Home / Pemuda / Cerpen / Walad bin Walid, Sebuah Ketenaran

Walad bin Walid, Sebuah Ketenaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Espos/Fetty Permatasari/solopos)
Ilustrasi. (Espos/Fetty Permatasari/solopos)

dakwatuna.com Asap mengepul. Naik meninggi ke atas. Ia menghampiri sejenisnya di atas saja.

“Uhuk… Uhuk…” Walad terbatuk-batuk karena menghirup sebagian dari asap kotor itu.

Hati-hati nak. Hindarkan wajahmu dari asap itu”, nasihat Ibu.

“Iya bu. Tak sabar menunggu matang sate nya…”.

Walad tak henti-hentinya mengipas-ngipas gundukan areng itu. Ia tak sabar menunggu satenya siap hidang. Beberapa waktu kemudian akhirnya ia dapatkan sate nya itu, ia siapkan dalam piring flat dan ia tumpahkan sebagian bumbu kacang dan kecap di atas sate-sate yang sudah berjajar rapih itu.

Ia simpah piring-piring flat itu yang sudah terpenuhi sate-sate hasil panggangannya di atas meja yang telah disiapkan. Sambil menunggu waktu makan-makan tiba. Walad kembali ke tempat pemanggangan, membereskan hal-hal yang mengganggu dan membiarkan mereka tertata rapih. Perjuangan telah usai. Walad tak perlu bermandikan asap lagi hanya untuk mendapatkan sate qurban.

Sebelum ia menghampiri meja makan yang berada di taman belakang rumahnya itu, ia masuk ke rumahnya dan menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci tangannya yang sudah memraut dengan banyak noda yang tak pantas itu.

Walad berjalan agak cepat. Ia tak mau kehabisan satenya. Setiba di sana piring-piring Nampak kosong, hanya bumbu-bumbu saja yang bersisa. Ia menelusuri piring-piring lain, barang kali masih ada yang bersisa.

“Ada. Tiga tusuk lagi, khusus disisakan untukku” Walad lega melihat masih ada sisa sate di piring terakhir.

Walad membereskan piring-piring kosong itu, menyisakan satu piring dengan tiga tusuk sate untuk dirinya sendiri, bersamaan dengan itu, seorang anak kecil berlari menghampiri meja itu. Menarik kursi dan berdiri di atasnya.

“Yah, satenya abis” wajahnya kecewa.  Padahal ia sudah susah payah berlari, namun tak mendapat apa-apa.

“Hasad, kamu belum mendapatkannya?” Tanya Walad. Hasad adalah keponakannya.

“Belum ka. Aku baru saja datang” tampak kesedihan di raut wajah mungil itu. Sungguh ia sama sekali tidak bersalah, hanya saja ia harus datang lebih awal.

“Ini ada tiga potong lagi, untukmu. Ambillah” Walad menyodorkan piringnya, walau berat, Walad harus mengalah.

“Sungguh. Ini untukku?” seketika wajahnya berbinar. Ia tampak senang.

“Iya Hasad. Kau bisa memakannya” Walad tersenyum. Mengikhlaskan semua.

Setelah libur hari raya

Walad menelusuri jalan dengan sepedanya menuju sekolah. Seperti biasa dan takkan berubah, ia menikmati pagi nya dengan penuh bersemangat, berada dalam karut marutnya kota bukan lagi masalah. Ia terlalu jenuh menghadapinya, melihat banyak iklan “Kambing” yang dipasang di mana-mana sebelum lebaran sekarang sudah hampir sedikit, ternyata setelah sesi pengorbanan itu dilakukan ketenarannya kini hilang. Apakah ini rencana manusia. Agar kita selalu mengingat kambing.

Jangankan dekat-dekat hari H lebaran, ketika kita sudah mencium keberadaannya saja, langsunglah persepsi ini mengatakan “Sebentar lagi Qurban” sebagian anak-anak hanya mengingat, akan ada sate atau sebagainya, selain iklan-iklan yang memamerkan si artis, yaitu kambing dengan penuh menawan pada setiap media publikasi massa. Bentuk pelatihan pun dikerahkan di masjid-masjid besar. Memang tak mudah mengorbankan “artis” yang sudah terkenal itu di seluruh penjuru negeri. Mau bagaimana lagi.

Hari rabu, kelas masih saja sepi, walau seharusnya sudah mulai efektif. Lebih banyak yang meliburkan diri atau memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Miris.

Walad bersama beberapa orang teman, sekitar lima belas orang murid yang masih terjaga semangatnya. Bingung tak berdaya, melihat kenyataan yang ada. Tragis. Hanya segelintir orang yang masih ingin belajar. Memangnya masih ada sesi penyembelihannya? Atau pemotretan daging-daging qurban?

Tiba di rumah

“Assalamu’alaikum”, ucap Walad. Masuk pintu rumah, berjalan tenang, tanpa suara gaduh. Tenang. Rumah tampak sepi.

“Wa’alaikumussalam”, terdengar suara Ibu dari dapur, beliau tampak sibuk memasak, suara penggorengan itu semakin jelas terdengar. Walad menghampiri Ibu nya dan mencium tangannya.

“Masak apa bu?”

“Daging”.

“Kambing?”.

“Bukan, Sapi nak. Kita dapat sapi”.

“Oh. Koq Sapi gak tenar ya bu. Padahal orang-orang lebih doyan makan daging sapi dari pada daging domba”.

“Maksudmu? Ibu tidak terlalu mengerti”.

“Banyak poster dan iklan yang meng-Icon-kan kambing. Padahal kita sendiri lebih sering mengkonsumsi daging sapi dari pada daging kambing”.

“Oh, tak tahu lah nak. Kenapa kau tak tanyakan pada Sapi dan kambing-kambing itu kemarin, tepatnya sebelum penyembelihan tiba”.

“Yah ibu”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 4,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Haifa Muflih
Manusia bumi, senang dengan alam, buku-buku yang bertumpuk, dan deadline

Lihat Juga

Maksimalkan layanan Kurban, PKPU Jalin kerjasama dengan Tokopedia. (Putri/PKPU)

Permudah Layanan Qurban, PKPU Jalin Kerjasama dengan Tokopedia

Figure
Organization