Home / Keluarga / Kesehatan / Pilih Resep Nabi atau Resep Dokter?

Pilih Resep Nabi atau Resep Dokter?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Anatomi tubuh manusia. (inet)
Ilustrasi – Anatomi tubuh manusia. (inet)

dakwatuna.com Pernahkah Anda dengar orang bicara seperti ini: “Mau pilih resep Nabi apa pilih resep dokter?”, “mau herbal apa obat kimia?”, “mau vaksin apa ASI eksklusif?”, dan lain-lain. Seolah kedua hal tersebut kontradiksi dan hanya boleh memilih salah satu. Ya hanya boleh salah satu pilihan saja. Begitukah Islam mengajarkan? Mengapa itu bisa terjadi? Ya tidak tahu kenapa. Tapi saya ingin bahas sedikit ke muara ilmu pengobatan ya.

Tahukah Anda bahwa semua ilmu itu dari Allah? Allah SWT yang Maha Berilmu itu menurunkan ilmu-Nya kepada manusia melalui dua jalan:

  1. Lewat perantaraan Nabi (wahyu), dan
  2. Langsung kepada manusia

Ada karakteristik khas untuk masing-masing jalur ilmu itu dan tidak boleh terbalik dalam aplikasinya. Bila terbalik bisa fatal akibatnya. Ilmu Allah yang turun lewat Nabi, termasuk pengobatan Nabi, bersifat umum, luas, global, dan diyakini mutlak benarnya oleh umat Islam, iya kan? Sebaliknya ilmu yang langsung Allah beri kepada manusia, melalui eksperimen, penelitian, percobaan ilmiah, perenungan, pemikiran, ilham juga khas. Ilmu yang diperoleh melalui eksperimen ini bersifat relatif kebenarannya. Yang benar hari ini belum tentu benar di kemudian hari. Iya kan? Kalau ilmu yang dari Nabi sifatnya benar mutlak tapi global, misalnya: tidak ada kan hadits yang memuat cara operasi bedah tulang, cara operasi jantung dll. Nah kedua jalur ilmu itu karena sumbernya sama dari Allah SWT, maka harusnya saling harmonis asal kita tempatkan sesuai dengan posisinya.

Pengobatan nabi bersifat global, umum sifatnya. Tidak spesialistik dan detail. Karena memang nabi bukan diutus Allah sebagai dokter, tapi Rasul. Jadi bila ada orang yang bilang “Rasulullah is my doctor”, menurut saya dia sudah merendahkan posisi nabi itu sendiri. Masa nabi disamakan dengan saya (dokter, red)? Karena sifat ajaran pengobatan nabi yang mutlak benarnya itu bersifat umum, maka untuk yang detail-detail diserahkan pengembangannya kepada manusia sendiri. Konsep ini menyebabkan ilmuwan Islam zaman dulu maju berkembang pesat. Saat Baghdad punya banyak RS mewah, di Perancis orang masih jarang mandi… Jadi untuk hal-hal spesialistik dan detail seperti cara operasi, cara laparoskopi, vaksinasi, dll pasti tidak ada haditsnya, iya kan?

Lalu apa saja ajaran pengobatan nabi itu? Banyak, tapi lebih bersifat promotif dan preventif, dengan aspek kuratif yang ada bersifat umum. Nabi SAW sendiri sangat hormat terhadap tabib. Saat ada sahabat yang sakit, beliau panggil tabib yang ahli pengobatan. Jadi nabi sendiri menghargai dokter. Nabi sangat menghargai pendapat orang lain. Misalnya kasus perkawinan pohon kurma, saat itu beliau usul suatu cara yang malah bikin kurma tidak berbuah. Akhirnya setelah diprotes karena panen malah menurun, beliau SAW bersabda:

أنْتُمْ أعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu.” (Hadits riwayat Muslim, dalam kitab Shahih Muslim (1366))

Nah beginilah kita memahami imunisasi dalam pandangan Islam. Itu termasuk dalam “kamu lebih tahu urusan duniamu”. Syaratnya tidak boleh bertentangan dengan syariat, seperti kehalalan, keamanan, asas manfaat, dan sebagainya. Tugas para ahli lah yang menentukan standar tersebut. Jadi tidak relevan kalau ada yang bilang: vaksinasi tidak perlu karena zaman nabi juga tidak ada vaksinasi, nah dulu juga tidak ada Twitter kan?

Lalu bagaimana kalau ada orang yang mencukupkan diri dengan nasihat pengobatan dari Nabi yang sifatnya umum itu, misal: madu, habatussauda, bekam, dll. Selama kondisi sakit masih ringan dan dalam 3 hari pertama, bisa ditoleransi. Tapi kalau perlu operasi jantung coba mau cari di mana hadits tentang itu? Jadi jangan suka ekstrim menolak pengobatan modern dan menganggap cukup dengan pengobatan ala nabi. Ingat nabi saja memanggil dokter untuk si sakit…

Menganggap semua pengobatan modern adalah salah karena mengandung zat kimia adalah salah total. Bukankah oksigen, gula, nasi, air zat kimia? Menganggap semua herbal adalah aman juga salah total. Bukankah banyak orang yang menderita kanker karena konsumsi herbal tertentu terus menerus. Baik pengobatan nabi maupun pengobatan modern, obat herbal atau obat tablet dan cairan, semua asalnya dari ilmu Allah untuk manusia…

Ranah penelitian dan eksperimen sangat diperlukan untuk pengobatan modern. Ingat untuk menghasilkan 1 vaksin butuh 10-15 tahun penelitian. Jadi masih percayakah kita bila hasil penelitian 15 tahun dimentahkan begitu saja dengan alasan zaman nabi tidak ada vaksin juga sehat? Bagaimana dengan bekam? Bekam sudah dikenal 2000 tahun sebelum Nabi SAW lahir. Nabi menyetujui cara bekam. Tapi beliau tidak membekam orang.

Membabi-buta mengatakan “pengobatan Islam hanyalah bekam” bukan suatu konsep yang benar. Ingat nabi saja memanggil dokter saudara saudaraku… Mari lebih rasional dan proporsional mendudukkan sesuatu. Jadi jangan dikotomikan ASI vs Imunisasi, herbal vs tablet, bekam vs operasi.

Di Cina yang komunis saja, terapi tradisional dan modern duduk berdampingan, harmonis. Untuk kasus akut dan bedah mereka pakai terapi modern. Untuk kasus kronis, sebagian tumor, dll mereka pakai terapi tradisional. Masing-masing ada pembagiannya. Harmonis sekali… Di Cina (saya pernah jadi relawan medis untuk gempa di Cina) pasien pasien kronis biasanya diterapi tradisional medicine. Ada infus yang warna hitam… Tapi bila ada kasus trauma karena KLL, fasilitas modern untuk operasi mereka keluarkan semua. Jadi di satu RS terdapat keduanya, tradisional dan modern.

Harmonisasi antara dua kutub pengobatan perlu juga dilakukan di sini. Tidak perlu dikotomi yang disertai sikap ekstrim saling menyalahkan. Untuk bisa mengobati pasien, seorang dokter kuliah 5 tahun (dokter umum), 4 tahun spesialis, 4 tahun subspesialis, minimal 13 tahun untuk jadi konsultan. Lalu tiba-tiba dengan gagahnya seorang anak muda yang baru kursus bekam 7 hari melarang orang sakit berobat ke dokter ahli tersebut… hmmm. Padahal nabi SAW manusia paling mulia itu pun sangat menghargai profesi dokter. Beliau serahkan pengobatan sahabatnya yang sakit kepada dokter. Nabi mulia itu pun bersabda:

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَا يُعْلَمُ مِنْهُ طِبٌّ فَهُوَ ضَامِنٌ

“Barangsiapa berpraktik kedokteran padahal ia belum dikenal menguasai ilmu kedokteran, maka ia harus bertanggung jawab.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasai)

Perkembangan penyakit saat ini tidak bisa dipecahkan dengan ilmu yang bersifat umum. Satu cara pengobatan untuk semua penyakit. Tidak bisa saudaraku… Ada anak kawan saya sudah positif demam tifoid (tifus) menolak antibiotic karena zat kimia, tetap diobati herbal terus masuk kondisi memburuk… Akhirnya takdir Allah pun berlaku, ia wafat. Innalillah… Kenapa kita tidak lari dari takdir yang satu menuju takdir yang lain seperti kata Umar.

Motto saya: Anda boleh cari dokter terbaik di dunia, tapi gantungkan harapan kesembuhan hanya kepada Allah SWT, Sang Maha Penyembuh… Bila Anda sakit demam, 3 hari pertama, silakan pakai pengobatan yang Anda yakini, banyak minum, rukyah, bekam, herbal, dll. Tapi bila kondisi tidak membaik bahkan memburuk, serahkan urusan pengobatan kepada dokter yang sekolah belasan tahun itu.

Apakah pengobatan modern itu mengandung zat kimia? Ya, tapi herbal juga zat kimia. Nasi, air, gula, kopi, susu, semua zat kimia. Yang penting obat modern itu halal, tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. Bahkan pada obat modern, dosis, efek samping, reaksi alergi sudah diketahui

Tapi sebagian besar herbal tidak diketahui dosis, efek samping, reaksi alergi. Selalu dianggap aman dan dianggap bukan zat kimia… Saya tidak anti herbal, setiap malam saya makan garlic (kapsul bawang putih). Tapi bila kena infeksi bakteri saya akan minum antibiotika. Tapi saya yakin penyebab kesembuhan saya bukan pada garlic atau antibiotika, hanya Allah yang menyembuhkan hamba-hamba-Nya.

Saudaraku, keimanan kepada Allah SWT dan keyakinan kepada Nabi SAW jangan membuat kita benci dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran. Nabi SAW saja yang guru besar Thibbun Nabawi (pengobatan nabi) minta tolong ahli pengobatan pada saat itu. Nabi menghormati profesi medis. Kenapa sekarang tiba-tiba ada pengarang buku Rasulullah is my doctor, kemudian dia mencaci habis pengobatan modern. Apa dia lebih hebat dari Nabi? Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memilah mana pengobatan modern yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bukan memusuhinya secara total…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (171 votes, average: 8,55 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • afeldi

    saya agak kecewa dengan pengobatan medis…karna ada beberapa dokter (oknum) yang hanya memikirkan kesembuhan secara instan tanpa memikirkan efek samping jangka panjang yang akan di tanggung pasien……saya merasakan sendiri….efeknya…

    • tolenian

      jangan kecewa terhadap medis nya mas, kecewalah terhadap oknum dokternya.
      Jangan mencaplok obat-obatan dari dokter, selalu pelajari isi dari obat-obatan yang diberikan dokter, sekarang kita bisa search kandungan obat dengan cepat via internet. Jika sekiranya kita membaca ada sesuatu yang tidak wajar dari obat yang diberikan tersebut, maka kita wajib konsultasi dengan dokter yang lain. dikhawatirkan dokter yang memberi obat tersebut khilaf atau lupa.

      Insyaallah bermanfaat

  • aziz

    Trs gmn org yg telanjur g imunssi ankny dan skrg ankny dah umur stahun? Ad kah solusi n ap sdh trlambt untk imunssi?

    • GKS

      tidak ada kata terlambat untuk imunisasi, keduali kalau sudah terlanjur kena penyakit,
      misal, sudah permah kena cacar air, maka vaksin varicella sudah tidak butuh

      silakan hubungi dokter anak terdekat :) insyaallah semua bisa dijadwal ulang

    • fuluss

      kalau demikian ucapkan syukur mas aziz.

      anak saya yg 1 dan ke-2 imunisasi bisa dibilang full.
      anak ke-3 saya tidak sama sekali. mau tahu bedanya?
      anak yg ke-3 lebih sehat, lbh cerdas, lebih lincah, pintar ngomong, dll. d usia yg mau ke-2 blm pernah ke klinik. alhamdulillah

      sebelum lahir (pas tahu istri hamil), tiap pagi dan sblm tidur sy siapkan madu buat diminum. itulah imuninasi versi saya.

      imunisasi bukan lah multak dari dokter yg tingkat kehalalannya masih simpang siur.
      menggunakan madu jg salah satu cara imunisasi diri.
      artinya: apa2 yg telah diajarkan Nabi kita adalah bentuk lain dari imunisasi diri.

      sekali lagi, sy tidak menolak imunisasi modern, cuma sy lihat bahan-bahan dan yg lainnya jauh dari halal. blm lagi itu diproduksi oleh orang non muslim.

  • yadi sunda

    tp klo di bandingin,,obat herbal itu,,,kinerjanya lambat tp khasiatnya panjang,,klo ibat non herbal,,seperti anti biotika,,kinerjanya cepat tp khasiatnya instans,,{,maaf hanya orang kampung yg selalu di kasih racikan tradisional oleh moyangnya,,,}

  • [email protected]

    Assalamu alaikum, dok…Ilmu dan Iman terkadang tidak terpolakan dalam Amal…Dua kubu sering kali saling mengeliminir…Dampaknya apa yang baik yang pernah orang tua dulu lakukan dianggap sebagai suatu kekeliruan dan selalu disarankan untuk ditinggalkan…hasilnya generasi sekarang lebih banyak mereferensi kekinian yang menurut Dokter sudah melalui fase 10-15 tahun eksperiman…pernahkan dokter dan rekan-rekan dokter juga menyarankan dan mengadvokasi para pasiennya dengan cermat sehingga kombinasi antar-dua kubu bisa disinkronkan…Rasanya hal ini tidak pernah terjadi karena selalu dikejar tayang…Coba kita lihat dulu bagaimana orang tua; khususnya saya, mengimunisasi semua anak-anaknya…Mereka pergi ke dokter dan di rumah memberikan ASI eksklusifnya dengan ketulusan plus bibir kami selalu dirangsang dengan cairan madu walau pun hanya satu olesan yang tidak berarti…dan kemudian saat kami beranjak usia 4-6 bulan kami diperkenalkan dengan makanan yang Ibu kami kunyah sangat lembut lalu hasil kunyahannya dimasukkan ke mulut-mulut kami….Itulah esensi imunisasi – Ilmu dan Iman berpadu untuk Amal terbaik, yang sekarang Dokter pun mungkin lupa untuk sampaikan….Mudah-mudahan semua Dokter bisa menjadi konsultan untuk setiap pasiennya dan tidak bersikap kejar tayang…

  • hamba

    bung dokter ini sbenernya gak paham apa yg dia katakan

  • okabasi doma

    Terdapat perbedaan antara Resep pengobatan yg diajarkan Rasulallah SAW dng Resep pengobatan SELAIN Rasulallah SAW.
    Resep Rasuallah SAW, samasekali, sekali dicatat : samasekali tidak ada akibat sampingannya, Sebaliknya Resep selain Rasuallah SAW dipastikan ada akibat sampingannya, karena formula obatnya terdiri dari unsur unsur kimia yg pekat.

    Menurut saya, pengobatan yg paling baik diawali dengan pengobatan resep Rasulallah SAW ditambah dengan pengobatan HERBAL yg tidak mengandung unsur kimia pekat,
    Hindari obat yg berunsur kimia, KALAU TIDAK SANGAT TERPAKSA SEKALI, sebab disamping harga yg –kelewat– mahal,

    Satu hal yg tidak boleh ditinggalkan, adalah membaca Al Iklas, Al Falaq, Al Annas seperti yg diajarkan Rasuallah saw, setelah itu, usapkan dimana yg sakit, insya Allah sembuh.
    Sebab apa? sebab Peran JINN sangat besar dalam menyakiti manusia melalui virus, bakteri, baik yg dapat dilihat seperti asap rokok, maupun yg tidak terlihat mata.

    Saya hanya percaya obat kimia yg membuat ilmuwan Islam, tetapi apa masih ada sampai hari ini? yg sebagian besar dikuasai ilmuwan non Islam,

    • Budi

      Herbal itu termasuk kimia juga. Seluruh yang ada di alam semesta ini memiliki struktur kimia mulai yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Jaman dahulu ketika orang sakit, tabib langsung memberikan ramuan yang berasal dari tumbuhan, sedangkan jaman sekarang dokter memberikan obat dalam bentuk suntik, tablet, pil, sirup dll yang kandungannya memiliki rumus kimia yang serupa dengan tumbuh-tumbuhan yang diberikan oleh tabib-tabib jaman dulu. Namun karena perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tumbuh-tumbuhan tersebut diteliti agar supaya efek samping terhadap tubuh lebih minimal, serta penggunaannya yang lebih praktis. Tubuh kita ini merupakan suatu struktur kimia yang paling rumit dan paling dinamis yang diciptakan oleh Allah, mengapa? karena masing-masing orang dengan penyebab dan gejala penyakit yang sama belum tentu obat yang diberikan sama pula, itulah mengapa obat diciptakan dalam berbagai golongan. Tubuh kita bukan seperti matematika yang bila 1+1=2. Oleh sebab itu para dokter berfikir keras memilih berbagai macam obat yang dapat menghancurkan agen penyebab serta mengurangi gejala yang ditimbulkan dengan efek samping yang sangat minimal!.

      Tentang herbal saya sangat sependapat dengan penulis “jika Anda sakit demam, 3 hari pertama, silakan pakai pengobatan yang Anda yakini, banyak minum, rukyah, bekam, herbal, dll. Tapi bila kondisi tidak membaik bahkan memburuk, serahkan urusan pengobatan kepada dokter yang sekolah belasan tahun itu”. Sebenarnya untuk patokan harinya tidak musti tiga hari. tergantung dengan sistem imun, sistem kompensasi tubuh, dll. Namun untuk lebih amannya dipilih tiga hari untuk menghindarai kerusakan sel, jaringan, bahkan sampai kerusakan organ yang tidak dapat pulih kembali.

      Terakhir soal penyataan Anda “Saya hanya percaya obat kimia yg membuat ilmuwan Islam, tetapi apa masih ada sampai hari ini? yg sebagian besar dikuasai ilmuwan non Islam”. Bukannya ilmu medis itu sang pengembangnya ialah ummat islam?, namun karena peperangan, banyak buku-buku dicuri dan disalin kemudian dibakar oleh musuh-musuh islam.

      Terakhir, menurut saya, obat herbal dan obat modern dapat dipadukan bersama dengan catatan obat herbal tersebut di konsultasikan dulu ke dokter Anda, jangan sampai obat herbal yang Anda konsumsi dapat mengganggu mekanisme kerja obat modern yang anda konsumsi bersamaan, sehingga penyembuhannya tidak maksimal dan memakan waktu yang lama.

      Mohon maaf bila ada salah kata. kesalahan berasal dari saya dan kebenaran berasal dari Allah.

      • Tesa Tiara Ichrodi

        herbal juga kimia saya setuju. di dunia tidak akan terlepas dari ikatan kimia. madupun juga kan rasanya manis jadi ada glukosanya toh? glukosa kimia bukan?

    • okabasi doma

      Terima kasih responnya. anda sopan dan mamahami substansi komentar saya.

    • Salman Muttaqien

      obat kimia harganya mahal?
      saya beli obat generik ga nyampe 10000 rupiah
      beli suplemen habbatussaudah bisa 30000 rupiah
      lalu?

      ga ada efek sampingnya?
      kalau dipakai sesuai dengan aturan penggunaan efek samping akan muncul seminimal mungkin sehingga ga sampe menggangu keseimbangan dalam tubuh. Lain cerita misalnya terapi madu diminum sampe 1 gayung, ya besar kemungkinan bisa diabetes.

      dan saya setuju dengan komen sebelumnya, banyak loh ilmu-ilmu saat ini pondasinya dari ilmuwan muslim. Di kala bangsa eropa tenggelam dalam kegelapan, ilmuwan muslim memberikan penerangan pada mereka. Kalau kita menolak ilmu tersebut sama saja kita menolak jerih payah ilmuwan muslim tersebut.
      hehehehe

      • fuluss

        mas salman, obat generik yg tdk sempe 10 ribu berapa biji isinya? paling cuma 10 biji !!!!!
        habatusaudah yg harga 30ribu ada 110 biji mas?

        Lalunya dimana mas????
        murah mana????
        mana ada orang terapi madu 1 gayung mas?

        • Moderat

          obat generik 1 papan isi 10 ada yg cm 2 ribu.. silahkan cek CTM, atau yg dibawh 10 ribu, silahkan cek antibiotik amoxicilin isi 10 tablet..dan semua itu sudah teruji secara preklinis dan klinis. nah habbatusaudah yg dijual2 itu sudah diuji blum khasiatny secara preklinis dan klinis??

          • fuluss

            mas mario
            kaya anda ngerti saja mas
            apa yg dibuat kebal mas?
            sy adalah pelaku. sy sdh buktikan sendiri. nga usah jauh2: pd anak sy sendiri kok
            anda cuma teori kok

            imunisasi memang untuk memperkuat kekebalan tubuh. cuma cara pandang kita thd imunisasi jelas beda.
            Bagi anda imuninasi adalah obat imunisasi yg beredar seperti skrg. yg jelas2 isinya penuh syubhat.

            bagi saya imuninsasi isinya madu, habatusaudah, zaitun, vco, buah tin, buha kurma, anggur, delima, dll. itu artinya bila saya/anak saya minum madu berarti saya/anak saya sedang melakukan imuninasi. bila sedang makan kurma itu imunisasi bt saya.
            Apalagi bila didlm piring ada kurma, anggur, delima, buah tin dan buah zaitun maka itulah imunisasi buat saya/anak saya/

            Anda punya defenisi ttg imuninasi tersrah, sy pun pny defenisi lain ttg imuninasi.

            Istri saya prnh umroh kok, tidak ikut mangitis, aman2 saja. saya bilang makan yg banyak kurma di sana, Isya Allah aman. minum air zam2, minum susu unta, dll.

            Pada 28 Januari 2014 21.59, Disqus menulis:

          • Moderat

            Ini yang bikin malas saya diskusi dengan orang awam sok tahu seperti anda. Imunisasi itu sebenarny apa? Ada baikny anda baca dulu bagaimana kerja imunisasi. Berbeda dengan suplemen2 yang anda sebutkan tadi, itu hanya meningkatkan daya tahan tubuh, namun tidak memberikan kekebalan spesifik terhadap suatu penyakit.

  • zenkolan

    sebenarnya letak dzon dan ketauhidan kita yg menjadikan ihtiar pengobatan itu menjadi sangat berarti

  • nopriyadi

    aslm ….
    dokter, bagaimana mengetahui kehalalan obat non herbal? karena sampai saat ini kami belum menemukan obat non herbal yg ada label halalnya ..

    • Bang Roy

      Setuju! Setahu saya, hanya obat vaksin/imunisasi saja yang berlabel halal. obat kimia yang lain… mana ada!
      Justru obat herbal lah yang banyak mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

      Kalo ada dokter yang ditanya pasiennya, “Dok, obatnya halal gak?”
      Maka, tidak ada satupun dokter jujur yang mengatakan ‘halal’. karena dokterpun, banyak yang tidak tahu asal-muasal bahan pembuat obat.

      Kalo jawabannya adalah darurat, maka boleh pakai yang haram, bukankah ada banyak obat herbal yang telah bersertifikasi halal?

      • Salman Muttaqien

        ya karena proses membuatnya memang tidak melibatkan barang yang ga halal.

        Obat-obatan “kimia” itu sebagian besar itu senyawa sintesis dari berbagai macam bahan kimia, yang tentunya sebagian besar (kalo ga semua) itu bukan berasal dari tumbuhan atau hewan dengan alasan kepraktisan dan biaya.
        sehingga boleh dikatakan obat kimia sintetik bisa disebut halal.
        *kalo definisi halalnya udah melibatkan riba dll saya ga bisa komen deh*

        • Bang Roy

          Kalo memang halal, mengapa tidak berani mengujikan di MUI?

    • fuluss

      Biasanya, jawaban2 yg diberikan formalitas sprt ini: air, udara, tumbuhan jg ada unsur kimia kok. jadi apa bedanya dengan obat kimia?
      ketika ada racun di pestisida kimia, maka mereka juga berdalih, pupuk kompos, jerami juga ada unsur kimianya kok.

      Padahal jelas beda. kimia yg ada di obat atau di pestisida beda dengan kimia di air atau di pupuk kompos.
      kimia yg ada di obat cara kerja lain ada penambahan bahan2 tertentu, kalau yg kimia yg ada di air memang sudah ada dari sononya,,,
      kimia yg ada dipestisida jelas2 membunuh, tapi kimia yg ada di pupuk kompos bisa memberikan kehidupan bagi cacing2.
      jadi, dimana samanya bung. tks

  • Hendra Gunawan

    nabi itu yang mengajarkan semua..
    Rasulullah manusia yang paling sempurna jadi jangan disalahkan buku Rasulullah is my doctor
    judulnya itu sudah sangat benar, tergantung si pembaca, mau ke arah negatif atau positif?
    1 emang doctor bisa sembuhkan penyakit sabar?
    2 dan siapa yang menyembuhkan penyakit amarah?doktor?bukan kan:)

    jadi intinya kalo saran saya
    tidak usah membahas maslah buku ini buku itu..
    yang terpenting jalani aja profesi anda sebagai dokter yang baik dan sabar
    semua ilmu datang nya dari Allah SWT, dan semua manusia itu sama:)
    saya aja sabar kalo ada mahasiswa kedokteran yang sombongnya luar biasa, seperti kampus milik nenek moyangnya/sok..
    dan satu lagi, saya masih sabar bila ada dokter yang mengajar/dosen, tapi tidak mau dipanggil hanya dengan pak, tapi harus wajib ada frof/dok:D
    emang habis jual tanah berapa hektar untuk bisa jadi dokter?

    saya harap etika dokter juga harus diperbaharui, jangan merasa tinggi/sombong..
    hanya sekedar mengingatkan karna kita hidup berdampingan dan tidak sendirian,
    prinsip saya, banyak teman banyak rezeky

  • B. Ohorella

    Sebenarnya semuanya lahir dari rahim islam, karena selama lebih dari 700 tahun ilmu kedokteran, astronomi, kimia (alkemi) dan matematika boleh dibilang identik dgn peradaban Islam. Masa itu adalah antara masa awal Kekhalifahan Bani Umayyah hingga abad 17 ketika Turki Utsmani mulai memudar dan ketika seluruh Eropa telah lengkap melalui abad Kebangkitan (renaissance) dan armada laut mereka telah merajai samudera. Di masa-masa keemasan itu lahir banyak karya2 monumental seperti Al Qanun fil Tibb karya Ibnu Sina (dikenal di dunia barat sebagai Canon of Medicine karya Avicenna) yg menjadi bacaan wajib di semua Fakultas Kedokteran Universitas2 terkemuka di Eropa, dan Aljabar ( dgn bukunya Kitab al Muhtasar Fi Hisab Aljabar wal Muqabala – Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing ) karya Al Khwarizmi. Terkait astronomi, ada Ibnu Haytham (atau dikenal sbg Alhazen di dunia barat dgn bukunya Book of Optics), dan banyak lagi. Ilmu bedah juga diawali oleh para ahli medis Islam, karena kemenangan pasukan Islam selama berabad-abad, bukan hanya disokong oleh semangat jihad di medan perang tapi jg semangat jihad orang-orang di garis belakang, di antaranya para ahli medis ini (lainnya adalah keahlian para pandai besi yg menciptakan baja Damaskus yg terkenal itu). Begitu juga yg namanya instalasi Farmasi/Apotik, juga dipelopori oleh rumah-rumah sakit di kekhalifahan, bagian dari spesialisasi sehingga ada org yg khusus mengasah keahlian menerapkan obat yaitu para tabib dan org yg khusus mengasah keahlian meracik obat dan jg mencarinya yaitu org2 di instalasi farmasi ini, sehingga dulu di Baghdad dan kemudian Istanbul, hampir semua obat dari segala penjuru dunia ada di sana, ditimbun di beratus instalasi farmasi.

    • okabasi doma

      Membaca ulasan anda diatas, SEMAKIN menambah kegalauan/keresahan/kegetiran saya, mengapa peran umat islam yg ILMUWAN dalam bidang obat dan medis sepertinya terkubur dalam bumi, pada saat Umat Islam dalam keadaan yg terpuruk?.

      Masa kejayaan IPTEK umat Islam masa lalu, adalah pelajaran buat generasi umat Islam masa sekarang, atau paling tidak sampai hari ini.

    • tolenian

      Saya sangat setuju dengan ulasan mas.

      Saat masa kejayaan Islam, banyak ilmuan yang melakukan riset puluhan tahun agar digunakan dikemudian hari. Ilmu medis sekarang berasal dari ilmu medis umat muslim zaman dahulu kala yang sudah dikembangkan. Mengapa kita masih ragu terhadap ilmu yang sudah susah payah dicari oleh para leluhur kita!?

  • Tompi Sudhi Sulaiman

    Saya kok tertarik mebaca narasi diatas karena komentar2-nya dibawah, hanya sy ingin menambah sedikit baik obat, vaksin dan apa saja yg dilangit dand dibumi kita maklumi itu Allah Ta’ala yg menciptakan, manusia atau nabi atau Rosul yg melakukannya atas perintah Allah Ta’ala, kecuali Al Qur’an mm itu kalam Allah. Sembuh dan sakitnya seseorang atau makhluk ya atas ijin Allah. Hanya saja sayangnya ada seorang penemu obat atau vaksin yg sdh diujicobakan melalui etika2 kedokteran yg tidak murah dan gampang, klo ingin menyanggahnya dgn yg ilmiah spt yg dilakukan ilmu kedokteran. Misalnya saja tidak perlu orang yg digigit ular berbisa itu diobati spt ilmu kedokteran ttp cukup dgn dibacakan Alfatikhah, karena sudah 10 ribu penderita, sekian puluh tahun sembuh, semisal itu, bisa saja. Kmd obat anti Bisa Ular musnahkan saja. Ingatlah Rosul dan para sahabt itu diberi kemampuan lebih dr kita.

    Bicara halal haram ttg obat sy sdh ikuti bbrp seminar khususnya insulin mm dulu masih ada yg dibuat dr unsur Babi, kalau terpakasa , darurat ya antum tau sendiri apa hukumnya. Klo bicara halal 100% ya sulit dong, bisa2 hanya sbgn saja yg halal, duitnya saja mungkin riba dll. Khususnya unsur Babi biasanya/insulin dulu biasanya dokternya klo muslim menanyakan mau tidak, klo tdk dmk klo mau dmk. Pertimbangkan manfaat dan mudharatnya.

    Wallahualam. Insyaallah bermanfaat. aamiin.

  • Kurniawan Halik

    yang komentari artikel ini banyak, tapi sang pembuat tidak menanggapi. harus di tanggapi pak, agar artikel ini bukan dianggap artikel yang tidak bisa di pertanggung jawabkan . . . Afwan . . . .

    • Piprim B Yanuarso

      Terimakasih atas sarannya. Menurut saya tulisan di atas sudah cukup jelas. Bila kita gunakan akal sehat insyaAllah bisa menerima. Tapi untuk yg senang berpikir ekstrim dan sekuler (hanya mau herbal saja atau hanya mau non-herbal saja) ya susah. Untuk mereka akan sulit diajak berdiskusi, meski saya sampaikan dalil/argumen tambahan lain juga ngga akan berguna. Sekian terimakasih.

  • Saidinal

    MantaPKS

  • Saidinal

    Jangan Ada Dikotomi Diantara Kita…

  • man

    klo mengaku moderat jgn juga memaksakan keinginan anda harus diikuti, karena anda juga tidak mengalami kehidupan seperti Jerry D. Gray shg mengkritik ‘total’ bukunya.

    • fuluss

      setuju sekali
      Orang seperti Jerry D. Gray lah yang kita butuhkan lebih banyak untuk saat ini.

  • Muhammad Aidil Alfarizi Pratam

    soal vaksin coba bandingkan vaksin untuk hewan dan vaksin untuk manusia…
    contoh nya ayam potong dengan ayam kampung kedua nya adalah makhluk dan sama-sama ayam tp disini perbedaannya adalah ayam potong di beri vaksin dengan alasan menghindari penyakit ( virus unggas ) akan tetapi ayam potong tsb yang diberi vaksin kenyataan nya kondisi fisik nya dan ketahanan tubuhnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam kampung.
    coba perhatikan ayam kampung yg ada di sekitar rumah2 kita ayam tersebut sangat lah kuat kondisi fisik nya dibanding dengan ayam potong yg ada di peternakan ayam ( layu tidak bergairah ) dan biasanya ayam potong setelah diberi vaksin 3 bln atau lebih sudah musti dipasarkan.
    jd klo menurut saya mengenai vaksin ini lebih baik mengikuti sunnah yg rasulullah SAW ajarkan yaitu dengan cara memberikan madu kepada si bayi…

    maaf sebelumnya ini hanyalah pemikiran dan pendapat saya…

    • Jamal Ahmad

      Adakah hadits Nabi yg menyatakan madu adalah vaksin?
      Al Qur’an jelas menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada ayat dan hadits yang menyatakan zat aktif apa saja yang bermanfaat dalam madu? Dosis, indikasi, kontraindikasi, efek sampingnya?
      Penelitian dalam bidang kedokteran yang mencari jawabannya…

      • Yahya Mutakin

        madu adalah antibiotik paling hebat dimuka bumi ini pak Jamal. coba sambil diteliti ya. biar gak penasaran.

        • Jamal Ahmad

          Saya tak pernah menemukan ayat AlQur’an dan hadits yg menyatakan bahwa “madu adalah antibiotik paling hebat dimuka bumi”. Lalu apa dasarnya menyatakan madu adalah antibiotik paling hebat dimuka bumi?
          Yang bisa saya temukan adalah penelitian ilmiah didalam & diluar negeri tentang berbagai manfaat madu dalam pengobatan. Dan menurut saya, para peneliti itulah yang mengamalkan ayat AlQur’an Surat Annahl ayat 69 (“…Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang
          memikirkan.”).

          • Nedya Amrih Prakasa

            saya lebih setuju pendapat yg ini, setuju lho ya bukan berarti benar :)
            Lihat kutipan ayatNya :
            Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang
            memikirkan.

            Dan para ilmuan itu berusaha membuktikan ilmu Allah , Maha Benar Allah dengan segala firmanNya

          • fuluss

            Nah tugas mas jamal lah yg paling pas buat itu.
            dengan ilmu yg dpelajari tsb kasih kita pemahaman ttg madu, dll. apakah madu bisa dijadikan semacam penganti imunisasi, dll.

            kalau saya meyakini bila Allah SWT bilang madu terdapat obat buat manusia maka disinilah kehabatan fungsi madu. tks

        • tolenian

          Coba anda ke laboratorium mikrobiologi lalu teteskan madu di sepuluh tempat berisi bakteri berbeda, lihat mana yang bakterinya mati.

          Madu saja tidak cukup, butuh ditambah kandungan lainnya yang bisa digunakan sebagai penyembuh. contohnya ditambah zat penicillin yang terdapat pada jamur.

      • fuluss

        minumnya 1 sendok per hari saja mas jamal. nga perlu repot2. tks

    • baitaluq

      aku pernah baca komentar gini. padahal, tingkat kematian ayam kampung tinggi sekali lho mas. Dari 10 ekor ayam yg menetas, paling cuma 2 atau 3 ekor yg bisa hidup sampe bertelur laagi. Yang lainnya mati ketika masih anak.
      Coba deh, itung ayam panjenengan …

      • fuluss

        ayam kampung banyak yg mati karena dimakan tikus, keinjek2 induknya, dimakan musang, dll. matinya bukan karena penyakit mas.

    • tolenian

      sebetulnya mau divaksin atau tidak itu tergantung dari imun masing-masing.
      Ada anak yang tahan tanpa di vaksin, tetapi sebagian ada yang sakit-sakitan jika tidak mendapatkan vaksin. Gunanya vaksin adalah untuk mereka yang rentan terhadap penyakit tersebut.

      btw, untuk madu buat bayi mungkin jangan dulu, pencernaanya belum sempurna. Mungkin tunggu hingga usianya 6 bulan, baru kita berikan madu. Nabi mencontohkan ASI buat dede bayi, bukan madu.

      • fuluss

        siapa bilang madu tidak boleh buat anak kecil, memang ada penjelasannya dari Nabi bahwa madu tidak boleh buat anak kecil.
        Madu itu obat buat manusia, apakah anak kecil bukan manusia?

        Anak saya yg ke-3, 2 hari setelah lahir sdh sy kasih madu, trus nga diimunisasi, sampe usia mendekati 2 tahun blm pernah ke dokter bung.
        Dibandingkan kakak2nya yg melakukan imunisasi dan tidak minum madu beda jauh.
        Sy sudah mengalaminya bung. jadi bukan sekedar teori. Bahkan ada puluhan teman sy yang punya kasus seperti saya. anaknya jauh lebih sehat tanpa imunisasi.
        Sy jelas mendukung imunisasi, cuma imunisasi yang bahan2nya jelas kehalalnya. Kenapa imunisasi tidak dibuat dari bahan herbal, malah pake yg haram atau subhat?

        • tolenian

          Sama Mas, saya juga mendukung imunisasi yang halal, data dari depkes tidak memberi keyakinan terhadap umat mengenai kehalalan imunisasi.

          Karena manfaat lebih banyak daripada mudharatnya, walaupun karena keragu2an tersebut, tiap anak saya di imunisasi saya hanya bisa berucap bismillah dan “lahaola walakuata ilabillah”.

          Saya mengambil dasar pada surat al-maidah ayat 5 dan hadist Rosulullah mengenai anjuran mengucapkan bismillah sebelum mengkonsumsinya makanan yang tidak jelas kehalalannya.

          Untuk masalah bayi, sebetulnya bayi itu manusia yang masih rapuh, organ-organnya belum terbentuk sempurna.

          berdasarkan hasil otopsi bayi yang meninggal sebelum usia 1 tahun diseluruh dunia, salah satu kematian terbanyaknya adalah akibat masalah pencernaan yang belum siap. Sehingga terjadi kelainan seperti volvulus, perforasi, hingga adhesi di sistem pencernaannya.

          Menurut penelitian diluar sana, madu bisa berbahaya karena mengandung gula yang tidak baik untuk pertumbuhan gigi. Selain itu jika madu murni tanpa sterilisasi diberikan terhadap bayi, sering terdapat kuman clostridium botulinum yang mengakibatkan penyakit botulinum.

          Alhamdulillah mas memberi tahu saya tentang pemberian madu untuk bayi ternyata tidak apa-apa.

          Teruslah lakukan penelitian mas, dan catatlah hasil penelitian mas tersebut. Jika sudah meneliti dan mencatat manfaat madu terhadap ratusan bayi, mas bisa mempublikasikan penelitian tersebut untuk diamalkan agar barokah untuk umat muslim yang belum tahu.

          Jazakallah atas ilmunya.

        • tolenian

          Sama Mas, saya juga mendukung imunisasi yang halal, data dari depkes tidak memberi keyakinan terhadap umat mengenai kehalalan imunisasi.

          Karena manfaat lebih banyak daripada mudharatnya, walaupun karena keragu2an tersebut, tiap anak saya di imunisasi saya hanya bisa berucap bismillah dan “lahaola walakuata ilabillah”.

          Saya mengambil dasar pada surat al-maidah ayat 5 dan hadist Rosulullah mengenai anjuran mengucapkan bismillah sebelum mengkonsumsinya makanan yang tidak jelas kehalalannya.

          Untuk masalah bayi, sebetulnya bayi itu manusia yang masih rapuh, organ-organnya belum terbentuk sempurna.

          berdasarkan hasil otopsi bayi yang meninggal sebelum usia 1 tahun diseluruh dunia, salah satu kematian terbanyaknya adalah akibat masalah pencernaan yang belum siap. Sehingga terjadi kelainan seperti volvulus, perforasi, hingga adhesi di sistem pencernaannya.

          Menurut penelitian diluar sana, madu bisa berbahaya karena mengandung gula yang tidak baik untuk pertumbuhan gigi. Selain itu jika madu murni tanpa sterilisasi diberikan terhadap bayi, sering terdapat kuman clostridium botulinum yang mengakibatkan penyakit botulinum.

          Alhamdulillah mas memberi tahu saya tentang pemberian madu untuk bayi ternyata tidak apa-apa.

          Teruslah lakukan penelitian mas, dan catatlah hasil penelitian mas tersebut. Jika sudah meneliti dan mencatat manfaat madu terhadap ratusan bayi, mas bisa mempublikasikan penelitian tersebut untuk diamalkan agar barokah untuk umat muslim yang belum tahu.

          Jazakallah atas ilmunya.

        • Wahyunas Mario

          kayaknya anda nggak ngerti kosep imunisiasi mas,……. imunisasi itu hanya memperkuat kekeblan penyakit terhadap penyakit yang di imunisasikan,…… kalau mau membuktikan kehebatan madu dengan imunisasi ya missalnya anak anda yang minum madu dibuat kontak erat dengan penderita tuberkulosis dan bandingkan kekebalannya dengan anak yang sudah divaksin tuberkulosis,….

          orang arab saja menolak orang2 yang belum divaksin meningitis untuk berhaji,…… jika anda anti vaksin ya nggak mungkin naik haji…..

    • Muhammad Aidil Alfarizi Pratam

      pada intinya klo saya yakin kepada allah saja karena hanya allah lah yang tahu segalanya…

      vaksin buatan manusia dan allah menciptakan manusia dengan sebaik2nya ciptaan dan saya gak mau anak saya baru lahir terkontaminasi dengan zat2 yg tidak tahu asal usulnya…

      apa lg itu buatan yahudi :D

      al-qur’an dan sunnah2 rasullullah yg lebih tepat selamat dunia dan akhirat..

  • Jamal Ahmad

    Mengapa Kita Mempelajari Ilmu Pengetahuan Kedokteran Modern ?

    1. Membuktikan Hadits Nabi Muhammad SAW

    “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah
    penyakit itu dengan izin Allah SWT” ( HR. Muslim)

    Adakah yang bertanya-tanya siapa yang akan merealisasikan hadits Rasul diatas, bahwa setiap penyakit ada obatnya? Adakah diantara kita yang bersegera menyambut tantangan ini?

    Aktivitas penelitian untuk mencari obat suatu penyakit adalah nyata bagian dari tanggung
    jawab umat Islam. Tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan keseriusan setara dengan upaya dakwah dibidang lainnya, sampai jelas benar kemahakuasaan Allah
    yang Menghidupkan dan Mematikan makhlukNya bila telah tiba di penghujung usia. Setelah itu terbukalah mata manusia, dan tidak ada lagi alasan kecuali beriman
    dengan sebenar-benar iman.

    “Ketika obat bertemu penyakit” tidaklah berbeda dengan ketika ligan bertemu reseptornya secara kompetitif dengan mekanisme lock dan key, atau saat Sel T CD8 bertemu sel APC, atau Histon asetilase terhadap Histon H3K4. Disana ada hukum sebab-akibat yang bekerja, dengan izin Allah terjadi mekanisme sunnatullah yang mungkin sekali belum pernah kita pikirkan kecuali kita mau mentadabburi diri kita sendiri dengan tekhnik-tekhnik biologi molekuler dan genetika terkini.

    2. Ikhtiar

    Sikap ilmiah adalah bagian dari ikhtiar. Allah SWT yang menyembuhkan, dan manusia dituntut berikhtiar dengan mengupayakan terbaik. Sebagai tenaga kesehatan, tentunya kita senang kalau ada terapi yang bisa mengobati penyakit-penyakit sampai sembuh, setelah dibuktikan manfaat dan keamanannya.

    Profesi kesehatan diajarkan untuk tidak sombong: seaman apapun suatu obat, pasti ada efek sampingnya. Sehebat apapun manfaatnya, tetap ada kemungkinan kegagalan pengobatan. Karena Allah yang menyembuhkan, kita hanya berikhtiar. Dalam rangka ikhtiar itulah kita memilih terapi-terapi yang sudah jelas manfaat, cara kerja dan efek sampingnya. Ada hasil penelitian Dr.Kuntadi Sp.OT tentang manfaat habbatussauda terhadap osteoporosis, namun baru percobaan pada tikus sehingga belum bisa diaplikasikan untuk pengobatan.

    Bayangkan kehati-hatian kita, harus diuji dulu pada hewan sebelum diuji pada manusia. Suatu obat perlu waktu 10-15 tahun untuk bisa digunakan sebagai terapi, setelah diketahui manfaat dan efek sampingnya. Itu semua bagian dari ikhtiar kita mencapai kesembuhan.

    Ketika kita berhadapan dengan pilihan-pilihan terapi, maka kita perlu menentukan terapi mana yang paling efektif dan paling aman. Ketika sebuah terapi diklaim mampu menyembuhkan, maka sejauh mana kesembuhannya? Berapa yang sembuh dan berapa yang tidak sembuh? Jika dibandingkan dengan terapi yang lain, mana yang lebih baik kesembuhannya? Bagaimana dengan keamanan dan efek sampingnya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang dicoba dijawab dengan penelitian-penelitian ilmiah, sebagai bagian dari ikhtiar.

    3. Perlombaan Global

    Pada tahun 2006 sekelompok peneliti di Universitas Kyoto menemukan bahwa mereka dapat memprogram ulang sel dewasa yang telah terdiferensiasi menjadi sel punca yang mirip sekali dengan karakter sel punca embrional. Tekhnologi sel punca amat dibutuhkan untuk merealisasikan mimpi kedokteran regeneratif, terobosan telah dilakukan, problem etika dan reaksi penolakan host dapat dilewati. Sekarang terbuka lapangan luas untuk mencari obat dan tehnik pengobatan yang saat ini masih mimpi, mengobati penyakit-penyakit genetika, familial, Diabetes, Stroke, Parkinson, dan lain-lain. Mimpi itu saat ini terasa amat realistis, menemukan obat untuk setiap penyakit kecuali mungkin untuk Tua dan Kematian.

    Sikap ilmiah dalam ilmu pengetahuan adalah warisan Islam. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat dimasa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Misalnya metode perumusan hipotesa dalam penelitian ilmiah diajukan oleh Ibnu Sina, dan masih digunakan sampai sekarang.

    Namun sekarang dimana umat Islam dan khususnya para aktivits dakwah dalam perlombaan global ini? Perlombaan yang sejatinya tidak lain adalah pembuktian bahwa tiap-tiap penyakit ada obatnya. Dimana kita kalau hari ini masih mempercayai klaim tanpa bukti sahih, tidak peduli mekanisme kerja dan sebab-akibat, abai terhadap kriteria nilai thayyib zat yang dikonsumsi? Pengobatan dalam Islam adalah ketika benar-benar suatu single compound bertemu dengan target molekulnya. Takdir kesembuhan adalah terpenuhinya sebab hingga tampak akibatnya. Izin Allah tidak lain adalah sunnatullah-Nya yang menunggu untuk kita singkap dan pelajari rahasianya.

    Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada? Mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target molekulnya, mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai didapatkan satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Pasti tidak terfikir karena kacamatanya sudah terburu-buru menghitung nilai potensial pasar yang ada, pangkal masalahnya pada fikiran pendek.

    Al Qur’an jelas menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada ayat dan hadits yang menyatakan zat aktif apa saja yang bermanfaat dalam madu? Dosis, indikasi, kontraindikasi, efek sampingnya? Bagaimana mungkin umat Islam tidak merasa terusik ketika yang menindaklanjuti hadits Nabi tentang habbatussauda adalah non-muslim, yang melakukan penelitian ilmiah, uji klinis, sampai saat ini memproduksi habbatusauda dalam bentuk sediaan yang diresepkan. Penelitian di barat sudah mampu
    mengekstrak thymoquinone dari habbatussauda, mengujinya dalam pengobatan kanker, dan lain-lain. Sementara kita menggunakan habbatussauda tanpa tahu zat aktif, cara kerja dan lain-lain.

    Pekerjaan 10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa seperti perbuatan bodoh, untuk apa bersusah payah kalau dalam 1-2 tahun saja bisa laku keras mendompleng ghirah? Padahal efek samping tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan, sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek terapinya pun belum reproducible.

  • oji

    Mantab dok, Insyallah anak saya tetap memilih menjadi dokter.Amin

  • khairil

    pengalaman saya bertemu dokter dirumah sakit: jarang senyum, pelit penjelasan, cuma kasih resep, tidak mengedukasi pasien, jadi terkesan cuma cari duit doang.

  • Setiawan Bagus

    Subhanallah, cukup mencerahkan. keluarga saya sendiri penganut “manhaj” herbal, tapi kalau sudah “parah” ya ke dokter, untuk dokter sy memang pilih2x yg mau share/edukasi terhadap penyakit dan obatnya tidak sekedar memberi obat tanpa memposisikan pasien sebagai klien yg perlu diedukasi… salah satunya terkait obat non-antibiotik, biasanya dokter tsb menjelaskan kalau keluhanya sudah hilang dihentikan tdk apa2x tapi antibiotik HARUS habis, edukasi seperti ini yg menurut saya jarang dokter menyampaikan. Terkait pengobatan modern dengan obat “kimia” yg membuat saya sangat membatasi sampai saat ini karena tdk jelas kehalalannya (tdk ada sertifikasi halalnya) meski saya yakin akurasi penyembuhan penyakitnya lebih baik karena berdasarkan riset bertahun2x selain dosis dan interaksi dengan obat lainnya jelas. Perlu sinergi memang antara herbal dan obat “kimia” dan antara herbalis dan dokter.. semoga maindset terkait pengobatatan yg “benar” semakin berkembang di masyarakat..

  • mirna Batubara

    subhanallah,,, cukup mencerahkan untukku. terima kasih

  • mirna Batubara

    subhanallah,,, cukup mencerahkan untukku. terima kasih

  • Arham

    “Pengobatan nabi bersifat global, umum sifatnya. Tidak spesialistik dan
    detail. Karena memang nabi bukan diutus Allah sebagai dokter, tapi
    Rasul. Jadi bila ada orang yang bilang “Rasulullah is my doctor”,
    menurut saya dia sudah merendahkan posisi nabi itu sendiri. Masa nabi
    disamakan dengan saya (dokter, red)?”

    waduh kayanya pak dokter udah di cuci otak sama buku-buku “kedokteran”,, “_”
    dari salah satu petikan kata-kata diatas aj sudah terlihat,
    serem bgt kita udah di dcengkram kaki-kaki gurita organisasi bawah tanah pelan-pelan penghancuran generasi muslim.
    Pengobatan Nabi Bersifat global..?, waduh dapet tafsir dari mana pak dokter, maaf coba dicari referensi yang agak lengkap dulu,

    gmna tentang kejahatan yang sangat rahasia n tersistem di bidang kedokteran di dunia..?, Pasti udah pernah baca kan buku”nya..?, mudah”an pake hati jernih bacanya, ga terobsesi bgt sma ilmu kedokteranya yang udah paling super kynya.
    maaf pak dokter berdasarkan pengalaman pribadi obat dokter gada yang bikin solusi tuntas menyeluruh, sembuh 1 penyakit jadi timbul cabang penyakit lain yang terus menerus sambung menyambung menjadi satu, kebetulan saya mantan orang paling belain n membanggakan ilmu kedoteran moderen (kaya Vaksin & kawan-kawannya),
    alhmdulillah sudah tercerahkan jadi keturunan saya biar tidak mengalami seperti saya,
    contoh anak saya tidak pernah divaksin, justru daya tahan tubuhnya n perkembangannya lebih jauh unggul sama anak sebayanya yang menggunakan vaksin n obat-obatan dokter.
    “Bener-bener observasi pribadi yang nyata didepan mata”

    • tolenian

      Ilmu kedokteran adalah ilmu yang dikembangkan puluhan tahun oleh leluhur kita saat masa kejayaan islam, mengapa kita menutup mata? Kita selaraskan ilmu kedokteran tersebut dan ilmu medis dari rosulullah.

      Perbanyaklah membaca yang bermanfaat, Jangan lah baca buku yang menebar kebencian dan fitnah. Terkadang itu membuat kita jadi subjektif dan menutup mata. Sehingga menganggap remeh ilmu yang sudah susah payah di teliti ratusan tahun oleh para ilmuan muslim.

      Pendapat anda diatas terlalu subjektif, lebih merupakan kekecewaan anda terhadap dokter dan masalah ketidaksembuhan penyakit. Terkesan menyalahkan hingga ke ilmu-ilmu yang berbau medis, padahal tidak selamanya itu jelek.

      Marilah kita lebih objektif memandang sesuatu, jika kita ragu dengan ilmu medis modern, maka bacalah ilmu medis modern tersebut, pelajarilah apa yang sesat dari ilmu tersebut. Lalu berkomentarlah dengan baik.

      Semoga anda menjadi ilmuwan muslim yang bisa mengamalkan ilmu-ilmunya demi kepentingan orang banyak

  • Dahlan Suhendar

    anda ini dokter apa sih?? lebay ah. sy tetep pilih herbal.

  • hamba Allah

    madu dan bekam adalah anjuran rasullullah,..sedangkan besi (operasi dan pengobatan modern kini banyak kita kenal, termasuk infus,obat2 injeksi) tidak dianjurkan rasullullah),… atau menjadi pilihan terakhir saat kedua obat (madu dan bekam) tidak berhasil,…yah mungkin uitu juga krn Rasullullah dulu sudah tau tentang infeksi dan resiko yg besar dalam pengobatan dg besi,…saya pribadi lbh memilih madu dan bekam,…terutama madu krn saya sdh buktikan khasiatnya terutama propolis (yg dlm surat an-nahl ayat 69 menjelaskan bhw propolis termasuk madu krn keluar dari perut lebah),…krn Al-quran berisi anjuran dan larangan dan surat tsb menganjurkan memakai madu sbg obat “BAGI MANUSIA YG BERFIKIR” dlm surat tsb,…maka saya memilih dan sudah membuktikan sendiri manfaat madu (propolis)

    • apoy

      Pake Propolis dari produk High Desert ….sy juga pernah pake, Alhmdulillah bagus.

    • Ardhista Shabrina Fitri

      Weh masa sih bedah tidak dianjurkan? Nah sunat tuh emang bukan bedah ya? Ckck

  • hamba Allah

    dokter d indonesia banyak gak jelas
    sewaktu periksa d indonesia d katakan mengidap penyakit hepatitis , tetapi keadaan semakin parah sehingga membuat salah satu pasien pergi k malaysia untuk mengecek lebih detail,ternyata pasien tersebut mengalami kanker darah , , ,
    dan apa akibatnya ? ? ?
    Innalillahi , ,
    :(

    • Wahyunas Mario

      yang namanya diagnosis salah itu bukan cuma di indonesia mas,……. yang berobat dimalaysia yang salah diagnosis juga banyak, lalu kemudian berobat lagi di indonesia dan didiagnosis dengan tepat. ada pasien tb tulang, dimalaysia didiagnosis dislokasi panggul,……

      pada dasarnya untuk kasus2 tertentu memang perlu adanya tahapan2 pemeriksaan dalam mendiagnosisnya mas. sebelum diagnosis benar2 tegak tentu dokter sudah ada diagnosis sementara agar pasien tertangani dengan cepat dan tidak terlambat,…..

      dokter2 di daerah nggak pegang alat pemeriksaan canggih sehingga kesalahan sebenarnya karena keterbatasan,……..

      pasien kanker darah itu mati karena memang sudah perjalan penyakitnya. bukan karena terlambat diagnosis,……..

  • mami alexa

    saya mengapresiasi pendapat pak dokter, dan sekalian mohon info kira-kira vaksin apa saja yang terjamin kehalalannya agar saya yakin anak saya aman diimunisasi.

  • mami alexa

    saya mengapresiasi pendapat pak dokter, dan sekalian mohon info kira-kira vaksin apa saja yang terjamin kehalalannya agar saya yakin anak saya aman diimunisasi.

  • Indrayanti Machmud

    setuju, dokter piprim

  • Galang Septiadi

    setuju gan tapi tambahan “kebanyakan” yang bikin obat-obatan sekarang di buat ama orang yahudi, namun orang yahudi ndak ada yang mau pake obat buatan mereka.
    mereka lebih memilih cara tradisional seperti diatas ^^

  • ummu hisan

    Subhanallah…penting u dbaca…izin share ya doc..😊😊😊

  • dokter jakarta

    Yth dr Piprim, tulisan anda baik sekali…saya juga heran
    sama rakyat Indonesia, setelah belajar Islam,bukannya maju ke depan, tapi malah
    “mundur ke belakang”….menolak Ilmu medis dengan alasan karena
    dibuat Yahudi. Padahal dulu Islam itu pusatnya Ilmu kedokteran, ingat
    Ibnu Rusydi, Averroes, Ilmuwan Islam terkenal yang justru
    meletakkan dasar-dasar ilmu kedokteran modern, membuat Islam berjaya di
    bidang medis karena penemuannya. sebagai tambahan ,Dahulu Arab saudi mengontrak
    tenaga medis dari indonesia karena kita telah lebih maju di bidang medis. Saat
    ini, ternyata RS di Arab saudi telah banyak mempekerjakan
    “pribuminya” yaitu orang Arab, keturunan Baduy, laki dan
    perempuan..menunjukkan di Arab juga berusaha mengembangkan bidang kedokteran
    dan pengobatan medis…seharusnyalah kaum Islam berlomba-lomba mengembangkan
    ilmu agar dapat menciptakan penemuan medis yang spektakuler dan obat-obatan
    halal, bukan hanya sekedar menolak dan membutakan hati dari Ilmu…Di Arab,
    negaranya Nabi juga menggunakan obat patent kok bukan herbal saja…:)

  • Ajund Sii Unned

    bagus tulisannya dok…

  • Fadhliatul Ghina Mys

    great

  • Trisna Rahmat Hidayat

    Kakakku kena kanker payudara, sudah di coba herbal, ruqyah dll tp tdk membaik. Alhamdulillah sekarang sudah membaik dengan operasi dan kemoterapi. Sekarang sudah sehat bugar dan laborat kankernya dalam batas normal.. Ilmu kedokteran adalah dari Alloh, dan serahkan semua pada ahlinya. Terapi bekam juga yang si contohkan nabi juga sangat bagus menjaga kebugaran, mencegah penyakit berat spt stroke jantung, bisa menurunkan tensi. Sangat sangat setuju dengan tulisan pak dokter diatas. Dan mudah mudahan semuapun bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Nabi SAW banyak memberi contoh carahidup sehat, dan Nabi SAW pun menyuruh kita pergi ke dokter kalau kita sakit.

  • slamet

    sdra saya kena menstruasi terus selama 1 bln penuh, di obati ke dokter spesialis nda sembuh-sembuh, terus d sarankan pake pembalut herbal avail alhamdulillah sembuh.

  • slamet

    trus saya mau tanya adakah obat yang bisa ngobati STRUK?
    struk kan sumbatan pada pembuluh darah?

  • slamet

    klo di herbal ada buat membobol sumbatan yg ada pada pembuluh darah, trus klo pembuluh darah dah pecah ada juga tuh obat buat mensolusikan agar pembulug darahnya trtutup kembali

  • slamet

    menurut dokter gmn?

  • slamet

    mungkin untuk pengetahuan bagi semua,
    bahwa pengobatan dengan metode kedokteran (medis) itu menggunakan metode mengobati gejalanya
    klo herbal menggunakan mengobati penyebabnya

  • Hani

    JIka diijinkan berpendapat…semua penyakit ada obatnya…ada juga hadits yang mengatakan Allah menurunkan obat untuk semua penyakit…tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya….kita diberikan akal untuk berpikir bagaimana terus membuat obat dari penyakit yang diturunkan untuk para ilmuwan dan dokter…sedangkan untuk orang awam diberi akal untuk berpikir bahwa mengobati penyakit yang diderita dengan jalan yang sudah disediakan baik jalan cara Nabi atau cara dokter…dan Allah menyuruh kita berusaha untuk melakukan semua untuk menyembuhkan penyakit…jika suatu penyakit bisa disembuhkan dengan cara Nabi tapi tidak dengan dokter itu sudah atas ijin Allah…dan jika suatu penyakit sembuh dengan cara dokter bukan dengan cara Nabi itu juga atas ijin Allah…disini kita difokuskan Allah untuk berfikir, berusaha, dan bersyukur atas penyakit dan kesembuhan…bukan fokus kepada dunia…tapi pada Allah…penyakit, obat, herbal. maupun cara pengobatan meddis maupun Nabi itu semua titipan (perantara) dari Allah kepada umatnya….jadi buat apa membandingkan atau menjelek2an dokter ataupun cara alami….disyukuri saja penyakit yg pernah diderita sembuh baik dengan cara apapun…bersyukur saja ada dokter yang ramah, cekatan, dan mampu menyembuhkan…kalaupun ada dokter yang sinis dia juga bukan Nabi yg sempurna…dia hanya perantara Allah untuk membantu menyembuhkan kita (belum tentu juga sembuh krn banyak faktor)…disyukuri juga ada metode Nabi yang masih ada jaman ini untuk membantu menyembuhkan sakit….yang penting ujungnya sembuh dengan cara apapun atas ijin Allah dan segera bersyukur…hanya itu tujuan Allah menurunkan penyakit beserta ilmu kesehatan dengan perantara Nabi, dokter maupun praktisi kesehatan yang diyakini….bersyukur dan sadar bahwa kekuatan terbesar adalah Allah….

  • Moderat

    judulnya sudah benar Rasulullah is My doctor, isinya saja yg salah :v

  • Arya Aryo

    Penulis memang tidak paham apa yg sebenarnya dia tulis

    • Sugiarto Guteng

      Apa bukan anda yg tidak paham?

  • Mujayanto, SKM, MPH

    Assalam wr wb Demi hidup dan matiku yang ada didalam genggaman-Nya, demi Allah kebenaran yang hakiki datangnya dari Allah SWT, marilah kita sama-sama saling menghargai perbedaan bukankah perbedaan adalah rahmat ? menurut saya yang suka berobat dengan cara medis monggo dan yang suka berobat Tibbun Nabawi monggo, tanpa harus saling menjelekkan dan menyombongkan satu sama lain. pengobatan dengan cara apa saja adalah bentuk dari ikhtiar dan yakinlah KESEMBUHAN hanya datang dari Allah. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dari saya, kesalahan itu dari saya sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Dan apabila ada benarnya itu semata-mata dari Allah SWT. wassalam wr wb

  • Azhar

    Tulisan yang bagus menurut saya… bisa jadi pelajaran juga…

  • yzar

    Ga percaya sama dokter lg, Mayoritas dokter tidak memikirkan pasien, tapi memikirkan bagaimana cara uang pasien jadi miliknya.

  • wahyu

    wah informasiyang menarik dok,saya setuju jika pengobatan tradisonal dan modern berdampingan,tp saya lebih setuju pengobatan yang HALAL.Sekarang apa sumbangsih para dokter dan ahli famasi yang mengaku beragama ISLAM untuk umat islam ?memperjuangkan obat HALAL aja gak bisa?sangat di sayangkan ketika menuntut pembebasan rekannya yang di tahan polisi para dokter sangat kompak,tetapi ketika memperjuangkan obat dan pengobatan HALAL para dokter yang katanya belajar belasan tahun terdiam ,para dokter di Indonesia hampir tidak terdengar suaranya,ingat dok HALAL itu kewajiban dalam ISLAM.

  • vyan bogdanovv

    Sungguh hanyalah Allah sebaik2nya pelindung dan pemberi pertolongan.
    Obat baik dari dokter maupun dari herbal kalau saya berfikir itu sama saja.
    Tetap kesembuhan itu datangnya dari Allah.

    Unsur hidup itu ada Jasmani dan Rohani.
    Lantas apabila jasmani saja sudah engkau obati bagaimana dg kesehatan rohanimu?

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Adha 1437 H: Empat Teladan Nabi Ibrahim dan Keluarganya