Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dia, Dia, dan Dia Ibuku

Dia, Dia, dan Dia Ibuku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

Kasih ibu, Kepada beta
Tak terhingga, Sepanjang masa
Hanya memberi, Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

***

dakwatuna.comWonosobo kini mulai panas, Terik mentari begitu menyengat, enggan rasanya untuk keluar rumah. Siang ini sangat panas, misi liburan akhir pekan untuk “ngadem” tak tercapai. Aku memilih duduk di kursi dekat pintu dapur, menarikan jemari di atas keypad HP sambil menunggu adzan Zhuhur berkumandang.

Dari kejauhan, aku melihat sosok yang tak asing bagiku, wanita tua berkulit gelap dan berambut yang sudah memutih menggendong ember cukup besar. Yaaa … beliau mbah-ku, wanita tangguh yang sudah 20 tahun ini menjadi sandaranku dan adik-adik dalam menapak alur hidup.

“Ngapa kuwe ning kono? Kaya ora ana gawean,” tegur mbah saat masuk rumah dan melihatku sedang duduk dan hanya memainkan keypad HP.

“Hehehehe, sampun kondur mbah?” aku membalas dengan balik tanya, sebenarnya malu juga, mbah cape-cape dari sawah sementara aku dengan santainya duduk manis di rumah.

Mbah langsung menumpahkan ke lantai cabai  di ember yang beliau bawa. Memilah yang merah dan masih agak putih serta menempatkannya pada tempat yang berbeda.

“Indra rencangi nggih mbah,” aku menawarkan diri untuk membantu.

“Ora usah, tanganmu ndak panas, indra kuliah sing pinter wae, mbah wis pol senenge,” jawab mbah.

Subhanallah … menyentuh sangat dalam. Luar biasa kasih sayang beliau untukku. Rela berangkat ba’da subuh sampai menjelang Maghrib tersengat mentari dan basah oleh guyuran hujan di sawah, hanya pulang saat waktu shalat. Berjuang keras agar aku tetap bisa kuliah, agar aku tetap bisa hidup layak dan tak kekurangan bahkan berkecukupan seperti mereka yang punya orang tua lengkap.

Mbah … beliau orang terhebat bagiku, orang yang paling berjuang dalam kelangsungan hidupku. Beliau orang yang paling peduli saat aku pulang ke keluarga ibu, orang yang paling antusias mendengar keadaanku, orang yang paling khawatir saat aku memberi kabar sedang sakit.

Mbah … sosok tulus yang selalu merebuskan air untukku mandi, agar aku tak kedinginan, agar aku tak sakit. Beliau pula yang selalu buatkan aku telur dadar, dengan sangat hati-hati dalam memberi garam dan benar-benar menghindari MSG, karena beliau sangat paham aku tak suka asin dan dilarang keras mengkonsumsi MSG, beliau yang selalu buatkan aku sarapan dan teh hangat sebelum aku berangkat ke semarang, menanyakan apa saja yang akan aku bawa, membantu aku menyiapkannya dan tak pernah bosan mengingatkan. Ah … betapa aku ingat wajah beliau yang selalu khawatir setiap aku pamit berangkat ba’da subuh dengan mengendarai motor.

Mbah … muslimah shalihah yang selalu bangunkan aku untuk sahur, menyiapkan menu sahur untukku, menemaniku sampai aku selesai makan dan mengingatkan aku untuk qiyamul lail. Beliau selalu bangunkanku dengan lembut saat adzan subuh aku belum terbangun, juga mengingatkan ketika setiap adzan berkumandang aku tak segera bergegas mengambil air wudhu. Beliau yang selalu menegurku ketika ba’da Maghrib aku lebih asyik dengan laptopku dibanding untuk tilawah.

Mbah … sosok paling tangguh. Beliau yang selalu tegarkan aku ketika kekuatan ini melemah karena kalah oleh keadaan. Beliau yang selalu meyakinkan aku bahwa aku kuat dan sanggup menapak segala medan ujian. Beliau yang selalu menangis saat melihat hatiku tercabik dan kesakitan…

Dan budhe…. beliau tak ada ikatan darah denganku. Beliau istri dari kakak ayahku. Tapi kasih sayang beliau juga luar biasa untukku. 6 tahun aku dalam asuhannya. Bahkan sampai sekarang ketika aku sudah tidak serumah dengan beliau, beliau tetap sayang layaknya ibu untukku. Beliau begitu tulus menerima aku menjadi bagian keluarga beliau, rela membagi hati untukku. Sangat sabar menghadapi kekeraskepalaanku, tak pernah lelah ingatkan aku untuk makan dan senantiasa tegarkan aku, agar aku pandai bersyukur dan tak menyalahkan keadaan, agar aku mau memahami kenyataan dan tak rapuh. Beliau selalu menuntunku untuk jadi anak yang berbakti agar aku jadi muslimah shalihah yang syumul dan tawazun.

Hampir 3 bulan kemarin aku kembali tinggal bersamanya, saat aku PKL. Hangat, kurasakan sentuhan kasih sayang yang terhijabi oleh jarak tempat sejak aku kuliah di semarang. Beliau begitu memahami aku, menanyakan aktivitasku di tempat PKL, mengingatkan aku saat aku terlalu asyik lembur sampai pulang ba’da Maghrib, dan seperti biasa selalu men-support agar aku tetap kuat menjalani hidup. Bahkan beliau tak pernah marah saat aku terlalu asyik dengan laptop-ku di kamar, tak pernah membantu pekerjaan rumah.

Dan memoar 28 Agustus 2011 … sungguh buatku semakin mengaguminya. Kala beliau memberitahuku suatu hal yang sangat sensitif bahkan tidak semua orang akan mampu menghadapinya, dengan lembut beliau memberi pengarahan untukku dan meyakinkanku untuk tetap kuat, dengan bahasa yang syar’i tentunya, dan beliau memberi closing statement “yang penting kamu jadi orang baik dan shalihah, tak usah pedulikan hal itu”

Budhe … sungguh betapa aku mengagumimu, tentang kelembutan, kesabaran, keikhlasan dan keshalihan yang belum pernah aku temukan pada sosok lain dalam hidupku.

Ibu … wanita yang melahirkanku. Sudah sejak aku kelas 1 SMP terpisah darinya. Namun aku tau, ikatan hati kami tetap kuat, karena dalam diriku mengalir darahnya. Beliau memang berbeda dengan mbah dan budhe. Menjadi bagian dari hidupnya adalah tantangan terindah bagiku. Di sini Allah mengajariku untuk kuat dan sabar, Allah menuntunku untuk benar-benar mengendalikan emosi agar tak terbudaki oleh amarah. Beda orang beda karakter beda cara, yang aku tau, ibu punya cara yang berbeda dalam menyayangiku, melalui semua sikapnya, sejatinya ada cinta. Aku yakin itu!

Dan 11 November 2011, aku menemukan cinta itu, dalam SMS panjangnya saat aku sedang menghadapi ujian yang sangat berat dan nyaris putus asa, aku beranikan sms beliau, dan beliau menjawab “tak usah pedulikan (sensor), cukup lihat ibu dan mbah, yang biayai kamu kuliah. Nanti (…..) kamu (……) saat sudah lulus, ibu bantu juga. Kamu pasti bisa, kamu pasti sukses, kamu anak ibu, ibu punya tanggung jawab atas nafkah kamu, yang penting sekarang kuliah yang pinter”.

Subhanallah … betapa beruntungnya aku, Allah mengirimkan orang-orang luar biasa dalam hidupku, yang saling berkorelasi untuk melengkapi celah kebutuhanku. Apa yang tidak aku dapat dari ibu bisa aku dapat dari mbah dan budhe.

Mbah … maafkan Indra yang sering ketus.
Ibu, maafkan Indra yang tak mampu sabar dan terlalu cengeng menghadapimu.
Budhe, maafkan Indra yang sering melukai dengan mengabaikan nasihatmu.
Mbah, ibu, budhe … terima kasih untuk semua pengorbananmu.

Dan aku yakin,
jika aku mampu mengadopsi aspek positif dari mbah, ibu dan budhe,
maka aku akan jadi muslimah luar biasa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sosok biasa yang terus belajar untuk menjadi luar biasa, karena-Nya ...

Lihat Juga

Kala Ibu Terlelap