Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bagai Pohon Kelapa di Tepi Pantai

Bagai Pohon Kelapa di Tepi Pantai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Idealnya, aku berharap hidupku dapat berlangsung demikian. Laksana pohon kelapa di tepi pantai. Aku berdiri tegak hadapi angin darat ataupun angin laut, tetap melambai indah dalam badai maupun besarnya terjangan ombak. Aku ingin tetap menjadi garda terdepan dalam mencegah abrasi, bersama bakau dan karang, saling mendukung memecah gelombang yang datang menghadang. Aku ingin hidupku bak si nyiur melambai, manfaat dari akar hingga daun, dari buah hingga lidi, dan menghasilkan buah yang tak jauh jatuh dari pokoknya. Aku ingin hidupku demikian, meski aku diterpa panas tapi aku mampu meneduhkan orang sekitar. Menghilangkan dahaga juga lapar. Ingin mudaku adalah tunas terjaga perlambang harapan dan masa depan, lalu bila aku menua, aku tetap dikenang dan diingat sebagai si pemberi maslahat bukan maksiat.

Ingin, hijauku membawa nilai keasrian dalam pandangan panas pinggir pantai. Ingin tetap tumbuh dalam kondisi tanah apapun. Dan saat beberapa pelintas mencemooh kesendirianku, aku akan tetap tegak, karena yakin, bila kelak mereka melintas kembali mereka akan berteduh dan meminum airku. Aku ingin demikian, bersama laut, yang menerima apapun. Laut mengajariku menerima cibiran, sampah, kotoran, pujian, dan teriakan dengan respon yang serupa, dan aku ingin bersamanya menjaga yang demikian, tapi laut jauh derajat di atasku. Dan aku masih harus banyak bersabar dan belajar untuk dapat menjadi sepertinya. Ingin tetap menanggapi pujian dan sindiran sebagai getar suara yang di hantar udara, tidak lebih. Sehingga kuat ku saat di caci, dan rendah hati ku bila di puji.

Aku ingin hidupku laksana Pohon itu, yang kuning daun pertanda mudanya adalah berita gembira dan salam kemenangan bila Ied tiba. Yang tua menua daunnya terjalin dalam rumbia, tetap peneduh dan teduh. Bila jauh di pandang, orang dapat dengan mudah mengenaliku, bila dekat di nilai, orang tahu banyak manfaatku. Meski batangku hanya bernilai menengah dalam adu bahan konstruksi, tapi aku tetap bernilai. Meski sabutku menjadi sapu, keset atau pengganti spons cuci piring, biarlah, karena toh aku tetap bernilai membersihkan kesalahan dan noda lain, dan kembali aku tetap bernilai manfaat. Lalu bila kelak tinggiku telah mencapai 1000 m dari permukaan laut, biarlah semua memandangku, sebagai si anggun, bukan si pongah unjuk rasa.

Aku berharap demikianlah perjalanan hidupku, bagaimana denganmu??

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rara Kawuri
Ibu rumah tangga yang mencoba menata hidup kedua putranya dengan hidup yang bahagia dan menarik untuk di nikmati,, bersyukur karena telah Allah anugerahi suami, teman sepanjang jalan, sekaligus lawan yang menawan Priyanto.

Lihat Juga

Kronologi Meninggalnya Alan, Pengungsi Balita yang Terdampar di Pantai