Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hikmah Sikap Sebatang Pohon

Hikmah Sikap Sebatang Pohon

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ada begitu banyak pohon di negeri ini, tapi mungkin barangkali sedikit yang mengambil pelajaran dari kehidupan sebatang pohon.

Jika Anda bepergian, apakah itu dalam rangka kerja, wisata, silaturahim, ataupun hanya sekadar jalan-jalan menghabiskan waktu, tidakkah Anda perhatikan bagaimana sebuah pohon mengarungi kehidupannya. Baiklah kita mulai belajar dari sebatang pohon saja. Kita lihat dan perhatikan betapa ia makhluk yang tabah dan sabar, ikhlas dalam menjalani cobaan-cobaan dalam hidupnya.

  • Ketika ia mulai tumbuh, meskipun ia tidak di pedulikan oleh siapapun, ia tidak patah semangat untuk tetap tumbuh lebih baik.  Tidak menangis minta di perhatikan dan tidak menuntut makanan yang lezat-lezat.
  • Ketika mulai dewasa, ia tidak suka berjalan-jalan, tidak minta pindah tempat, juga ia tidak minta untuk populer agar dapat dikenal di seluruh penjuru bumi.
  • Ketika ia mulai berprestasi, menghasilkan daunnya yang segar dan cabang-cabangnya yang menawan, ia tidak menuntut adanya upah kerja, dan tidak minta penghargaan maupun minta apresiasi dari lembaga pohon di dunia ini.
  • Ketika hujan datang, ia tidak meminta di payungi, tidak keberatan dengan suhu yang dingin dan selalu bersahaja menghadapi kedinginan oleh derasnya hujan yang menerpa tubuhnya.
  • Ketika panas terik membakar bumi, ia juga tidak pernah mengeluh, tidak marah-marah dan protes atas nasibnya yang harus selalu di terpa panasnya cuaca dan sinar matahari, tanpa bisa menghindar atau setidaknya pindah sesaat hingga mendung datang.
  • Ketika di ludahi, dikencingi, dan di paku-paku kulitnya oleh orang-orang yang iseng, ia tidak pernah balik meludahi, tidak mengajak berkelahi, dan tidak pernah menuntut akan harga dirinya.
  • Ketika malam datang, ia tidak khawatir oleh keadaan yang sendirian, tidak minta tukar nasib, tidak sedih karena gelapnya malam dan terjauh dari sinar cahaya, tidak takut pada makhluk lainnya.
  • Ketika ia di kerubuti pasukan serangga yang menjarah dirinya, malah ia sediakan buahnya dan ia korbankan dirinya bahkan mesti harus lapuk dan mati.
  • Ketika ia di ganggu, di lempari batu, ia tidak menangis apalagi mengumpat, malah ia berikan buahnya kepada orang-orang yang melemparinya.

Dalam keadaan demikian dan terus menerus berulang pada hari-harinya, ia terus menjalani kehidupannya dengan sabar dan ikhlas. Tidak pula ia pertanyakan batas waktu sampai kapan semua akan berakhir.

Begitulah kuat dan tabahnya sebatang pohon dalam menjalani hari-harinya. Kebungkaman dan kediamannya bukan karena ia lemah dan penakut, melainkan karena ia mengerti akan tugas dan fungsinya selama berada di dunia ini. Dan tentunya masih banyak lagi sikap positif dari sebatang pohon yang dapat kita rangkaian dalam kata-kata selain dari yang ada pada tulisan ini.

Hikmah dari kekuatan kesabaran yang di miliki oleh pohon tersebut adalah wujud dari kepasrahan dan keikhlasannya kepada sang pencipta. Ikhlas menjalani tugas dan fungsinya, semata-mata karena mencintai dan mewujudkan penghambaannya kepada sang pencipta.

Manusia, jika mampu bersabar dan ikhlas pada setiap apa yang menimpanya, tentulah tidak ada celah duka dan nestapa yang masuk ke dalam hatinya. Tidak ada marah dan kecewa yang mengganggu ketenangan jiwanya. Tidak ada mengumpat dan memaki dalam pikirannya. Dan tidak pula ia menuntut terlalu banyak dalam kehidupannya.

Keikhlasan dan kepasrahan dalam menjalani apa saja yang menimpanya dalam kehidupan ini pasti akan terasa ringan olehnya. Dadanya menjadi lapang, batinnya tabah, jiwanya menjadi tenang, karena mengerti akan tugas dan fungsinya berada dalam kehidupan ini. Sehingga akhirnya ia dapat mengerti hakikat hidup di dunia ini adalah cobaan demi cobaan.

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (Al-Mulk: 2)

Semoga sedikit demi sedikit kita dapat menjalani sikap sabar dari sebatang pohon, hari demi hari kita tambahkan lagi kepahaman kita akan hakikat cobaan dan ujian yang menerpa hari-hari kita. Sehingga kita mengerti akan hidup ini dan dapat merasakan manisnya sikap ikhlas. Insya Allah…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Echiey Hisaan
Direktur Rumah Tahfidz Ababil dan Aktivis. Pekanbaru.

Lihat Juga

Seputar Hikmah dan Manfaat Berqurban