Home / Pemuda / Cerpen / Rekaman Hidup di Senja Ramadhan

Rekaman Hidup di Senja Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSenja menghampiri sang malam… kala itu, orange kemerahan membuatnya terlihat indah di setiap bola mata yang menyaksikan. Berbalutkan cahaya di sekelilingnya, terpancarkan sinar yang menyilaukan para penghuni alam untuk merasakan keindahannya. Burung beterbangan, awan berlari menuju kegelapan serta pepohonan seolah-olah  melambai-lambai mengiringi kepergiannya.

Tepat di sudut ruang tamu itu, nampak seorang gadis nan cantik berulurkan jilbab panjang menutupi sebagian tubuhnya, terlihat sedang duduk menatap sebuah layar komputer mempersiapkan materi yang akan disampaikannya esok hari. Gadis itu bernama Robbiatul Ayya, namun teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Umi Ayya. Dia adalah seorang trainer motivasi bagi anak-anak remaja, baik di tingkat SMP maupun SMA. Itulah sebabnya mengapa dia dipanggil seperti itu, karena sifat keibuannya dan dia sering memberikan ilmu-ilmu baru serta memotivasi banyak orang. Hal ini semata-mata bukanlah cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang trainer, namun ini merupakan garis hidupnya yang Allah takdirkan untuknya. Dia menjadi demikian karena ada suatu peristiwa yang melatarbelakanginya. Gadis keluaran Universitas Indonesia ini, memiliki segudang prestasi. Dari mulai peraih IPK tertinggi di bidang studinya dan terakhir dia dinobatkan sebagai Miss World Muslimah karena dia memiliki kriteria sebagai muslimah yang berpengetahuan luas akan agama yang diyakini serta banyak memberikan sumbangsih kepada masyarakat terutama dalam bidang sosial. Itulah alasan para juri memberikan amanah ini kepadanya. Ayya mewakili Indonesia untuk menjadi delegasi ajang Miss World Muslimah dan bersaing dengan muslimah-muslimah dari negara lainnya. Sejenak, dia memainkan imajinasinya. Sampai pada ingatannya akan suatu peristiwa ketika ia masih duduk di bangku SMA. Itu merupakan salah satu peristiwa yang mungkin dia sendiri tidak mampu untuk melupakannya sekaligus menjadi motivasi bagi nya selama ini agar lebih bermanfaat lagi untuk orang lain.

Dalam imajinasinya, 5 tahun yang lalu…

Siang itu, langit menampakkan cerianya, ditemani sang aksesoris alam dengan cahayanya yang senantiasa tanpa lelah menyinarinya. Angin sepoi-sepoi mengiringi alunan rahmat-Nya. Pohon, ranting, dan daun bertasbih menjadi saksinya.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 10:00 WIB, pertanda istirahat dimulai. Anak-anak SMAN 1 Banyuwangi beriringan keluar dari ruangan kelas mereka dan tertuju kearah kantin yang berjejer rapih bak ABRI yang sedang berbaris melakukan apel di pagi hari. Namun berbeda dengan beberapa anak di kelas X9 yang tengah sibuk dengan pengisian formulir pendaftaran anggota IRMA (Ikatan Remaja Masjid). IRMA ini merupakan suatu organisasi yang bergerak dalam bidang islami, kegiatan-kegiatannya seperti peringatan hari besar Islam termasuk mengisi ta’lim keputrian juga merupakan salah satu tugas dari anggota IRMA tersebut. Bukan hanya itu, masih banyak kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya. Di beberapa sekolah lain IRMA ini lebih terkenal dengan nama Rohis.

Beberapa di antaranya sangat antusias dengan kegiatan berjuang dijalan Allah ini, dan tidak sedikit yang hanya menyaksikan tanpa tergerak hatinya untuk mengikuti organisasi mulia itu. Termasuk seorang anak yang selalu duduk di bangku bagian depan, namun sifatnya sedikit pemalu dan cenderung menutup diri dari orang lain termasuk dengan teman sebangkunya yang bernama Husni Aina, yang terkenal dengan sapaan Ina. Anak itu adalah dirinya, Robbiatul Ayya. Ia tidak sedikit pun hatinya tertarik untuk mengikuti jejak temannya itu. Ina yang penuh semangat dalam mengisi formulirnya, tidak lupa beberapa kali mengajak Ayya untuk ikut mendaftarkan diri sebagai anggota IRMA. Namun hidayah belum datang padanya. Lagi-lagi dia menunggu hidayah menghampirinya.

Sampai pada hari pertama pengumpulan formulir pun dia belum juga berubah pikiran. Ina tidak bosan-bosan untuk mengajak temannya itu. Ayya yang sangat sedikit berbicara akhirnya muncul celetukan dari bibir manisnya, “kalau IRMA itu kegiatannya ngapain aja sih Na? Pasti hanya itu-itu aja. Ngaji, ceramah dan ceramah lagi. Hehehe”, pikirnya. Ina turut prihatin atas apa yang telah diucapkan temannya itu walau terlihat seperti gurauan. Dia tidak diam dan segera menyadarkan Ayya. “Ay, justru dari kegiatan itu kita menjadi lebih banyak mengetahui Islam loh, karena setiap minggunya kita akan disuguhkan dengan kajian-kajian yang insya Allah pengemasannya itu tidak terasa membosankan. Dan pematerinya pasti keren-keren deh. Yang terakhir jika kita ikhlas mengikutinya maka akan menambah tabungan pahala buat kita”. Ayya hanya terdiam. Dia tidak tahu harus membalasnya dengan kata-kata seperti apa. “Barang siapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (Hadits Bukhari), lanjut Ina. “Oh begitu to bu ustadzah. Hehehe”, guraunya.

Entah angin apa yang membuatnya berubah pikiran, hingga keesokan harinya dia memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti organisasi IRMA tersebut. Mungkin dia teringat akan kata-kata dari temannya itu. Namun yang jelas saat itu niatnya belum tertata dengan baik. Dia hanya ingin “coba-coba” untuk mengikuti kegiatan tersebut dan kebetulan teman-teman dekatnya sama-sama mendaftarkan diri. Jadi kalaupun dia sedang merasa jenuh di organisasi tersebut, toh masih ada teman-teman dekatnya yang bisa dia ajak ngobrol. Salah satunya Ina. Hari selasa merupakan agenda rutin IRMA melakukan latihan/kajian. Tibalah pada pertemuan yang pertama. Agenda minggu itu adalah perkenalan anggota IRMA baru dan wejangan dari pembina IRMA, serta pengumuman tata tertib yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh anggota IRMA. Salah satunya untuk anggota akhwat dianjurkan untuk memakai kerudung sampai menutupi dada, bukan hanya saat di lingkungan sekolah saja, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hatinya Ayya bergumam, “Jangankan memakai kerudung sepanjang itu dan memakainya di luar lingkungan sekolah, sehari-hari saja saya masih belum konsisten memakainya”.

Sampai pada pertemuan berikutnya, dia belum juga menjalankan perintah Allah untuk berjilbab melalui perantara IRMA ini. Sehari-hari dia hanya memakainya ketika hendak pergi ke sekolah. Setelah keluar dari gerbang sekolah, jilbab nan suci itu lepas dan menampakkan mahkotanya yang seharusnya ia jaga dan menutupinya.

Sampai pada pertemuan IRMA berikutnya membahas mengenai kewajiban seorang akhwat untuk menutup aurat. Saat itu pembicaranya adalah seorang mahasiswi berjilbab dengan paras nan cantik dari kampus di dekat sekolahnya. Husaibah namanya. Pada pertemuan itu, beliau mengatakan bahwa “Allah SWT telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dalam QS. Al-Ahzab: 59, yang artinya “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” “Dan jika kita berjilbab, jangan merasa takut kalau kita tidak akan terlihat cantik oleh orang lain. Justru kita harus takut kepada Allah ketika kita tidak menjalankan perintah-Nya.” Pemateri tersebut juga menyampaikan beberapa peristiwa Nabi ketika Isra’ Mi’raj yang melihat banyak kaum wanita yang menempati neraka, salah satunya adalah mereka yang enggan menutup auratnya.

Dari firman Allah SWT dan sejuta penjelasan yang telah beliau sampaikan, jantungnya mulai berdetak sangat kencang. Hatinya merasa teriris oleh pedang yang sangat tajam. Bibirnya seolah bisu tanpa bisa berucap. Dia merasa sangat berdosa di hadapan Allah. Apa yang dia anggap benar selama ini ternyata salah di hadapan-Nya. Tanpa memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya, beliau segera melanjutkan pembicaraannya. “Bahwa Allah akan mengampuni dosa seseorang bagi yang memohon ampunan kepada-Nya.

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).

Allah masih memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertaubat dan menata dirinya menjadi lebih baik lagi. Maka dari itu mari kita bersama-sama memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin.

Gaya dalam menyampaikan materinya sangat terlihat berbeda dengan pemateri-pemateri sebelumnya. Dia terlihat lebih energik dan bersemangat, anak-anak pun merasa dibawa ke alam yang lebih terang dan bersemangat lagi dalam mengubah hidupnya kearah yang lebih baik.

Setelah peristiwa itu, Ayya tahu apa yang harus dia lakukan saat itu. Dia senantiasa berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Dia berharap semoga Allah berkenan memaafkan semua kesalahannya. Dia pun memperlihatkan perubahannya dengan memakai jilbab ke mana pun dia hendak pergi. Dia juga terinspirasi oleh Husaibah sang pemateri sehingga memutuskan untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang trainer motivasi dan pemberi taushiyah.  Hari-harinya selalu diisi dengan mempelajari Islam lebih dalam lagi dan mencari orang yang mampu untuk ia jadikan sebagai guru agar dapat membimbingnya.

“Dug, dug, dug”… “Allahu Akbar, Allahu Akbar”…

Adzan Maghrib membangunkan lamunannya. Tak terasa waktu berbuka puasa pun tiba. Mulutnya merespon apa yang telah dia bayangkan, saat itu dia menyeringai sedih mengingat masa lalunya yang kelam dan akhirnya senyuman kembali muncul terlihat dari bibirnya mengingat semua perjalanan dan apa yang telah ia dapatkan selama ini. Ayya beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil secangkir air putih untuk membatalkan puasanya di bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah itu.


Semoga tulisan di atas mampu menginspirasi dan memberikan manfaat bagi setiap pembaca, khususnya untuk kaum hawa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eni Herdiani
Mahasiswi Farmasi Universitas Padjadjaran.

Lihat Juga

Di Ramadhan 1437 H, KNRP Salurkan Rp 12 Miliar untuk Rakyat Palestina