Home / Pemuda / Cerpen / Cinta Dalam Tudung Saji

Cinta Dalam Tudung Saji

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (flickr.com / Nik Aizu)
Ilustrasi. (flickr.com / Nik Aizu)

dakwatuna.com Biasanya, seminggu sekali di hari Jum’at di kampungku ada kalangan1 yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju-baju, sepatu, mainan mobil-mobilan dan pistol-pistolan. Juga sayuran dan buah, yang biasanya berasal dari kebun orang-orang kampong kami, maupun dari kampong sebelah. Ada juga beragam ikan, dan ayam tentu saja.

Maka tiap jumat selalu ku temukan sebuah kebahagiaan dari bawah tudung saji2.

Subuh setelah shalat dan mengaji, aku dan sepupuku Kokom biasanya akan berkeliling kampung, mencari kalau-kalau ada yang bisa kami bantu, kalau tidak memetik kangkung, mencari buah teratai, memanen ikan di lebak, memanjat kelapa, mengumpulkan jambu biji, atau apapun yang bisa dipercayakan oleh orang-orang dewasa kepada kami. Sepupuku Kokom yang badannya lebih besar seringkali lebih banyak dapat pekerjaan dibanding aku, tapi kami sudah membuat kesepakatan untuk membagi dua besaran uang yang kami terima nantinya.

Matahari mulai naik, bersamaan dengan keringat kami yang mengucur dan perut yang berteriak minta diisi, aku dan kokom pulang. Kokom sedang sibuk menggaruk-garuk tangan dan kakinya, dia mungkin terkena legate3, aku tak tahu. Tadi di jalan menuju rumah, Wak Asan, meminta kami mencari gondang4 di sungai dekat rumahnya. Jadilah kami berbasah-basah, memunguti tiap gondang yang kami temui, yang entah gondang-gondang itu seperti sedang dangdutan saja, menggerombol banyak sekali di bawah jerambah5.

Di rumah, Emak sedang mengikat daun singkong untuk di jual.

Aku masuk lewat belakang, mengganti bajuku yang basah. Ku ambil sewet6 Emak yang tergantung di ampaian7. Masih kering, Emak belum mandi.

Baru saja kulihat Emak mengikat daun singkong, sekarang ia sudah sibuk lagi di dapur, membuat adonan yang ku pikir mungkin pempek dos8. Aku menuju sudut rumah kami, membuka gerobok9 kayu di samping mesin jahit Emak, mengambil seragam sekolahku yang tergantung kaku. Gerobok itu seperti peti harta karun saja, menandakan kepemilikan benda berharga yang ada pada kami. Bersama dengan seragam itu adalah baju safari coklat, kebaya kuning, dan baju olahraga. Di laci tengahnya, bagian surat-menyurat, ada surat tanah, kartu keluarga, KTP dan kertas ulanganku. Juga rapot TPA. Dulu, di bagian bawahnya adalah tempat aku menaruh buku-buku pelajaran, tapi karena memang muatannya kecil, dan buku yang kupunya makin bertambah tiap tahunnya, maka ia segera saja penuh. Sekarang, penghuninya adalah sepatu speak pemberian Wak Udin.

Emak rupanya mengkategorikan semua yang berhubungan dengan aku dan sekolah sebagai harta yang harus dimuseumkan dalam gerobok itu.

Sekilas ku lihat jam kuning hadiah kampanye di dinding kayu rumah kami, jam enam seperempat, hampir aku terlambat. Lekas ku masukkan sepatu speak ku ke dalam kantong kresek, lalu mencari Emak di dapur, mengambil pempek beberapa buah dan menyalami Emak.

***

Ruangan yang ku sebut dapur, sebenarnya bukanlah seperti yang terbayang. Dapur kami sebuah ruangan yang tak kurang luasnya 2 x 2 meter persegi itupun sebagian berisi tumpukan barang tak terpakai macam kerangka sepeda ontel yang bersandar terbalik.

Di bagian sudut ada kaleng tempat kami menyimpan beras. Di sebelahnya ada lemari tempat menyusun mangkuk-mangkuk. Dinding bagian kanan dekat tungku ada barisan paku yang dibebani mulai dari panci, kuali juga kenceng nasi10 dan loyang. Kami biasanya duduk di bagian kiri dekat pintu belakang, beralas tikar yang Emak anyam sendiri.

Jika ada kenikmatan yang sangat di dunia, ialah mengetahui bahwa kaleng beras kami penuh dan tudung saji yang memiliki isi di dalamnya.

Tudung saji seperti halnya gerobok, penanda kemakmuran rumah kami. Bedanya, tudung saji tak selalu memiliki penghuni tetap seperti halnya gerobok.

Pulang sekolah aku menemui Kokom yang menungguiku, dia mau ditemani membeli pistol baru katanya, selalu begitu setiap jumat. Jika dikumpulkan mungkin pistolnya itu bisa membantu mengusir Israel dari tanah Palestina. Sayangnya, pistolnya tak tahu lagi rimbanya jika telah lewat dari 2 x 24 jam. Dengan badan segempal dia, sedikit sulit menembus kumpulan ibu-ibu yang sedang asik menawar dengan harga di luar batas normal. Jadi, aku yang sedikit agak lebih mudah menyusup akan mengangkap jenis pistol yang mungkin dia mau, dari laras panjang, pendek, caliber apa sampai apa. Aku tak mengerti.

Sebagai imbalan, dia akan memberikanku sebungkus tempoyak11 yang dijualnya. Kokom sudah lama berhenti sekolah. Ia tinggal bersama nenek sejak kedua orang tuanya meninggal, setidaknya aku lebih beruntung masih memiliki Emak.

Di tempat Emak biasa berjual ku lihat sudah kosong, Emak mungkin sudah pulang.

Sampai di rumah, ku lihat Emak sedang menampah beras, melihatku, ia langsung berhenti. Tersenyum.

“Dapat tempoyak lagi, Nang?”

“Iya mak. Kokom beli yang panjang hari ni.”

Emak sepertinya sudah menunggui aku sejak tadi, segera saja bersama kami bersama menuju dapur. Emak sengaja membiarkan aku yang membuka tudung saji, seperti yang sudah-sudah. Dan di sana kulihat dua potong daging ayam yang di goreng, daun singkong rebus, ikan balur12 dan tak ketinggalan sambal cung13 kesukaanku.

Allohumma Baarik Lanaa Fiimaa Rozaqtanaa

Wa Qinaa Adzaaban Naar

“Aamiin.”

Sekilas ku lihat senyum mengembang dari wajah emak.

*

Di kampung kami yang serba sederhana, perkara menikmati ayam adalah pada hari-hari besar macam lebaran atau saat ada acara kawinan.

Namun di sini, dalam dapur yang luasnya tak kurang dari empat meter persegi, ada kebahagiaan sederhana tak bertepi satu dari tujuh hari seminggu, bersama tudung saji sebagai lakon utama. Di dalam tudung saji, ada cinta yang dinikmati, dibagi dan dinanti. Ada cara yang disimpan, tapi tak berlebihan.

Maka tiap jumat selalu ku temukan sebuah kebahagiaan dari bawah tudung saji2.

Catatan Kaki:

  1. kalangan : pasar mingguan yang menjual berbagai keperluan pokok dan harian
  2. tudung saji: merupakan penutup makanan yang dianyam  atau bisa juga dibuat dari plastik
  3. legate:sejenis gejala gatal pada kulit
  4. gondang: Pila ampullaceal, sejenis siput air yang hidup di sawah, aliran parit, serta danau. Hewan bercangkang ini dikenal pula sebagai keong gondang, siput sawah, siput air, atau tutut.
  5. jerambah: jembatan
  6. sewet: kain panjang
  7. ampaian: jemuran
  8. pempek dos: makanan yang terbuat dari adonan tepung terigu dimakan saat hangat, jika sudah dingin menjadi keras (alot)
  9. gerobok: lemari kayu
  10. kenceng nasi: alat untuk menanak nasi
  11. tempoyak: makanan fermentasi yang terbuat dari duren.
  12. Ikan balur: ikan asin
  13. cung: Solanum lycopersicum var. cerasiforme, tomat ceri

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 5,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mira Handayani
Anak Sumatera kelahiran Bangka Belitung. Mahasiswi tingkat akhir Gizi Poltekkes Kemenkes Palembang.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang