telah lemas. Anak-anak dibangunkannya, ia pun menggedor pintu rumah orang tuaku, memberitakan kejadian barusan. Begitu mudah segala hal bagi Allah ta’ala, pagi cerah kita ditempatkan-Nya di sini, siangnya di sana, malamnya di tempat lain lagi. Laa hawla walaa quwwata illa billah…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa