Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Hikmah Makan-Minum di Mina

Hikmah Makan-Minum di Mina

Perkemahan jamaah haji di Mina (inet)
Perkemahan jamaah haji di Mina (inet)

dakwatuna.com. Saat ini jamaah haji sedang melaksanakan ibadah mabit di Mina. Dalam ibadah ini, disunnahkan untuk makan-minum yang enak-enak. Lalu kenapa hari-hari mabit di Mina disunnahkan untuk makan-makan dan minum-minum?

Jamuan dari Allah swt.

Allah swt. telah mengundang umat Islam untuk mengunjungi Baitullah guna melaksanakan ibadah haji, lalu mereka menyambut undangan tersebut. Mereka juga membawa hadiah hewan sembelihan. Allah swt. menyambut mereka, dan menerima hadiah dari mereka. Maka sekarang saatnya Allah swt. menjamu mereka dengan memerintahkan mereka untuk makan-makan dan minum-minum selama tiga hari, karena adatnya jamuan makan untuk tamu adalah tiga hari.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” [Al-Hajj: 28].

Ja’far Shadiq pernah ditanya tentang sebab diharamkannya puasa pada hari tasyriq. Beliau menjawab, “Karena para haji sedang mendapat jamuan dari Allah swt. Tidak pantas bagi seorang tamu untuk berpuasa saat dilaksanakan jamuan dari tuan rumahnya.”

Makan Minum Bekal Beribadah

Hal tersebut mengisyaratkan bahwa makan dan minum yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah makan dan minum yang bisa menguatkan para haji dalam melaksanakan ketaatan dan berdzikir kepada Allah swt. Bukan makan-minum yang sifatnya berfoya-foya, yang tentu tidak dianjurkan dalam agama. Karena segala nikmat yang diberikan Allah swt. seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah swt. Inilah yang dinamakan bersyukur dengan anggota tubuh.

Rehatkan Jiwamu

Hari tasyriq adalah hari-hari para haji baru melakukan tahallul, bebas dari larangan-larangan ihram. Pada hari-hari itu, disunnahkan makan-makan dan minum-minum sebagai sarana istirahat agar tidak bosan, dan terjaga semangat beribadah. Karena setiap kita pasti akan mengalami kebosanan dan kepenatan. Harus ada jeda-jeda yang bisa memulihkan semangat.

Handhalah pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan kami akan surga dan neraka hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Tapi setelah kami keluar dari majelismu, kami kembali berkumpul dan bermain dengan anak-isteri, sibuk dengan harta, sehingga kami lupa lagi dengan surga dan neraka.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي، وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

“Demi Allah yang memegang jiwaku, seandainya kalian senantiasa dalam keadaan seperti saat sedang bersamaku, dan dalam kondisi berdzikir, kalian pasti akan bisa bersalaman dengan para malaikat di atas kasur dan juga di jalan-jalan kalian. Tapi itu tidak mungkin, maka sebaiknya, wahai Handhalah, engkau jadikan sesaat untuk akhirat dan sesaat yang lain untuk dunia.” [HR. Muslim].

Apalagi malam-malam di Mina cukup indah dengan hawa lembah dan sinar rembulan yang cukup terang. Sangat cocok untuk suasana istirahat. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

(Video) Jamaah Syiah Menari-nari Setelah Kejadian Musibah Mina