Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Takbir sebagai Tadzkirah

Takbir sebagai Tadzkirah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (artmidos.deviantart.com)
Ilustrasi. (artmidos.deviantart.com)

dakwatuna.comSelama lima hari berturut-turut, sejak fajar hari Arafah, 9 Dzulhijjah, hingga petang akhir hari Tasyriq, 13 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia diperintahkan untuk memperbanyak lantunan kalimat takbir, terutama setelah shalat fardhu (Majmu’ al-Fatawa). Pada saat yang sama, para jamaah haji yang menjadi tamu Allah (dhuyuf ar-Rahman) mengumandangkan talbiyah dalam rangkaian manasik haji di Masjidil Haram dan di beberapa daerah sekitarnya.

Secara bahasa, ‘takbir’ berarti membesarkan dan mengagungkan. Yang dimaksudkan adalah mengagungkan Allah SWT. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “takbir ialah menjadikan Allah di mata seorang hamba lebih besar daripada segala sesuatu.”

Sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta, Allah adalah zat yang Maha Besar dengan segala sifat kesempurnaan (kamal) dan keagungan (jalal)-Nya. Dia tidak bermula (qidam) dan tidak pula berakhir (baqa’). Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya, justru makhluklah yang membutuhkan-Nya (QS 35:15). Dia juga tidak memerlukan ibadah dari hamba-Nya, termasuk ucapan takbir dari mereka. Kemuliaan Allah tidak bertambah sedikitpun dengan ketaatan hamba-hamba-Nya dan tidak berkurang sedikitpun dengan keingkaran yang mereka lakukan.

Lantas mengapakah kita diperintahkan untuk memperbanyak takbir di hari-hari ini? Kumandang takbir pada hakikatnya dimaksudkan untuk menghentak kesadaran manusia yang seringkali lalai dan lupa akan kebesaran Penciptanya sehingga kerap tergelincir ke dalam berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran. Tidak jarang manusia justru lebih mengutamakan harta, pangkat dan kedudukan dibandingkan Allah. Jadi, takbir sesungguhnya bermakna peringatan (tadzkirah) atau mengingatkan manusia akan kebesaran dan keagungan Allah yang melebihi segala-galanya di dunia ini. Kesadaran ini diharapkan mengantarkan manusia kepada pengakuan atas keterbatasan dan kelemahan dirinya di hadapan Sang Maha Besar dan menjaganya tetap berada di jalan yang benar (ash-shirath al-mustaqim).

Kumandang takbir yang bersahutan juga mengingatkan kita akan pertanggungjawaban di akhirat yang kelak dilakukan secara individual. Tidak ada lagi keluarga atau orang dekat yang akan membantu karena semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (QS 80:34-37). Hanya amal shalih yang dapat menolong seseorang di padang Mahsyar nanti.

Pengakuan dan kesadaran inilah yang diharapkan dapat melahirkan optimisme dan semangat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Bahwa sebesar apapun masalah yang dihadapi manusia, sesungguhnya ia teramat kecil bagi Allah. Atas izin-Nya, segala hal yang susah akan menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang, bahkan yang mustahil pun bisa menjadi mungkin. Jika Allah berkehendak memberikan sesuatu kepada seseorang, maka tidak ada yang dapat menghalanginya. Demikian pula sebaliknya, jika Allah menahan sesuatu, maka tidak akan ada yang dapat mengambilnya sekalipun seluruh manusia dan jin bersatu padu melakukannya (HR. Turmudzi). Di titik inilah, kita diperintahkan untuk selalu membesarkan-Nya, mengakui keagungan-Nya dan pada saat yang sama menyadari kelemahan dan kerendahan kita di hadapan-Nya. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar la ilaha illallah huwallah akbar, Allahu akbar walillahilhamd.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochammad Arif Budiman
Mengenyam bangku sekolah di MAPK Martapura, Kalimantan Selatan, kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Program Magister IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Saat ini, penulis mengambil Program Doktor Ekonomi Islam di International Islamic University Malaysia (IIUM). Penulis bekerja sebagai dosen di Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS), Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban).

Lihat Juga

Berteriaklah Lantang