Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Refleksi Diri

Refleksi Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jika kita melihat diri sendiri dan merenung siapa diri kita, sudahkah kita mengenal diri kita sendiri dengan ma’rifah yang mendalam… ini merupakan pertanyaan besar yang patut kita renungkan. Sejauh mana kita mengenal diri sendiri sedalam itulah kita mengenal Sang Pencipta, sebuah ungkapan menyebutkan “Siapa mengenal diri sendiri maka dia akan mengenal Tuhannya”.

Proses kehidupan manusia dimulai dari alam rahim, Allah akan meniupkan ruh pada saat kandungan berusia 120 hari, kemudian ketika kehidupan alam rahim sampai dengan sembilan bulan sepuluh hari, terlahir ke dunia seorang bayi yang suci. Tahapan kehidupan akan terus berlanjut dimulai dari masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa sampai nanti saat kematian menjemput.

Untuk menapaki kehidupan yang keras membutuhkan segala sesuatu yang bersifat materiil maupun spiritual, kitalah yang menentukan berapa banyak porsi yang harus kita laksanakan, manajemen waktu sangat diperlukan agar dapat hidup secara tawazun. Apabila kita mendewakan uang maka arah kehidupan akan tertuju pada uang, karena dengan uang pasti semua urusan akan selesai, apakah hanya uang kita cari …?? Seberapa banyak uang yang kita peroleh..??

Jika kita sadari sesungguhnya kehidupan dunia adalah ibadah sesuai dengan firman Allah dalam surat 51: 56 “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku”, dan Allah memberikan dua jalan yaitu jalan baik atau buruk…, manakah yang kita akan pilih dan lalui..?? Dua pilihan tersebut dengan tujuan sukses atau gagal.

Hal ini yang patut kita untuk merenung sesungguhnya Hidup adalah untuk menapaki jalan menuju kematian dan kehidupan sesudah kematian. Kematian begitu dekat, kita tidak akan tahu kapan kita akan mati, mungkin tahun depan, mungkin lusa, mungkin besok atau mungkin malam ini. Dalam sebuah hadits yang disebutkan “Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya, yang beramal untuk hari kematian. Orang yang kurang berhitung adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkannya (HR Tirmidzi).

Marilah kita muhasabah mulai saat ini “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab” (Umar bin Khattab), wa allahu a’lam bi showab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Ngatini
Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Lihat Juga

jalan-di-antara-pohon-rindang

Muhasabah Diri, Memantapkan Hidup

Organization