Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Bukan Guru Asal Ngajar

Bukan Guru Asal Ngajar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Bukan Guru Asal Ngajar".
Cover buku “Bukan Guru Asal Ngajar”.

Judul buku: Bukan Guru Asal Ngajar
Penulis: Eko Nurhaji Purnomo
Penerbit: Gava Media
Terbit: 2012
Tebal: 124 Halaman
Ukuran: 16 x 23 cm
Harga: Rp. 28.500

dakwatuna.com Guru adalah profesi yang mulia, maka profesi guru tak bisa dikerjakan dengan apa adanya. Banyak guru mengira jika muridnya diam maka semuanya sedang mendengarkan, jika muridnya mendengarkan anggapannya siswa mengerti tentang apa yang diajarkan. Lebih bingung lagi jika kelas kacau, siswa ribut sendiri tak bisa dikendalikan, bahkan lesson plan yang telah dibuat, pada saat mengajar semua nya jadi berantakan. Lantas seperti apa pembelajaran yang seharusnya?

Guru membutuhkan sebuah pedoman adalah pengajaran di kelas menjadi asyik dan menarik. Sebuah buku yang sangat diperlukan oleh guru dan memahami benar apa itu menjadi pendidik. Bahwa menjadi pendidik bukan hanya sekadar mengajar. Karena kalau hanya termotivasi untuk sekadar mengajar jelas itu sangat salah besar.

Buku ini akan membuka paradigma baru dalam pembelajaran yang terintegrasi. Buku yang memberikan ruang kepada guru, bahwa menjadi guru haruslah memiliki banyak kreativitas, baik dalam mengajar ataupun dalam membuat media yang mendukung pembelajaran. Menjadi guru adalah pilihan yang berat, mengapa? Karena banyaknya tanggungjawab yang dipikul oleh seorang guru, mulai dari akademik anak didiknya, akhlaknya sampai dengan kreativitasnya. Guru adalah profesi yang mulia, maka profesi guru tak bisa dikerjakan dengan apa adanya. Banyak guru mengira, jika muridnya diam maka semuanya sedang mendengarkan, jika muridnya mendengarkannya anggapannya siswa mengerti tentang apa yang diajarkan. Lebih bingung lagi jika kelas kacau, siswa ribut sendiri tak bisa dikendalikan, bahkan lesson plan yang telah dibuat, pada saat ngajar semuanya jadi berantakan. Lantas seperti apa pembelajaran yang seharusnya?

Bayangkan sejenak, ketika Anda mengajar. Dengarkan dengan dan lihat antusias siswa Anda ketika belajar. Perhatikan tangan-tangan teracung dengan antusias, sesekali mereka berdiri, berpendapat, keriangan ketika berbagi, saling memberikan semangat dan dengarlah gemuruh tawa mereka.

Buku ini berisi tentang teori singkat, fokus dan jelas menekankan bagaimana mengaplikasikan teori-teori dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas.

Buku ini berisikan:

  • Menjawab alasan mengapa jadi guru harus bahagia
  • Kiat-kiat membentuk lingkungan sekolah selayak surga bagi pembelajar
  • Memahami psikologi perkembangan anak, modalitas belajar anak, kecerdasan majemuk, bahkan pada mind style untuk disesuaikan ke dalam strategi dan gaya mengajar guru.
  • Multi metode dan model dalam pembelajaran
  • Penilaian berorientasi pada proses
  • Tips dan trik “ Mudah membuat Lesson plan dan mudah mengaplikasikannya”
  • Berbagai kegiatan pembelajaran yang memikat

Menjadi orang baik sama dengan menjadi orang jahat, keduanya butuh ketekunan. Menjadi orang baik, tentu perlu proses, perlu kerja keras. Menghilangkan rasa iri melihat orang bergaya hidup santai. Merasakan beberapa kali gagal baru bisa sukses. Sabar menghadapi pesaing yang hobinya curang. Tersulit lagi, jujur meski menguntungkan lawan.

Menjadi orang jahat, butuh keahlian khusus agar lawan tak tahu. Punya dua muka. Baik di depan bos, di belakangnya, apapun halal. Perlu kerja keras, menyembunyikan kejahatan, agar polisi atau KPK menyeretnya. Semua klien ditutup dengan uang suap.

Lebih repot lagi menjadi orang baik, punya dua pilihan. Menjadi “orang baik” untuk dirinya sendiri, atau menjadi “orang baik” untuk dirinya dan orang lain. Memilih menjadi seorang banker, kontraktor, pengusaha kelapa sawit, property, pemilik lebih dari seribu minimarket itu pilihan.

Tapi, memilih menjadi guru itu panggilan. Pilihan dengan tanggung jawab besar. Tak tanggung-tanggung, membentuk pribadi manusia unggul. Mengantar menuju cita-cita yang diharapkan.

Sebuah perencanaan yang matang adalah tugas guru. Banyak guru yang menganggap bahwa pekerjaan ini banyak menghabiskan waktu mereka. Guru direpotkan membuat sebuah perencanaan yang mendetail seperti ini. Apalagi dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh seorang guru, ekonomi, waktu, keluarga yang menjadikan sebuah alasan yang kuat untuk tidak memenuhi prasyarat satu ini sebelum mengajar. Ada banyak alasan lain yang akan menampilkan kewajiban satu ini.

Jika seorang guru berfikir lebih cerdas, perencanaan pembelajaran sebenarnya dalam satu tahun pertama, membuat guru merasa berat dan terbebani. Tapi, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh di tahun berikutnya, guru hanya sedikit merubah bagian yang perlu diperbaiki.

Jika ada pertanyaan mengapa harus membuat perencanaan dengan sedetail dan menyita waktu, jawabannya adalah untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran dan mengevaluasi proses pembelajaran. Kualitas pembelajaran akan terlihat beda, jika Anda memang memiliki perencanaan yang matang, lebih jauh lagi, jika ini dilaksanakan secara konsisten akan membawa perubahan yang luar biasa pada kualitas pembelajaran yang dilaksanakan, inilah sebenarnya salah satu maksud mengajar adalah belajar.

Buku ini sangat pantas menjadi rujukan untuk para guru yang kebingungan dalam mengembangkan metode pembelajaran buat anak didiknya, baik karena anak didiknya bosan dengan metode konvensional yang diajarkan oleh guru ataupun karena anak didiknya aktif di kelas. Semoga dengan hadirnya buku ini, guru bisa menambah skill dalam mengasah keterampilan belajar di dalam kelas. Yuk, jadikan buku ini sebagai salah satu rujukan ketika Anda akan mengajar.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.
  • Nurul Hidayat

    bisa dapatkan buku ini dmana?

Lihat Juga

MA (kanan) dan ayahnya, Adnan Achmad (kiri). (Foto: tribunnews)

Siswa dan Orangtua yang Terlibat Pemukulan Guru di Makassar Jadi Tersangka