Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Adha / Khutbah Idul Adha 1434 H: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya Dalam Meraih Keberkahan Hidup

Khutbah Idul Adha 1434 H: Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya Dalam Meraih Keberkahan Hidup

الحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات وبطاعته تنزل البركات وبفضله تتحقق الغايات فلك الحمد كما خلقتنا ولك الحمد كما رزقتنا ولك الحمد كما هديتنا لك الحمد حتى ترضى ولك الحمد إذا رضيت ولك الحمد بعد الررضا اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ (ص) حَقٌّ أشهد أن لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شريك له الْبَرُّ الرَّحِيْم وأشهد أن محمدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ اللهم فصل وسلم على هذا النبى الكريم والرسول العظيم سَيِّدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ وقَائِدِ المجاهدين سيدنا و نبيِّنا وشفيعِنا وقُرَّةِ أَعْيُنِنَا محمدٍ وعلى آله وصحبه وأنصاره وجُنُوْدِهِ ومَنْ أَحْيَى سُنَّتَهُ وَسَلَكَ سَبِيْلَهُ ونَهَجَ مَنْهَجَهُ وجاهَدَ فى اللهِ حَقَّ جهادِهِ إلى يوم الدين أما بعد فأوصيكم عباد الله وإياى بتقوى الله وطاعته فقد فاز المتقون

وقال الله تعالى في القرآن العظيم : إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd

Hadirin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Dalam kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita bersyukur atas nikmat Allah Rabbul a’lamin kepada kita, nikmat-Nya yang tidak terhitung. Allah telah menciptakan, memberi rizki dan hidayah Islam pada kita. Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberi kesempatan hidup, sehingga pada hari ini kita dapat sama-sama merayakan Hari Raya Idul Adha 1434 H bersama 1 milyar lebih umat Islam di dunia. Mengumandangkan kata-kata yang sama; takbir, tahmid dan tahlil. Sementara 3 juta lebih umat Islam di Tanah Suci sekarang sedang melaksanakan puncak ibadah haji. Semoga mereka semua meraih haji mabrur dan pulang ke tanah air masing-masing dalam keadaan sehat wal afiat. Dan semoga kita semua dapat berkunjung ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan umrah bersama keluarga. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Marilah kita merealisasikan syukur dengan terus-menerus beribadah kepada Allah dan beramal shalih, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kita pasrahkan segala penghambaan hanya untuk Allah SWT.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada pemimpin dan teladan kita Nabi Muhammad Saw, keluarga sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir zaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd

Dalam memperingati hari raya Idul Adha, selalu mengingatkan kita tentang kisah perjalanan hidup nabi Ibrahim AS Nabi Ismail AS dan keluarganya. Kisah yang sangat heroik tentang keimanan, ketaatan, dakwah, perjuangan dan pengorbanan. Kisah yang diabadikan Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran umat manusia sepanjang zaman. Marilah kita sekarang mengambil pelajaran dari kisah Ibrahim AS dan keluarganya. Pelajaran yang mengantarkan pada keberkahan hidup dan kesuksesan dunia akhirat.

1. Pelajaran dan Pendidikan tentang Keimanan (Darsun wa ta’lim fil Iman wa At-Tauhid)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS An-Nahl 120)

Ibrahim as adalah pemimpin keimanan dan tauhid. Dalam setiap kisah tentang Ibrahim menyatakan bahwa Ibrahim adalah hanif (bersih dan lurus), bebas dari kemusyrikan. Dan selalu memperjuangkan keimanan dan tauhid. Beliau begitu juga serius mengajarkan keimanan dan tauhid pada keluarga, kaum dan rajanya. Lihatlah kisah-kisah di bawah ini:

a. Ibrahim dengan bapaknya

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا * إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا * يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا * يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا * يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا * قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا * قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

 “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan [905] lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (QS Maryam 41-47).

b. Ibrahim dengan kaumnya dan raja Namrud

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (QS Al-Baqarah 258).

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (54) قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ (55) قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (56 (وَتَاللَّهِ لأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57) فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (58) قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (59) قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (60) قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (61) قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62) قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ )63 (فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ (64) ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ (65) قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66) أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ )67 (قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ )69 (

Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung Apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu Termasuk orang-orang yang bermain-main?”Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku Termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. Demi Allah, Sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan Kami, Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang zhalim.” Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim “. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah Dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan Kami, Hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka Tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang Menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka Jadi tertunduk [963] (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata: Maka Mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS Al-Anbiyah 51-69)

Dalam dialog Ibrahim as dengan bapak, kaum bahkan rajanya, beliau meminta kepada mereka agar tidak menyembah patung sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bermanfaat. Tidak menyembah benda alam semesta, seperti bintang, bulan dan matahari, serta tidak menyembah syetan. Pendidikan yang sangat jelas tentang keimanan dan tauhid serta membebaskan dari segala bentuk kemusyrikan.

Oleh karena itu marilah kita mendidik keluarga dan masyarakat tentang nilai-nilai keimanan dan menjauhkan mereka dari segala bentuk kemusyrikan. Hari ini di zaman yang sangat menjunjung tinggi logika dan ilmu pengetahuan, masih banyak umat manusia yang masih memuja patung, alam semesta dan menyembah syetan. Mendatangi para normal dan dukun yang tunduk pada syetan. Oleh karena itu pelajaran dan pendidikan tentang keimanan dan tauhid yang dilakukan oleh Ibrahim masih sangat relevan sampai sekarang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd

2. Pelajaran tentang kesempurnaan ketaatan (Darsun Fi Kamali At-Tha-ah)

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

 “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman,Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”, Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman,” Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim” (QS Al-Baqarah 124).

Berkata Ibnu Abbas RA, “Belum ada para nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim AS”

Firman Allah yang berbunyi ‘faatammahunna’ mengandung makna bahwa tugas yang diperintahkan kepada Ibrahim dilaksanakan dengan segera, sempurna dan dilakukan semuanya. Berkata Abu Ja’far Ibnu Jarir, “Yang di maksud ‘kalimat’ boleh jadi mengandung semua tugas, atau sebagiannya. Tetapi tidak boleh menetapkan sebagian (tugas) tertentu kecuali ada dalil nash atau ijma’ yang membolehkannya.

Ibnu Abbas RA banyak menyebutkan riwayat tentang ujian yang dilaksanakan Ibrahim as, di antaranya, manasik atau ibadah haji; kebersihan, lima pada bagian kepala dan lima pada tubuh. Lima di bagian kepala yaitu mencukur rambut, berkumur, membersihkan hidung, siwak dan membersihkan rambut. Pada bagian tubuh yaitu, menggunting kuku, mencukur rambut bagian kemaluan, khitan, mencabut rambut ketiak dan istinja. Dalam riwayat lain Ibnu Abbas RA mengatakan,” Kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna yaitu, meninggalkan kaumnya ketika mereka menyembah berhala, membantah keyakinan raja Namrud, bersabar ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu tamunya dengan baik dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.

Ketaatan yang paling pertama dilakukan dan sangat utama yang dicontohkan Ibrahim AS adalah dalam menegakkan shalat. Beliau menempatkan keluarganya di tanah suci, tempat yang tiada kehidupan agar mereka menegakkan shalat.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS Ibrahiim 37).

Bahkan doa beliau dalam ayat selanjutnya:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku” (QS Ibrahiim 40).

Shalat adalah urusan dan sesuatu yang paling besar setelah keimanan dalam kehidupan manusia. Shalat lebih besar dari seluruh harta dunia, lebih besar dari seluruh jabatan di dunia dan lebih besar dari apa yang kita miliki. Orang yang menyia-nyiakan shalat maka mereka adalah orang kecil, walaupun memiliki kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi dan mereka akan sengsara di akhirat. Orang-orang yang menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya, maka pada kewajiban lain akan lebih menyia-nyiakan dan lebih langgar lagi.

Maka ketaatan yang sempurna dalam shalat adalah dilakukan sesegera mungkin, dilakukan di awal waktu, secara berjamaah dan dilaksanakan di masjid atau mushalla. Demikianlah yang juga dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah RA:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Rasulullah (ketika di rumah) membantu kerjaan keluarganya dan jika datang waktu shalat, beliau bangkit untuk shalat” (HR Bukhari)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd

3. Pelajaran tentang Dakwahnya (Darsun Fi Da’watihi)

Ibrahim as lahir di kota Babil (Babilonia) Irak. Penduduk kota Babil menyembah berhala. Dan bapaknya termasuk orang yang ahli dalam membuat berhala dan dia juga menyembah berhala. Demikian juga raja Namrud seorang penyembah berhala. Ibrahim AS mendakwahi keluarganya, kaumnya dan rajanya. Tetapi sedikit di antara mereka yang beriman. Dan begitu besar ujian dari dakwah yang dilakukan Ibrahim beliau mendapat ancaman di bakar dan benar-benar dibakar. Tetapi Allah menyelamatkannya.

Setelah Ibrahim AS selamat dari upaya pembunuhan kaumnya dan setelah terbebas dari kezhaliman raja Namrud. Ibrahim as bersama istrinya Sarah, bapak dan saudara sepupunya Luth as hijrah menuju Syam tepatnya di Baitul Maqdis Palestina. Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya Aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS As-Shaafaat 99)

Di tengah jalan di daerah Haran Damasqus, bapaknya meninggal. Ibrahim bersama keluarganya menetap sementara di Haran. Penduduk kota ini menyembah bintang dan berhala. Di kota ini Ibrahim as menyinggung dan menentang penyembahan mereka yang menyembah bintang, bulan dan benda langit lainnya. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam 75-83.

Ibrahim as dan keluarganya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis. Setelah sebelumnya juga mampir dan berdakwah di Mesir. Dari Mesir Ibrahim as mendapat banyak hadiah binatang ternak, budak, harta yang banyak dan pembantu yaitu Hajar yang berasal dari Qibti Mesir. Di Baitul Maqdis Ibrahim AS mendapat penerimaan yang baik. Dan selama dua puluh tahun tinggal dan berdakwah di Baitul Maqdis, Palestina dan sekitarnya.

Setelah itu lahirlah Ismail AS dan Ibrahim as membawa istri dan putranya ke tanah suci Mekah. Suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail AS Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir pula seorang anak. Lahirlah Ishak AS Ibrahim AS sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan Allah yang diberikan Ibrahim AS karena kedua putra itu kelak menjadi nabi dan turun temurun melahirkan nabi. Dari Ishak as, lahir Ya’kub dan Yusuf AS Serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail AS lahirlah nabi Muhammad saw.

Demikianlah hidup Ibrahim dihabiskan untuk dakwah dan perjuangan sehingga beliau diberi keberkahan oleh Allah yang sangat besar. Anak dan cucunya menjadi nabi dan wilayah dakwah Ibrahim as (Tanah Suci Mekkah, Palestina, Irak dan Mesir), menjadi tempat yang paling berkah Dan kita dianjurkan untuk senantiasa mengucapkan shalawat kepada nabi Ibrahim AS dan nabi Muhammad SAW.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd

4. Pelajaran dari Pengorbanan Ibrahim as dan keluarganya (Darsun fi Tadhiyati Ibrahim wa ahlihi)

Episode berikutnya dilalui Ibrahim as dan keluarganya dengan pengorbanan demi pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang ayah melebihi pengorbanan agar meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan oleh Ibrahim as dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah yaitu seruan dakwah. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ibrahim 37

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”

Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim AS akan meninggalkan putranya Ismail as dan istrinya Hajar, saat itu dalam kondisi menyusui. Dan ketika Ibrahim as meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah dari keduanya, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim AS dan berkata, “Wahai Ibrahim mau pergi ke mana, engkau meninggalkan kami di sini dan tidak ada yang mencukupi kebutuhan kami?”. Ibrahim tidak menjawab, dan ketika Hajar terus-menerus memanggil sedang Ibrahim tidak menjawab, Hajar berkata, “Apakah Allah yang menyuruhmu seperti ini? Ibrahim as menjawab, “Ya’. Hajar berkata, “Kalau begitu pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita”.

Dan puncak dari pengorbanan itu, manakala datang perintah yang lebih tidak masuk akal lagi dari sebelumnya, yaitu perintah untuk menyembelih Ismail AS.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109(

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”(QS As-Shaafaat 102-109).

Berkahnya Pengorbanan

Kisah dan keteladanan Ibrahim as memberikan pelajaran yang sangat mendalam kepada kita, yaitu bahwa pengorbanan akan melahirkan keberkahan. Ibrahim AS menjadi orang yang paling dicintai Allah SWT, (khalilullah), imam, Abul Anbiya, hanif, sebutan yang baik, kekayaan harta yang melimpah ruah dan banyak lagi. Bahwa hanya dengan pengorbananlah kita meraih keberkahan.

Dari pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya, jadilah Mekah dan sekitarnya menjadi pusat ibadah umat manusia se dunia, sumur Zamzam yang penuh berkah mengalir di tengah padang pasir dan tidak pernah kering. Dan puncak keberkahan dari itu semua adalah dari keturunannya lahir seorang manusia pilihan Muhammad SAW, yang menjadi nabi rahmatan lil’alamiin.

Pengorbanan akan memberikan keberkahan bagi hidup kita, keluarga dan keturunannya dan pengorbanan akan melahirkan peradaban besar. Dan kisah para pahlawan yang berkorban telah membuktikan itu. Ibrahim AS dan keluarganya Ismail as, Ishak as, Siti Sarah dan Hajar. Muhammad SAW dan keluarganya, Siti Khadijah RA, ‘Aisyah RA Fatimah RA dll, para sahabat yang mulia, Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Ali RA, dll. Para pemimpin setelah sahabat, Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, Umar bin Abdul Aziz RA, Hasan Al-Bashri RA, Muhammad bin Mubarok, imam Abu Hanifah, imam Malik, imam As-Syafi’i dan imam Ahmad. Para pahlawan dari generasi modern, Ibnu Taimiyah, Hasan Al-Banna, KH. Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dll.

Selanjutnya akan muncul pada setiap zaman para pahlawan yang siap berkorban demi kemuliaan Islam dan umatnya. Sesungguhnya, bumi yang disirami oleh pengorbanan para anbiya, darah syuhada dan tinta ulama adalah bumi yang berkah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil-hamd

Islam tidak mungkin sampai kepada kita tanpa pengorbanan para pengikut Nabi, para da’i dan ulama Islam. Kita mengenal pengorbanan dan kerja keras Wali Songo dan murid-muridnya yang mengislamkan tanah Jawa kemudian menyebarkan Islam di seluruh Nusantara. Mereka adalah pekerja keras, pejuang-pejuang yang bersedia menghadapi resiko, meskipun harus kehilangan nyawa. Mereka berhadapan dengan kerajaan Majapahit dan Pajajaran yang saat itu merupakan dua kekuatan besar berlatar belakang kemusyrikan. Para wali mengorbankan apa saja untuk tegaknya agama Allah di Nusantara ini… Karena itu, dengan pertolongan Allah – Islam menjadi agama mayoritas di negeri ini. Negara Indonesia ini tidak akan mungkin ada di muka bumi tanpa perjuangan dan pengorbanan dari para pendahulu kita. Mereka adalah para ulama, kyai dan santri yang meneriakkan kalimat takbir “Allaaahu Akbar” dalam mengusir penjajah.

Lihatlah catatan sejarah, betapa darah mengalir, nyawa melayang demi tegaknya sebuah negeri kaum muslimin yang bernama “Indonesia”. Namun sayang, sejarah di negeri ini masih ditulis dan diwarnai oleh antek-antek penjajah sehingga peran ulama dan mujahid Islam dipinggirkan, sementara nama-nama kaum sekuler, nasionalis dan komunis ditonjolkan!

Siapa mengingkari keislaman Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dan Imam Bonjol yang melihat penampilannya saja sudah jelas kealiman dan keulamaannya. Mereka adalah para pejuang Islam yang terinspirasi oleh ruhul badzel wa tadhhiyah (semangat member dan berkorban) para Nabi dan sahabatnya… Bahkan ternyata hasil penelitian sejarah yang jujur menyatakan bahwa Sisingamangaraja di Tanah Batak dan Pattimura di Maluku adalah pahlawan Islam yang bertempur melawan penjajah. Hanya kalimat Takbir “Allahu Akbar” yang mereka teriakkan dapat menggetarkan para penjajah sehingga mereka hengkang dari bumi pertiwi….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-hamd

Hadirin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Di setiap zaman dan tempat ada tuntutan Allah untuk merealisasikan pengorbanan. Dalam mengisi kemerdekaan, kita mengajak para pemimpin, seluruh rakyat, laki-laki maupun perempuan, khususnya para pemuda dan remaja Islam untuk kembali memberikan ruhul badzel dan tadhiyah mereka. Karena hanya dengan ruhul badzl wa tadhiyah, kita akan meraih keberkahan dan cita-cita mulia negeri ini yaitu baldatun toyyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yang aman, adil dan sejahtera serta mendapat ridha Allah).

Di masa kita sekarang ini, di tahun politik di masa menjelang pemilu, maka marilah kita sukseskan PEMILU 2014 baik pemilihan legislative maupun pemilihan presiden. Kita memilih wakil-wakil rakyat dan presiden yang bersih, amanah dan siap berjuang untuk melakukan perubahan, menegakkan keadilan, merealisasikan kesejahteraan serta memberantas KKN yang merupakan sumber kerusakan negeri.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Ta’ala agar masyarakat dan bangsa ini serta seluruh umat Islam mendapatkan keberkahan, keselamatan dan kejayaan yang diharapkan.

إن الله وملآئكته يصلون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما : اللهم صل وسلم على هذا النبى الكريم والرسول العظيم سيد الغر المحجلين نبينا وشفيعنا وقرة أعيننا محمد وعلى آله وصحبه وأنصاره وجنوده ومن أحيى سنته وسلك سبيله ونهج منهجه وجاهد فى الله حق جهاده

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموت إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضى الحاجات ويا كافى المهمات

رَبَّنَا ظَلَمنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْن اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

اللهم إِنَّا عَبِيْدُكَ وَأَبْنآءُ عَبِيْدِكَ وَأْبَنآءُ إِمَآئِكَ ناَصِيَتُنَا بِيَدِكَ مَاضٍ فِيْنَا حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيْنَا قَضآؤُكَ – نَسْأَلَك بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لك سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلَقِكَ أو أَنْزَلَتْهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا َوَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلاءَ أَحْزَاِنَنا وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا

الَّلهُمَّ إِنَّا نَسْتعِيْنُكَ وَنَسْتغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِى عَلَيْكَ الْخَيْرَ وَنَشْكُرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ الَّلهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

الَّلهُمَّ أَلْهِمْنَا رُشْدَنَا وَقِنَا شَرَّ نُفُوْسِنَا اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا علَىَ نَهْجِ الإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ الَّندَامَةِ – اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْرًا وَلَكَ الْمَنُّ فَضْلاً وَأَنْتَ رَبُّنَا حَقًّا وَأَنْتَ لَمْ تَزَلْ لِذلِكَ أَهْلاً

اللَّهُمَّ يَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ وَيَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ وَيَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ ويا مُقَوِّىَ كُلِّ ضَعِيْفٍ ويَا مَأْمَنَ كُلِّ خَائِفٍ اللهم يَا مَنْ لاَ يَحْتَاجُ الى الْبَيَاِن وَالَّتفْسِيْرِ حاَجاَتنُاَ اِلَيْكَ كَثِيْرٌ وَأَنْتَ عَالِمٌ بِهَا وَبَصِيْرٌ فَتَيْسِيْرُ الْعَسِيْر عَلَيْكَ يَسِيْرٌ اُحْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِى لاَ تنَامُ وَاكْنُفْنَا بِكَنَفِكَ الَّذِى لاَ يُرَامُ وَلاَ تُهْلِكْنَا وَأَنْتَ رَجَاؤُنَا يا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

اللَهم اْنصُرْ عِبَادَكَ الْمَظْلُوْمِيْنَ في فلسطين وفي سوريا وفي مصر وفِى كُلِّ بُقْعَةِ أَرْضِكَ فِيْهَا نَفْسٌ مُؤْمِنَةٌ اللهم وَأَنْزِلِ السَّكِيْنَةَ عليهم وَاكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاغْفِرلَنَا وَلَهُمْ وَثَبِّتْ قُلُوْبُنَا وَإِيَّاهُمْ على دِيْنِكَ

اللهم إنك ترى مقامنا وتعلم أسرارنا وإنك تعلم أننا لا نخرج ريآءا ولا سمعة ولا بطرا ولكن خرجنا توحيدا لصفوفنا وتأليفا لقلوبنا و ابتغآءا لما فيه رضاك وفيه صلاحنا فاجعل هذه القلوب تجتمع على محبتك وتلتقى على طاعتك وتتوحد على دعوتك وتتعاهد على نصرة شريعتك ووثق اللهم رابطتها وأدم ودها واهدها سبلها واملأها بنورك الذى لا يخبو واشرح صدورها بفيض الإيمان بك وجميل التوكل عليك وأحيها بمعرفتك وأمتها على الشهادة فى سبيلك إنك نعم المولى ونعم النصير

اللَّهُمَّ ألِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ العَرَبِ والمسلمين، اللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَتَهُم علَى الإسلامِ والإيمانِ، اللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ على القرآنِ والسُنَّةِ، اللَّهُمَّ لاَ تَكِلْنَا إلى أَنْفُسِنَا ولا إلى أحدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَنَهْلِك ونَضِيْع “.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ*اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ الإجَابَةُ وَهَذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلاَنُ

وصل اللهم على خير خلقك سيدنا و نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Iman Santoso, Lc. MEI.
Pengasuh Pesantren Al-Quran Hidayatul Islam Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (hdwallpapersfreedownload.com)

Bahagia itu Bernama Keluarga