Home / Narasi Islam / Life Skill / Tiga Kekuatan untuk Menjadi Pemimpin

Tiga Kekuatan untuk Menjadi Pemimpin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kepemimpinan adalah sebuah tanggung jawab besar dalam hidup seseorang. Seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk memimpin berarti memikul sebuah beban tanggung jawab di pundaknya. Karena seorang pemimpin tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Yang ada di kepalanya bukanlah masalah-masalah dirinya sendiri. Yang dituju bukanlah kebaikan untuk dia pribadi. Seorang pemimpin harus juga memikirkan kemajuan kelompok yang dipimpinnya, harus mampu melakukan sesuatu untuk mengembangkan kelompok yang dipimpinnya, harus mampu memberikan kebaikan bagi kelompok dan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin tidak lagi berbicara tentang “saya” tapi telah berbicara dan berbuat untuk “kita”.

Oleh karena beban yang begitu berat yang diemban seorang pemimpin. Atas dasar peran yang begitu penting yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Maka, seorang pemimpin harus mampu meng-upgrade kemampuannya. Meningkatkan kualitas dirinya dan melejitkan potensi dirinya. Agar beban yang berat dan peranan yang sangat penting itu dapat dijalankan dengan sangat baik. Kemampuan, kualitas dan potensi itu adalah modal yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan menjadi pemimpin. Setidaknya ada tiga kekuatan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaitu, kekuatan Visi, kekuatan komunikasi dan kekuatan keteladanan.

1. Kekuatan Visi

Menurut istilahnya, visi berarti kemampuan untuk melihat pada inti persoalan. Visi juga dapat berarti juga pandangan atau wawasan yang jauh ke depan. Dalam konteks keorganisasian, visi dapat dimaksudkan sebagai tujuan dasar atau mimpi-mimpi besar yang menjadi cita-cita utama dari organisasi atau kelompok tersebut. Tujuan ini merupakan alasan utama dari terbentuknya organisasi atau kelompok tersebut. Serta visi juga berupa hal-hal besar yang ingin diraih dalam rentang waktu tertentu.

Pemimpin harus memiliki visi yang kuat dalam kepemimpinannya. Artinya dia mengetahui dengan jelas dalam masa kepemimpinannya organisasi atau kelompok yang dia pimpin akan di bawa ke mana. Karena layaknya sebuah kapal, pemimpin merupakan nakhoda dari kapal tersebut. Pemimpinlah yang menjadi penentu arah atau jalan yang akan diambil oleh organisasi tersebut. Seorang pemimpin dalam perannya di sebuah organisasi seorang pemimpin harus bisa mengenal jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itulah pemimpin harus memiliki visi yang kuat dalam memimpin.

Kekuatan visi dari seorang pemimpin akan menjaga konsistensi dari organisasi atau kelompok yang dipimpinnya. Kekuatan visi dari seorang pemimpin akan menjaga dan menjamin organisasi tetap pada “on the track” untuk capai tujuan meski sedang diterpa oleh masalah. Layaknya nakhoda yang tetap bisa mengendalikan kapalnya pada saat badai menerjang kapal tersebut.

Dan kekuatan dari visi ini akan dapat dimunculkan ketika seorang pemimpin telah mengetahui dan memahami dengan baik apa yang menjadi tujuan dasar dari kelompok atau organisasi tersebut. Selanjutnya setelah memahami tujuan, visi yang kuat dibangun dengan kemampuan menerjemahkan atau membuat langkah dan mengenali jalan dalam mencapai tujuan tersebut serta juga mengetahui masalah yang mungkin dapat menghambat proses pencapaian cita – cita. Langkah dan jalan inilah yang akan menjadi visi dari seorang pemimpin. Semakin baik dalam mengidentifikasi langkah dan jalan untuk mencapai cita-cita besar dari sebuah organisasi maka akan semakin kuat visi yang dimiliki.

2. Kekuatan komunikasi

Komunikasi adalah Sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi”. (Komaruddin, 1994; Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988). Dan komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana, 2003).

Komunikasi merupakan hal penting dalam sebuah organisasi. Karena organisasi merupakan kumpulan dari banyak orang dan komunikasi di sini memiliki peran penting dalam organisasi. Salah satunya adalah menjaga soliditas organisasi. Banyak contoh kasus sebuah organisasi atau kelompok tidak berjalan dengan baik bahkan mengalami perpecahan karena permasalahan komunikasi. Baik antara sesama unsur pimpinan organisasi, antara pimpinan dan anggota atau antara sesama anggota. Oleh karena itulah dalam membangun sebuah organisasi dan menjalankan organisasi, komunikasi menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga oleh seluruh unsur dalam organisasi.

Kekuatan komunikasi sangat mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin adalah orang yang akan memberikan arahan dan petunjuk untuk setiap gerakan dan kerja yang akan dilakukan oleh setiap anggotanya. Kekuatan komunikasi dari seorang pemimpin menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan oleh pemimpin terhadap anggota-anggotanya dan apa yang dilakukan oleh anggota-anggotanya setelah mendapatkan arahan dari sang pemimpin. Sehingga terjadi harmonisasi gerak yang baik antara keinginan dari pemimpin dan kerja yang dilakukan oleh anggota.

Ada beberapa hal yang harus mampu dikomunikasikan dengan baik oleh seorang pemimpin kepada anggota-anggotanya. Kekuatan komunikasi dari seorang pemimpin bertujuan untuk menunjukkan jalan dan langkah yang akan diambil oleh organisasi dalam mencapai tujuan dan dalam menghadapi setiap permasalahan. Pertama pemimpin harus bisa mengkomunikasikan apa yang menjadikan visinya. Dan diharapkan para anggota mengetahui apa yang akan mereka tuju bersama sang pemimpin. Sehingga jika di pertengahan jalan organisasi mengalami masalah dan terlihat organisasi sudah mulai “off the track” maka para anggota dalam hal ini bisa memberikan pandangan dan mengingatkan untuk mengembalikan organisasi pada jalur yang tepat.

Yang kedua adalah hal yang harus mampu dikomunikasikan dengan baik oleh pemimpin dalam sebuah organisasi adalah kondisi dan permasalahan-permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh organisasi atau kelompok dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Komunikasi yang baik dari pemimpin terhadap kondisi dan masalah yang dihadapi akan menghasilkan kesadaran dari setiap anggota akan peranan dan tugas yang dapat dilakukannya dalam menghadapi setiap masalah yang ada. Tapi tentunya tidak semua masalah harus disampaikan kepada anggota. Cukup hal-hal yang benar-benar berkaitan dengan mereka. Oleh karena itulah komunikasi akan hal ini harus dapat dilakukan dengan baik oleh setiap pemimpin. Kekuatan komunikasi seorang pemimpin juga harus dimiliki dalam hal komunikasi kepada pihak-pihak yang ada di luar organisasi tersebut. Komunikasi ke eksternal organisasi akan menguatkan dan menjadi proses marketisasi tersendiri terhadap organisasi atau kelompok tersebut.

3. Kekuatan keteladanan

Dan kekuatan ketiga yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kekuatan keteladanan. Artinya seorang pemimpin harus memberikan keteladanan guna memimpin para anggotanya dalam menempuh “jalan” untuk mencapai tujuan atau visi yang telah dibuat. Keteladanan merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin, seperti istilah yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso sung tulada” yang artinya di depan kita menjadi teladan.

Keteladanan dari pemimpin adalah “motor” penggerak seluruh elemen organisasi yang paling efektif. Karena konsepnya dalam sebuah keteladanan akan lebih bermakna ketimbang seribu kata-kata. Seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan akan lebih dicintai, lebih dihormati dan akan lebih diikuti ketimbang pemimpin-pemimpin yang hanya bisa berkata-kata dan beretorika. Keteladanan merupakan salah satu bentuk komunikasi yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin kepada anggota-anggotanya.

Kita telah melihat bagaimana kepemimpinan Rasulullah saw yang dipenuhi oleh keteladanan. Beliau tidak hanya mengetahui apa masalah yang sedang dihadapi, tetapi juga Rasul memahami bagaimana masalah itu diselesaikan. Artinya dalam proses kepemimpinan yang dilakukan, Rasul tidak hanya hadir dalam alam kata-kata retorika dalam menghadapi sebuah masalah tetapi juga Rasul dalam taraf amal dan tindakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh umat Islam saat itu. Contohnya dalam perang Khandaq bagaimana Rasul ikut turut ambil bagian dalam proses pembuatan parit.

Kekuatan keteladanan dari seorang pemimpin akan mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi untuk bekerja secara bersama-sama dalam mencapai tujuan dan visi yang telah ditetapkan. Keteladanan akan “menghangatkan” hubungan antara pemimpin dan anggota tanpa mengurangi rasa hormat dari para anggota kepada pemimpin. Bahkan keteladanan akan lebih meningkatkan rasa hormat kepada pemimpin yang mampu memberikan keteladanan.

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 4,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yoeandha
Mahasiswa jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus NADWAH UNSRI sebagai kepala departemen PPSDM. Mantan ketua Umum Lembaga Dakwah Fakultas Teknik KALAM FT.

Lihat Juga

Smartphone Is Doesn’t Mean Not To Communicate