Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahagia Karena Banyak Digunjing

Bahagia Karena Banyak Digunjing

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Digunjing? Anda tentu tahu apa yang dikatakan dengan digunjing. Setiap orang sudah mengenal kata ini bahkan sejak ia menginjak bangku SD.

Ya, segala sesuatu yang ada dalam kata digunjing konotasinya adalah tidak mengenakkan sekali. Kebanyakan dari isinya adalah tentang pendapat dan hal-hal yang tidak di suka oleh objek gunjingan. Isu-isu yang sarat dengan kamuflase dan biasanya berakibat merugikan objek gunjingan.

Perbuatan menggunjing ini sudah merata ke setiap kalangan dan jenis kelamin. Di mana-mana orang sadar atau tidak sadar ia pasti pernah ikut terlibat dalam gunjing menggunjing. Dengan cepat dan sigap suara gunjingan menyebar ke mana-mana dan bertambah-tambah.

Itulah hebatnya gunjing, semua jadi kreatif olehnya, bumbu-bumbu yang tadinya sedikit menjadi meluas untuk di masak agar nikmat untuk di konsumsi bersama-sama. Indah sekali terasa bagi yang memakannya dan menyakitkan sekali bagi obyeknya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian banyak prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Namun tidak berlaku untuk yang merasa dirinya orang beriman dan mukmin sejati. Kenapa demikian, karena ia mengetahui rahasia tersembunyi dari setiap keadaan yang menerpanya.

Sebut sajalah ia sedang menjadi objek gunjingan, panas sekali hatinya mendengar dirinya tengah asyik di perbincangkan dalam skala yang buruk-buruk. Namun apabila ia memang orang yang beriman dan memiliki kecakapan pengetahuan yang luas tentang ilmu agama, maka ia tidak akan terganggu sedikit pun oleh suara-suara yang mempergunjingkannya tersebut.

Ya, orang-orang yang digunjing mestinya bersyukur dan bertambah bahagia. Apa sebab? Sebab ia tahu hakikat dari keadaan digunjing tersebut. Marilah kita ulas satu persatu dari sekian banyak rahasia kebaikan dari keadaan digunjing, ada 10 kebaikan padanya, yaitu sebagai berikut:

  1. Anda yang digunjing jadi mendapatkan perhatian lebih dari sebelumnya, karena orang-orang jadi sibuk memperhatikan Anda, sehingga andapun jadi lebih memperhatikan sikap Anda.
  2. Pada dasarnya orang yang sedang ramai di bicarakan, pertanda ia sedang berada di atas, dengan kata lain mereka yang menggunjing menyadari dalam hatinya tentang kelebihan Anda yang tidak mereka punya.
  3. Anda jadi memiliki penasehat gratis yang suka mengoreksi kekurangan Anda, agar Anda dapat segera memperbaikinya dan berubah menjadi lebih teliti dan hati-hati.  Tanpa Anda harus menyewa mahal consultant karakter ataupun psikiater pribadi.
  4. Yang tadinya Anda tidak tahu kekurangan Anda, karena memiliki penasehat gratis maka Anda jadi menyadari dan akhirnya dapat pelajaran baru untuk menyiasati pribadi Anda jadi lebih baik dari sebelumnya, karena setiap kita pasti ada kekurangan.
  5. Dalam sebuah hadits, di katakan bahwa mereka yang bergunjing, hakikatnya sedang mengambil dosa-dosa Anda, semakin banyak mereka bergunjing tentang Anda, semakin banyak pula dosa Anda di ambil oleh mereka.
  6. Sebaliknya, orang yang sedang digunjing hakikatnya sedang menerima pasokan pahala dari mereka yang sedang menggunjingnya, dengan kata lain pahala mereka pindah ke orang yang digunjing.
  7. Tabiatnya orang-orang yang suka menggunjing akan saling menggunjing lagi di belakang masing-masing, sehingga tampaklah bagi mereka keburukan mereka masing-masing, dan akhirnya saling tidak mempercayai lagi dan satu persatu bubar, tanpa Anda harus bekerja keras untuk balik menyerang kumpulan mereka.
  8. Jika Anda dapat membuktikan gunjingan mereka salah, maka seketika mereka akan takjub pada Anda dan balik saling membela Anda satu sama lain, dan tampaklah bagi mereka masing-masing bahwa mereka sama-sama tidak berpendirian yang baik. Sekali lagi tanpa Anda harus bekerja keras untuk balik menggunjing mereka.
  9. Jika mereka tidak dapat Anda perbaiki, diam adalah sikap cerdas dalam menghadapi gunjingan, agar proses transfer pahala dan pemindahan dosa berlangsung dengan sukses.
  10. Senyum terima kasih pada mereka setiap bertemu, karena mereka telah memberikan pahala mereka dengan cepat kepada Anda. Lagipula tak ada salahnya selalu tebar senyum untuk semakin menambah saldo pahala Anda, karena senyum adalah sedekah.
  11. Bahagia, karena selama ini Anda kurang inisiatif dalam beramal, namun dapat tumpukan pahala dari mana-mana akibat gunjingan yang bahkan Anda tidak kenal dengannya, hingga hapus sedikit demi sedikit dari catatan dosa-dosa Anda.

Bukankah semua itu baik? Bukankah semua yang tampak menyakitkan dan merugikan ternyata baik akibatnya. Tentunya jika sikap Anda tetap baik dan santun dalam fase menjadi objek gunjingan. Namun jika Anda balik membalas dan mengajak berkelahi, maka itu semakin memperburuk keadaan Anda di mata mereka dan bukan pahala yang di dapat, melainkan menambah kesalahan baru.

Untuk itulah Anda di tuntut agar tetap tenang dan bersahaja jika sedang menghadapi gunjingan yang tidak enak, bersabar sedikit demi kebaikan yang banyak. Diam bukanlah tanda kelemahan, mengalah bukanlah tanda penakut, namun karena berilmu maka Anda mengambil sikap yang bijak.

Tentunya sikap baik akan menuai hasil yang baik, dan sikap pasif tersebut di pilih semata-mata karena mengharap pahala dan ridha dari Allah swt. Bukankah Anda tidak menyengaja merencanakan agar mereka ramai-ramai menggunjing Anda sedemikian rupa, agar pahala amalan mereka pindah kepada Anda?

Jadi, jangan sedih jika Anda sedang menghadapi sebuah gunjingan. Justru berbahagialah karena ada orang-orang yang suka mengambil deretan dosa-dosa Anda, dan menggantinya dengan pahala-pahala mereka. Bahkan kalau Anda mampu, sediakanlah bagi mereka kado ucapan terima kasih karena telah bersedia mengambil dosa-dosa Anda.

Untuk itulah Anda semestinya tersenyum dan bahagia jika sedang menjadi objek gunjingan yang tidak mengenakkan.  Tidak perlu marah, tidak perlu naik darah. Cukup kelola hati Anda agar tetap dingin, dan selalu tersenyum untuk mengikis pandangan sinis orang-orang yang menggunjing Anda.

Semestinya kita bersyukur dan semestinya kita bahagia jika ada orang menzhalimi kita. Karena dengan begitulah jalan pintas untuk kita dapat menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita yang kita ketahui, apalagi untuk kategori dosa-dosa yang kita tidak ketahui bahwa itu adalah dosa. Sehingga tanpa sadar kita berjalan menuju hari tua sudah dalam keadaan berkurangnya jumlah dosa, apalagi sampai terkikis habis dosanya. Bukankah itu keberuntungan? Insya Allah….

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (di olok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang (di olok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujurat:: 11)

Wallahu’alam….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Echiey Hisaan
Direktur Rumah Tahfidz Ababil dan Aktivis. Pekanbaru.

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian

Organization