Home / Berita / Daerah / Masa Depan Parpol Islam

Masa Depan Parpol Islam

parpol islamdakwatuna.com – Jakarta. Tuntutan publik agar parpol Islam kembali ke jati dirinya disambut positif oleh generasi baru politisi. Hal itu terungkap dalam diskusi Bungur Center for Economic and Political Consulting.

Diskusi menghadirkan: Muhammad Idrus (Ketua BPP HIPMI Departemen Infrastruktur Laut) dan Ahmad Dzakirin (Peneliti Center for Indonesian Reform).

“Publik masih merindukan hadirnya figur yang jujur dan sederhana. Mereka juga menantikan komitmen partai yang berani memperjuangkan aspirasi rakyat kecil. Memang erosi kepercayaan begitu dahsyat dan tantangan semakin berat, tapi politisi berintegritas tak boleh menyerah,” ungkap Idrus yang menjadi Calon Anggota DPR RI di daerah pemilihan Jakarta.

Idrus tergolong generasi baru PKS yang berlatar belakang profesional. Setelah menamatkan kuliah di FT Universitas Indonesia langsung terjun ke dunia wira usaha. Dia bergerak dalam bidang perumahan, perdagangan valuta asing, dan menjadi salah satu Ketua Departemen di BPP HIPMI. Selain itu, Idrus menjabat Ketua Umum BPP Asosiasi Pedagang Valas se-Indonesia.

“Politisi harus terjun ke akar rumput, tak bisa lagi tebar pesona dan janji. Kompetisi saat ini ditentukan integritas dan akseptabilitas kandidat, bukan hanya kredibilitas partai. Saya berdialog dengan RT/RW, mengembangkan klub olahraga dan seni di kalangan anak muda, dan melatih ibu-ibu berwirausaha rumahan,” jelas Idrus.

Ia bertekad untuk mewakafkan gaji sebagai anggota DPR kelak –jika terpilih– buat advokasi dan pemberdayaan warga, karena penghasilan yang diperoleh selaku CEO Kinan Group sudah cukup.

Pengamat Ahmad Dzakirin melihat fenomena baru dari generasi politisi yang muncul dari kalangan profesional. “Mereka tokoh muda yang dalam skala tertentu sudah bebas finansial. Politik dipersepsikan sebagai medan perjuangan, bukan tempat mencari makan. Hal ini mirip dengan gejala di Turki, namun lapisan kelas menengah mereka lebih luas (80%) dan mengakar. Partai AKP yang berkuasa di Turki tak lagi bicara konsolidasi ideologi karena sudah dianggap selesai, tapi konsolidasi ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat,” papar Dzakirin.

Ia menulis buku “Kebangkitan Pos-Islamisme: Strategi AKP Memenangkan Pemilu di Turki” (2012). Sebelum AKP berkuasa, Turki mengalami hiperinflasi dan terlilit utang luar negeri. Partai Islamis terpuruk, bahkan dibubarkan penguasa.

“Setelah AKP menang pemilu 2002, kondisi ekonomi Turki pulih secara ajaib dan paling sehat dibanding negara Eropa lain. Utang luar negeri ke IMF pun dilunasi PM Erdogan. Itu menunjukkan partai Islamis bisa bangkit dan kapabel menangani masalah ekonomi, jika mereka serius dan konsisten,” simpul Dzakirin. (sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • SàñMàrtà Kay

    ketika agama menjadi tameng parpol,,, mengerikan,,,

  • Masjoe

    dan sebaliknya jika Agama (ISLAM) tidak dijaikan landasan dalam Politik lebih mengerikan dan akan seperti MONSTER berbahaya… karena dengan Agama berpolitik jadi terarah…

  • Doddy Bejo

    Orang sekuler menyebut parpol dengan landasan Islam politisasi agama, sedangkan parpol sekuler yang memakai jargon agama disebut nasionalis religius. begitulah sekulerisme tanpa identitas yang jelas, jadi ke-banci2an. Majulah Partai Islam, lakukan konsolidasi keumatan untuk keimanan, keislaman, keadilan, dan kesejahteraan demi meraih ridho Alloh SWT. Aamiin Allohumma Aamin

Lihat Juga

Abdul Latif Siddique dikawal polisi saat menyerahkan diri di Dhaka, Bangladesh (AFP)

Politikus Bangladesh Dipenjara karena Komentari Haji