Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sepetik Cinta untuk Jakarta

Sepetik Cinta untuk Jakarta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (foundwalls.com)
Ilustrasi. (foundwalls.com)

dakwatuna.comMasih menyoal tentang perjalanan manusia di pelosok bumi Jakarta. Tentang mereka yang berseharian dalam renyah dan masamnya dunia. Berkejaran detik, bersengatan tugas, berderapan harap. Hingga terkadang tak lagi teringat waktu, tak lagi terngiang ruang, terlebih terlupa usia yang semakin senja bertemaram. Hati seolah mati menggugu, cinta menjadi cibiran-cibiran semu, dan sabar, ia menjadi selangka fosil yang diolah dalam genangan suhu berderajat-derajat, hangus.

Tak kau dapati pemimpin yang mulia, ya, mungkin karena rakyatnya pun yang ala kadarnya. Tak kau dapati rakyat yang bersabar pada desakan kuda-kuda besi berjajaran, ya mungkin karena pemimpinnya yang terus-menerus datang menyapa tanpa ada hati yang bertautan menyengaja.

Kota mungil ini masih menjadi tugu sejarah yang kuat menantang zaman, ketika nama Jayakarta disematkan oleh seorang panglima mulia, Fatahillah. Saat seonggok kesewenang-wenangan diusir habis dari kota yang kelak menjadi lambang kejayaan bangsa.

Kini Sang Panglima telah lelap dalam istirahat panjangnya, dan kota ini? Jatuh-bangun dalam sejarah panjang berpuluh tuan. Saat rakyatnya menjadi budak kala pertiwi masih dikangkangi gerombolan musang berbulu emas. Namun panggilan cinta untuk kota ini tak sanggup dibendung kezhaliman tuan-tuan dari negeri jauh berjarak samudera. Hingga akhirnya seruan jihad terseru lantang, menyemai bumi pertiwi yang kuncupnya kembali terbit merona mata.

Hari ini ia telah “merdeka”, namun masih limbung nyata tak berkesudahan. Mungkin kita masih harus menunggu mereka yang luar biasa profesional ‘tuk entaskan kota tua yang dulu pernah jaya kala Islam membersamainya. Namun kita terlupa, bahwa kegelimangan suatu negeri menjadi nyata jika jiwa rakyat dan pemimpinnya tertaut kuat pada penguasa semesta, bukan sekadar mereka yang ahli dalam urusan dunia. Akankah kota ini binasa? Ia kan terjawab pada setiap laku manusia yang membersamainya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 1,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan