Home / Pemuda / Cerpen / Si Ulat dan Tanaman Stroberi

Si Ulat dan Tanaman Stroberi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Aru Wijayanto)
Ilustrasi. (Aru Wijayanto)

dakwatuna.comDi suatu kebun yang hijau, tumbuh berbagai macam tanaman, seperti kubis, kol, tomat, wortel, dan stroberi. Di sana hidup bermacam-macam serangga. Ada ulat, lebah, belalang, semut, dan lain-lain. Mereka saling berteman satu sama lain dengan gembira.

Pada suatu hari Babah si lebah mengajak teman-teman yang lain untuk pergi ke kebun stroberi karena di sana ada sebuah tanaman stroberi yang sudah berbuah.

“Eh teman-teman, tadi sewaktu aku melewati deretan tanaman stroberi, aku melihat ada satu buah stroberi lho! Strawberry tersebut sepertinya enak sekali untuk dimakan,” Kata Babah si lebah. Babah si lebah mengajak teman-temannya untuk pergi ke sana untuk menikmati buah itu bersama-sama.

Sesampainya di sana, kawanan serangga tersebut melihat sebuah stroberi yang berwarna merah, dengan bintik-bintik kuning di seluruh permukaan buah tersebut.

“Waaah, aku ingin sekali melahap buah itu sampai tidak tersisa,” Kata Olang si belalang sambil menelan air liurnya.

“Hei, apa yang kalian lakukan di sini! Cepat pergi! Ini tanamanku!” terdengar suara dari balik dedaunan. Kemudian muncullah seekor ulat. Ulat tersebut memiliki bulu-bulu di seluruh tubuhnya. Dia melarang serangga-serangga itu untuk mendekati tanaman stroberi itu. Dia menyuruh dengan ketus semua serangga-serangga itu untuk pergi dan jangan kembali.

“Tidak bisa begitu! Kebun ini milik kita bersama, semua boleh makan apa yang ada di sini,” sangkal Umut si semut.

“Aku tidak akan membiarkan kalian mendekati tanaman ini, apalagi memakannya!” jawab Si ulat dengan ketus.

Para serangga itu kemudian pergi dan mencemooh si ulat. Para serangga pergi dengan kecewa.

Kemudian serangga-serangga itu berhenti di sebuah cekungan air yang disamping-sampingya ditumbuhi rumput, bekas air siraman pak tani pagi ini. Mereka bercakap-cakap membicarakan kelakuan si ulat yang pelit tadi. Selain itu mereka juga merencanakan untuk kembali dan mengambil stroberi tersebut.

“Sungguh keterlaluan si ulat tadi, padahal kita bisa makan stroberi tersebut bersama-sama,” kata Liba si laba-laba dengan kesal.

“Jika di sarang kami ada tanaman yang berbuah, kami selalu membaginya dengan serangga lain,” tambah Babah si lebah.

“Bagaimana jika kita mengambil buah stroberi tersebut pagi-pagi sekali saat si ulat belum terbangun dari tidur?” tanya Liba si laba-laba kepada teman-temannya.

Kemudian tiba-tiba terlihat sebuah bayangan hitam besar melintas di tanah. Rupanya bayangan burung yang berkeliling di atas kami. Setelah beberapa kali berputar di terik langit, sosok bayangan tersebut mendarat tepat di depan kami. Ternyata dia adalah pak Han, seekor burung hantu.

“Jangan bertindak seperti itu anak-anak, si ulat anak yang baik,” kata pak Han si burung hantu. Rupanya dari tadi pak Han mendengar percakapan para serangga.

“Baik bagaimana, pak. Dia mengusir kami, padahal dia bisa saja jadi teman kami,” sangkal Liba si laba-laba.

“Benar, kenapa juga dia tidak mau membagi stroberi tersebut?” tambah Babah si lebah bersama si Olang si belalang yang mengangguk.

“Hahahaha…sebentar lagi kalian pasti bisa memakan buah stroberi tersebut bersama, bahkan dengan si ulat. Karena pendengaranku sangat tajam,” jawab sang burung hantu dengan tertawa lantas pergi terbang.

Para serangga tersebut bingung dengan apa yang dikatakan oleh pak Han si burung hantu. Mereka kembali berdiskusi, di bawah tanaman tomat yang rindang, dengan sedikit air menggenang dan bebatuan seperti di pinggiran sungai yang indah. Kemudian mereka tetap merencanakan sesuatu untuk mengambil stroberi tersebut.

Pagi-pagi sekali, sangat pagi sekali hampir bersamaan dengan suara kokok ayam. Mereka berangkat ke kebun stroberi dan menuju satu-satunya tanaman stroberi yang berbuah tersebut untuk mengambil buah tersebut, berharap bahwa si ulat belum terbangun dari tidurnya.

Ternyata mereka salah. Si ulat telah mondar mandir, memilih-milih daun yang akan dia makan.

“Hei, apa yang kalian lakukan di sini! Cepat pergi! Ini tanamanku!” terdengar suara dari balik dedaunan. Kemudian muncullah seekor ulat.

Ternyata si ulat sudah bangun pagi-pagi sekali, dan terlihat mengunyah sehelai daun.

“Kenapa kamu tidak mau membagi stroberi tersebut? bahkan kamu tidak memakannya?” tanya Babah si lebah.

“Aku tidak akan membiarkan kalian mendekati tanaman ini, apalagi memakannya!” jawab Si ulat dengan ketus.

Para serangga kemudian pulang lagi dengan kecewa dan lagi lagi mereka mencemooh si ulat.

Para serangga kembali ke markas mereka, di bawah pohon tomat yang rindang, kembali merencanakan sesuatu lagi dan mencemooh kelakuan si ulat tadi. Mereka kembali merencanakan untuk bisa menikmati stroberi yang lezat tadi. Kemudian tiba-tiba bayangan hitam kembali berseliweran di atas tempat mereka berkumpul.

“Jika kalian ingin memakan buah stroberi yang lezat itu, coba pergilah ke sana pada malam hari. Siapa tau si ulat sudah tertidur pulas?” kata pak Han sambil mengepak-ngepakkan sayapnya hendak mendarat di tanah.

“Kenapa pak Han bilang begitu? Kan kemarin Anda melarang kami mengambil stroberi tersebut?” kata Liba si laba-laba.

“Hahahaha….karena pendengaranku sangat tajam,” kata pak Han sambil mengepakkan sayap kemudian terbang.

Para serangga itu dibuat bingung kembali dengan kata-kata pak burung hantu. Salah satu dari mereka kemudian memikirkan saran dari pak Han, dan kemudian mengajak teman-teman yang lain untuk mencuri stroberi tersebut pada malam hari.

Keesokan malamnya, para serangga menuju kebun tersebut berniat untuk mengambil buah stroberi yang lezat itu. Satu persatu serangga naik pada tangkai tanaman stroberi tersebut. Pada saat mereka menaiki pohon, mereka mendengar suara si ulat, tapi seperti suara menangis.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Olang si Belalang dengan nada berbisik kepada seluruh teman-temannya. Mereka semua pun terdiam, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan si ulat.

“Ya, Allah. Maafkan aku karena telah mengusir mereka. Aku sebenarnya ingin sekali berteman dengan mereka, bermain dengan mereka, dan makan buah stroberi bersama-sama,” terdengar suara si ulat dari dalam kantung sarang yang terbuat dari daun-daun.

“Aku tidak ingin mereka gatal-gatal, ya Allah? Aku ingin bermain dengan mereka,” terdengar suara lagi dari dalam.

Mendengar hal itu kemudian para serangga tidak jadi mencuri, mereka sangat bingung dengan kata-kata si ulat.  Kemudian mereka pulang.

Keesokan harinya, di pagi hari, mereka berkumpul kembali. Kemudian mereka memutuskan untuk mencari pak burung hantu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Di sebuah lubang pohon yang besar, akhirnya para serangga bertemu pak Han.

”Si ulat sudah tujuh hari berdoa dan menangis seperti itu, dia memiliki bulu yang gatal, siapa yang mendekatinya pasti gatal. Kalian harus minta maaf kepadanya. Dia tidak bermaksud memusuhi kalian,” kata pak Han si burung hantu.

Mendengar hal itu para serangga bergegas menuju ke rumah si ulat dan berpamitan dengan pak Han. Mereka ingin meminta maaf kepada si ulat.

Tetapi sesampainya di sana mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam sarang si ulat itu kecuali sebuah buntelan benang-halus menyerupai kantong tergantung di pojok sarang. Kantong tersebut berwarna putih.

Para serangga mencari-cari si ulat di sekitar sarang tetapi tidak menemukan si ulat. Kemudian mereka mencari si ulat di seluruh kebun stroberi. Tetapi mereka tetap tidak menemukannya.

Tidak terasa hari sudah sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke sarang masing-masing.

“Ayo kita pulang dulu, mungkin besok kita bisa melanjutkan pencarian di seluruh penjuru kebun,” kata si Babah si lebah.

Keesokan harinya mereka mencari ke seluruh penjuru perkebunan. Mulai dari kebun kol, tomat, kubis. Dari atas pak Han melihat para serangga mencari dengan tersenyum. Mengamati.

Setelah beberapa hari mencari, mereka mulai putus asa. Kemudian dari atas muncul bayangan lagi. Ternyata pak Han menghampiri mereka. Dan berkata, “kenapa kalian tidak mencari si ulat di sarangnya lagi? Siapa tahu dia sudah pulang?”

Kemudian mereka pergi ke sarang si ulat, dan tidak melihat siapa-siapa, hanya sebuntel serat-serat putih seperti pertama kali mereka melihatnya. Tetapi ketika para serangga hendak meninggalkan sarang si ulat, serat-serat tersebut bergerak-gerak seperti ada sesuatu di dalamnya.

“Tunggu teman-teman! Lihat kantung tersebut bergerak-gerak!” kata Olang si belalang.

Mereka heran melihatnya, semua mata mengamatinya. Setelah beberapa lama, dari dalam balutan serat-serat tersebut keluar pelan-pelan seekor serangga yang cantik menawan, dan ternyata seekor kupu-kupu. Mereka semakin terheran, siapakah hewan itu? Kenapa bisa ada di rumah si ulat? Di mana si ulat?

Kemudian para serangga mendekat, tetapi kupu-kupu tersebut berkata, “Hei, apa yang kalian lakukan di sini! Cepat pergi! Ini tanamanku!”

Para serangga semakin terheran-heran, suara itu terdengar tidak asing di telinga mereka.

“Aku tidak akan membiarkan kalian mendekati tanaman ini, apalagi memakannya!” Si kupu-kupu berkata lagi dengan ketus.

Tetapi para serangga tadi tetap mendekati sang kupu dan berkata, “Jangan khawatir Ulat, pak burung hantu telah menjelaskan kepada kami semuanya, engkau tidak lagi gatal juga buruk rupa. Lihatlah dirimu sekarang, kamu cantik sekali.”

Si kupu-kupu berputar-putar sambil melihat seluruh tubuhnya. Kemudian dia tersenyum dan melihat para serangga dan berkata, “Apa yang terjadi padaku?”

Para serangga yang lain kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya. Mereka berbincang-bincang riang di dalam sarang si ulat.

Akhirnya, mereka semua berteman dan mereka makan buah stroberi tersebut bersama-sama.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa.
  • aris yunani

    indahnya persahabatan

  • aris yunani

    indahnya persahabatan