Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Hah, Menjadi Ibu Rumah Tangga (Saja?)

Hah, Menjadi Ibu Rumah Tangga (Saja?)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Keluarga. (zawaj)
Ilustrasi – Keluarga. (zawaj)

dakwatuna.comSetiap hari, sering sekali kita melihat wanita-wanita berseragam kerja yang berangkat ke tempat kerjanya dengan nyangking si kecil. Ada yang sekalian mengantar ke sekolah, dan banyak pula yang membawanya ke tempat penitipan anak. Rutinitas kerja yang umumnya berlangsung dari pagi hingga sore hari tidak memungkinkan bagi mereka untuk memiliki cukup waktu mengurus anak.

Wanita masa kini lebih memilih menjadi wanita karir dibandingkan “sekadar” menjadi ibu rumah tangga yang bertugas dalam lingkup macak, manak, dan masak saja. Menjadi ibu rumah tangga (saja) dianggap sebagai “kekalahan” atau ketidakberhasilan.

Fenomena ini dipengaruhi oleh semakin tingginya tingkat pendidikan kaum wanita sementara itu orientasi pendidikan formal saat ini cenderung mempersiapkan lulusannya untuk menjadi employees yang handal. Penyebab kedua adalah pergeseran paradigma tentang wanita. Gempuran kemajuan teknologi paham feminisme mendorong kaum wanita untuk menuntut persamaan hak dengan kaum kali-laki. Prinsip yang mereka sebarkan adalah persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita. Dalam beberapa kasus, yang terjadi adalah sebaliknya. Laki-laki berada di rumah untuk mengurus anak, sedangkan istri bekerja di luar mencari nafkah. Penyebab selanjutnya adalah kondisi ekonomi. Seringkali penghasilan suami tidak memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya anak atau semakin besarnya biaya sekolah mereka. Hal ini memaksa wanita ikut “turun tangan” mengatasi masalah keuangan dengan bekerja bahu-membahu dengan suami. Dalam kondisi semacam ini, maka istri yang bekerja dapat dimaklumi. Adakalanya dapat dimaklumi pula seorang wanita yang bekerja di luar rumah karena kondisi situasional tertentu misalnya saja dia seorang janda yang harus menghidupi anak-anaknya.

Begitu maraknya para ibu yang keluar rumah, menyebabkan perubahan pola asuh terhadap anak. Jika dulu dari bangun tidur, sarapan, berangkat sekolah, pulang sekolah, makan siang, makan malam, belajar, hingga tidur lagi mereka ditemani ibu, sekarang tidak lagi. Balita lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah-sekolah full day yang dianggap pilihan pintar untuk menyiasati ketiadaan waktu ibu untuk anaknya. Sebagian tumbuh dan berkembang di tempat-tempat penitipan anak yang semakin diminati sebagai alternatif pilihan berikutnya. Anak bertemu ibu dalam kondisi ibu sudah lelah dan tidak bisa lagi memberikan bimbingan. Akibatnya, mereka dituntut untuk mandiri dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka sendiri tanpa tahu benar ataukah tidak apa yang dilakukan. Andainya pun ada pembantu, tugasnya tidak lebih dari menjaga anak agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan tidak dapat menjalankan fungsi pendidikan dan bagi si anak.

Dalam jangka panjang, efek buruknya adalah anak tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup. Ibu selaku pemeran utama sebagai pemberi bimbingan dan pendidikan sejak dini kepada anak tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Maka tak heran jika saat ini kerusakan akhlak para remaja semakin merajalela. Salah satu penyebabnya adalah anak tidak mendapatkan arahan dan bimbingan yang kokoh sejak dini. Seorang remaja Muslim misalnya, mereka tidak mendapatkan prinsip-prinsip apa yang harus mereka pegang teguh untuk menegakkan identitasnya. Contoh sederhananya, ketika ibu tidak lagi memiliki waktu untuk mendampingi anak ketika menonton acara televisi, maka tayangan apapun akan ditelan anak mentah-mentah. Demikian juga dengan akses internet yang memfasilitasi siapapun penggunanya tanpa pandang umur untuk mendapatkan berbagai informasi. Akibatnya, pikiran mereka dijejali dengan berbagai nilai dari luar tanpa adanya penanaman nilai kebenaran dari dalam. Mereka menjadi mudah sekali terombang-ambing. Saat berteman dengan pencopet, dia akan turut menjadi pencopet. Saat berteman dengan preman, mereka turut menjadi preman, dan lain sebagainya.

Ketika menikah, seyogianya wanita menyadari hak dan kewajiban yang harus dia penuhi sebagai amanat yang menjadi tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Sesungguhnya profesi sebagai ibu rumah tangga sangat mulia karena sesuai dengan fitrah asal kaum wanita. Tak perlu menuntut segalanya harus sama antara laki-laki dan wanita sebab Tuhan telah menciptakan keduanya dengan porsi masing-masing. Bahkan dari segi penciptaan fisik pun, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Apalagi terkait fungsi serta hak dan kewajibannya. Ibu diciptakan dengan kedekatan emosional yang lebih erat dengan anak dibandingkan dengan ayah. Sejak bayi, telah terjadi pertautan batin yang kuat antara ibu dan anak melalui proses menyusui. Kasih sayang berlimpah yang diberikannya tidak perlu membuat anak tumbuh dalam kekurangan cinta yang pada akhirnya membuatnya merasa perlu mendapatkannya dari orang lain atau lingkungan sekitar. Berikutnya, ibulah yang bertugas pertama kali untuk menjalankan fungsi bimbingan dan pendidikan kepada anak. Banyak sekali kita saksikan remaja-remaja yang nakal rata-rata berasal dari keluarga yang berantakan. Mereka kurang kasih sayang dan perhatian sehingga merasa perlu mendapatkan perhatian dengan cara yang lain. So, masih adakah yang kurang pede menjadi ibu rumah tangga?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis berprofesi sebagai PNS di lingkup Pemkab. Tulungagung Jawa Timur. Menekuni dunia literasi sejak dua tahun terakhir. Tulisannya tergabung dalam 40 antologi, buku solo Love and Live Undercover, Meraup Pahala Kala Haid Tiba, dan Kitab Gang Pitu telah terbit tahun ini. Dua novel Islaminya insya Allah terbit awal tahun 2014. Penulis aktif dalam jaringan kepenulisan Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)
  • Tutik Sulistyawati

    Bekerja bagi seorang wanita bukan sekedar mengejar karir, bayak yang mejalaninya sebagai bentuk baktinya kepada keluarga (terutama orangtua). Betapa sering hati mereka menangis karena ingin membersamai setiap detik perkembangan putra putri mereka, tetapi keinginan itu selalu ditentang oleh keluarganya. Doakan kami, agar Allah melembutkan hati mereka, agar kami bisa semulia kalian, ibu rumah tangga…

  • santi Oktapianti

    Banyak kaum ibu yang tidak ingin bekerja, tapi karena penghasilan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga al hasil sang ibu harus rela dengan berat hati meninggalkan buah hatinya untuk bekerja diluar rumah, so untuk para suami lebih bertanggung jawab lah dalam mencari nafkah jg kau tega pisahkan anak dari ibunya hanya karna harus membantu tugas mu mencari nafkah…

Lihat Juga

Ilustrasi. (islamicartdb.com)

Bu, Aku Menyayangimu