Home / Narasi Islam / Sosial / Menjaga Sikap Adil Sekalipun Dalam Keadaan Terzhalimi

Menjaga Sikap Adil Sekalipun Dalam Keadaan Terzhalimi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Menjaga sikap adil terkadang merupakan sesuatu yang berat, namun akan lebih berat ketika harus menjaga sikap adil di kala kezhaliman sedang menimpa. Tentunya akan ada dorongan yang lebih kuat untuk membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan serupa, membalas fitnah yang diterima dengan fitnah yang serupa atau bahkan melampiaskannya lebih besar lagi.

Ada sebuah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabiyullah Musa AS kala remaja ketika melakukan sebuah kesalahan. Meski Musa diasuh oleh keluarga Fir’aun dalam istananya sendiri, bahkan menjadi kesayangannya, namun kaumnya Bani Israil mengalami penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi oleh Fir’aun. Di samping memperbudak, Fir’aun juga sempat membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil.

Meski Musa tumbuh dalam kasih sayang Fir’aun, namun dia tidak menutup mata atas kezhaliman yang dialami kaumnya. Ketika suatu hari dia melihat dua orang berkelahi, antara seorang dari kaumnya dan seorang dari kaum Fir’aun, solidaritasnya secara spontan muncul. Musa memukul lawannya hingga tewas, meski sebenarnya tak sengaja ingin membunuh. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur’an:

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (QS. Al Qashash: 15)

Dengan segera Musa kembali pada kesadarannya, timbul penyesalan dan rasa bersalah pada dirinya. Maka dia bersegera untuk meminta ampun kepada Allah.

“Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa.” Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” (QS. Al Qashash: 16-19)

Maka Allah mengampuninya, begitu mudah Allah mengampuni orang yang berbuat kesalahan kemudian mengakuinya, meminta ampun dan memperbaiki diri.

“Tetapi orang yang berlaku zhalim, kemudian ditukarnya kezhalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Naml: 11)

Bahkan kelak kemudian Nabi Musa AS mengakui kesalahannya di hadapan Fir’aun sendiri, tatkala diutus sebagai rasul kepadanya. Namun sebuah pembelaan juga diutarakan kepada Fir’aun, tentang perlakuannya terhadap Bani Israil yang semena-mena, yang bagaimanapun memengaruhi emosi seorang Musa hingga mendorong tindakan khilaf tersebut.

“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.” (QS. Asy Syu’araa’: 18-22)

Dari peristiwa ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik. Kezhaliman yang menimpa tidak boleh menjadi dalih untuk melakukan kezhaliman serupa. Penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi yang diterima, tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan tindakan anarkis, pelanggaran hukum atau main hakim sendiri.

Sekiranya kita mendapatkan fitnah, kecurangan, atau kedustaan secara bertubi-tubi, hendaknya sikap obyektif, kesantunan dan kejujuran tetap terjaga.

Sekiranya kita ditimpa penindasan ekonomi, maka hal itu tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan perampokan atau penjarahan. Kita tidak dibenarkan merampok dengan alasan mengambil harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin.

Dengan demikian perjuangan yang dilakukan umat ini akan tampak elegan dan memperlihatkan ketinggian akhlak. Perjuangan ini hendaknya tidak ternoda oleh hal-hal yang bertentangan dengan hakikat dan tujuan perjuangan itu sendiri.

Tetapi yang harus diperhatikan, Kezhaliman penguasa terhadap orang-orang lemah tidak bisa disejajarkan dengan kesalahan orang-orang dalam keadaan lemah teraniaya. Kesalahan yang dilakukan orang-orang lemah lebih ringan dan lebih mudah dimaafkan di sisi Allah daripada kesalahan yang dilakukan tiran yang menindas mereka. Kesalahan orang-orang lemah yang berada dalam keadaan tertekan berbeda dengan orang-orang kuat yang berbuat melampaui batas dalam keadaan lapang.

Sehingga upaya mengentaskan orang-orang lemah dari kezhaliman yang mereka terima semestinya lebih diutamakan daripada menghukum mereka atas kesalahan yang diperbuat. Bisa jadi mereka berbuat kesalahan tidak semata-mata karena ingin berbuat kerusakan, namun kondisi tertekan yang mereka alami yang menyebabkan pelanggaran itu dilakukan. Sekiranya keadilan ditegakkan dan kezhaliman dihapuskan, niscaya lebih layak ditegakkan hukuman atas orang-orang berbuat keadaan lapang.

“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy Syuura: 39-43)

Tidak semestinya kezhaliman terus dibiarkan terjadi. Upaya yang dilakukan orang-orang teraniaya untuk melepaskan diri dari kezhaliman adalah perbuatan mulia. Allah memberi mereka hak untuk membalas dengan setimpal dari kezhaliman yang menimpa. Hak menuntut balas ini juga menjadi salah satu instrumen pada upaya penegakan keadilan dan mencegah terjadinya kezhaliman. Namun tidak diperbolehkan berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam membalas suatu kezhaliman.

Adakalanya orang-orang lemah yang mengalami penindasan luar biasa, tak mampu lagi mengendalikan diri sehingga melakukan tindakan yang nekad. Sehingga hal ini akan memperburuk kondisi yang mereka alami, dan menjadikan mereka akan semakin ditindas.

“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Hajj: 60)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126).

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Isra’: 33).

Terkadang ujian datang begitu berat, ketika dituntut untuk bersikap adil ketika tertimpa kezhaliman secara semena-mena. Membutuhkan sesuatu kesabaran yang lebih. Sebagaimana beratnya ketika dituntut untuk berderma di kala kekurangan atau bersikap lapang ketika dalam kesempitan, pahitnya ujian ini akan berbuah pahala dan keutamaan yang lebih besar. Menjaga tegaknya keadilan kepada musuh yang teramat dibenci mungkin akan terasa berat sebagaimana halnya menjaga tegaknya keadilan ketika menyangkut orang-orang yang kita kasihi. Namun demikian Allah telah memerintahkannya kepada kita.

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maaidah: 8).

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisaa’: 135).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Facebook.com)

Suami Pelit, Bagaimana Cara Menyikapinya?