19:16 - Kamis, 24 April 2014
Alief al Bazla

Menjemput Kemenangan Sejati

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Alief al Bazla - 24/10/13 | 08:27 | 19 Dhul-Hijjah 1434 H

Ilustrasi (flickr.com/aremac)

Ilustrasi (flickr.com/aremac)

dakwatuna.com - Menang dan Sukses adalah dua kata yang saling berhubungan erat satu sama lain yang mudah di ucapkan oleh lisan namun sulit untuk meraihnya, bahkan tak sedikit dari kita yang berusaha dan berjuang keras dengan segala kemampuan yang kita miliki agar bisa menyabetnya.

Doa, usaha, ikhtiar, serta tawakal kepada sang pemilik Kemenangan telah kita kerahkan namun terkadang Dia belum memberikannya untuk kita. Apa yang salah dari kita??? Mengapa kemenangan dan kesuksesan belum ingin bersama dengan kita menjadi teman yang setia dalam menempuh perjalanan hidup kita, apakah karena kita belum pantas untuk hal itu ataukah memang kita terlahir di dunia ini sebagai pecundang atau orang sial???

Bukan karena kita belum pantas apalagi terlahir sebagai orang yang sial, namun yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana kedekatan kita kepada sang pemilik Kemenangan yaitu Allah ‘azza wa jalla serta Niat kita dalam meraihnya, karena dalam Al-Quran yang mulia Allah ‘azza wa jalla telah menjanjikan kemenangan itu bagi siapa saja dari hamba-Nya yang beriman kepada Allah tabaaroka wa ta’ala,

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang Beriman “ (QS. Ar Rum: 47)

Namun permasalahan yang timbul oleh sebagian manusia dengan menganggap bahwa kemenangan itu adalah meraih penghargaan hebat atau kesuksesan menduduki jabatan tertinggi di tempat dia bekerja, maka itulah saat di mana seorang manusia berhasil mencapai sukses tertinggi dalam hidupnya. Inilah dampak dari transfer ideologi yang saat ini banyak sekali mempengaruhi cara berpikir umat muslim di berbagai belahan dunia.

Lihatlah bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari, mereka masih terus berhadapan dengan keruwetan masalah, masih mendapat kritikan dari orang di sekitarnya, cemoohan dari orang yang tidak ridha atas pencapaian tersebut yang akhirnya menimbulkan rasa ketakutan yang hebat jikalau suatu saat nanti ia harus lengser dari posisinya.

Memang seperti itulah keadaan manusia yang menjadikan kenikmatan dunia sebagai prioritas hidupnya, yang mana kehidupan dunia ini penuh dengan kebohongan dan permainan belaka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan “ (QS. Al Hadid: 20)

Serta seluruh manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan baik itu mukmin maupun kafir, Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah “ (QS. Al Balad: 4)

Sa’id bin Jubeir menafsirkan makna “fii kabad”, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencahariannya. Sedangkan Hasan Al Bashri menyebutkan, yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.

Begitu pula dari hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dan melalaikan akan urusan akhiratnya, Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang menjadikan Dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan memecah belah segala urusannya dan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Dia juga takkan mendapatkan Dunia kecuali apa yang telah ditetapkan atasnya. Dan barang siapa yang menjadikan Akhirat sebagai niatnya, maka Allah menghimpun segala urusannya dan menjadikan kecukupan ada di dalam Hatinya, dan Dunia pun menghampirinya sementara ia memandangnya sebagai sesuatu yang Hina “ (HR. Ibnu Majah)

Saudaraku, sesungguhnya dalam pandangan Islam kemenangan sejati yang di maksud adalah kemenangan dari segala bentuk dosa dan kesusahan di dunia ini serta kemenangan dari pedihnya siksaan api neraka, sebagaimana firman Allah:

“Maka barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh dia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘adzhim yang banyak kita temukan dalam Al-Quran yang bermakna keberuntungan atau sukses besar disebutkan oleh Allah setelah penyebutan tentang orang-orang yang masuk Surga dan terhindar dari Neraka.

Simaklah bagaimana ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya, “Mataa rohatul mu’min?” kapankah tiba bagi orang beriman itu rehat? Maka beliau menjawab, “Yakni saat mereka menginjakkan kakinya di Surga, maka saat itulah rehat mereka yang sesungguhnya.”

Inilah Kesuksesan atau Kemenangan yang sesungguhnya, Karena kenikmatan Surga bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikit pun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai dan terkabulkan tanpa sedikit pun penghalang, dan kita kekal di dalamnya tanpa akhir.

Wassalaam…

Akhukum fillah.

Alief al Bazla

Tentang Alief al Bazla

Anak ke 2 dari 3 bersaudara, hobi membaca, bermain Futsal, menulis dan menonton. Memiiki motto hidup "Jangan pernah mengatakan tidak sebelum bertindak" dan saat ini lagi sibuk kuliah di salah… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,67 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 1053 hits
  • Email 1 email
Iklan negatif? Laporkan!
88 queries in 1,056 seconds.