Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Buah Cinta dan Pengurbanan Sang Khalilullah

Buah Cinta dan Pengurbanan Sang Khalilullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Kesungguhannya berbalas perwujudan keinginan dari Rabb semesta alam ini atas prestasi ketakwaan sebagai seorang nabi. Anak yang ia cintai dan ia tunggu bertahun-tahun lamanya akhirnya menjadi miliknya seutuhnya. Ia bahagia dan putranya pun merasakan hal serupa. Anaknya tak jadi ia sembelih sebagaimana perintah Tuhan dalam mimpinya. Seperti sediakala, sehat nan rupawan tanpa kekurangan sedikit pun. Bahkan tak hanya itu, kebahagiaannya pun masih Allah SWT tambah lagi dengan kedatangan malaikat sebagai pembawa wasilah pengganti putranya berupa seekor hewan ternak domba yang sangat gemuk. Ia tergantikan dengan yang lebih baik dan ritual penggantian itupun menjadi ritual pengurbanan hewan qurban Idul Adha yang diadakan tiap tahun bagi umat ini. ‘Ala kulli haal seperti itulah kali pertama ibadah qurban terjadi dan menjadi pola dasar penyembelihan hewan yang dibawakan oleh sang khalilllah, Ibrahim ‘alaihissalam.

Kisah kesungguhan ini telah turun temurun menjadi runtutan kisah dunia seribu satu malam yang tiada terputus. Bahkan Al-Quran pun menyejarahnya sebagai bagian dari pengangkatan derajat pada ayat dan nama surat khusus bagi nabi yang satu ini. Kisah yang mengharu biru, yang kilau cahaya keimanannya sungguh pesona rasa yang tiada tara jika kita mau merenunginya dalam-dalam. Indah, kuat dan kental nuansa ketakwaan.

Ibrahim, kita mengenalnya dalam banyak kisah. Saat ia sebagai seorang perenung yang mencoba memahami dan mencari tahu tentang pencipta alam raya ini, saat ia sebagai putra Azar sang pemilik berhala dan penghancur dari pemilik yang sama, saat menjadi penerima mukjizat sebagai orang yang tak lekang dimakan api dan saat ia diuji oleh Allah SWT dengan ujian keluarga. Dan kisah yang terberat dari semua itu, Allah memerintahkannya untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri, Isma’il ‘alaihissalam.

Ujian terberat tersebut sangat sulit bagi manusia biasa sulit untuk dilewatinya, atau bahkan mustahil. Tapi itu semua tidak berlaku bagi Ibrahim. Ia kuat dan tegar, tak patah arang meski setan menggodanya. Dengan kualitas ketakwaan dan kecintaan kepada Rabb-nyalah yang membuat ia rela melakukan sesuatu di luar batas normal sebagai manusia biasa.

Sebagaimana kita ketahui setelah lama tak memperoleh keturunan, akhirnya dengan skenario Allah yang Maha Canggih Ibrahim mendapatkan keturunan dari istrinya Hajar. Hajar melahirkan Ismail dan sungguh bahagialah Ibrahim melihat bayi dari keturunannya sendiri yang ia nantikan sangat lama. Kebahagiaan yang tak tertera. Kelengkapan keluarga yang bisa membuatnya bangga karena kelak akan disandingkan dengan sebutan ayah. Namun sayang, tak lama ia bisa merasakan senyum imut dari sang bayi Ismail.

Allah SWT memerintahkannya melepas mereka berdua jauh dari tempat ia singgah. Tepatnya di padang tandus yang tiada berpenghuni lagi hanya terisi oleh suara angin dan pasir gurun yang kering. Hanya mereka berdua. Seorang wanita dengan bayinya yang masih kecil. Beratkah ia? Menyesalkah ia? Marahkah Hajar? Peristiwa ini menjadi bukti cinta bagi keluarga sang khalilullah. Mereka semua mencoba ikhlas. Jauh saat hati ingin mendekat, dan sulit saat kenikmatan begitu jelas terasa di hadapan.

Dan begitu Maha Sayangnya Allah ‘Azza wa Jalla, terutama pada keluarga Ibrahim. Allah SWT tidak pernah diam menyaksikan ketaatan hamba-hamba-Nya yang pasrah totalitas kepada-Nya. Bahkan ia telah mengatur takdir yang lebih indah dari yang tidak pernah terlintaskan. Hingga seiring waktu yang terus berjalan, Hajar dan anaknya dapat tumbuh dari tempat yang manusia pun mungkin enggan menempatinya. Peradaban barupun tumbuh dan bermula dari tempat yang tandus, kering dan tak berpenghuni tersebut.

Hingga di suatu waktu di saat masa yang bahagia terasakan sesaat saja kala tatapan dan pelukan hangat antara anak, ayah dan ibunya terjadi usai perpisahan yang cukup lama itu, ujian barupun menimpa Ibrahim ‘alaihissalam. Allah SWT mengujinya dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya melalui mimpi yang benar.

Ibrahim, sebagaimana yang kita ketahui ia hanyalah manusia biasa seperti nabi Muhammad SAW. Ia memiliki rasa cinta, rasa sayang yang tinggi dan keinginan untuk berkumpul dengan keluarganya layaknya keluarga lain di atas muka bumi saat itu. Namun perintah Allah berkata lain. Ibrahim ditugaskan untuk mengurbankan sesuatu yang paling ia cintai, paling ia sayangi dan paling ia dambakan dalam hidupnya.

Perintah ini merupakan perintah yang tidak biasa. Namun ia tak gentar. Meski mungkin saja ada rasa berat dalam hati manakala titah itu ia laksanakan. Tapi ketaatan pada Rabb-nya mengalahkan sisi lemah manusianya. Sekarang bagaimana dengan Isma’il? Apakah ia gentar menghadapi pisau tajam dari tangan sang ayah? Tak kalah luar biasanya dengan Ibrahim. Putra shalih didikan ibunda hajar ini pun ikhlas dan tabah mengikuti pesan sang Khaliq yang disampaikan melalui mimpi agar ia dikurbankan melalui tangan ayahnya sendiri.

Keikhlasan, ketabahan dan ketaatan keduanya yang luar biasa nampak sejak mereka bertemu, di akhir episode takdir ujian anak dan ayah ini diganjar Allah SWT dengan ritualitas Idul Adha. Ibadah yang kemudian menjadi salah satu ikon pengorbanan terbaik sejak seribu tahun lebih bagi umat Islam ini. Ibadah yang senantiasa dipautkan pada kisah ketakwaan, ketaatan dan kesabaran keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.

Pasca peristiwa tersebut, Ibrahim, Isma’il dan Hajar dapat berkumpul kembali dalam dekapan kehangatan rumah tangga sakinah, mawadah warahmah dan kelezatan ukhrawi berupa manisnya iman yang berasal dari ketaatan pada Allah SWT. Cinta yang bersemai dalam balutan ukhuwah keluarga besar bertitelkan anbiya dan pewaris muka bumi ini sebagai khalifatullah. Hingga shalawat pun dicurahkan pada nabi yang satu ini selepas shalawat yang disampaikan kepada nabi Muhammad SAW di akhir shalat.

Kehangatan buah cinta yang berasal dari ritualitas qurban atas dasar keikhlasan. Hangat, akrab dan menenangkan. Allah SWT berikan itu semua pada Ibrahim. Tak hanya Ibrahim yang akan mendapatkannya, Allah SWT pun akan memberikan hal serupa pada hamba-hamba-Nya yang Ikhlas berkurban di hari raya Idul Adha karena harapkan cinta, keridhaan dan ampunan dari Dzat Ar-Rahman. Hadiah istimewa yang hanya akan dirasakan dalam hati orang-orang yang beriman. Jauh dalam sanubarinya berupa hidayah dan keistiqamahan yang terus dijaga bersama genggaman-Nya yang Maha Agung. Takdir terindah yang diukirkan seiring catatan amal baik yang terus meningkat. Dan jika hal tersebut terjadi pada diri kita, Fabiayyialaairobbkimua tukadziban. Nikmat Tuhan yang manakah lagi yang akan engkau dustakan?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Azies Rachman, S.E.I
Seorang hamba Allah yang sangat ingin menginjakan kaki di syurga tertinggi. S2 Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) DDII-BAZNAS. Sharia Financial Planner.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang