Home / Narasi Islam / Wanita / Hidupmu, Pilihanmu

Hidupmu, Pilihanmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (storylifeme.blogspot.com)
Ilustrasi (storylifeme.blogspot.com)

dakwatuna.com Hari itu (10/10/13) rasanya menjadi hari yang meninggalkan kesan cukup istimewa buatku. Di tengah rutinitasku sebagai seorang guru pendamping ABK, yang bekerja dari pagi sampai sore, membuat aktivitasku selama sepekan banyak dihabiskan di sekolah. Lima hari dalam sepekan, waktunya aku mengajar.

Hari itu, seperti biasanya, aku berangkat bekerja pukul 06.15 WIB. Berjalan kaki hampir 10 menit menuju tempat aku menunggu angkutan umum. Ketika aku berada dalam perjalanan angkot, tepatnya di depan Trakindo Cilandak, ada seorang wanita menaiki angkot yang aku tumpangi. Kebetulan angkotnya tidak terlalu penuh penumpang, hanya ada 4 orang termasuk wanita itu. Dia duduk berhadapan denganku. Dia yang kala itu memakai rok mini hitam, dengan paduan blazer warna senada, rambut yang tergerai dan wajah yang menurutku cantik.

Saat dia duduk, dia pun memiringkan dan merapatkan posisi kakinya. Dengan rok yang sangat mini, tentu saja tidak membuat bagian atas kakinya tertutupi meski dia berusaha menutupinya dengan map yang dia bawa. Aku yang kebetulan berada tepat dihadapannya, semula hanya terfokus melihat ke arah luar, tapi dari sudut mataku menangkap bahwa dia berkali-kali memperhatikanku, sambil mencoba menutupi bagian atas kakinya. Sepertinya dia tidak nyaman, dia terus saja membenarkan posisi kedua kakinya.

Aku yang ketika itu akhirnya bertatapan dengannya, langsung menyunggingkan senyum kepadanya, dan dia pun juga tersenyum kecil. Tanpa kuduga sebelumnya, dia berkata, “maaf ya…”

“Kenapa minta maaf, mbak?” timpalku dengan nada heran.

Dia tidak menjawab pertanyaanku, tetapi dia justru menanyakan berapa usiaku, dengan masih sesekali memperhatikan penampilanku. Aku yang memakai baju panjang dengan rok, disertai bergo sepergelangan tangan, ternyata membuat dia mengira bahwa aku sudah menikah. Akupun menanyakan hal serupa, setelah kami ngobrol sebentar, akhirnya aku tahu, dia seorang karyawan di sebuah kantor. Bukan itu yang membuatku merasa terenyuh, tetapi perkataan dia yang membuat aku sedikit merasa iba.

“Mbak, saya lebih tua dari mbak. Saya sebenarnya risih memakai rok sependek ini, apalagi melihat mbak yang lebih muda dari saya dengan berpakaian tertutup, saya semakin merasa malu, mbak.”

Dia berkata itu dengan cukup jelas, dua orang penumpang lain sempat melihat ke arahnya, satu di antaranya laki-laki, tetapi dia tidak segan-segan berkata demikian padaku.

Angkot masih melaju di sepanjang jalan Cilandak KKO. Sontak aku pun tersenyum, “Alhamdulillah mbak masih punya rasa malu, rasa malu itu sebagian dari iman, lho mbak. Ngomong-ngomong kenapa mbak nggak memakai rok yang lebih panjang? Kan jadi nggak malu.” timpalku dengan nada santai.

Namun dia bercerita bahwa di kantornya tidak boleh memakai rok lebih panjang dari itu, aku sempat ragu dengan pernyataannya. Masa’ sih ada kantor yang memberlakukan peraturan seperti itu? Apa karena dia sebagai sekretaris di sana, atau semua karyawan wanita di sana harus seperti itu. Ahh… Rasanya banyak yang ingin aku tanyakan padanya, namun aku harus turun dari angkot itu, untuk berganti angkot selanjutnya.

Sebelum aku turun, aku sempatkan untuk mengatakan, “hidup kita itu kita yang memilih, Mbak. Bukan orang lain yang memilihkan untuk kita, bukan juga lingkungan. Mau seperti apa kita, kitalah yang kendalikan. Hehe aku turun duluan ya, Mbak.”

****

Kapan pun Allah SWT mau memberikan pelajaran untuk hamba-Nya, tak peduli dalam waktu yang lapang, maupun sempit. Hidup ini tak lepas dari sebuah pelajaran. Hari itu bisa menjadi pelajaran untukku. Untuk bersyukur dengan begitu banyaknya karunia yang Dia berikan. Bersyukur dengan lingkungan tempatku bekerja yang tidak menghambat aku untuk bisa menjalankan kewajiban menutup aurat, bersyukur atas nikmat rasa malu yang masih terpatri di hati, bersyukur dikelilingi keluarga yang mendukungku untuk berhijab. Ooooh… terlalu banyak nikmat yang harus kita syukuri, daripada hal yang membuat kita mengeluh.

Robb… jadikan kami hamba yang selalu bersyukur dengan apa-apa yang Kau tentukan atas diri kami, jadikan kami hamba yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil, dan jauhkan kami dari hal yang syubhat. Berilah kami kepekaan hati untuk bisa memilih apa-apa yang sesuai dengan aturan-Mu. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Wita Wahidah
Shadow teacher Sekolah Citra Alam, Ciganjur.Mahasiswi PGMI di STAI Al-Hikmah Cilandak, Jak-Sel
  • Shahrul Nizam

    sedih negara yg majoriti islam dan paling umat islam di dunia terpaksa melanggar perintah agama kerana untuk mencari rezeki.benarlah kata Rasullah Saw ‘kemiskinan bisa membawa kepada kukufuran’.mujurlah dinegara saya pekara ini tidak berlaku.mudahan umat islam indonesia akan berjaya dlm ekonomi agar bisa menyediakan pekerjaan dan membuatkan apara pekerja nya dapat berpakaian menutup aurat serta tidak terganggu ibadahnya.amin

Lihat Juga

Pilkada DKI Jakarta dan Kekuatan Cinta