Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Balik Sosok Seorang Pemimpin

Di Balik Sosok Seorang Pemimpin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (123rf.com)
Ilustrasi. (123rf.com)

dakwatuna.com Pemimpin sejatinya merupakan sosok yang menjadi panutan dalam bertindak ataupun bersikap. Ia harus memberi contoh dan teladan yang baik kepada pengikutnya sebagai manifestasi dari status pemimpin yang dimilikinya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dan disertai dengan justifikasi yang berlebihan terhadap sosok pemimpin, kita seperti mengkultuskan bahwa semua pemimpin merupakan orang-orang hebat yang memiliki sikap dan karakter yang jauh lebih unggul dibandingkan orang lain. Umumnya hal ini terjadi karena kita melihat pemimpin hanya dari satu sisi, yaitu dari aspek luarnya saja, tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi di balik sosok seorang pemimpin.

Di balik kepercayaan diri seorang pemimpin, sejatinya tersimpan ketakutan besar dalam dirinya. Ketakutan itu senantiasa menghampiri dalam tiap aktivitas yang ia lakukan. Ia takut atas perbuatan zhalim dan tidak adil yang ia lakukan baik secara disengaja atau tidak disengaja kepada orang lain. Ia takut ketika beban amanah ini tidak bisa dijalankan dengan baik, sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, dan ia takut ketika keputusan yang dikeluarkan justru menimbulkan mudharat yang lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya. Ketakutan seorang pemimpin membuatnya merasa memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan berusaha dengan sebaik mungkin mengatasi ketakutan itu dengan komitmen dan dedikasinya yang tinggi pada setiap aktivitasnya.

Di balik kebijaksanaan seorang pemimpin, terdapat keraguan yang membuatnya selalu berpikir lebih berhati-hati dan memandang jauh ke depan. Kebijaksanaan di sini dapat diartikan sebagai kecakapan bertindak dalam menghadapi suatu masalah. Maka salah besar ketika kita menganggap bahwa pemimpin itu selalu memiliki keyakinan yang tinggi dalam kebijaksanaan yang ia buat. Sesungguhnya pemimpin memiliki keraguan yang besar dalam menentukan kebijaksanaannya, ia memiliki banyak sekali pertimbangan di dalamnya dan memandang suatu masalah dengan pertimbangan jauh ke depan. Pemimpin selalu meminta pendapat orang lain bagaimana baiknya, karena ia tau bahwa kebijaksanaannya ini nantinya akan membawa pengaruh atau dampak yang cukup besar.

Di balik senyuman seorang pemimpin, terdapat kelelahan luar biasa yang membuat dirinya untuk selalu memohon dan berdoa kepada Tuhan-nya. Tidak dapat dipungkiri ketika kita menjadi seorang pemimpin dalam suatu kelompok atau organisasi, rangkaian padat aktivitas akan berdatangan. Kelelahan tentu akan menghampiri, namun sebagai seorang pemimpin ia tidak boleh menunjukkan kelelahannya itu dan harus tetap tersenyum semangat kepada pengikutnya, karena ia sadar bahwa semangat dan motivasi pengikutnya akan sangat dipengaruhi oleh semangat dan motivasi seorang pemimpin. Maka satu-satunya tempat untuk menunjukkan segala kelelahan ialah kepada Tuhan-nya. Pemimpin akan selalu memohon dan berdoa, untuk kepentingan orang yang dipimpinnya. Meskipun memiliki beban amanah yang berat, ia tidak pernah memohon untuk diringankan bebannya, melainkan dikuatkan pundak, jiwa, dan raganya untuk memikul beban amanah tersebut.

Di balik marahnya seorang pemimpin, terdapat cinta yang mengharu biru terhadap para pengikutnya atau organisasi yang ia pimpin. Pemimpin tidak ingin pengikutnya atau organisasi yang ia pimpin hancur dan memiliki banyak permasalahan. Layaknya seorang ibu yang marah kepada anaknya ketika anaknya nakal, maka pemimpin juga demikian. Ia mencintai dan menyayangi pengikutnya dan tidak ingin mereka terjerumus ke jalan yang tidak benar, ia ingin menghasilkan penerus-penerus yang jauh lebih baik dari dirinya, dan ia yakin bahwa seorang dapat dikatakan sebagai pemimpin yang sukses ketika dapat menciptakan pemimpin-pemimpin baru ke depannya.

Pemimpin merupakan manusia yang sama dengan masyarakat pada umumnya, ia memiliki berbagai macam kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Akan tetapi ia yakin dapat menutupi kekurangannya itu dengan selalu percaya kepada orang-orang yang mendukungnya, ia sadar bahwa kapasitas kepemimpinan yang ia miliki bukanlah atas hasil pribadinya, melainkan melalui proses pembentukan karakter dan bantuan dari orang-orang terdekat yang selalu mendukungnya. Pemimpin sadar bahwa ia hanya orang lemah yang sangat rentan dan membutuhkan pertolongan Tuhannya dalam setiap aktivitas yang dilakukan, dan ia sadar bahwa di balik sosok seorang pemimpin besar selalu ada orang-orang besar yang percaya pada dirinya, yang selalu mendukung serta menutupi kekurangan yang dimilikinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Jabbar
Mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga, Ketua Forum Studi Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Kepemimpinan Karismatik

Organization