Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Awas! Berhati-Hatilah dengan Pikiranmu

Awas! Berhati-Hatilah dengan Pikiranmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sahabat dahsyat, pernahkah sahabat mendengar potongan kalimat “Berpikir 1 Jam lebih baik daripada ibadah 60 tahun.” Kalimat yang sederhana tapi mengandung makna yang sangat dalam. Sekilas memang mempunyai arti yang biasa-biasa saja bahkan tidak mampu menggetarkan hati kita. Cobalah sahabat mengajak pikiran sahabat berkelana mengarungi makna yang terkandung dan memetik hikmah yang terdapat di dalamnya. Sungguh luar biasa.., sepotong kalimat yang mampu menusuk kalbu dan mengusik nurani. Bagaimana tidak, bayangkan sahabat dahsyat, hanya dengan berpikir 1 jam mampu mengalahkan ibadah 60 tahun. Oleh karenanya berhati-hatilah dengan pikiran sahabat.

Pikiran adalah karunia Sang Maha Pencipta. Pikiran diberikan kepada kita agar kita mampu menjalankan tugas kita di muka bumi ini sebagai khalifah. Pikiran itu dapat kita gunakan untuk mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi. Kita mengakui bahwa kita diberikan pikiran oleh Sang Maha Pencipta namun kita harus mengakui pula bahwa banyak di antara kita yang tidak mampu berpikir. Berpikir dalam arti memaksimalkan potensi pikiran yang kita miliki agar apa yang menjadi mimpi besar kita dapat tercapai. Mungkin di antara kita banyak yang memimpikan kekayaan, hidup dengan segala kemewahan, dan apapun yang diinginkan selalu tercapai.

Itu adalah hal yang wajar-wajar saja. Merupakan fitrahnya manusia karena dalam setiap diri pasti mendambakan kedamaian. Dengan kekayaan itulah, kedamaian akan didapatkan. Damai adalah milik kita semua. Memperoleh kedamaian adalah hak setiap insan. Jikalau kita mampu merenungi, sesungguhnya mendapatkan kedamaian dalam hidup adalah hal yang sangat mudah. Cukup dengan mampu mengelola pikiran kita maka kedamaian akan kita peroleh. Perhatikanlah sahabat dahsyat, berpikir 1 jam, adakah yang mampu berpikir 1 jam? Agar tidak salah diartikan, berpikir 1 jam adalah bagaimana kita bisa memikirkan kekuasaan dan keagungan Sang Maha Pencipta dalam waktu satu jam. Ketika kita mau mengorbankan waktu kita untuk berpikir tentang kekuasaan-Nya maka kedamaian yang kita idam-idamkan akan menghampiri kita.

Bayangkan sahabat dahsyat, ketika kita merenungi karunia Sang Maha Pencipta dan membayangkan tentang kekuasaan-Nya, begitu agungnya Allah SWT, Pencipta kita, Pencipta langit dan bumi. Adakah yang mampu membuat gunung-gunung yang menjulang tinggi? Adakah yang mampu menegakkan langit dengan begitu seimbang tanpa tiang penyangga? Adakah yang dapat membuat samudra nan luas yang di dalamnya tersimpan mutiara yang berkilauan dan hidup bermacam-macam jenis tumbuhan serta ikan-ikan bertaburan? Semua itu hanyalah yang punya kuasa mampu membuatnya, itulah Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. King of the King. Raja yang merajai langit dan bumi. Itulah Allah SWT.

Pantaslah berpikir satu jam itu lebih baik dari ibadah 60 tahun. Memikirkan kekuasaan Allah SWT dan melihat keagungan-Nya melalui makhluk ciptaan-Nya membuat hati kita berdecak kagum sehingga dengan sendirinya diri ini bersujud, mengucapkan syukur kepada-Nya, bertambahlah keimanan ini serta semakin tunduk dan patuh menjalankan perintah-Nya karena diri ini bukan siapa-siapa lagi melainkan kepunyaan-Nya yang selalu siap dipanggil kapan saja menghadap-Nya. Sementara ibadah 60 tahun tidak dapat menjadi jaminan atas penghambaan kita kepada Allah SWT. Apakah kita sadar bahwa ibadah yang kita lakukan benar-benar ikhlas karenanya atas rasa syukur kita karena telah diberikan begitu banyak nikmatnya. Atau malah ibadah yang kita kerjakan bukan semata-mata karena-Nya melainkan hanya karena pujian dari orang lain. Beribadah karena dilihat oleh orang lain. Sadar ataupun tidak, sesungguhnya ibadah yang kita lakukan hendaknya kita koreksi apakah mengandung cacat atau tidak? Jika sedikit saja mengandung cacat maka tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Hanya kepada-Nyalah kita menyerahkan diri kita, ibadah kita, dan seluruh pekerjaan yang kita kerjakan semoga menjadi bekal kita di akhirat kelak. Berapapun umur kita saat ini, sebanyak apapun ibadah yang kita lakukan bukan jaminan kita akan memperoleh keselamatan di hadapan-Nya. Marilah kita jernihkan pikiran kita, membukakan pintu hati kita untuk menerawang kekuasaan-Nya sambil berdzikir dan bertasbih kepada-Nya dengan memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya agar hati kita senantiasa dijaga dan dipelihara oleh-Nya. Karena hanya dengan hati yang bersih suci dapat merasakan nikmatnya ibadah kepada-Nya. Hanya dengan pikiran tenang dan terang kita dapat bermuhabbah kepada-Nya sebagai bentuk penghambaan kita atas kesempurnaan yang telah diberikan kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Wallahu’allam Bisshawab…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Uki Kifli
Lahir tahun 1989 di sebuah desa nan kecil tepatnya ujung selatan pulau Sumbawa, Emang Lestari. Pendidikan SD hingga SMA ditempuh di Kec. Lunyuk Kab. Sumbawa NTB dan melanjutkan kuliah di IKIP Mataram jurusan Matematika Fakultas MIPA.

Lihat Juga

Dari Perkembangan Pemikiran Hingga Aksi Radikalisme dalam Islam