Home / Berita / Nasional / PKPU Meluncurkan Buku Pembelajaran Kearifan Lokal Praktek PRB di Indonesia

PKPU Meluncurkan Buku Pembelajaran Kearifan Lokal Praktek PRB di Indonesia

20131007_092933dakwatuna.com – Jakarta. Indonesia merupakan negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia (UN-ISDR, Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Resiko Bencana) karena Indonesia memiliki ranking pertama dalam ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Berdasarkan data UN-ISDR, dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir terdapat lebih dari enam ribu kejadian bencana di tanah air. Bencana yang ada di Indonesia tidak dapat dihindarkan, namun dampak dan kerugiannya dapat diminimalisir melalui strategi mitigasi dan adaptasi penanggulangan bencana.

Paradigma penanggulangan bencana telah mengalami pergeseran dari yang semula berorientasi penanganan ketika kejadian bencana yang bersifat kedaruratan dan pemulihan, menjadi penanggulangan sejak dini melalui upaya integrasi pengurangan resiko bencana (PRB).  Hal ini ditandai di Indonesia dengan lahirnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana yang menempatkan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam penanggulangan bencana terutama melalui upaya PRB.

Untuk mengedukasi dan sosialisasi kearifan lokal praktek PRB yang baik di Indonesia, PKPU meluncurkan buku “Alam Takambang Jadi Guru: Merajut Kearifan Lokal dalam Penanggulangan Bencana di Sumatera” pada rangkaian puncak Peringatan Bulan PRB di Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2013 bertempat di Aula Perpustakaan Universitas Mataram, NTB. Buku ini akan diresmikan secara langsung oleh Dody Ruswandi, Deputi 1 BNPB Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dan dihadiri oleh perwakilan dari UNDP, Islamic Relief Indonesia (IRI), Platform Nasional (Planas) PRB, perwakilan BPBD seluruh Indonesia, lembaga donor (sektor privat), akademisi, dan perwakilan Forum PRB Daerah seluruh Indonesia.

Buku praktek PRB ini merupakan refleksi pengalaman PKPU mendampingi komunitas dan sekolah di tiga daerah rawan bencana di wilayah Sumatera, yaitu di Kota Bengkulu, Kabupaten Solok (Provinsi Sumatera Barat), dan Kabupaten Aceh Besar (Provinsi NAD), sebagaimana siaran pers yang disampaikan oleh Tomy Hendrajati, Deputi Humas dan Sumber daya PKPU. Pada periode 2009 sampai 2011, PKPU mendapat kepercayaaan dari UNDP untuk menjalankan dua pilot project Safer Communities-Disaster Risk Reduction (SCDRR) di Kota Bengkulu dan Kabupaten Solok. Setahun kemudian, komunitas sekolah di Provinsi NAD menjadi binaan PKPU melalui program School Based Disaster Risk Reduction (SBDRR) kerjasama dengan Islamic Relief Indonesia (IRI).

Hal menarik dari buku ini adalah upaya memahami bencana dari sisi kapasitas manusia, ujar Victor Rembeth, Manajer Disaster Resource Partnership (DRP) pada salah satu bagian refleksi isi buku. Dari awal semangat yang diangkat dalam kisah pelaksanaan program yang dilakukan adalah komunitas masih dan akan memiliki kapasitas untuk dapat menghadapi bencana. Satu hal yang tersirat dalam buku ini adalah, bukan sekedar “exit strategy”  yang dilakukan setelah program berakhir, tetapi lebih kepada “sustainability strategy” yang membuat masyarakat memiliki, melanjutkan dan kemudian  mengembangkan kapasitasnya dalam konteks kerentanan dan bahaya yang dimilikinya, tandas Victor.  (pkpu/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

HAI UEA – PKPU Berikan Layanan Kesehatan Gratis di Kampung Sindang Asih Bogor