Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Ada Iri Antara Kita

Jangan Ada Iri Antara Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Mendengar judulnya saja, terkesan seperti untuk anak-anak. Memang betul, Jangan Ada Iri Antara Kita adalah nama sebuah novel anak. Penulisnya pernah menjadi murabbi saat bertugas di daerah terpencil di tempatku. Kalau untuk kita-kita orang dewasa mungkin sudah tidak perlu bacaan kayak gitu ya? Di samping sudah berumur, menyandang predikat aktivis dakwah, dan sudah banyak mengikuti ta’lim, banyak hafal dalil. Namanya juga anak-anak wajar kalau masih nakal, suka berantem, ngambek dan iri. Sedang aktivis dakwah mungkin sudah kebal dengan penyakit gituan?

Eits, tunggu dulu. Lantas apakah di antara gerakan dakwah sudah tidak ada lagi yang namanya cekcok, berantem, ngerecoki, iri, dengki dan semacamnya? Apakah cara pandang berpikir kita sudah benar-benar dewasa, bebas dari berbagai sifat kekanak-kanakan?

Di antara kerinduan kita tentang terwujudnya ukhuwah yang sesungguhnya dalam umat ini, ada saja persoalan yang menimpa. Dari hal-hal yang sebenarnya hanya sepele, namun tidak disikapi secara dewasa sehingga akhirnya menjadi penghambat dakwah.

Ketika harakah atau jamaah lain naik daun, rasanya lebih mudah menganggap kalau mereka mengganggu lahan kita. Mengapa lebih sulit untuk berpikir kalau keberadaan mereka akan makin meringankan beban dakwah ini?

Ketika ada orang-orang bersemangat memakmurkan suatu masjid, kita lebih mudah mengatakan mereka suka ngrebut aset orang. Mengapa tidak berpikir, syukur-syukur ada yang membantu memakmurkan masjid yang sepi ini, yang kita sendiri sudah teramat malas mendatanginya.

Ketika majelis ta’lim atau pengajian yang kian surut dihidupkan orang, lebih mudah beranggapan mereka merebut usaha yang telah kita rintis. Mengapa tidak berpikir, dengan partisipasi mereka amal yang kian surut ini menjadi semarak lagi.

Banyak orang yang teramat sewot ketika aset-asetnya jatuh ke pihak lain. Sebenarnya maklum juga, tapi yang sewot tadi di tempat lain mau juga merebut aset orang. Coba kalau rasa sewot ini diganti dengan sebuah introspeksi tentang keteledoran dan kelalaian, agar di masa datang jangan sampai terulang, sekaligus untuk menjadi pemacu semangat.

Adanya proteksi, fasilitas dan kemudahan untuk menunjang suatu aktivitas dakwah, malah sering membuat gerah orang-orang yang sama-sama mengusung dakwah ini. Bukannya menyikapi dengan berlomba-lomba dalam kebaikan, malah mencari-cari dalih untuk merintangi. Dengan dalih sebagai institusi yang netral dan profesional, bukan untuk kelompok tertentu, sarana penunjang dakwah lantas ingin dihancurkan begitu saja. Di suatu tempat, ada pihak yang gerah dengan fasilitas dan proteksi yang tidak bisa dipungkiri memang menguntungkan pihak lain, namun di tempat lain mereka sendiri juga enjoy saja menikmati fasilitas dan proteksi serupa, yang menguntungkan pihak mereka.

Mungkin selama ini lebih banyak orang berorientasi untuk kepentingan sendiri. Sulit untuk ikhlas melihat saudaranya mendapatkan suatu nikmat. Yang penting mereka terhalang dari nikmat itu, meski halangan yang mereka dapat sebenarnya juga tidak menjadi keuntungan apa-apa buat dirinya. Lucu juga, malah lebih nyaman kalau sama-sama buntung.

Makanya kalau ada tokoh umat menduduki suatu jabatan, sesama umat malah lebih gerah dibanding bila jabatan itu jatuh ke tangan kaum nasionalis. Prinsipnya, meski kita tidak mendapatkan, yang penting mereka juga tidak mendapatkan.

Ketika satu kepaduan umat belum terwujud, sebagai imbas dari perbedaan persepsi dalam mengusung agenda dakwah, tidak mudah untuk memadukan berbagai jamaah, harakah, dan beragam sarana dakwah yang ada. Sebuah tantangan yang cukup sulit untuk membuat kita saling menyokong dan memberi jalan dari pada saling menghambat dan menjatuhkan.

Adakalanya kita saling berkompetisi, memperebutkan lahan dan bekal dakwah, yang kadang berujung pada persaingan tidak sehat. Namun pada momen lain ternyata kita saling membutuhkan, untuk saling membantu menghadapi problem yang tak mampu dihadapi sendiri. Apakah kita harus menunggu saat-saat genting baru bisa memadu langkah?

Adakalanya kita harus rela sedikit tersisihkan, untuk memberi kesempatan orang lain yang lebih memiliki kecakapan dalam suatu bidang. Jika terlalu berat menerima makna tersisih, anggap saja secara positif bahwa kita berkesempatan mencari bidang lain yang lebih cocok bagi kita, serta menjadi sebuah pengorbanan yang lebih bermanfaat bagi dakwah secara keseluruhan.

Adakalanya hambatan dakwah ini muncul dari ego para pengusungnya sendiri, hingga di antara kita saling menjatuhkan satu sama lain. Dan ketika kita menjadi sama-sama jatuh, baru merasakan kerugian yang dialami. Ego kita membuat umat ini menjadi lemah secara keseluruhan, ketika segala sesuatunya telah terlambat.

Jika kita pernah merasakan perihnya terzhalimi, mengapa kita masih mampu melakukan kezhaliman serupa pada yang lain? Jika di suatu posisi kita merasa hak-hak yang semestinya di dapat belum terpenuhi, hendaknya juga mengingat bahwa posisi lain banyak hak-hak orang lain yang masih kita ambil. Di satu sisi mungkin kita mengeluhkan suatu kekurangan, namun juga jangan lupa bila di sisi lain kita mendapatkan kelebihan. Bukankah Allah telah memperingatkan tentang penuntut keadilan yang ambigu:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin: 1-3)

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.” (QS. An Nuur: 48-49)

Tantangan dan hambatan sesungguhnya adalah hiasan yang memperindah perjalanan dakwah ini. Apalagi bila hambatan tersebut berasal dari sesama pengusung dakwah, memang membutuhkan suatu kesabaran. Bagaimana mungkin suatu perjuangan dikatakan berarti tanpa melewati berbagai aral cobaan. Hingga di antara kita rela mengorbankan ego dan kepentingan masing-masing. Saling mengoreksi hendaknya dimaknai sebagai upaya penyelamatan dan kepedulian, karena kepaduan sejati tidak akan terwujud manakala substansi dakwah ini tak tegak. Namun ketika tindakan yang kita persepsikan sebagai niat baik itu membuat kita terjebak dalam keruwetan berlarut-larut yang tak bermanfaat sama sekali, berarti memerlukan suatu sikap kedewasaan untuk bisa menempatkan sesuai proporsinya. Dan kita masih harus belajar mengikis sifat kekanak-kanakan ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Organization