Home / Berita / Internasional / Asia / Pikat Wisatawan, Jepang Garap Industri Halal

Pikat Wisatawan, Jepang Garap Industri Halal

Kebab halal yang tersedia di kafetaria di Universitas Kyoto. (jakartashimbun)
Kebab halal yang tersedia di kafetaria di Universitas Kyoto. (jakartashimbun)

dakwatuna.com – Kyoto. Industri halal di dunia sangat potensial. Selain memberikan jaminan bagi konsumen Muslim, bila sektor ini dikelola secara maksimal, akan mampu menjadi salah satu daya pikat wisatawan mancanegara. Terutama, para pelancong dari Timur Tengah dan negara Muslim lainnya.

Jepang, misalnya. Seperti dilaporkan langsung dari Kyoto, Jepang, sebagai destinasi wisata yang kaya akan situs dan budaya, negara berjuluk Matahari Terbit ini sigap dengan potensi pasar yang besar itu dan mulai membidik wisatawan negara Muslim.

Saat ini, ungkap Direktur Promosi Pariwisata Pemerintah Kota Kyoto Rie Doi, jumlah wisatawan negara Islam masih sedikit. “Kita akan mulai perhatikan,” katanya.

Keseriusan Jepang menggaet wisatawan negara Muslim terlihat dari berbagai terobosannya. Mereka mengirimkan sejumlah staf ke Malaysia, Indonesia, dan negara lain untuk melihat kebutuhan wisatawan jika berada di Jepang. Alhasil, kesimpulannya adalah restoran dan hotel dengan menu makanan halal sangat mendesak.

Pihaknya pun tak segan-segan bekerja sama dengan Asosiasi Umat Islam di Kyoto untuk menyiapkan restoran halal. Lembaga ini akan menjadi salah satu lembaga sertifikasi halal di Jepang.

Selain itu, Pemerintah Kota Kyoto juga sudah menggelar seminar tentang makanan halal. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 160 orang pengusaha hotel maupun restoran.

Saat ini pun sudah ada lima restoran di Kyoto yang mengajukan sertifikasi halal melalui Asosiasi Umat Islam di Kyoto.

Ini belum termasuk sejumlah restoran Pakistan, Arab, Maroko, Turki, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Iran, maupun India, yang sebenarnya sudah menyediakan makanan halal.

Keinginan menyiapkan banyak restoran halal juga didorong oleh terpilihnya Jepang sebagai tuan rumah pesta olahraga dunia, Olimpiade 2020.

Mereka memandang perlu menjamu tamu negara Muslim dengan menu halal. Gayung pun bersambut. Sejumlah hotel besar saat ini juga sudah mendapatkan sertifikasi halal.

Salah satunya adalah Hotel Granvia Kyoto. Director Executive Office Overseas Marketing Hotel Granvia Kyoto, Shiho Ikeuchi, mengatakan, sertifikasi halal diperoleh dari Malaysia Halal Cooperation pada Juni 2013.
Sertifikat halal itu diperoleh melalui proses audit yang meliputi bahan dan alat-alat dapur. “Alat masak harus dipisahkan,” ujar Ikeuchi.

Menurutnya, sertifikasi tersebut sebagai respons potensi pengembangan pasar. Permintaan dan order dari warga asing Timur Tengah pun meningkat. “Dengan sertifikat halal mereka lebih percaya,” kata Ikeuchi.

Sebenarnya, restoran dengan menu halal banyak tersedia di Jepang. Ada restoran Pakistan, Arab, Maroko, Turki, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Iran, maupun India yang ada baik di Tokyo maupun Kyoto. Keberadaan restoran-restoran tersebut bisa dilihat dalam situs www.jhalal.com.

Tingginya angka pelajar dan pekerja dari negara Muslim di Jepang merupakan faktor pemicunya. Misalnya saja, di Kota Kyoto.

Terdapat sekitar 40 perguruan tinggi, enam di antaranya adalah universitas negeri.  Mereka semua tentunya membutuhkan kemudahan untuk mendapatkan makanan halal.

Strategi serupa juga diterapkan oleh restoran lokal Jepang. Tak sedikit restoran ini menawarkan menu tanpa daging babi.

Namun, seorang Muslimah Jepang, Minatullah, mengingatkan agar berhati-hati. Sekalipun tidak mengandung babi, bumbu yang digunakan belum tentu halal.

Menurutnya, akan lebih baik jika mencari makanan halal di restoran Iran, India, Turki, Maroko, maupun Indonesia. Atau, mencari makanan dari restoran Jepang yang mendapatkan sertifikat halal.

Perempuan yang bernama Hiromi Oishi sebelum masuk Islam ini juga mengaku memiliki toko yang menyediakan bahan makanan dan bumbu untuk masakan halal.

Toko yang dimiliki Minatullah banyak didatangi pemilik restoran yang menyediakan menu halal.  Termasuk, didatangi keluarga Muslim yang memasak untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena jumlah umat Islam yang tinggal di Kyoto, menurut Minatullah, mereka membuat perkumpulan. “Banyak orang Indonesia yang ada di perkumpulan ini,” kata Minatullah yang sudah delapan tahun sebagai Muslimah.

Bila Pemerintah Jepang serius mendorong industri halal, tentu keuntungan melimpah akan mereka raup. Umat Islam, termasuk Indonesia, tidak akan ragu-ragu lagi untuk datang berwisata, bisnis, maupun belajar.

Apalagi, ini ditambah dengan melejitnya pertumbuhan kalangan kelas menengah dan atas di Indonesia. Mereka mempunyai gaya, gemar berwisata ke luar negeri. Jika bisa memikat potensi itu, Jepang akan kebanjiran devisa. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Penulis di depan Gate 3, Mahidol University.

Survival di Thailand, Perjuangan Mencari yang Halal