Home / Pemuda / Cerpen / Sepatu Cantik

Sepatu Cantik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com“Berhubung hari sudah begitu sore kita tutup yah Rapat Aksi Hari Pahlawan ini yah. Minggu depan pada Jam dan tempat yang sama kita lanjutkan Rapatnya lagi. Alhamdulillah astaghfirullah. Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduanllailaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaih” Reza mengakhiri agenda Rapat Departemen Soskemas KAMMI

Aku yang di samping Reza menarik tangannya “Za yuk ke Laboratorium Bahasa, ada bukuku yang ketinggalan”

Kami pun bergegas keluar meninggalkan Mushalla Fakultas, kami melewati teras Para akhwat. Sepi tapi masih ada beberapa Sandal yang berserakan mereka masih berkumpul di dalam rupanya dan aku pun tiba-tiba menghentikan langkah.

“Sssst ngapain berhenti di situ, katanya mau ambil buku yang ketinggalan. Cepat nanti Laboratoriumnya tutup loh” Teguran Reza menyadarkanku. Kami langsung menuju ke Laboratorium Bahasa.

Setelah ke Laboratorium aku dan Reza tidak langsung pulang ke Kost.

“Nanggung banget ya Affan, yuk kita shalat Maghrib di Masjid Raya setelah itu kita makan Bakso di dekat Masjid itu” Reza mengajukan sebuah gagasan

“Setujuuu, kita refreshing sebentarlah” aku pun menyetujui

Di saat makan aku dan Reza berbicara banyak hal.

“Affan kenapa tadi reaksimu aneh saat melewat teras akhwat?” Reza bertanya

“Ada yang tak Lazim” jawabku sekenanya saja sambil nikmati Bakso Urat Lezat ini.

“Jawabanmu yang gak Lazim, aneh deh” Reza menyela kesal

“Udah ah jangan dipikirkan lagi” aku pun menutup Bahasan itu

Seminggu kemudian sesuai Janji Reza sebagai Ketua Panitia Aksi Hari Pahlawan mengadakan Rapat lagi dan semua berjalan baik. Semua hal telah siap dilaksanakan, harapan kami semua dapat berjalan dengan baik dan lancar di hari Pahlawan nanti.

“Teman-teman aku dan Reza Pamit duluan yah, Assalamu’alaikum wr.wb” aku menarik tangan Reza

“Wa’alaikumsalam wr.wb” Jawab semua teman-teman panitia hampir berbarengan

“Fan kita mau ke mana buru-buru begini?” Reza bertanya keheranan

Aku hanya diam dan kami keluar melalui Rute yang sama, melewati Teras Akhwat. Aku terus mengamati keadaan Teras itu.

“Kenapa?? Ada hal yang tak Lazim lagi??” tanya Reza

“Hahaha, kamu paling bisa deh Za” jawabku

“Apa sih hal yang tak Lazim itu?” tanya Reza penasaran

“Bukan hal yang serius kok” Jawabku lagi

“Ehm lama kelamaan kamu yang jadinya gak Lazim deh” Reza menimpali

“Hahaha jangan sewot gitu dong. Begini Za, aku agak Surprise aja. Pas minggu lalu kita lewati teras akhwat, aku melihat sepasang Sepatu yang Girly banget. Gak banget deh kalau ada akhwat pakai sepatu begituan dengan hak yang agak tinggi, warnanya pink, apalagi kalau sepatu itu dipakai lompat-lompat di saat aksi, atau melakukan aksi heroik akhwat lainnya misalnya Mendaki bukit di saat Mukhayyam” aku mencoba membuka sedikit apa yang ada di pikiranku

“Helllloooooooooooo fan, Jauh banget kamu mikirnya. Siapa tahu itu sepatunya para Mahasiswi yang Kuliah sore atau sepatu orang lain gitu. Kalau akhwat yang pakai emang jadi masalah besar banget yah??”

“Yah bukan masalah Besar, makanya tadi aku bilang Tidak Lazim. Atau Bahasa Gaulnya Kontroversi Kefaktualan gayanya Vicky nih, hehehehe”

“Bagiku itu bukan masalah besar Fan. Asalkan aku, kamu dan Para ikhwan serta akhwat lainnya apapun yang digunakannya itu bukan sebagai bentuk kesombongan dan harus menyesuaikan tempat-waktu di saat penggunaannya. Yang pasti lihatlah bukan apa yang digunakannya, tapi lihatlah apa kontribusinya.” Reza mencoba membuat Penegasan

“Baiklah Syekh, Fahimtu”

Beberapa minggu terlewati, acara Aksi Hari Pahlawan berjalan dengan baik. Aku pun tak pernah melihat Sepatu Girly itu lagi, kisah itu sedikit demi sedikit mulai terlupakan.

Dan di siang hari yang cerah tiba-tiba ada sosok tak asing meneleponku, beliau Ustadz Andi…

“Assalamu’alaikum Wr.Wb Affan”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb Ustadz”

“Affan sibuk gak nanti malam?” Ustadz Andi bertanya

“Tidak sibuk ustadz, ada apa?” Jawabku

“Nanti malam ke rumah yah, sekitar ba’da Isya’. Ada sedikit keperluan denganmu Akhi, Boleh yah?”

“Baik Ustadz, nanti malam Ana akan datang”

“Jangan Lupa bawa Laptopmu yah”

“Iya Ustadz”

“Syukran, Assalamu’alaikum Wr.Wb”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb”

Percakapan di Telepon itu pun selesai, tak menyisakan pertanyaan di Kepalaku.

Malam ini pun aku datang ke rumah Ustadz Andi sesuai permintaannya. Bukan hal yang luar biasa kalau tiba-tiba Ustadz Andi meminta aku ke rumahnya, karena beberapa kali aku diminta untuk membantunya mengaudit keuangan Lembaga Infaq yang dipimpinnya. Semua berjalan lancar malam ini. Sebelum pulang aku diajak berbincang dengannya.

“Affan kapan Antum selesai kuliah? Biar bisa segera nikah” tanya sang Ustadz dengan nada bercanda

“Insya Allah kalau sekarang ada akhwat yang siap diajak Nikah Ana juga siap Ustadz, gak perlu menunggu Sarjana ustadz, hehehe” Jawabku tersipu

“Subhanallah, beneran nih?”

“Insya Allah Ustadz”

“Ehm…Ummi kemari dong!” Tiba-tiba Ustadz Andi memanggil istrinya

“Ada apa bi?” Istrinya muncul dari dalam rumah

“Agenda Rihlah para akhwat besok jadi? Masih perlu bantuan ikhwan nggak?”

“Insya Allah jadi bi, ehm terserah Abi. Kan ummi hanya minta tolong Abi, kalau Abi merasa tidak mampu sendirian ajak ikhwan yang lain juga boleh”

“Oke kalau begitu, Abi ajak Affan yah untuk membantu kegiatan Besok” Jawab Ustadz sambil menepuk pelan bahuku.

“Boleh, alhamdulillah. Besok Jam 6 ya Affan kita ngumpul di Masjid di dekat simpang masuk ke Taman Nasional Salsabila”

“Iya Ustadzah, Insya Allah” Aku pun menyetujui tanpa diberikan pilihan terlebih dahulu

Keesokan Subuhnya aku pun berangkat ke tempat yang telah direncanakan. Aku sengaja datang lebih awal agar bisa merasakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid ini dan berencana I’tikaf sebelum acara dimulai.

Tak terasa Matahari pun menyeruak menghangatkan bumi, terang pun hadir mengganti gelapnya malam. Angin sepoi-sepoi masuk ke Masjid segar rasanya udara Pagi ini, subhanallah.

Tak Tok Tak Tok…Tiba-tiba aku pun terusik dengan sebuah suara. Aku pun menoleh kearah datangnya suara tersebut. Terlihat sesosok akhwat dengan sepatu Girly-nya, wajahnya tak begitu jelas. Dalam pikiranku “apakah itu orang yang sama yah? Ah Sudahlah”

Tak Seberapa lama Teras Masjid semakin ramai, para akhwat mulai duduk membentuk lingkaran. Aku melihat Ustadz Andi dan Istrinya, aku pun tak melakukan apapun sebelum ada perintah dari mereka. Kemudian Ustadz Andi memasuki Masjid menghampiriku.

“Assalamu’alaikum Affan”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb Ustadz”

“Alhamdulillah Antum sudah di sini rupanya, Yuk kita langsung masuk ke Taman Nasional sekalian mempersiapkan petunjuk arah untuk mereka mendaki bukit di sana”

“Iya Ustadz” aku pun bergegas mengikuti langkah dan arahan dari Ustadz Andi.

Di jalur pendakian kami persiapkan berbagai hal agar pendakian para akhwat ini berjalan baik dan berharap sampai ke puncak Bukit dalam keadaan selamat. Aku pun diminta berjaga-jaga di sisi yang bukit yang agak terjal, untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Para peserta Rihlah dengan semangat terus berjalan mendaki bukit tersebut. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada seorang akhwat terakhir yang berjalan sangat hati-hati, sambil menenteng sepasang sepatu Girly-nya. Kakinya hanya beralaskan kaos kaki.

“Assalamu’alaikum wr.wb Ukhti” ku coba menegur

“Wa’alaikumsalam wr.wb”

“Ini pakai sandal gunung Ana, kalau bertahan dengan kaos kaki saja kaki anti bisa luka-luka sampai di atas” aku pun melepaskan sandalku dan meletakkan tak jauh darinya.

Sang akhwat hanya tertunduk diam dan mengambil sandal yang ku sodorkan tadi. Aku pun meninggalkannya kembali ke Masjid karena tadi ku lihat ada sandal Jepit yang menganggur di sana, berharap aku bisa meminjamnya untuk mengurangi resiko kakiku terluka.

Setelah dari masjid aku langsung menuju ke atas bukit sambil memeriksa apakah ada barang para peserta yang tertinggal atau tidak. Sesampai aku di atas Bukit ternyata Sesi Taujih sudah dimulai, Ustadz Andi yang mengambil peran di sini. Di akhir Taujih Ustadz menyampaikan apresiasinya kepada semua peserta Rihlah.

“Alhamdulillah, Ana sangat mengapresiasi antunna sekalian. Ta’limat untuk mengikuti agenda ini baru disampaikan tadi malam, tanpa ada gambaran agenda seperti apa yang akan kalian ikuti. Ketsiqahan ini yang menakjubkan, inilah Tsiqah yang lahir dari iman yang kuat dan ukhuwah yang mapan. Semoga hal ini dapat terus kita jaga, agar dakwah yang kita usung tak terganggu dengan penyakit hati seperti Hasad (dengki) dan Su’udzan (buruk sangka) terhadap saudara seperjuangan dalam Dakwah. Insya Allah”

Taujih pun berakhir, selang beberapa lama masing-masing peserta melaksanakan shalat Dhuha dan menikmati panorama alam di atas bukit selanjutnya semua bersiap untuk menuruni bukit. Berharap dapat melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid di bawah bukit ini. Aku pun bertugas menyisir semua tempat yang digunakan para peserta, berharap tak ada barang yang tertinggal di sana apalagi hanya sekadar sampah.

Shalat Zhuhur pun selesai, satu persatu para peserta meninggalkan masjid. Aku pun celingukan, mencari sosok akhwat yang ku pinjami sandalku tadi. Salahnya aku tak sempat mengenali wajahnya ataupun sekadar menanyakan siapa namanya. Tiba-tiba ustadz Andi menghampiriku

“Affan ini titipan dari salah seorang Peserta” ustadz berujar sambil menyodorkan sandalku

“Pesan Beliau ucapan Syukran wa Jazakallah Khairan atas bantuannya” Ustadz berujar lagi sambil tersenyum

“Iya ustadz, alhamdulillah” jawabku

“Oiya syukran wa jazakallah khairan atas bantuannya hari ini ya, kami merasa sangat terbantu dengan adanya kamu Affan”

“Wa anta jazakallah khairan Ustadz”

“Yuk kita pulang sama-sama”

“Loh Ustadzah pulangnya bagaimana?”

“Oh ummi sudah pulang dengan salah satu akhwat tadi”

Waktu pun terus berjalan tepat sebulan setelah membantu acara Rihlah yang lalu, Ustadz Andi datang ke Kost tempat ku tinggal.

“Assalamu’alaikum Wr.Wb”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb”

“Apa kabar Affan? Setelah acara Rihlah kemarin kita belum pernah ketemuan yah”

“Alhamdulillah baik. Iya afwan Ustadz, sekarang Ana sedang memulai penelitian untuk Skripsi makanya belum sempat ke kantor maupun rumah Ustadz”

“Oh subhanallah, yah semoga lancar yah Penelitiannya. Bisa segera selesai skripsinya dan Wisuda terus berkarya untuk Umat dengan Ilmu yang ada”

“Aamiin ya Rabb, Syukran Ustadz”

“Oh iya, sampai lupa. Kedatangan Ana ke sini menyampaikan niat Istri Ana. Affan sibuk nggak nih?”

“Niat apa Ustadz? Biasa saja ustadz Ana tidak sibuk koq”

“Ini istri Ana ingin menjodohkan Mahasiswinya dengan kamu Affan, Bagaimana?”

“Siapa Ustadz? Perasaan Ana kenal banyak Akhwat di Fakultas tempat Ustadzah mengajar” Jawabku dengan ekspresi penasaran

“Ya sudah, Ana berikan waktu seminggu. Antum shalat Istikharah dan berpikir dulu! Kalau sudah ada keputusan kabari Ana yah!”

“Ehm….iya Ustadz”

“Semoga Antum diberi kemudahan yah. Ana pamit mau jemput Istri, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb ustadz”

Sosok Ustadz yang menjauh terus ku tatap lekat sambil berpikir apa yang ku harus ku lakukan dengan perasaan yang masih terkejut dengan kehadiran sang Ustadz tadi. Malam harinya pun ku coba menjalankan saran Ustadz Andi untuk Istikharah. Esok Paginya aku tak merasakan apa pun. Selanjutnya aku terus menjalankan shalat Istikharah selama seminggu, hasilnya aku pun mantap untuk memulai memasuki proses perjodohan ini.

Proses perkenalan ini pun berjalan, Akhwat itu bernama Shinta beliau telah ku kenal lama karena ia teman di Departemen Sosial di BEM Universitas kami. Alhamdulillah proses ini pun berjalan baik, kedua belah pihak keluarga pun tak keberatan serta mendukung dengan niat kami yang akan menikah.

Sebulan pun berlalu proses Ta’aruf dan Khitbah pun telah dilalui, keluargaku dan keluarga Shinta telah bersepakat bulan depan, tepatnya 1 Muharram kami akan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah semua persiapan berjalan lancar hingga di hari Istimewa itu. Ijab Qabul pun teruntaikan dengan khusyu’ dan syahdu. Tak pernah ku bayangkan ALLAH memanjakanku dengan nikmat-Nya yang tak bertepi semoga aku semakin taat dan tak terlena dengan indahnya dunia.

Di hari-hari bersama setelah pernikahan aku sebagai suami memiliki rutinitas baru yaitu mengantarkan istriku ke kampusnya. Semuanya kami nikmati walau tanpa bulan madu karena tak ada jadwal libur di kampus namun semuanya begitu indah. Bahagia itu sederhana, dengan Syukur dan taat semua semakin Indah.

“Dik kita jalan yuk hari sabtu ini? Yang dekat aja menjenguk Paman Hendri”

“Lumayan jauh mas harus menginap. Maaf gak bisa mas, kan tiap sabtu ada pengajian di Karang Taruna. Kalau mendadak begini kan susah cari pengganti yang menjadi nara sumbernya mas”

“Lalu Enaknya kita ke mana dong?”

“Kita Rihlah yuk mas yang dekat aja ke Taman Nasional. Naik bukit setelah subuh, nah agenda sorenya kan jadinya tidak terganggu”

“Oke, masak yang enak ya dik. Kita siap sarapan di sana dengan nikmati hangatnya mentari. Jadi gak sabar deh”

“Insya ALLAH mas, nanti malam saya siapkan semua perbekalannya yah”

Keesokan harinya kami telah siap untuk Rihlah berdua, pacaran sambil Tafakur alam ceritanya. Ibadah yang tak bertepi, tak mengenal tempat dan waktu serta rasa yang sedang menggelora di Dada. Aku pun teringat kisah Rihlah beberapa bulan yang lalu, tak jauh berbeda. Aku dan Shinta sampai di Masjid di dekat Simpang sebelum subuh, kami subuh berjamaah di sana. Setelah itu kami menyelesaikan kewajiban Tilawah Al-Qur’an dan Dzikir Al-Ma’tsurat. Selang tak berapa lama kami pun telah siap mendaki bukit tersebut. Perasaan Bahagia dengan kondisi saat ini, Takjub dengan keMaha Kuasaan ALLAH terhadap karunia dan semua penciptaan-Nya semakin membuat kami kerdil di hadapan-Nya. Sungguh tak ada yang dapat kami sombongkan. Perjalanan pendakian ini terasa semakin singkat, karena semua terasa indah.

Tak berapa lama kami pun sampai di atas bukit. Kami sengaja mencari posisi yang enak untuk menikmati keindahan penciptaan ALLAH ini. Aku pun menggelar tikar agar kami bisa sedikit beristirahat.

“Subhanallah betapa bahagianya menikmati ini semua, alam dan istri yang cantik. Sungguh nikmat-MU tak ada yang terbantahkan ya Rabb”

“Ah mas gombal nih” Shinta pun tersipu dan menyubit lembut tanganku

“Ini pernyataan dari Lubuk hati yang paling dalam loh” jawabku meyakinkan

“Alhamdulillah kalau begitu” Shinta tersenyum begitu manis

“Mas mau makan sekarang?” Shinta menawarkan sarapan

“Minum saja dulu dik, makannya nanti saja”

Shinta pun membawakan aku minum, dia duduk persis di sampingku

“Mas kalau aku pake ini bagaimana?” Shinta bertanya sambil mengeluarkan sesuatu dalam tasnya

“Hah??? Sepatu girly itu??? Koq ada di kamu dik?”

“Iya ini kan sepatuku. Sengaja ku bawa untuk mengingatkan kejadian Rihlah kemarin, terbayang saat itu enak mungkin punya suami yang perhatian. Alhamdulillah selang 2 bulan Allah ijabah doaku dengan menjadikan mas sebagai suami dan pahlawan hidupku” Shinta tersenyum

“Tunggu dulu…Jangan-jangan adik juga yang memakai sepatu ini ke Mushalla dulu saat rapat Aksi hari Pahlawan?? Lalu kenapa adik pakai sepatu ini saat Rihlah??” aku masih penasaran

“Loh koq mas tau aku pakai sepatu ini pas rapat kemarin??? Iya mas, Rihlah kemarin ta’limatnya begitu mendadak. Padahal hari sebelumnya setelah kuliah pulangnya kemalaman jadi aku menginap di rumah Hesty. Lalu ada Ta’limat begitu, daripada terlambat ya sudah aku pakai apa yang ada mas untuk kegiatan Rihlah itu, yah begitulah” Shinta mencoba menjelaskan

Aku pun terdiam melihat jauh ke depan. Terlihat dengan jelas awan putih berarakan bergerak pelan menjadi hiasan langit yang indah di pagi itu. Tak lama aku pun mengambil HP dari dalam sakuku, aku mencari satu nomor kontak. Aku pun mulai menelpon. Sengaja ku aktifkan Loudspeakernya

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Subhanallah pengantin baru apa kabar? Tumben Antum menelpon Ana? Gak lagi galau kan?” Reza bertanya dengan gurauan

“Ana khair alhamdulillah. Ehm…Ana baru dapat Surprise dari istri nih Reza”

“Wah apaan tuh??? Bocorannya dong??”

“Hal yang tak Lazim atau apa yah kemarin Kontroversi kefaktualan kalau gak salah aku menyebutnya. Ternyata itu milik Bidadariku”

“Hah?? Apa? Subhanallah….wakakakaka” Reza puas menertawai kebodohan masa laluku

Shinta terlihat keheranan dengan percakapanku dengan Reza di telepon, dengan setia dia menunggu penjelasanku tanpa memintanya.

“Puas ya syekh, tunggu pembalasanku. Sudah dulu aku mau lanjut pacaran dulu. Assalamu’alaikum”

“Wahahahaha…wa’alaikumussalam wr.wb”

Setelah itu aku pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Shinta pun tertawa dan kami pun terus bercerita kisah-kisah lalu yang membahagiakan. Semoga ini terus terjaga, rasa untuk selalu ingin membahagiakan di antara kami. Bermula dari kisah Sepatu Cantik, ku Temukan berbagai macam pelajaran yang begitu bernilai. Terima kasih ya Rabb, Alhamdulillah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muslimah yang ingin terus memperbaiki diri.

Lihat Juga

Ilustrasi. (sepatubordir0.wordpress.com)

Sepasang Sepatu Biru

Organization