Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aturan?? Harus Itu…

Aturan?? Harus Itu…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSenin, awal pekan yang baik untuk memulai kegiatan baru kembali. Kulirik jam dinding menunjukkan pukul 06.30 WIB, buru-buru kuselesaikan menyapu rumah dan segera mandi mengingat hari ini akan ada upacara pagi di sekolah. Selesai mandi kulihat teteh sedang sibuk di dapur memasak sesuatu. Terpaksa aku harus membiarkan teteh memasak sendiri terlebih dahulu karena aku tidak enak hati terlambat datang ke sekolah.  Sebagai Guru Model, aku harus siap menjadi contoh yang baik bagi para siswaku dan guru lainnya.  Aku tidak mau mengecewakan para bidadariku yang akan membawaku ke surga nanti.

Langkah kaki seribu begitu orang menyebutnya ketika berhasil menyelesaikan santap makan pagi yang sudah disediakan teteh sedari tadi. Kembali, seperti biasa kusapa semua orang yang kutemui di sepanjang jalan untuk lebih mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat. Setiap melangkahkan kaki menuju sekolah, tak tahu kenapa, aku merasa begitu senang dan sangat bersyukur dengan limpahan berkah dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku. Alhamdulillah, sungguh indah alam-Mu ini ya Rabb, terima kasih atas limpahan rahmat-Mu ini. Terima kasih ya Allah.

Kulihat para bidadara dan bidadariku menyambut dengan semangat dan senyuman yang teramat indah dan sayang untuk dilewatkan. Kubalas senyuman mereka dengan senyuman yang tak kalah hangatnya. Berebut mereka mengambil tanganku untuk disalami. Semangat ini menjadi bertambah melihat kehadiran mereka. Segera ku menuju kantor ruang guru, tak sabar untuk menyapa mereka dan menularkan semangat yang kurasakan ini kepada mereka.

Kuucapkan salam menuju ruangan, tak ada seorangpun yang menjawab salamku. Kucoba untuk melangkah masuk ke dalam lagi, namun benar saja, belum seorangpun guru yang datang ke sekolah. Kulihat jam dinding yang bergerak menunjukkan pukul 07.15 WIB. Agak sedih hati ini melihat situasi seperti ini. Padahal sekolah ini sudah termasuk sekolah yang rapi dan teratur menurutku dibandingkan sekolah daerah tertinggal lainnya.

Tak mau bersedih lebih lama, kucoba keluar dan mengunjungi Bapak Wahono, kepala sekolah di sini yang kebetulan tinggal di samping sekolah. Ya, setidaknya aku mempunyai temanlah untuk membina siswaku pagi ini. Tapi, sepertinya aku memang harus sendiri pagi ini, karena belum juga menuju rumahnya, aku melihat beliau sedang menghidupkan motornya dan bersiap-siap untuk pergi. Tanda tanya di wajahku segera terjawab, ketika beliau menghampiriku dan berkata bahwa ada rapat hari ini di kecamatan, jadi beliau tidak bisa berkegiatan di sekolah hari ini. Dan beliaupun menitipkan sekolah kepadaku. Ketika kutanya mengenai pelaksanaan upacara bendera, beliau pun menyarankanku untuk menunggu guru yang lain datang terlebih dahulu, namun beliau mengklarifikasi kembali setelah melihat ekspresi kurang setuju yang kutampilkan. Akhirnya beliau menyarankanku hanya membariskan siswa karena bendera sudah naik, jadi hari ini pun tidak jadi melaksanakan upacara bendera. Yup, inilah tantanganku, manhandle siswa sendiri bukanlah hal baru lagi buatku karena hal ini sudah sering kulakoni selama magang dahulunya.

Pengalaman yang menyenangkan, karena siswa di sini sangatlah patuh dan manut sekali kepada gurunya. Jadi tak ada kesulitan berarti bagiku dalam melaksanakan tugas ini. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan teratur. Akupun mencoba memasukkan pembiasaan-pembiasaan yang akan dilakukan siswa setiap paginya yakni membaca surat pendek setiap paginya, agar pintu hati mereka dibukakan dan dimudahkan untuk menerima pembelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Tak berapa lama, kulihat para guru yang lain pun mulai berdatangan satu per satu. Alhamdulillah, bidadari dan bidadaraku bisa belajar tepat waktunya. Kembali kumasuki kelas I, kelas yang aku ajar setiap harinya. Kulihat mereka sedang bersih-bersih kelas, segera saja kuajak mereka semua untuk mengambil sampah yang terlihat agar lingkungan menjadi rapi dan asri, dan pastinya itu akan membuat mereka merasa nyaman untuk belajar.

Beberapa hari kehadiranku di sini kucoba untuk mengamati kebiasaan siswaku yang mungil ini dalam pembelajaran di kelas. Dan sepertinya mereka masih kurang paham dalam penerapan aturan kelas ketika pembelajaran berlangsung. Banyak di antara mereka yang terpengaruh dengan teman. Contohnya saja, ketika ada salah seorang yang teman yang ingin minta izin pipis keluar kelas, maka yang lain pun akan terpengaruh dan ikutan untuk meminta izin keluar kelas.

Dalam kondisi inilah kucoba untuk menerapkan aturan kelas kepada mereka, agar mereka paham dan bergiliran untuk meminta izin keluar kelas. Kurang terkondisikan memang, awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, hal ini bukanlah menjadi tantangan berarti lagi bagiku. Alhamdulillah, saat ini mereka sudah paham dengan aturan kelas yang telah diterapkan setiap harinya. Mulai saat ini pun mereka dapat memposisikan diri, kapan saatnya minta izin, kapan saatnya untuk maju ke depan kelas, kapan saatnya berbicara mengeluarkan pendapat, kapan saatnya harus makan, kapan saat yang tepat untuk pulang dengan teratur. Sekali lagi, Alhamdulillah Ya Rabb, semua ini takkan terjadi begitu saja tanpa limpahan rahmat dan karunia-Mu. Aku yakin, kau tahu dan pasti memilihkan yang terbaik bagiku dalam menjalani kehidupan di perantauan orang. Insya Allah, para siswa, rekan guru, dan para masyarakat akan menjadi keluarga besarku nantinya. Ammin Ya Rabb.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Asnita Putri
Asnita Putri Dewi, S.Pd, lahir di Padang tahun 1987. Penulis merupakan Anak bungsu dari 4 orang bersaudara yang bercita cita menjadi Guru profesional dan Motivator Indonesia tahun 2013. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Lb. Alung ini menyatakan siap untuk mengabdi pada dunia pendidikan secara profesional semenjak bergabung dengan sekolah guru Indonesia (SGI). Bagi penulis dengan mengajar membuat eksistensinya sebagai manusia terasa lebih berarti. Mengajar di pedalaman dan mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat adalah salah satu impian penulis sejak masih di bangku kuliah. Perempuan berdarah Minangkabau ini aktif diberbagai organisasi dan perlombaan semenjak SMK sampai di perguruan tinggi, diantaranya pernah aktif di National University English Debate Contest (NUEDC) tahun 2010-2011. Menjadi juara I English Debate Contest tingkat SMK se-Sumbar tahun 2005. Menjadi utusan Tim Nasional NUEDC di Pekanbaru tahun 2010. Juara I NUEDC se- kota Padang tahun 2011. Mahasiswa terbaik ke-2 jurusan Bahasa Inggris di kampusnya tahun 2011. Menjabat sebagai, Tim inti English Debate Championship tahun 2004-2005, Sekretaris utama Forum Ukhuwah Remaja Islam 2008-2012, Koordinator Debate Bahasa Inggris, HIMA Kampus 2010-2011, Anggota LDK Kampus 2010-2011.Menjadi Guru Pembaharu, Menebarkan Semangat Impian Kepada Semua Siswa itulah Motto hidup yang ia pegang selama ini. Sekarang sedang berkarya dan mengabdi di SDN 1 Girimukti, Lebak, Banten.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Dedi Hadiarto)

Mengantar ke Sekolah dan PLS untuk Apa?

Organization