Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Semua Orang Mendapat Hidayah

Semua Orang Mendapat Hidayah

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com. Banyak orang mempunyai keinginan dan niat untuk berbuat kebaikan, misalnya melaksanakan ibadah haji, atau mulai memakai busana muslimah, tapi menunda-nunda dalam melaksanakannya. Alasan mereka adalah karena belum mendapat hidayah. Apakah benar mereka menunggu-nunggu hidayah, atau sedang terjebak dalam perangkap setan? Dari sinilah kita yakin bahwa memahami makna sebuah istilah Arab, apalagi Al-Qur’an, dengan benar sangatlah penting. Berpengaruh besar dalam benar-salahnya sikap dan perbuatan kita.

Petunjuk

Dalam Al-Qur’an, hidayah bisa bermakna petunjuk yang diberikan Allah swt. dengan cara mengutus para rasul dengan kitab-kitab suci. Hidayah ini bersifat penjelasan, sehingga orang yang mendapatkan hidayah ini bisa mengetahui dan membedakan antara kebaikan dan keburukan; apa yang bermanfaat baginya dan apa yang membahayakannya; jalan menuju surga dan jalan menuju neraka. Hidayah ini terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah; diberikan oleh para nabi dan para da’i.

Semua orang yang sudah mengetahui dan meyakini bahwa ibadah haji adalah wajib, harus segera melaksanakannya. Dengan begitu, dia telah menyambut hidayah. Kalau menunda-nunda atau bahkan tidak melaksanakannya, dia telah menolak hidayah. Ibarat orang itu adalah seperti seorang dokter yang senang merokok; mengetahui bahwa merokok berbahaya bagi kesehatannya, tapi tetap mengkonsumsinya. Seperti orang yang dengan sengaja menjerumuskan dirinya ke dalam neraka.

Disebutkan, jika seseorang mendapatkan hidayah tapi tidak segera menyambut, Allah swt. akan mengunci hatinya sehingga tidak bisa beriman sama sekali. “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu, sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.” [Muhammad: 16].

Oleh karena itu Rasulullah saw. juga bersabda tentang orang yang menunda-nunda dalam menyambut hidayah, “Orang yang memiliki perbekalan dan tunggangan yang bisa membawanya ke Baitullah, tapi tidak segera melaksanakan haji, maka tidak mengapa baginya untuk mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani.” [HR. Tirmidzi].

Perginya hidayah itu sangatlah mudah, sehingga Rasulullah saw. pun memperingatkan “Segeralah beramal, sebelum tiba ujian yang membuat semuanya gelap. Dalam kondisi itu, seorang yang di pagi harinya muslim, berubah kafir di sore harinya. Atau di sore harinya muslim, berubah kafir di pagi harinya…” [HR. Muslim].

Sebaliknya, jika dia menyambut hidayah tersebut, Allah swt. akan terus menambah hidayah, keinginan dan semangat untuk berbuat kebaikan. “Dan orang-orang yang menyambut hidayah, Allah akan menambah hidayah kepada mereka, dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” [Muhammad: 17].

Bimbingan

Selain berupa petunjuk, hidayah bisa juga bermakna bimbingan Allah swt. yang membuat seseorang mempunyai keinginan dan dorongan untuk beriman dan melaksanakan kebaikan. Hidayah ini adalah hadiah dari Allah swt. untuk siapapun yang dikehendaki-Nya. Kehendak Allah swt. ini bersifat bebas dan tidak berketentuan. Anak dan isteri seorang nabi bisa menjadi kafir; anak seorang kafir bisa menjadi pejuang dakwah. Oleh karena itu, bimbingan ini adalah rahasia Allah swt. yang tidak diketahui dan diatur oleh siapapun.

Tanpa kehendak Allah swt., seseorang tidak akan mendapatkan bimbingan hidayah ini. Bahkan seorang nabi pun tidak bisa mengusahakannya. Ketika Rasulullah saw. begitu ingin Abu Thalib masuk Islam, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat mengislamkan orang yang kamu kasihi, tetapi Allah-lah yang mengislamkan orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang pantas menerima hidayah.” [Al-Qashash: 56].

Tanpa kehendak kehendak Allah swt., sekuat dan sebesar apapun ajakan untuk berbuat kebaikan, seseorang tidak akan melaksanakannya. Allah swt. berfirman, “Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [Al-An’am: 111].

Mereka tidak akan berbuat kebaikan, walaupun yang mengajak mereka adalah para malaikat; walaupun mereka dinasihati orang tua mereka yang telah mati dan sengaja dibangkitkan dari kubur mereka; walaupun mereka mendapatkan segala bukti mereka minta.

Dari kenyataan ini, masalah hidayah bukanlah masalah sederhana. Sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun. Allah swt. membuka kesempatan yang sama kepada semua orang untuk mengetahui petunjuk jalan yang benar. Beruntunglah orang yang segera menyambut hidayah itu; merugilah orang yang menundanya hingga kesempatan itu pun tertutup baginya. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi. (wallpaperscraft.com)

Khutbah Idul Fitri 1436 H: Mensyukuri Hidayah

Organization