Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Tempayan Retak

Tempayan Retak

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Bismillahirrahmaanirrahim.

Konon, di suatu desa hidup seorang ibu tua, yang sehari-hari harus mengambil air dari sumber mata air yang jauh dari rumahnya untuk keperluan sehari-hari. Beliau membawa air tersebut dengan menggunakan dua buah tempayan, yang dipikul dengan sebatang bambu di pundaknya. Tempayan yang satunya utuh, sementara tempayan satunya lagi agak sedikit retak. Setiap hari dia berjalan dari sumber mata air menuju rumah memikul tempayan berisi air. Keduanya diisi dengan air sampai penuh. Sesampai di rumahnya, tempayan yang penuh tetap berisi penuh air, sementara tempayan yang satunya lagi, karena retak, air di dalamnya hanya bersisa separuh ketika sampai di rumah. Hal ini berlangsung terus menerus sepanjang waktu.

Karena merasa telah memberikan jasa secara sempurna, tempayan utuh berbangga diri dengan apa yang telah dilakukannya. Tempayan retak merasa bersedih dan minder. Akan tetapi dengan bijak ibu tua tadi menyampaikan: “wahai tempayan retak, kau tidak perlu bersedih dan merasa minder. Tahukah engkau, di sepanjang jalur yang telah kita lalui, banyak tumbuh bunga-bunga nan indah, yang setiap saat menjadi pemandangan yang menyejukkan. Dengan bunga-bunga indah itupun rumah ini menjadi asri, karena setiap hari bisa kita petik untuk menghias rumah ini. Dan tidak terlihat tumbuh bunga-bunga cantik di jalur yang sebelahnya, yang dilalui oleh saudaramu yang utuh. Tanpa kehadiranmu, rumah ini tidak akan se asri seperti sekarang ini. Untuk itu, janganlah engkau bersedih. Saudaramu tempayan utuh telah memberikan sumbangsihnya dalam bentuk air yang selalu utuh, dan kau pun tetap bisa memberikan sumbangsihmu untuk hal yang lain. Karena aku tahu kelemahanmu dengan keretakanmu, maka aku sengaja mencari titik kebaikanmu/kelebihanmu. Telah aku taburkan benih-benih bunga di sepanjang jalur yang engkau lalui, karena aku tahu, kelebihanmu adalah bisa menyiram benih-benih tersebut, dan kini bunga-bunga itu telah bermekaran sepanjang waktu dengan begitu indah.

Kisah yang sangat inspiratif, mengandung hikmah pendidikan yang sangat mendasar. Bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikian juga dengan anak- anak kita, staff dan anggota kita. Mereka semua memiliki kepandaian dan kecerdasan masing-masing, yang tidak dimiliki oleh teman atau saudaranya. Orang tua, guru, pimpinan harus pandai menemukan kecerdasan anaknya, atau anggota dan staffnya.

Dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah multiple integenlensia. Kecerdasan majemuk atau kecerdasan ganda. Ada kecerdasan bahasa, kecerdasan logis matematis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Dahulu orang berpikiran bahwa yang dikatakan dengan anak yang cerdas hanyalah mereka yang pandai matematika atau pelajaran eksak, dan meremehkan mereka yang menonjol di bidang seni atau di dalam berorganisasi. Setelah ditemukan teori multiple intelegensia, maka kita mengetahui bahwa setiap anak membawa kecerdasannya masing-masing. Kelebihan di satu sisi, kekurangan di sisi yang lain.

Lembaga pendidikan saat ini, diharapkan mampu mengakomodasi dan mengembangkan setiap jenis kecerdasan dari anak-anak didiknya. Semua harus diberikan ruang dan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Dan memberikan suasana lingkungan dan fasilitas yang menunjang untuk perkembangan berbagai jenis kecerdasan tersebut. Kerjasama yang bagus dengan orang tua murid juga menjadi hal yang niscaya, agar orang tua memahami potensi anaknya dengan baik. Selanjutnya para orang tua akan terus mendukung berbagai upaya pengembangan kecerdasan tersebut di rumahnya.

Dalam rangka mengembangkan berbagai kecerdasan tersebut, orang tua dan guru harus memahami ciri masing-masing kecerdasan. Kecerdasan bahasa umumnya memiliki ciri suka menulis kreatif, suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon, sangat hafal nama, tanggal, tempat atau no telepon, membaca di waktu senggang, mengeja kata dengan tepat dan mudah, suka mengisi teka teki silang, menikmati dengan cara mendengarkan, dan unggul dalam pelajaran bahasa.

Kecerdasan logis matematis umumnya berciri: suka mengajukan pertanyaan yang bersifat analisis, misal, kenapa hujan turun? Ahli dalam bermain catur, menjelaskan masalah dengan sangat logis, suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu. Unggul dalam pelajaran matematika dan IPA.

Kecerdasan spasial umumnya bercirikan mudah membaca peta atau diagram, menggambar sosok orang atau benda persis seperti aslinya, senang melihat film, slide, foto, atau karya lainnya. Sangat menikmati kegiatan visual, suka melamun dan berfantasi, lebih memahami informasi lewat gambar daripada kata-kata, menonjol dalam mata pelajaran seni.

Kecerdasan kinestetik jasmani, umumnya bercirikan: banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking dan lain-lain, perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya kembali, pandai menirukan gerakan orang lain, memiliki berbagai keterampilan tangan seperti menjahit, menyulam, mengukir/memahat, berprestasi dalam pelajaran olahraga dan bersifat kompetitif.

Kecerdasan musikal umumnya bercirikan: suka memainkan alat musik, suka belajar dengan mendengarkan lagu, mudah mengingat melodi lagu, bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri dan orang lain, bersuara bagus untuk bernyanyi, dan menonjol untuk mata pelajaran musik.

Kecerdasan interpersonal umumnya bercirikan: banyak teman di lingkungan sekolah dan rumah, suka berorganisasi, mampu bersosialisasi dengan baik, senang dengan permainan kelompok, biasanya menjadi tempat curhat orang lain, senang berkomunikasi verbal dan non verbal, memiliki perasaan yang peka terhadap teman, berbakat menjadi pemimpin, dan unggul dalam mata pelajaran sosial.

Kecerdasan intrapersonal, umumnya bercirikan: mampu menilai diri sendiri, mudah mengelola dan menguasai perasaan diri, sering mengamati dan mendengarkan, bisa bekerja sendiri dengan baik, mampu mencanangkan tujuan dan cita-cita, berjiwa independen, keseimbangan diri, senang mengekspresikan perasaan yang berbeda, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, banyak belajar dari kesalahan masa lalu.

Kecerdasan naturalis umumnya bercirikan: suka dan akrab dengan berbagai hewan peliharaan, senang berkebun atau menanam bunga, sangat menikmati berjalan di alam terbuka, menghabiskan waktu di depan akuarium atau sistem kehidupan lain, suka membawa pulang bunga, serangga atau benda alam lainnya, unggul dalam mata pelajaran IPA, biologi dan lingkungan.

Setelah mengetahui berbagai ciri masing-masing kecerdasan, tugas kita para orang tua adalah menemukan dan memperhatikan, kira-kira manakah yang lebih menonjol pada diri anak kita dari semua ciri-ciri yang ada? Jika belum bisa menemukan, teruslah mencoba mengamati, semoga kecerdasan anak kita dapat dikembangkan secara optimal. Anak adalah harta yang paling berharga. Selamat mendidik.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.
  • BramSonata

    Termasuk deretan artikel yg bagus di dakwatuna. Komentar saya, seharus didirikan sekolah sekolah yg pendekatan pelajarannya/pendidikannya adalahspesialisasi bakat sesuai dengan kandungan kecerdasan.

Lihat Juga

Pandangan Hukum tentang Memukul dalam Pendidikan