Home / Narasi Islam / Dakwah / Qudwah Sebelum Dakwah

Qudwah Sebelum Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

Mukadimah

dakwatuna.com Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapa engkau mengatakan apa-apa yang engkau tidak lakukan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 1-3)

Dalam Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’an disebutkan, “Kenapa engkau mengatakan perkataan yang kamu tidak benarkan (buktikan) dengan amalmu?” (Syaikh Khalid Abdurrahman al ‘Ak, Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’an al Karim, hal. 551)

Sebab turunnya ayat ini adalah ada seorang sahabat, yakni Abdullah bin Salam Radhiallanu ‘Anhu yang berkata “Seandainya kami mengetahui amal yang paling utama niscaya kami akan mengamalkannya” maka Allah turunkan ayat ini, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacanya hingga selesai. (HR. Tirmidzi dan Hakim, ia menshahihkannya, Shafwatul Bayan, Ibid)

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah­- dalam tafsirnya berkata tentang لم تقولون ما لا تفعلون (kenapa engkau mengatakan apa-apa yang engkau tidak lakukan?) adalah pengingkaran terhadap orang yang berjanji dengan sebuah janji atau berkata dengan perkataan, tetapi ia tidak menepatinya. Berdalil dari ayat yang mulia ini, sebagian pendapat kaum salaf mengatakan wajibnya menepati janji secara mutlak, sama saja baik yang disertai tekad untuk berjanji atau tidak. Mereka juga berhujjah dari hadits yang mulia dalam shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda –tanda orang munafik ada tiga, jika bicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.” Juga hadits lain dalam Ash Shahih bahwa, Ada empat hal yang barang siapa salah satunya telah ada pada diri seseorang maka ia adalah seorang munafik tulen, sampai ia meninggalkannya.” Salah satu yang disebutkan adalah orang yang tidak menepati janji. Allah ‘Azza wa Jalla menguatkan lagi pengingkaran ini dengan ayat كبر مقتا عندالله أن تقول ما لا تفعلون (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan) Imam Ahmad dan Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amir bin ar Rabi’ah, ia berkata: Datang kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat itu saya masih anak-anak, lalu aku keluar untuk bermain. Maka ibuku berkata kepadaku, “Wahai Abdullah kemarilah, aku akan berikan sesuatu untukmu.” Rasulullah berkata kepadanya (ibu), “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”, ia menjawab: “Kurma.” Rasulullah bersabda: “Seandainya engkau tidak melakukan apa yang kamu katakan, maka engkau tercatat sebagai pendusta.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir al Qur’anul ‘Azhim, 4/357)

Dari uraian ini kita bisa pahami, bahwa ucapan seseorang adalah janji, baik yang ditegaskan dengan niat dan tekad untuk berjanji atau tidak. Islam mewajibkan untuk memenuhinya, jika tidak, maka itu bagian dari ciri orang munafik. Seorang muslim wajib menyesuaikan perkataannya dengan perbuatannya, agar ia terhindar dari kebencian Allah ‘Azza wa Jalla yang teramat besar karena itu. Apalagi bagi para da’i, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan bukan sekadar menghindar dari label munafik, tetapi merupakan contoh yang berguna dan teladan yang baik bagi orang yang melihatnya. Keteladanan adalah salah satu ‘ibrah yang bisa kita petik dari ayat di atas.

Al Qudwah ) ( القُدْوَةjuga berarti Al Qadwah, Al Qidwah, dan Al Qidyah yang bermakna ‘apa-apa yang telah engkau ikuti dan engkau biasa dengannya.’ Al Qudwah juga bermakna Al Uswah (contoh), dikatakan لى بك قدوة ‘Liy bika Qudwatun’ (pada dirimu ada contoh untukku) maksudnya adalah Uswah. (Al Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 614)

Pada saat ini, di mana kerusakan dunia boleh dikatakan merata, maka amat wajar bila manusia membutuhkan figur yang bisa diteladani mereka untuk mengantarkan mereka menuju pintu-pintu perbaikan. Namun, manusia tidak kunjung mendapatkan figur yang diidam-idamkan, justru mereka mendapatkan idola-idola tanpa keteladanan. Alih-alih ingin memperbaiki keadaan, kenyataannya para idola tersebutlah yang menjadi lokomotif kerusakan manusia dan kehidupannya.

Mereka mengidolakan orang-orang jahil dan fasiq, seperti sebagian artis dan seniman, pelawak dan atlet. Akhirnya, mereka tidak mendapatkan apa-apa selain kesatnya hati, kotornya lisan, buntunya pikiran, serta nihilnya perbuatan. Jika mau silakan katakan, bahwa sebagian besar artis telah memberikan kontribusi signifikan bagi kerusakan moral bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini. Melalui pakaian, gaya hidup, pergaulan, ditambah media massa yang mengekspos kehidupan ‘minim keteladanan’ yang mereka sengaja tontonkan, seakan akan mereka ingin meneriakkan ‘Akulah Sang idola’.

Keteladanan, itulah yang hampa saat ini. Saya nasihatkan terutama untuk diri sendiri dan ikhwah fillah sekalian untuk senantiasa menempa diri untuk menjadi hamba-Nya yang diridhai aqidahnya, niat, ilmu, amal, lisan dan akhlak secara umum.

Sebenarnya umat ini telah memiliki apa-apa yang dimiliki generasi terbaik dahulu (salafus shalih). Jika mereka memiliki Al Qur’an dan As Sunnah, umat sekarang juga demikian. Lalu apa yang kurang? Padahal umat ini memiliki apa-apa yang tidak dimiliki umat terdahulu, yaitu pengikut (SDM) yang sangat banyak. Atau justru SDM yang sangat banyak adalah bagian dari masalah?

Saya tidak menyimpulkan, bahwa malapetaka yang dialami umat saat ini lantaran tidak adanya figur teladan seperti Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Salam sebagaimana para sahabat dahulu pernah dibimbingnya. Namun, bisa jadi memang karena ini penyebabnya. Wallahu a’lam

Syahidul Islam Sayyid Quthb –Rahimahullah– berkata: Sesungguhnya Al Qur’an yang ada pada dakwah ini telah ada dalam genggaman kita, begitu juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dengannya kita beramal, dan sirah yang mulia. Semuanya ada di tangan kita. Sebagaimana pernah ada pada generasi awal, (generasi) yang tidak pernah lagi terulang dalam sejarah. Yang tidak ada pada kita hanyalah figur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apakah ini rahasianya?” (Syaikh Sayyid Quthb, Ma’alim fith Thariq, hal. 11. Darusy Syuruq)

Mustahil Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan lagi seorang Rasul pasca khatamun nabiyin (penutup para nabi), Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aqidah yang haq meyakini demikian. Paling kita hanya bisa berharap melalui ta’dib rabbani (bimbingan rabbani) akan lahir figur seperti Uwais Al Qarny, seorang tabi’i terbaik sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits shahih Imam Muslim, yang dengan kehadirannya bisa membawa umat ini kepada kehidupan yang lebih baik, atau seperti Umar bin Abdul Aziz, pemimpin adil, wara, zahid, mujtahid dan mujaddid abad satu hijriyah, atau tokoh teladan lainnya.

Peluang bagi Para Da’i

Kita tahu, hari ini umat tengah mengalami semangat keberagamaan yang rendah dan lemah. Di sisi lain, cengkraman haimanah al gharbiyah (hegemoni Barat) dan segala bentuk kekufuran yang mereka bawa begitu menggurita, hingga banyak membuat mabuk pemuda Islam dan termasuk orang tuanya. Bukan hanya mabuk, mereka juga mengekor kepada apa, siapa, dan bagaimanapun yang datang dari Barat, seraya melupakan dan menjauh dari apa, siapa, dan bagaimanapun yang datang dari Islam.

Hal ini sudah diisyaratkan Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Sallam:

 يُوشِكُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُكَذِّبَنِي

“Telah dekat masanya kalian akan mendustakanku.” (HR. Ahmad No. 17233. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih)

Ya. Masa itu telah datang, umat Islam mendustakan agamanya sendiri, bahkan lebih dari itu, menistakan ajaran agamanya sendiri dengan membuat paham-paham baru yang tidak dikenal syariat-Nya dan asing di depan sejarah umatnya.

Dalam hadits lain, dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kalian akan benar-benar mengikuti jalan-jalan umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, walau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian ikuti juga.” Sahabat bertanya: “Siapakah mereka? Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “Ya siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3456, 7320, Muslim No. 2669)

Ya. Kita lihat banyak umat pemuda Islam yang mengidolakan orang-orang kafir bahkan sangat akrab menggeluti peri kehidupan mereka melalui buku, majalah, televisi dan lain-lain. Sementara pengetahuan mereka terhadap nilai keislaman dan sejarah kegemilangannya, nol besar!

Di sisi lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras dalam haditsnya:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu.” (HR. Ahmad no. 5115. Abu Daud No. 4031, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 1199, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 2468, Al Bazzar No. 2966, Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 1862, Al Qudha’i dalam Musnad Asy Syihab No. 390, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 33687, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 20986)[1]

Dalam kondisi masyarakat terhempas seperti sekarang ini, tidak saja dibutuhkan upaya tau’iyat (penyadaran) dan taujihat (pengarahan) untuk mereka, lebih dari itu adalah seorang figur qudwah hasanah yang bisa dijadikan cermin, pegangan, dan tempat bertanya. Bahkan keteladanan seorang da’i lebih didahulukan sebelum ia mengajak, memberikan contoh harus lebih dahulu sebelum memberi soal. Inilah peluang bagi da’i untuk mengisi kekosongan itu, kekosongan teladan.

Dari Mana Kita Memulai?

Seorang da’i harus menampilkan citra diri yang positif dan mempesona, yang bisa dinikmati keindahannya dan dicium semerbaknya oleh umat di sekitarnya. Kita memahami, bahwa kekuatan argumen dan bagusnya retorika, tidak akan berpengaruh tanpa dibarengi figur keteladanan yang kokoh sang da’i. Kenyataannya, keteladanan dan aura ruhiyah seorang da’i seringkali lebih mengena di hati orang yang berinteraksi dengannya.

1. Teladan dalam Aqidah dan Iman (keyakinan)

Kebersihan dan kekuatan iman adalah awal dari segala keshalihan. Da’i teladan harus lebih dahulu membersihkan aqidahnya dari syirik, khurafat, dan bid’ah, serta menampakkan keyakinan yang tinggi terhadap kebenaran risalah yang dibawanya. Sebab kotornya aqidah dan lemahnya keyakinan adalah awal dari segala kekalahan perjuangan.

Dalam hal aqidah seorang da’i tidak boleh menampakkan sikap basa-basi apalagi lemah. Sikapnya tegas terhadap semua penyimpangan aqidah, baik paham-paham sesat sekte, atau syirik dan khurafat di masyarakat. Tentu ketegasan yang diekspresikan melalui ilmu, hikmah, dan kebijaksanaan.

Ada contoh yang baik dalam hal ini, yaitu keteguhan aqidah Imam Ahmad bin Hambal (w. 241H) ketika ia dipenjara dan disiksa selama tiga masa khalifah, lantaran ia menentang dengan keras paham yang menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Menurut Ahlus Sunnah Al Qur’an adalah firman Allah bukan makhluk sebagaimana paham Mu’tazilah. Sikap tegas Imam Ahmad ini berefek luar biasa setelah ia wafat, diriwayatkan bahwa ketika ia wafat, mayatnya diantar oleh delapan ratus ribu laki-laki dan enam puluh ribu wanita, dan kurang lebih dua puluh ribu orang Nasrani, Yahudi, dan Majusi masuk Islam. (Drs. Fatchur Rahman, Ikhtshar Musthalahul Hadits, hal. 375)

Begitu pula Said bin Jubair, tokoh ulama masa tabi’i, ia rela disembelih algojo gubernur tiran Al hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Pada saat disembelih, ia mengakhiri hayatnya dengan untaian kata yang indah: “Sedangkan aku, maka aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Muhammad adalah hamba dan rasul Allah, ambil-lah persaksianku ini sampai engkau berjumpa denganku di hari kiamat. Allahumma ya Allah, jangan Engkau jadikan dia berkuasa kepada seseorang yang membunuhnya sesudahku.” (Wafayat Al A’yan, 2/371)

Ustadzah Zainab Al Ghazaly adalah contoh da’iyah mujahidah tegar masa kini. Ketika ia divonis oleh pengadilan Mesir berupa hukuman lima puluh tahun penjara, ia justru teriak lantang, “Allahu Akbar lima puluh tahun fi sabilillah!”

2. Teladan dalam Perilaku (Akhlak)

Tahukah Anda, bahwa, manusia lebih banyak mengikuti dan percaya dari apa yang kita lakukan dibanding mengikuti apa yang kita ucapkan. Karena itu, hati-hatilah, perilaku seorang da’i adalah hujjah bagi umat yang melihatnya. Maka menjaga keteladanan akhlak adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ اَلنَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ, وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ بَسْطُ اَلْوَجْهِ, وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

“Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi mereka dapat dikuasai dengan manisnya wajah dan akhlak yang baik (husnul khuluq)” (HR. Abu Ya’la No. 6550, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 428, beliau menshahihkannya. Al Bazzar No. 8544. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 8054. Imam Al Haitsami mengatakan: “Di dalamnya terdapat Abdullah bin Sa’id Al Maqbari, dia dhaif.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 8/22. Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: dhaif jiddan – sangat lemah. Lihat Tahqiq Musnad Abi Ya’la No. 6550)

Akhlak yang baik merupakan salah satu tiket menuju surga. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga, beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau juga ditanya tentang penyebab terbanyak manusia dimasukkan ke dalam neraka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR. At Tirmidzi No. 2004, katanya: shahih. Ibnu Hibban No. 4246, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7919, katanya: shahih. Imam Adz Dzahabi juga menshahihkannya dalam At Talkhish)

Imam Ibnul Qayyim –rahmatullah ‘alaih– berkata: “Digabungkan keduanya (taqwallah dan husnul khuluq), karena taqwallah memperbaiki apa-apa yang ada pada hamba kepada Tuhannya, sedangkan akhlak yang baik akan memperbaiki hubungan antara hamba dengan makhlukNya.” (Bulughul Maram, catatan kaki no. 3, hal. 287. Darul Kutub Al Islamiyah)

Kita tidak menuntut muluk-muluk, bahwa seorang da’i wajib memiliki khuluqun ‘azhim misalnya, sebab itu adalah minhah rabbaniyah (anugerah Allah) untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Dan Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Dalam salah satu tafsir dikatakan: “Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar memiliki adab yang agung, yang dengannya Tuhanmu telah mendidikmu, yaitu adab Al Qur’an “ (Syaikh Khalid Abdurrahman al ‘Ak, Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’anil Karim, hal. 564. Darul Basya-ir Beirut)

Adapun al Aufi berkata dari Ibnu Abbas: “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki agama yang agung, yaitu Islam.” Seperti itu pula yang dikatakan Mujahid, Abu Malik, As Sudy, Ar Rabi’ bin Anas, Dhahak dan Ibnu Zaid. Berkata ‘Athiyah: “Benar-benar memiliki adab yang agung.” Berkata Ma’mar dari Qatadah aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Adalah Rasulullah akhlaknya itu Al Qur’an.” Ini juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan An Nasa’i. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 4/403)

Paling tidak, da’i memiliki husnul khuluq secara standar yang seharusnya ada pada seorang muslim berakhlak. Itu saja sudah cukup baginya menjadi ‘yang terindah’ di tengah masyarakat yang kosong keteladanan. Tentunya hal itu dicapai dengan perjuangan yang tidak mudah. Akhlak standar itu sebagaimana yang terpampang dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah menjauhi akhlak tercela seperti hasad, tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), su’uz zhan, ghibah, namimah (adu domba), riya’, sum’ah (beramal ingin didengar orang), kibr (sombong), dusta, ingkar janji, khianat amanah, sengit dalam berdebat, mudah marah, mencaci sesama muslim, sumpah palsu, aniaya, memakan harta yang bukan haknya, menghardik anak yatim, dan lain-lain. Sebaliknya ia dekat dengan akhlak terpuji seperti menyebarkan salam, memberi makan, sedekah, pemaaf, murah senyum, penyantun, sabar, menjenguk yang sakit dan takziyah kematian, wara’ (hati-hati) terhadap hal yang diharamkan, makruh dan syubhat, tidak berlebihan dengan yang mubah, meninggalkan hal yang melalaikan, menolong dalam hal kebaikan, menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, adil, menyayangi yang kecil, menghormati yang tua, mengetahui hak ulama, menjaga penampilan, bersahabat dengan orang-orang shalih, memuliakan tamu dan tetangga, bicara yang baik atau diam jika tidak bisa, dan lain-lain.

3. Teladan dalam Ilmu

Seorang da’i adalah seperti seorang guru bagi muridnya. Ia tempat manusia bertanya, meminta solusi, dan mencari masukan. Maka, seorang da’i yang bertanggung jawab dan menghormati mad’u adalah da’i yang selalu membekali dan memperkaya dirinya dengan ilmu. Sudah selayaknya –dan inilah yang dipahami secara umum- da’i harus lebih berwawasan lebih dibanding umat yang diserunya. Inilah salah satu kewibawaan baginya. Memang dengan ilmu Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajat manusia.

Betapa banyak pemuda berhasil ‘menguasai’ orang tua dan ulama karena ilmunya. Tahukah Anda bahwa Hasan al Banna –rahmatullah ‘alaih– mendirikan Al Ikhwan Al Muslimun saat usianya baru 22 tahun? Saat itu, yang termasuk mengagumi gagasan perjuangannya tidak sedikit orang-orang yang lebih tua darinya, bahkan jauh lebih tua dan mereka sudah dikenal sebagai ulama atau tokoh negara. Seperti Syaikh Muhibuddin Al Khathib, Hasan Al Hudhaibi, Umar At Tilmisani dan para ulama Al Azhar, dan lain-lain. Kecerdasan beliau mendirikan sebuah bangunan pergerakan, seakan menjadi alasan kuat bagi mereka untuk bergabung dengan kafilah Ikhwan.

Tahukah Anda Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits? (tentu ada yang shahih dan ada juga yang dhaif, istilah hadits hasan baru ada pada masa Imam At Tirmidzi) Tahukah Anda Imam asy Syafi’i (w. 204H) telah hafal Al Qur’an dan mengetahui seluk beluknya, seperti asbabun nuzul dan nasikh mansukh pada usia tujuh tahun? Dikisahkan dari Imam Ahmad bahwa Imam asy Syafi’i dalam satu malam menyelesaikan tiga ratus pertanyaan. Tahukah Anda Imam Sufyan bin Uyainah hafal Al Qur’an pada usia empat tahun? Tahukah Anda bahwa Imam Ibnu Taimiyah dijuluki ‘lautannya dalil naqli (nash) dan aqli (akal)’. Sampai-sampai dikatakan jika ada hadits yang tidak diketahui Imam Ibnu Taimiyah pasti itu bukan hadits. Ia pernah membuat kitab yakni Al Aqidah Al Washitiyah, yang selesai dibuatnya hanya dalam sekali duduk setelah shalat Ashar (Muqaddimah syarah al Aqidah al Washitiyah, hal. 5). Konon Imam Ibnul Qayyim menyusun kitab Zaadul Ma’ad ketika ia sedang musafir (artinya tanpa referensi)

Tahukah Anda bahwa Syaikh Yusuf Al Qaradhawi –Hafizhahullah­– pertama kali ceramah ilmiah di depan orang banyak ketika ia kelas tiga sekolah dasar, untuk menggantikan seorang Syaikh alim dan berpengaruh di daerahnya saat itu, yaitu Syaikh Abdul Muthalib Al Batah. Diceritakan bahwa jamaah sangat puas dengan apa yang disampaikannya. Beliau –hafizhahullah– ketika dalam penjara –tanpa pena dan secarik kertas- menyusun ontology (kumpulan puisi) yang diberi judul Malhamatul Ibtila Al Malhamah An Nuuniyah, semuanya cukup ia rekam dalam otaknya, yang baru sempat ia tulis setelah bebas, padahal syair itu berjumlah tiga ratus bait.

Tahukah Anda kekuatan Syaikh Al Albany dalam mempelajari, meneliti dan menelusuri hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Diceritakan dalam salah satu biografinya, ia sudah datang ke perpustakaan sebelum petugas datang dan baru pulang setelah malam sudah larut, sehingga tidak sedikit orang yang mengingatkannya. Jika orang bertanya kepadanya, ia akan jawab tanpa melepaskan kitab yang sedang dikajinya. Ustadz Muhammad Ash Shabagh berkata tentangnya, “Sebelah mata melihat kitab, sebelah lagi melihat si penanya.”

Subhanallah! Demikianlah keteladanan para ulama dalam kecintaan mereka terhadap ilmu. Maka para da’i seyogianya menjadi orang yang tamak terhadap ilmu, dekat dengan mata airnya, menghormati ahlinya, bersungguh dalam menuntutnya, serta tidak lelah dalam memikulnya. Sesungguhnya Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Salam telah berwasiat tentang ilmu.

Berkata ‘Amir bin Ibrahim:

كان أبو الدرداء إذا رأى طلبة العلم قال مرحبا بطلبة العلم وكان يقول ان رسول الله صلى الله عليه وسلم أوصى بكم

Bahwasanya Abu Darda’ jika melihat seorang thalibul ilmi beliau berujar: Selamat datang wahai penuntut ilmu. Dan dia pernah mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewasiatkan kamu sekalian (perkara menuntut ilmu). (Riwayat Ad Darimi dalam Sunannya No. 348. Syaikh Al Albani mengatakan: isnad ini para perawinya tepercaya kecuali ‘Amir bin Ibrahim saya tidak mengetahuinya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah, 1/503)

4. Teladan dalam Amal dan Ibadah

Seorang da’i, ia teladan dalam ketepatan shalat pada waktunya, di masjid, dan berjamaah. Ia amat keras usahanya untuk itu. Ia menjaga wudhunya dari apa yang membatalkannya dan amat memperhatikan adab-adab, seperti adab tilawah, adab doa, adab di masjid, adab makan dan minum, adab safar dan di jalan,

Menjaga shaum sunah, shalat nawafil, sedekah sunah, dan dzikir, lalu ia menyembunyikan itu semua. Biar hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang tahu. Sebab hanya Dia yang memberikan ganjaran, selainnya tidak bisa memberikan apa-apa walau melihat amal-amal tersebut.

Selain itu yang terpenting adalah ia menjaga kualitas ibadahnya, yaitu keikhlasan. Kesesuaian dengan syariat, kekhusyuan, dan kontinyuitasnya. Tanpa pula meremehkan kuantitasnya.

Ini semua, jika kita lakukan dengan sungguh dan sebagaimana mestinya, niscaya memberikan pengaruh bukan hanya bagi si da’i tetapi bagi mereka yang melihatnya. Tanpa ia mengiklankan, masyarakat akan merasa malu jika tidak mengikutinya, walau tidak ikut, paling tidak mereka tidak memusuhinya.

5. Teladan dalam Berkeluarga

Seorang da’i harus bisa menampakkan citra keluarga dakwah dan harakah. Keluarga yang tegak amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Rumah mereka benar-benar tempat berteduh, suami tempat bercerita, istri tempat melabuhkan hati, dan anak sebagai penyedap pandangan mata. Potensi perselisihan tetaplah ada, namun mereka –selain menyerahkan semua kepada Allah- juga memiliki cara Islami untuk menyelesaikannya, seperti tidak boleh bermusuhan lebih tiga hari, mudah memaafkan, mengalah walau benar, tidak membandingkan istri atau suami dengan yang lain, bersyukur atas pemberian dan pelayanan, dan seterusnya.

Keluarga da’i adalah keluarga yang rumahnya tidak ada kemungkaran seperti, musik-musik jahiliyah, majelis pergunjingan dan kebencian, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dan dayyuts (yaitu orang yang tidak marah terhadap maksiat anggota keluarganya). Sebaliknya adalah semarak dengan tilawah Al Qur’an dan kajian tentangnya, nasihat-nasihat agama, majelis mahabbah, madrasah bagi anak-anak, dan nasyid-nasyid penyemangat hidup dan jihad, itupun seperlunya.

Keluarga da’i adalah keluarga yang anggota keluarganya mengerti dan menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, secara adil dan musyawarah. Juga pandai bertetangga, baik dalam keadaan ridha atau marah. Sebab hidup bertetangga tidak lain adalah kumpulan kesabaran, pemakluman, dan lapang dada, sebab Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia secara heterogen.

Keluarga da’i adalah contoh keseimbangan bagi masyarakat. Ia seimbang dalam urusan dunia dan akhirat, materi dan ruhi, kerja dan istirahat. Seimbang dalam berpakaian, tidak terlalu murah dan jelek sehingga menghinakan diri sendiri, atau terlalu mewah sehingga terkesan sombong. Keseimbangan ini amat diperlukan agar ia bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan dua kutub ekstrim manusia.

Wallahu A’lam wa lillahil ‘Izzah.

 


Catatan Kaki:

[1] Para ulama berbeda pendapat dalam menilai hadits ini, sebagian mengatakan dhaif, seperti Syaikh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad. (Asna Al Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah Al Maratib, No. 1377), Imam Badruddin Az Zarkasyi ( At Tadzkirah fil Ahaadits Al Musytahirah, Hal. 102, No. 33), Imam As Suyuthi (Ad Durar, Hal. 18), Syaikh Syu’aib Al Arnauth (Tahqiq Musnad Ahmad No. 5115), yang lain mengatakan shahih, seperti Imam Ibnu Hibban (Bulughul Maram, hal. 301), Syaikh Al Albani (Shahihul Jami’ No. 2831, 6149 ), Imam Al ‘Iraqi (Al Mughni ‘an Hamlil Asfar No. 851, juga dalam Takhrijul Ihya’ No. 843), Imam As Sakhawi (Al Maqashid Al Hasanah No. 1101, katanya: sanadnya dhaif tetapi memiliki banyak penguat, dari jalur Hudzaifah, Abu Hubairah, dan Anas), Imam Ibnu Hajar mengatakan hasan (Fathul Bari, 10/271). Imam Al ‘Ajluni juga menyatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh banyak jalur lainnya, sebagaimana yang dikuatkan oleh As Sakhawi dan Al ‘Iraqi . (Kasyful Khafa, 2/240).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Lihat Juga

Khutbah Idul Adha 1437 H: Empat Teladan Nabi Ibrahim dan Keluarganya