Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tiga Karakter yang Hilang dari Sebagian di Antara Kita

Tiga Karakter yang Hilang dari Sebagian di Antara Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ini adalah hasil pengamatan dan analisa yang coba dihimpun oleh penulis, bukan bermaksud mencari kambing hitam namun hanya menginginkan sebuah evaluasi dari diri kita terutama diri saya secara pribadi. Tiga karakter yang hilang itu adalah karakter yang dulu pernah menjadi keharusan di kalangan aktivis terlebih aktivis dakwah, namun dewasa ini kelihatannya nyaris hilang kalaupun tidak mau dikatakan benar-benar hilang meskipun harus diakui masih banyak juga aktivis yang masih melestarikan karakter-karakter ini. Kenapa hanya tiga karakter ini? Ini bukan berarti hanya tiga karakter ini yang mulai kabur tetapi sesungguhnya lebih dari itu namun tiga karakter inilah yang sangat fundamental terutama dalam konteks kehidupan berjamaah. Tiga karakter ini sangat berpengaruh signifikan dalam kekokohan berjamaah, kesolidan barisan dan tentu berefek pada kerja-kerja yang dilakukan.

Pertama, Husnudzan (Prasangka baik) dan tabayun (Klarifikasi). Hari ini kita menyaksikan budaya dua hal ini sudah mulai perlahan lenyap, kita bisa menyaksikan bagaimana sikap kita ketika melihat saudara-saudari kita ketika melakukan “kesalahan” atau di luar kebiasaan para aktivis. Kemudian seringkali kita melupakan sebuah proses untuk mendapatkan informasi dan pembelaan dari saudara kita yang tertuduh tadi yaitu tabayun (klarifikasi), proses menanyakan langsung kepada yang bersangkutan perihal apa yang sebenarnya versi beliau. Dua hal ini tidak boleh dipisahkan untuk menjaga ukhuwah dan kesolidan dalam berjamaah. Contohnya, ketika ada seorang yang berboncengan atau jalan berdua maka akan muncul zhan-zhan bahkan mungkin gosip-gosip yang menyebar. Padahal semestinya sebagai seorang muslim terlebih sesama aktivis harus selalu berhusnudzan, mungkin saja yang dibonceng adalah saudarinya atau yang membonceng adalah paling darurat tukang ojek. Kalaupun memang ingin mengetahui hal yang sebenarnya maka proses tabayun bisa dilakukan agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kedua, Kecintaan terhadap jamaah dakwah ini. Ini terjadi karena kita lebih mencintai wajihah (organisasi) daripada jamaah dan dakwah ini atau terlalu ashobiyah terhadap wajihah. Tidak ada yang salah dengan kecintaan terhadap wajihah (organisasi) yang menjadi tempat kita menempa diri, boleh-boleh saja itu terjadi sebab memang di situlah kita lebih banyak berinteraksi, lebih sering berkumpul, dan kerja-kerja lainnya sehingga ikatan emosional terhadap wajihah serta orang-orangnya lebih kental daripada dengan di luar itu. Namun ketika ashobiyah itu terlalu akut melebihi kecintaan kita terhadap jamaah dakwah secara lebih luas maka ini yang tidak layak kita lestarikan. Sebab kita adalah kader dakwah dengan satu-kesatuan jamaah bukan kader wajihah tertentu yang itu merupakan tempat kita menempa diri untuk menyongsong kerja yang lebih luas lagi, maka ketika jamaah mengharuskan kita meninggalkan wajihah tersebut untuk mengemban amanah di tempat yang lain sudah seharusnya dengan lapang dada menerima itu. Sebab satu hal yang harus kita sama-sama pahami dan jadikan prinsip bahwa kita ini berdakwah karena dan untuk ALLAH, tujuan kita adalah Li ila kalimatillah (menegakkan kalimat ALLAH) bukan untuk wajihah jadi apapun jabatan kita dan di manapun kita itu tidak menjadi penting yang paling penting adalah kontribusi kita.

Ketiga, Ketsiqahan terhadap jamaah. Dalam akhkanul bai’ah tsiqah di tempat di posisi buncit atau yang kesepuluh, ini bukanlah suatu kebetulan sebab ketika sudah sampai pada fase ini maka pada hakikatnya sembilan bai’ah yang lain sudah terangkup dalam makna tsiqah ini. Sebab ketika sudah tsiqah maka kepahaman, ketaatan, pengorbanan dan lain-lainnya itu sudah selesai. Tsiqah bukan berarti tidak boleh dikritisi atas setiap kebijakan, boleh-boleh saja mengkritisi, menanyakan atau mengklarifikasi agar kita paham namun bukan menolak melaksanakan ketika itu sudah diputuskan. Itu bukanlah karena kita punya karakter, keberanian atau merasa mampu dengan menolak kebijakan itu namun itulah pembangkangan yang akan menyebabkan perpecahan dan kekalahan pada akhirnya. Na’udzubillah…semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang dapat menyebabkan kekokohan jamaah ini luntur. Aamiin… Wallahu ‘alam bisshawab…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Sriwijaya. Pernah menjadi Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsri 2011-2012 dan sedang proses menyelesaiankan studi.

Lihat Juga

Jas Bertambal; Mohammad Natsir, Mencintai Indonesia, Dicintai Negeri Asing