Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perpustakaan Kecil di Sudut Rumah Sakit

Perpustakaan Kecil di Sudut Rumah Sakit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Suasana di ruang tunggu poliklinik ini terasa sesak. Orang-orang berdesakan duduk di kursi yang di sediakan. Dengan raut yang agak lelah, seorang perempuan paruh baya menghampiri ruang perawat.

“Gimana Mbak, sudah ada kamar?”

“Maaf ya Bu, masih penuh sekali.” Jawab seorang perawat berseragam biru muda itu.

“Dari kemarin Bapak saya mau masuk, belum dapat juga. Kapan bisa masuk Mbak?”

“Belum tahu ya Bu, yang ngantri di sini saja masih banyak, belum lagi yang dari IGD sana. Memang beberapa hari ini penuh banget Bu. Atau coba ke Rumah Sakit lain, Dokternya kan tidak hanya praktek di sini.”

“Sudah coba hubungi, semua rumah sakit sama-sama sedang penuh Mbak.”

Aku tak habis pikir, masyarakat ini bukanlah komunitas orang-orang bodoh atau buta huruf, namun peradaban modern dengan pencapaian teknologi dan pengetahuan yang dicapainya tidak membuat masyarakat ini mampu membebaskan diri dari berbagai problem kesehatan. Masyarakat ini juga bukan komunitas orang-orang kurang gizi dan serba kekurangan, namun dengan kemakmuran yang dicapainya tidak membuatnya mencapai derajat kesehatan yang baik. Hampir semua orang yang aku temui, memiliki keluhan tentang persoalan kesehatan yang mereka hadapi.

Menempati salah satu kamar di rumah sakit membutuhkan biaya tidak sedikit. Juga bukan sesuatu yang dicitakan orang-orang. Kalau ditawarkan, hampir tidak ada yang mau menyandang predikat sebagai orang sakit. Namun yang terjadi, begitu banyak orang sampai putus asa hanya untuk mendapatkan kesembuhannya. Hingga tiap hari berduyun-duyun orang mendatangi poliklinik ini dan memenuhi setiap kamar rawat inapnya.

Untuk kesekian kalinya persoalan seperti ini kujumpai. Bahkan aku sendiri juga sudah terlalu sering merasakannya, antrian panjang untuk mendapatkan sebuah kamar di rumah sakit ini. Di antara perasaan harap-harap cemas aku beranjak keluar, mungkin harus menunggu sampai malam baru bisa masuk, seperti biasanya.

Aku menuju teras masjid di sebelah gedung ini. Tempat yang membantuku meluruhkan kejenuhan, untuk kesekian puluh kalinya menemani ibuku yang harus menjalani kemoterapi. Pohon-pohon yang rimbun di sekitar masjid ini membuat suasana di sini cukup segar. Ditambah keberadaan lapak yang menjual buku-buku menumpang di teras masjid ini, membuatku betah di sini. Penjual bukunya adalah penjaga masjid ini, yang bertanggung jawab untuk urusan kebersihan hingga mengingatkan orang-orang ketika tiba waktu shalat. Aku bisa menumpang membaca berbagai buku di sini, aku anggap seperti perpustakaan kecil di sudut rumah sakit.

“Di depan masjid ini, nantinya akan dibangun gedung baru.”

Tak terlalu jelas aku mendengar pembicaraan itu. Ternyata jawaban dari antrian panjang pasien-pasien yang membludak adalah membangun gedung-gedung baru yang megah. Tentunya bukan hanya menambah jumlah kamar rawat inapnya, termasuk juga dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan. Memang secara fisik rumah sakit ini kurasakan masih tertinggal, bangunan-bangunannya memang masih jadul. Meski demikian, telah memiliki berbagai prestasi yang istimewa, seperti transplantasi hati yang belum pernah berhasil dilakukan rumah sakit lain di negeri ini.

Aku juga mendengar bahwa di kota atas sana, akan dibangun rumah sakit baru yang lebih besar dari rumah sakit ini. Sebuah harapan bagi orang-orang sakit untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik, perbaikan teknologi pengobatan untuk harapan kesembuhan yang lebih baik. Namun apakah ini juga merupakan sebuah ‘optimisme’ tentang masa depan masyarakat kita yang masih akan dipenuhi orang-orang sakit?

Tidakkah masa depan yang kita impikan adalah suatu kehidupan masyarakat yang sehat, terbebas dari tetek bengek persoalan sakit, orang-orang tidak lagi membutuhkan dokter dan obat, poliklinik dan rumah sakit tak lagi dikunjungi orang?

Kusadari harapan indah ini merupakan sesuatu yang mustahil terwujud, dan baru akan terwujud di surga kelak. Antara sehat dan sakit, kemudahan dan kesulitan, atau kekuatan dan kelemahan adalah takdir-Nya yang senantiasa mengiringi kehidupan makhluk-Nya di dunia ini. Allah memberi karunia akal pikiran yang membuat manusia menjadi makhluk luar biasa, tapi manusia juga tidak diciptakan sebagai makhluk super yang bebas sama sekali dari kelemahan.

Tinggal bagaimana kita memaknai keberadaan sakit beserta hikmah-hikmah yang menyertainya. Menjadikan sakit sebagai sarana untuk mengerti makna nikmat kesehatan, yang sering terlupakan begitu saja. Atau meluruhkan keangkuhan kita di hadapan Sang Pencipta, lebih mudah menerima nasihat, mengasah rasa kesetiakawanan, serta menunjukkan kelemahan dan kebutuhan seorang hamba. Bisa juga membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalankan pola hidup, mengendalikan diri, lebih takut untuk mengabaikan batas-batas larangan-Nya. Sakit terkadang menjadi suatu inspirasi yang hebat, yang bermanfaat bagi peradaban.

Dua tahun kemudian, aku tiba kembali di rumah sakit ini setelah sekian lama tak pernah menyambangi. Hanya sesekali lewat jalan raya di depannya, melihat gedung megah yang sedang dibangun. Ketika tiba waktu shalat, aku beranjak menuju masjid yang cukup jauh di ujung sana. Juga kerinduanku pada perpustakaan kecil di terasnya, penjual bukunya tak pernah melarangku menumpang membaca buku-buku yang digelar di lapak.

Dan, perpustakaan itu sudah tidak ada bersama tumbangnya sebagian pohon-pohon yang rimbun di sekitar masjid ini. Gedung megah itu sudah hampir jadi, sekaligus membutuhkan perluasan halaman dan tempat parkir. Akhirnya lapak buku dan pohon-pohon itu tergilas juga oleh tuntutan pembangunan.

Seberapa pentingkah keberadaan lapak penjual buku di sudut rumah sakit ini. Mungkin mereka menganggap keberadaannya tidak urgen dengan keperluan rumah sakit. Persoalan kesehatan ini mungkin dianggap cukup diselesaikan oleh secarik resep dokter untuk ditukar dengan sejumlah obat di apotek, atau berbagai peralatan canggih untuk mendiagnosa dan melakukan tindakan.

Ketika semakin hari, berduyun-duyun semakin banyak pasien yang mengantri di rumah sakit ini, tidakkah kita sedikit membuka mata untuk menemukan apa yang salah dari kehidupan kita? Tentang apakah yang menyebabkan sebagian besar kita terbelit permasalahan kesehatan.

Barangkali dari buku-buku yang tersisihkan itu, kita mendapatkan petunjuk untuk menjawab persoalan ini. Membuka cakrawala pengetahuan tentang pola hidup yang baik, kebiasaan yang sehat atau yang sebaliknya, tanpa disadari berakibat buruk bagi tubuh sehingga mesti dihindari. Tentang menata jiwa, emosi dan mengendalikan diri. Pengetahuan dari para ahli tentang kesehatan hingga ajaran dari Sang Pencipta untuk para hamba-Nya, untuk membimbing kita secara utuh untuk menjalani segala aspek kehidupan dengan baik.

Ketika di antara kita banyak yang sudah berputus asa menjalani upaya medis, teknologi yang kian canggih tidak mampu memberi kesembuhan yang kita harapkan. Sebagian jawabannya barangkali bisa ditemukan dalam buku-buku itu. Tentang hal-hal yang seolah tidak ada kaitannya dengan pengobatan, dengan doa, taubat atau sedekah, hingga orang-orang yang pernah mengalami keajaiban ini bisa sharing melalui buku-buku itu.

Betapa pengetahuan kita yang hidup di zaman modern ini seringkali tertinggal termasuk hal-hal yang berhubungan dengan tubuh kita sendiri. Dalam bimbingan wahyu, Rasul kita mengajarkan tentang berbagai kebajikan secara menyeluruh, termasuk tuntunan untuk hidup dengan sehat. Ajaran tentang memilih makan makanan yang baik, makan dan minum dengan cara yang baik, mengunyah dengan sempurna, tidur yang baik, ajaran tentang kebersihan dan masih banyak hal yang bagi manusia modern ini justru teramat asing. Kebanyakan kita sepertinya terlalu primitif dalam menjalani hidup bila dibandingkan dengan pengetahuan Rasul berabad silam.

Tanpa disadari berbagai kebiasaan yang kita lakukan ternyata berakibat tidak baik. Kita terbiasa minum atau makan buah sesudah makan sebagai cuci mulut, makan atau minum terlalu dekat sebelum tidur, meniup makanan panas, yang kita merasa kebiasaan itu baik-baik saja padahal sebenarnya mengganggu kesehatan. Sementara hal-hal tidak baik yang sudah kita ketahui pun, masyarakat modern ini belum mampu melepaskannya. Budaya junk food, makanan kita yang mengandung bahan kimia berbahaya, pengawet, pestisida, pewarna dan masih banyak hal buruk yang belum mampu dihindari. Ketidakmampuan kita menyelaraskan aktivitas jasad dan ruh, menempatkan kerja, istirahat dan ibadah. Sehingga sudah maklum jika berbagai persoalan kesehatan membelit kita.

Sejak kecil kita sudah begitu akrab dengan yang namanya obat. Ketika orang tua kita menerjemahkan kata kasih sayang kepada anak dengan secepatnya membawa ke dokter bila menderita sakit. Tak tega melihat si kecil sakit, pokoknya ingin secepatnya sembuh. Tak sabar menunggu lama, maunya minta dosis yang lebih tinggi. Dan kebodohan ini juga menghinggapi kalangan menengah ke atas yang lebih terpelajar.

Aku dengar di negara-negara Eropa seperti Belanda, dokter di sana tidak mudah memberikan obat, apalagi bagi anak kecil. Kalau sekadar flu, paling-paling disuruh banyak minum dan istirahat, diberi surat izin sakit. Antibiotik, penurun panas, pengurang rasa sakit, bahkan sekadar suplemen tidak diberikan. Beda dengan persepsi masyarakat kita bila datang ke dokter, harus selalu mendapatkan obat dan cepat sembuh. Sakit yang menimpa kita sejak kecil seperti flu, dianggap sebagai siklus yang sudah biasa, biarkan sembuh dengan sendirinya agar kekebalan tubuh kita terlatih.

Kapanpun orang sakit akan senantiasa ada, sudah merupakan bagian dari kodrat kita. Upaya untuk mengobatinya senantiasa dibutuhkan, namun upaya pencegahannya tidak semestinya kita abaikan. Bukan hanya untuk membangun berbagai fasilitas pengobatan, namun juga upaya pencegahannya, sebelum penyakit datang menimpa.

Aku berharap perpustakaan kecil ini suatu hari nanti kembali diberi tempat, untuk membuka berbagai cakrawala pengetahuan yang berguna. Aku juga berharap suatu hari nanti, lebih banyak orang sehat yang mendatangi dokter dan rumah sakit dalam upaya meraih kehidupan yang berkualitas dan sehat sebelum penyakit datang menimpa, daripada orang-orang yang telah terlanjur sakit untuk berobat. Aktivitas medis lebih banyak digunakan untuk mencegah daripada mengobati.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Militer Suriah Bom Rumah Sakit Palestina di Yarmouk