Home / Berita / Profil / Abdul Hayyi Alkattani, Sang Penerjemah Ulung di Mesir

Abdul Hayyi Alkattani, Sang Penerjemah Ulung di Mesir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Abdul Hayyi Alkattani saat berada di Chamonix-Mont-Blanc, Rhone-Alpes, Perancis. (ist)
Abdul Hayyi Alkattani saat berada di Chamonix-Mont-Blanc, Rhone-Alpes, Perancis. (ist)

Perjalanan studi di Mesir, kenapa memilih Mesir sebagai tujuan?

dakwatuna.com Abdul Hayyi Alkattani merupakan alumni Pondok Pesantren Attaqwa tahun 1991. Pada waktu itu lulusan aliyah Attaqwa tidak bisa langsung mengikuti ujian negeri, harus menunggu satu tahun berikutnya baru bisa mengikuti ujian persamaan, beda dengan sekarang. Pada tahun 1992, beliau mendapatkan informasi tentang kesempatan untuk melanjutkan studi ke Mesir, kesempatan itu pun langsung diambilnya tanpa menunggu lama. Ternyata pilihannya waktu itu sangat banyak: Malaysia, Saudi Arabia, Pakistan dan Mesir. Pada akhirnya beliau memilih Mesir sebagai pelabuhan rihlah ilmiyahnya. Mesir yang paling menjanjikan, di samping bisa menguasai bahasa Arab secara langsung juga berkesempatan untuk mempelajari hal-hal lain, hal-hal yang bersifat organisasi dan ilmu-ilmu yang lebih luas.

Semangat Menggapai Gelar Akademik Tertinggi di Mesir dan Perjalanannya Menjadi Penerjemah Ulung di Mesir

Ketika tahun 1991 selesai aliyah, beliau berkesempatan selama sepuluh bulan menemani Pak Kyai Noer Alie pada hari-hari terakhirnya, dari sakit sampai meninggal dunia. Dari sana beliau melihat bahwa betapa ulama itu sangat penting. Ketika Kyai Noer Alie sakit beliaupun merasa dekat dengannya, di samping menemani Sang Kyai beliaupun belajar informal, cukup belajar di samping kasur sambil sesekali melihat kondisi Sang Kyai. Tak dinyana ketika melihat para santriwati berlalu-lalang menuju ke sekolah, tak aneh karena tempat tinggal Kyai Noer Alie satu kompleks dengan pesantren putri, tiba-tiba terbersit ingin merasakan kembali hiruk-pikuk suasana belajar-mengajar yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya, tentu karena vakum belajar formal selama sepuluh bulan, juga karena pengabdian diri kepada Sang Kyai yang sedang sakit.

Ada dua hal yang mendorong Abdul Hayyi (panggilan akrabnya) untuk sampai S3. Pertama, pentingnya ulama; yang kedua, pentingnya belajar. Ketika itu beliau berfikir dan bertekad jika ada kesempatan maka akan dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Karena beliau merasakan betapa pentingnya ilmu. Ketika beliau merasa kehilangan dengan meninggalnya Sang Kyai. Di samping itu beliau juga merasa betapa kosongnya saat itu karena tidak belajar.

Jadi dua hal itu yang mendorong beliau untuk bertekad: pokoknya di Mesir harus selesai pada puncaknya, bagaimana pun caranya. Dari sana beliau tambah tekun dan rajin belajar dan membaca. Strata satunya diraih selama empat tahun, dengan predikat baik. Kemudian beliau mencoba peruntungan untuk melanjutkan magisternya di Al Azhar, setelah tes masuk dan dinyatakan lulus ternyata dirinya tak muqayyad [terdaftar]. Setahun menunggu, akhirnya beliau beralih ke Darul Ulum, Universitas Cairo, walaupun harus bayar -perlu diketahui kuliah di sini beda dengan di Al Azhar, bedanya di sini kita harus membayar dengan biaya yang cukup tinggi dan paling mahal dibanding universitas yang lain di Cairo, makanya jarang sekali mahasiswa asing terkhusus Indonesia yang masuk ke Universitas Cairo-. Di tengah jalan, ternyata badai krisis moneter dan krisis ekonomi melanda Indonesia, yang tadinya mau menyegerakan program magisternya dengan tepat waktu malah jadi tambah molor, dengan alasan finansial. Dengan tekad pantang menyerah, tujuan belajar tak bisa dihentikan, akhirnya beliau mencari side-job [pekerjaan sampingan] yaitu sebagai penerjemah. Itulah sebabnya jumlah buku terjemahan beliau sangat banyak hingga sampai saat ini. Sebenarnya niat awalnya untuk memenuhi biaya kuliah yang sangat tinggi juga untuk biaya kehidupannya selama di Mesir. Jadi bukan saja terjemah itu hobi beliau, melainkan karena kebutuhan juga. Memang lika-liku kehidupannya seperti itu yang harus dijalankan.

Terselip sebuah hikmah dan pelajaran bagi beliau, kenapa waktunya cukup lama dihabiskan di Cairo, karena selain belajar beliaupun banyak menerjemah buku-buku, yang pada akhirnya juga dapat dinikmati banyak orang, yang sangat terkenal adalah dua kitab berjilid-jilid karangan Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaili yang sangat fenomenal yaitu Fiqh Islam wa Adillatuhu dan Tafsir Munir yang dikerjakan bersama tim beliau dari Gema Insani Press cabang Cairo. Meski demikian beliau pun tidak lupa untuk menyelesaikan thesisnya, setelah hampir lima sampai enam tahun akhirnya rampung juga thesisnya pada tahun 2004.

Rupanya beliau tipe orang yang haus terhadap ilmu, masih belum puas karena cita-cita akhir belum diraihnya, yaitu mendapatkan gelar doktor di Mesir. Maka beliau pun berusaha untuk mengajukan judul disertasinya pada tahun 2005, alhamdulillah judulnya pun diterima. Akhirnya beliau berlibur ke Indonesia untuk temu kangen dengan kedua orangtua dan sanak familinya selama tiga bulan. Hal yang tidak diduga sebelumnya, pas balik ke Mesir ternyata judul yang diajukan terdapat kesamaan dengan judul orang lain. Beliau pun harus mengulang dari awal untuk mencari judul disertasi yang baru. Setelah dua tahun dalam masa pencarian, akhirnya beliau mendapatkan judul yang tepat untuk dibedah dalam buku disertasinya. Kesabaran, itulah kata kuncinya. Di Mesir, jika sebuah kesulitan bisa dihadapi dengan sabar dan tidak lari dari masalah, insya Allah jalan keluar terbaik akan diketemukan. Ada kesulitan ada kemudahan, benarlah firman Allah: Inna ma’al ‘usri yusra. Adapun risalah disertasinya berjudul “Khuluudun naas bayna asshuufiyyah walfalasifah islamiyyin”, yaitu tentang konsep kekekalan jiwa antara kalangan tasawuf dan kalangan filosof Islam. Jadi menyangkut bagaimana memahami jiwa dan bagaimana kondisi setelah meninggal.

Semenjak tahun 2007 beliau mulai mengumpulkan referensi dan membacanya, pada tahun 2008 baru memulai untuk menggarapnya menjadi sebuah disertasi yang utuh. Memang cukup lama perjalanannya, karena memang ilmu itu sangat penting, dari dulu pun ulama belajar sampai meninggal. Nabi Musa ditanya oleh Allah siapakah orang yang paling cerdas dan pintar di muka bumi ini? Nabi Musa bilang, “saya”. Ternyata jawaban itu ditolak oleh Allah swt. Nabi Musa kaget, padahal nabi Musa adalah seorang nabi, tapi masih ada yang lebih pintar dan lebih cerdas darinya. Maka nabi Musa diperintahkan untuk belajar ke nabi Khidir. Intinya, di atas yang lebih pintar masih ada lagi yang lebih pintar, di atas langit masih ada langit. Jadi tidak boleh berhenti belajar, ilmu itu tidak ada batasnya.

Abdul Hayyi Alkattani saat bersama istri dan anak-anaknya di depan Masjid Sultan Hasan dan ar Rifa'i dengan background Masjid M Ali Pacha (Saladin Citadel). (ist)
Abdul Hayyi Alkattani saat bersama istri dan anak-anaknya di depan Masjid Sultan Hasan dan ar Rifa’i dengan background Masjid M Ali Pacha (Saladin Citadel). (ist)

Sulitnya Menempuh Pendidikan di Timur Tengah; Permasalahan dan Solusi

Menurut beliau menanggapi permasalahan ini, dari segi fakta agak sedikit menyalahkan lembaga resmi pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenag [Kementerian Agama] dan orang-orang yang bertanggung jawab di sana. Setelah dipelajari itu murni kesalahan mereka, jadi permainan zaman dulu, sistem zaman dulu itu masih dipakai. Ini tidak bisa dipergunakan untuk pergaulan internasional. Ini adalah tamparan bagi Indonesia. Beliau menganjurkan apabila ada yang terjun di Kemenag, maka harus melakukan perubahan. Hal yang salah dan keliru kalau gaya lama diterapkan untuk menangani milik orang luar, karena Al Azhar telah memberikan kesempatan belajar kepada mahasiswa asing, terlebih Indonesia. Jika ditelaah kembali, sebenarnya sama saja diberikan beasiswa oleh pihak Al Azhar, walaupun yang tidak dapat beasiswa pada hakikatnya mendapatkan beasiswa dari Al Azhar, karena bayar uang kuliah hanya sedikit. Jadi fasilitas itu sama saja beasiswa. Secara tidak langsung semua orang yang belajar di Azhar itu menikmati wakaf orang Mesir. Kekayaan wakaf orang Mesir ini yang sedang dinikmati oleh semua mahasiswa, berupa fasilitas belajar, apalagi yang mendapatkan beasiswa bisa tinggal di bu’uuts [asrama yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Al Azhar], dan kampus perkuliahan itu semua wakaf kekayaan orang Mesir. Sangat disayangkan lembaga pemerintah yang terkesan tidak profesional, sebetulnya ini merupakan suatu tamparan yang memalukan. Sebagai lembaga agama banyak orang yang pintar dan katanya agamawan, ternyata pada kenyataannya seperti itu. Jadi kalau dulu bisa bersembunyi, sekarang orang luar pun bisa melihat dan membuka masalah ini, jadi betul-betul terlihat. Sebagai rakyat biasa dan bukan pejabat yang berwenang, melihat nasib calon mahasiswa baru, rasanya tidak bisa mempunyai tawaran apa-apa untuk mengubah semuanya, karena memang permainannya itu tingkat lembaga Negara. Jadi melihat kondisi sekarang, harus pandai mengambil hikmahnya. Selama kosong harus dimanfaatkan dengan memperdalam ilmu yang bisa dipelajari, seperti bahasa Arab atau bahasa Inggris, menyiapkan hafalan Al-Quran dan lain sebagainya. Saat-saat menunggu inilah yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar supaya ketika datang waktunya berangkat ke Kairo, persiapan sudah matang dan siap.

Beliau pun menyarankan agar sebaiknya mahasiswa baru tingkat satu dan tingkat dua harus memfokuskan dirinya pada pelajaran. Mereka harus menguasai pelajaran dan merasakan lulus, minimal di tingkat satu. Jadi ketika lulus, mereka akan mengetahui bagaimana cara ber-ta’amul [bergaul], bagaimana cara menghadapi Al Azhar supaya bisa lulus tepat waktu. Apalagi jika nilainya bagus, tentu akan sangat baik. Jadi kalau sudah mengetahui cara itu semua maka bisa mengatur waktu untuk hal-hal yang lain, semisal organisasi.Jadi organisasi itu tidak ke mana-mana, sehingga tidak perlu dikejar-kejar. Ditinggal dan tidak ikut organisasi pun tidak mengapa. Tapi kalau pelajaran, kalau tidak dipelajari maka mahasiswanya yang akan ke mana-mana, tidak ada juntrungannya. Jadi untuk tahap awal, yang terpenting adalah pelajaran, terutama Al-Quran dan bahasa Arabnya baik fushah maupun ‘amiyah, serta pengungkapannya. Jadi kalau hal tersebut sudah kuat, untuk ke depannya akan enak dan tenang. Usahakan kenal langsung sama orang Mesir, bergaul, jadi bahasanya bukan bahasa Indonesia tapi Arab Mesir. Jangan ketika sampai di Cairo kumpul sama orang satu kampung, sama saja preman ciplak pindah markas ke Kairo; orangnya dia-dia juga. Kalau dulu tempat tongkrongannya di warteg Ciplak, kalau sekarang adanya di Kairo Hayyul Asyir. Orangnya dia-dia juga dan yang dibicarakan itu-itu juga, ya sama saja.

Abdul Hayyi Alkattani bersama Istri dan Anak-Anaknya di Masjid Sultan Hasan. (ist)
Abdul Hayyi Alkattani bersama Istri dan Anak-Anaknya di Masjid Sultan Hasan. (ist)

Sekelumit Permasalahan Palestina-Israel; Dalam Kacamatanya

Sebenarnya permasalahan Palestina-Israel itu kasus yang kompleks. Sebetulnya ini sudah masuk kategori kasus internasional. Beliau melihat, hingga negara Arab pun ketika terjun itu kemungkinan mereka malah rugi. Jadi kenapa negara Arab malah buat perjanjian damai? Karena seandainya Yordania, Saudi, Mesir itu berperang melawan Israel, kemungkinan malah Mesirnya yang ke ambil bukan Israelnya yang diambil. Karena apa? Karena Israel itu pada hakikatnya Amerika. Kita perhatikan kekuatan tahun 1948 terus tahun 1967, serta sebelumnya perang ‘Udwan Tsulatsi; Ketika tahun 1948 di Mesir ini dan negara-negara Arab dalam jajahan. Kekuatan dan pusatnya Islam itu ada di Turki. Tidak ada kekuatan bersenjata secara riil dan massif di Timur Tengah, saat itu. Yang ada suku-suku kecil. Jadi memang tidak dapat berbuat banyak. Sementara Israel itu kepanjangan tangan dari Inggris dan Prancis. Karenanya, Negara-negara Arab pada 1948 itu kalah. Karena memang tidak ada pemerintahan yang efektif. Tentara yang ada di Timur Tengah itu tentara Inggris. Walaupun di Mesir ada Ikhwannya, tapi sedikit yang pegang senjata dan kurang massif dan kurang efektif. Tahun 1967 juga sama. Israel menyerang duluan dengan senjata yang mutakhir. Arab baru mengumpulkan senjata sudah diserang. Sementara tahun 1973, Amerika bergantian menyokong Israel. Jadi semuanya memang baik Inggris maupun Perancis menggunakan Israel sebagai agennya di Timur Tengah.

Sementara saat ini, seandainya Mesir berperang melawan Israel, maka Mesir akan dikucilkan dan kemungkinan kehilangan sebagian negaranya serta rakyatnya mati. Negaranya berkurang dan masyarakatnya jatuh miskin karena habis buat beli senjata. Jadi kadang yang harus dipahami juga kenapa Mesir dan Yordania akan menjadi lebih parah lagi seandainya mereka perang. Karena memang kondisinya belum memungkinkan.

Maka bagi pelajar dan mahasiswa di Mesir, beliau mengatakan; kita harus perang melawan kebodohan. Jadi ketika kita misalnya benci dan marah terhadap Israel maka kemarahannya itu seharusnya ditujukan kepada kebodohan kita. Kalau misalkan selama ini nilainya pas-pasan, maka perangnya berarti harus jayyid demi Palestina misalnya. Jadi bukan sambil menangis meratapi Palestina, tapi tetap tidak belajar. Melihat orang dibunuh marah, dsb. Israel malah senang kalau kita marah dan stress. Kita marah tidak ada pengaruhnya buat dia. Kita ada pengaruhnya kalau kita jadi pintar, bisa menguasai, dan bisa diplomasi. Jadi kalau kita bisa berkomunikasi menggalang masa, itu yang ditakutkan sama dia. Kita bisa menggalang finansial untuk gerakan umat Islam itu yang ditakutkan sama dia. Kalau bom-boman malah dia senang sambil mengatakan: ternyata Islam itu teroris, tuh lihat buktinya.

Terkadang kita senang berjuang jangka pendek, padahal yang paling susah itu berjuang jangka panjang. Yaitu dengan membangun pendidikan, mendidik masyarakat, dsb. Itu perjuangan. Jadi perang itu ada selesainya, kalau bangun masyarakat itu tidak ada selesainya. Perang ada selesainya, sedangkan belajar tidak ada selesainya. Karena ilmu tidak ada habisnya.

Muhasabah dan Pesan Untuk Kawan-Kawan di Mesir, Terkhusus IKPMA-Mesir

Beliau menuturkan; sampainya kita di Mesir itu amanah. Karena ada ribuan orang bahkan jutaan orang ingin ke Mesir. Ada orang yang susah lulus tes. Ada yang sudah lulus tapi tidak dapat visa. Ada yang punya kemampuan tapi tidak ada uang. Maka suatu kesalahan bila kita sudah sampai di sini apalagi bisa lulus ternyata kita tidak pergunakan itu untuk mempercepat atau memperdalam ilmu. Jadi kalau ada yang terburu-buru ingin berbakti ke Indonesia, ingin mengajar, sebelum menempuh pendidikan secara total di Mesir hingga jenjang yang tertinggi, itu menurut saya godaan. Zaman dulu itu para Kyai kalau sebelum dipanggil orang tuanya belum pulang. Jadi kalau orang tuanya sudah tua, sudah saatnya regenerasi, baru pulang. Tentunya sampai selesai jenjang yang tinggi. Tapi kalau orangtua masih muda, sehat, baru empat tahun sudah pulang, itu namanya manja. Sementara kalau dia di Mesir ini ada pengurusan beasiswa dan macam-macam, sehingga terbuka kesempatan untuk terus lanjut. Jadi amanah di Mesir itu tidak semua orang dapat meraihnya. Banyak yang ngiler [ingin sekali]. Paling yang kita harus bayar itu waktu; yaitu lamanya waktu belajar di Mesir. Seperti saya alami sendiri. Kemudian kedua, kesabaran. Karena sering kita menghadapi musykilah [masalah] ini, musykilah itu. Jadi di Mesir itu harus pintar mengolah kesabaran. Ada musykilah visalah, ada musykilah temanlah, ada musykilah pembiayaanlah. Jadi semuanya itu warna-warni kehidupan. Jadi kalau baru S1 pulang ya susah. Apa yang mau dilakukan? Biasa saja, belum ada atsarnya. Minimal S2 atau S3. Apalagi ternyata dari segi kemampuan, anak-anak kita itu hanya kalah dengan MANPK Koto Baru Padang –melihat capaian prestasi secara akumulatif yang pernah diraih sebagai almamater terbaik tahun 2010, pada gelaran PPMI Award 2010-. Berarti mengalahkan Ciamis, Darunnajah, Gontor dll. Dulu kan kita kagum sama Gontor, tapi ternyata secara akademis yang kelihatannya kita tidak bisa apa-apa, di sini kita bisa dan mempunyai kemampuan untuk mengungguli mereka. Tapi kenapa justru lulusan Gontor itu banyak tampil di tanah air, tampil kayak di sini? Nah itu yang harus kita pelajari. Kekurangan kita itu apa dalam segi akademis? Saya yakin kita cukup bagus dalam hal akademis itu. Nah kekurangannya itu harus dilihat dan dipelajari kemudian diberikan solusinya. Jadi jangan berpuas diri dengan capaian yang ada. Karena jika tidak, maka ketika pulang jadinya begitu-begitu saja, di kampung lagi, jadi ustadz kampung. Padahal lulusan Kairo itu seharusnya garapannya nasional, atau malah internasional. Atau kalau tidak nasional, minimal provinsi. Bagaimana caranya? Lihat orang-orang yang sudah sukses di nasional, seperti Quraisy Shihab. Kalau internasionalnya seperti Said Agil Mahdali yang bukunya diterbitkan di Mesir, atau Darul Hadits. Dari pilihan-pilihan itulah yang nantinya menentukan bakat kita. Jadi kita harus sungguh-sungguh berusaha baru tercapai cita-cita.

Curriculum Vitae
H. Abdul Hayyie al Kattani, MA.

TTL: Bekasi, 26 Juli 1972.

Status: Menikah, Nur Inayah Dimyathi (Istri), dikaruniai tiga orang putra Syadi Abdul Hayyi, Muhammad Abdul Hayyi dan Amar Abdul Hayyi.

Pekerjaan: Mahasiswa Program Dukturoh Darul Ulum Universitas Cairo, Mesir.

Email: [email protected].

Kekeluargaan: KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta)

Almamater: IKPMA-Mesir (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Attaqwa)

Aktivitas : Wakil ketua redaksi bulletin Fajar 1995-1996, anggota dewan redaksi Jurnal Oase 1996-1998, ketua kelompok studi Mizan Study Club 1998-1999, pengurus ICMI Orsat-Cairo 1997-1999, Peneliti di ISSR (Islamic Studies and Social Research) Cairo 1998-2000, Director on Board Cimas (Centre for Information, Middle East and Africa Studies) Cairo, Dewan Konsultatif PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir 1999-2000, Penasehat Pengurus Wilayah PII Mesir (1999-sekarang), anggota dewan redaksi bulletin Kreasi – Cairo, 1994-1995, dan peneliti di FOSHAM (Forum Studi Hak Asasi Manusia) Mesir. Buku-bukunya (terjemahan): Islam dan Pluralitas, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Trend Islam 2000, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1997. Fiqh Responsibilitas, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, GIP, Jakarta, 1998.Berita Kemenangan Islam, Dr. Yusuf al Qaradhawi, GIP, Jakarta, 1997. Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, GIP, Jakarta, 1998. Hidangan Islami, Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, GIP, Jakarta, 1997. Bepergian (Rihlah) secara Islam, Dr. Abdul Hakam Ash Sha’idi, GIP, Jakarta, 1998. Hukum Murtad, Dr. Yusuf Al Qaradhawi, GIP, Jakarta, 1997. Al Quran Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Dr. Yusuf al Qaradhawi, GIP, Jakarta, 1998. Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Islam dan Keamanan Sosial, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Pergolakan Pemikiran, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1998. Miskin dan Kaya dalam Pandangan Al Quran, Muhammad Bahauddin Al Qubbani, GIP, Jakarta, 1999. Hukum Tata Negara, Al Mawardie, GIP, Jakarta, 2000 Dosa-dosa Besar, Syekh Mutawalli Sya’rawi, GIP, Jakarta, Khutbah-Khutbah Imam Ali KW, karya Imam Muhammad Abduh, GIP, Jakarta, Tuntunan dalam Khitbah (Bertunangan), karya Muhammad Ali Quthb, GIP, Jakarta, Petunjuk Jalan, karya Sayyid Quthb, GIP, Al-fiqhu al-Islam wa Adillatuhu dan Tafsir Munir karya Wahbah Zuhaili. Dan Masih banyak lagi buku-buku terjemahannya yang lain.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Kebutuhan Hidup Semakin Mahal, Seorang Warga Mesir Frustasi Dan Membakar Diri