Home / Narasi Islam / Sosial / Shalat: Kunci Fundamental Perbaikan Degradasi Moral Bangsa

Shalat: Kunci Fundamental Perbaikan Degradasi Moral Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Shalat berjamaah di masjid. (inet)
Ilustrasi – Shalat berjamaah di masjid. (inet)

dakwatuna.comMenyoal masalah moralitas bangsa sepertinya sudah terlalu kompleks untuk diperbincangkan. Entah karena memang sudah tingkat akut mungkin masalah yang mendera bangsa ini hingga akhirnya pesimisme selalu menghantui kita untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini. Mulai dari pejabat pemerintah yang sudah tidak lagi Arief dan bijak dalam bersikap hingga rakyat kecil yang rela bermandi dosa dengan dalih untuk mencari sesuap nasi. Memang kita tidak boleh mempermasalahkan keadaan saat ini sebagai wujud pembelaan terhadap diri kita. Namun inilah kondisi kenyataan yang tak lain adalah representasi dari bobroknya moralitas dari segala unsur kehidupan di bangsa ini. Pejabat-pejabat pemerintah sekarang banyak yang tersandung kasus korupsi, skandal dengan perempuan, dan masih banyak lagi. Belum kalau kita bicara masalah remaja saat ini, maka akan menangis melihat kondisi sekarang. Fenomena westernisasi seperti freesex, narkoba, atau bahkan tawuran seringkali menghiasi media pemberitaan kita. Seolah mereka telah lepas kontrol dari pakem dan jalurnya. Padahal kalau kita melihat dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) mayoritas di antara mereka beragama Islam. Dari sinilah mulai muncul permasalahan apakah Islam sudah tidak lagi memberikan dampak baik bagi pemeluknya? Apakah Islam hanya sebagai simbolisasi dari berbagai kartu identitas kita, tidak lagi merasuk dalam jiwa dan menggerakkan dalam setiap langkah kita?

Peranan Shalat

Dalam Islam kita diwajibkan untuk mendirikan shalat sebagai wujud dari penghambaan kita kepada sang Khaliq. Shalat adalah satu ibadah yang benar-benar mendapatkan perhatian khusus oleh Allah dan sangat ditekankan untuk dilakukan. Sebagai contoh orang yang sakit pun masih diwajibkan untuk shalat meskipun dalam kondisi ini Allah memberikan keringanan dengan shalat dengan duduk ataupun dengan terbaring. Kewajiban shalat hanya akan terhenti saat kita telah tiada meskipun saat itu kita masih dishalatkan oleh orang-orang di sekitar kita.  Salah satu fadhilah shalat adalah akan menjauhkan diri kita dari tindakan yang keji dan munkar.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)

Sudah jelas dalam ayat di atas dikatakan bahwa shalat sejatinya adalah sebuah benteng yang kita bangun untuk menghindarkan diri kita dari perbuatan yang keji dan munkar. Secara teknis bisa dikatakan kalau kita sudah shalat maka kita akan tidak lagi berbuat yang keji dan mungkar. Sebuah implikasi yang logis kalau bisa diterapkan. Abul Aliyah mengatakan di dalam shalat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khasyah (takut) dan dzikrullah (ingat kepada Allah). Maka jika tiap shalat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut shalat. Karena dengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akan mencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’ruf dan mencegah mungkar. Dengan konsep seperti itulah Shalat memiliki kekuatan untuk melakukan penjagaan diri yang kuat dari maksiat dan berbagai perbuatan keji dan mungkar.  Inilah idealitas yang sebenarnya dibangun bagi setiap muslim.

Belum Terefleksikan di Kehidupan Nyata

Shalat akan mencegah kita dari perbuatan yang keji dan mungkar. Ini merupakan konsekuensi yang logis yang memang sudah menjadi hakikatnya. Dari sini akan muncul sebuah pertanyaan besar di saat Indonesia yang notabene adalah mayoritas muslim tentunya dengan rutinitas peribadatan shalat namun kenapa dalam prakteknya justru bobrok secara moralitas. Masih banyak di antara yang seringkali berbohong, mengumpat, dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Bahkan tak jarang di antara kita yang sudah shalat 5 waktu penuh dalam sehari namun kita masih saja melakukan maksiat. Atau kalau kita tarik ke atas lagi, banyak pejabat kita yang kesehariannya shalat lima waktu namun mereka tak malu untuk korupsi memperkaya diri mereka. Kalau dalam istilah populernya dikenal dengan sebutan STMJ atau shalat terus maksiat jalan. Sungguh ironi kalau kita mengaitkan fungsi shalat sebagai media untuk mencegah dan menahan diri kita untuk berbuat keji dan mungkar.

Akan muncul pertanyaan apakah ayat yang menyebutkan bahwa shalat akan menjaga kita dari perbuatan yang keji dan mungkar itu sudah tidak relevan untuk saat ini? Padahal kita sudah tau bahwa Al Quran adalah petunjuk kita yang sebenar-benarnya. Kalau demikian berarti yang menjadi permasalahan bukan karena shalatnya namun menjurus ke kualitas shalat yang dibangun oleh orang tersebut. Apakah shalat yang dilakukan sudah sesuai dengan aturan yang dituntunkan Rasulullah SAW. Kemudian setelah semua itu sesuai dengan yang dituntunkan apakah pelaksanaan shalat kita sudah dilakukan dengan khidmat dan khusyu`.  Bagaimana shalat bisa memberikan dampak pada kehidupan kita kalau perihal kekhusyukan saja masih jauh.

Shalat sejatinya digunakan sebagai media untuk menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar. Melalui shalat kita bisa mengingat Allah. Dengan mengingat Allah inilah akan tersistem dalam hati kita konsep bagaimana kita bisa menilai suatu perbuatan kita ini baik atau tidak. Di saat kita akan berbuat buruk kita akan ingat kepada Allah, di saat kita akan berbohong kita akan ingat kepada Allah, di saat kita akan berbuat curang saat ujian kita akan ingat kepada Allah, di saat kita akan korupsi kita akan ingat kepada Allah. Inilah konsep sederhana mengapa shalat akan mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar yakni dari perspektif shalat akan kembali mengingatkan kita kepada Allah.

Kemudian yang kedua melalui shalat kita tentu memanjatkan doa untuk bisa selamat dunia akhirat. Banyak doa yang kita panjatkan di dalam shalat, salah satunya adalah kita membaca surat Al Fatihah yang mana di dalamnya terdapat doa-doa agar kita selalu berada di jalan-Nya. Senantiasa diberikan keistiqamahan di jalan yang lurus, bukan jalan orang yang sesat dan bukan jalan yang Allah murkai. Dengan doa-doa yang khusyuk dalam setiap shalat itu maka akan semakin menguatkan kita sebagai media penjagaan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Shalat Sebagai Solusi Fundamental

KH. Abdullah Gymnastiar dalam konsep perbaikan diri pernah berkata 3 M. Mulai dari saat ini, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai dari diri sendiri. Seperti yang telah disampaikan di atas, bangsa ini memiliki banyak permasalahan yang kian lama kian kompleks. Masih banyak pelajar yang tawuran, freesex, pejabat kita yang korupsi dan lain sebagainya. Kalau kita amati sebenarnya tak bisa dipungkiri permasalahan-permasalahan itu bermula dari setiap pribadi yang belum bisa menjaga diri dari maksiat dan kesalahan. Apalagi kalau kita bicara kaum muslimin, bisa dikatakan memang belum semua dari kita yang sudah merepresentasikan keislaman kita dalam perilaku keseharian kita.

Berangkat dari kondisi di atas berarti kita bisa mengambil sebuah logika bahwa kita bisa memperbaiki segala permasalahan bangsa ini dengan memperbaiki pribadi masing-masing sebagai entitas terkecil kehidupan.  Kalau sudah demikian, insya Allah perubahan dan perbaikan bangsa secara keseluruhan bisa disikapi. Seperti kata AA Gym, kita bisa memulai perbaikan sekompleks apapun melalui perbaikan dari hal yang paling kecil yakni melalui masing-masing personal untuk memperbaikan sebuah bangsa. Setelah itu yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita bisa memperbaiki pribadi masing – masing tersebut.

Dari sinilah kita bisa mengimplementasikan Shalat sebagai media perbaikan diri secara fundamental. Shalat sebagai media penjagaan diri dari perbuatan menyimpang dan maksiat. Tentunya kita bisa membuktikan itu semua jika melakukan shalat sesuai dengan mekanisme yang diteladankan Rasulullah, khusyuk dan runtut melakukan rukun-rukun shalat serta menghayati maksud dari setiap doa yang dipanjatkan.  Insya Allah kalau kita benar-benar memahami setiap doa yang kita panjatkan dalam setiap sujud, rukuk, dan setiap fase dalam shalat, kita akan terjaga dalam beraktivitas sehari-hari dari perbuatan tercela ataupun maksiat. Apalagi dalam setiap hari kita minimal melakukan shalat sebanyak lima kali. Dari pagi shalat subuh hingga shalat Isya di malam harinya. Insya Allah setiap selang antara shalat yang satu dengan yang lain kita akan terjaga dari berbuat keji dan munkar kalau kita benar-benar memahami apa itu esensi shalat beserta segala kekhusyukan doa yang kita panjatkan. Sehingga kalau setiap entitas paling fundamental yakni setiap personal sudah terjaga Insya Allah kalau kita generalisasi Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini akan memiliki perilaku islami dan bermoral. Akhirnya berbagai permasalahan bangsa akan perlahan-lahan tersikapi dan terselesaikan kalau ini benar-benar dilakukan dengan penuh konsistensi dan istiqamah. Hal ini tidaklah mustahil karena perubahan sebesar apapun pasti dimulai dari perubahan yang kecil. Untuk memperbaiki degradasi moralitas bangsa kita mulai dengan memperbaiki setiap pribadi masing-masing.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Phisca Aditya Rosyady
Mahasiswa Master di Departement Computer Science and Engineering di Seoul National University of Science And Technology, Korea. Lahir di Yogyakarta, 31 Agustus 1991. Anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai hobi di dunia jurnalistik, elektronika dan instrumentasi. Beberapa kali menjuari lomba blog dan karya tulis. Pernah menulis buku "Kami di antara Mereka", Buku " Inspirasi Gadjah Mada untuk Indonesia dan semasa SMA pernah menulis Buku "1000 Anak Bangsa Bercerita Tentang Perbedaan bersama para alumni Program Pertukaran Pelajar Jogja lainnya. Mahasiswa yang juga pernah menjadi santri PPSDMS Nurul Fikri ini aktif di beberapa organisasi seperti di HMEI, IMM Al Khawarizmi UGM, IPM Imogiri, dan BPPM Balairung. Juga menggeluti riset tentang UAV di Tim Quadcopter Elins. Tahun 2011 bersama empat temannya, berhasil membuat System Body Ideal Analyzer melalui PKM-T yang berhasil didanai Dikti. Phisca pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FMIPA dan juga mendapatkan Anugerah Insan Berprestasi dalam rangka Dies ke-63 UGM dan Dies ke-64 UGM. Sebelum Ia melanjutkan kuliah S-2 nya, Phisca 8 bulan bekerja di salah satu anak perusahaan Astra International di bidang IT consultant sebagai programmer.
  • okabasi doma

    Islam datang dalam keadaan ASING, akirnya kembali dalam keadaan ASING pula.
    Ini mengindikasikan bahwa manusia ( baik yg beriman dan kufur) , semakin mendekati berakirnya aktifitas alam semesta ini (kiamat), akan semakin brutal,bejat akhlak moralnya, dan menjadi manusia yg amat durhaka kepada Tuhan.
    Segala teori/buah pikiran apapun bentuknya buatan manusia hingga ke kitab suci Al Quran dan hadis, sudah dianggap sepi/remeh oleh manusia baik saat ini, esok hingga saat kiamat nanti.
    Hanya manusia yg mendapat pertolongan Tuhan yg selamat, dan ini jumlahnya hanya SEGELINTIR dari sekian banyak jumlah manusia saat ini.

Lihat Juga

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik