Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Merindukan Baitullah dengan Proporsional

Merindukan Baitullah dengan Proporsional

Baitullah di Makkah (inet)
Baitullah di Makkah (inet)

dakwatuna.com. Di musim haji, kota Makkah penuh sesak dengan para jamaah. Oleh karena itu, kota ini memiliki nama lain, yaitu Bakkah yang bermakna penuh sesak. Kenapa bisa demikian? Kenapa umat Islam bisa demikian merindukan Baitullah yang berada di Makkah atau Bakkah?

Sebab Merindukan Baitullah

Maha Suci Allah swt. yang telah membuat orang merindukan Baitullah; dan membuat setiap orang yang telah mengunjunginya tidak pernah merasa kecewa dan bosan untuk mengunjunginya lagi di lain waktu.

Allah swt. berfirman:

 وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” [Al-Hajj: 27].

Seruan yang disebutkan dalam ayat di atas sama artinya dengan seruan adzan untuk shalat. Dalam sebuah hadits qudsy disebutkan bahwa Allah swt. berfirman kepada nabi Ibrahim as., “Serukanlah, Aku yang akan menyampaikan seruanmu kepada seluruh manusia.” Bedanya, seruan ini adalah  mukjizat, karena benar-benar sampai kepada setiap manusia, baik yang sudah diciptakan ataupun belum. Di setiap zaman. Buktinya, hingga saat ini setiap muslim masih sangat merindukan Ka’bah, dan berusaha sekuat tenaga untuk mendatanginya. Itu karena mereka mendengar seruan tersebut, dan menjawab, “Labbaika Allahumma Labbaika.”

Hal tersebut senada dengan yang disebutkan dalam ayat:

 فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka” [Ibrahim: 37].

Sungguh mukjizat yang telah dijanjikan Allah swt. dalam hadits qudsi di atas bisa kita rasakan kebenarannya saat ini. Adzannya dikumandangkan berabad-abad yang silam, dengan suara manusia yang sangat terbatas jarak tembusnya, tapi sampai saat ini orang masih terus berlomba-lomba dan berjuang untuk berangkat haji ke tanah suci. Kalau demikian, apakah kita masih tidak percaya dengan janji-janji Allah swt.? Kalau Allah swt sudah berjanji, kita harus meyakini bahwa janji itu pasti akan terwujud, walaupun hanya diusahakan dengan hal yang sangat kecil.

Dalam ayat di atas disebutkan kata “يَأْتُوكَ رِجَالًا”; “mereka akan datang dengan berjalan kaki.” Kata rijal adalah jamak rajil, yaitu orang yang berjalan kaki. Demikian perjuangan seorang muslim untuk bisa mengunjungi Baitullah. Sejak dari dulu digambarkan bahwa sebagian mereka berjalan kaki, karena jarak mereka masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki walaupun memerlukan waktu yang sangat lama. Mereka berjalan kaki, juga karena tidak memiliki kendaraan dan perbekalan yang mencukupi, namun tidak mau menunggu-nunggu adanya kendaraan. Karena “kemampuan” yang disyaratkan dalam ibadah haji mereka maknakan juga dengan kemampuan berjalan kaki.

Lalu disebutkan juga kata “وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”; “dengan mengendarai (unta) yang kurus.” Ayat ini menunjukkan orang yang melaksanakan haji itu berasal dari negeri yang sangat jauh. Saking jauhnya, unta yang mereka kendarai menjadi sangat kurus.

Demikianlah setiap orang yang mencintai Allah swt. pasti akan mencintai rumahnya. Mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk dapat mencapainya. Tidak menunggu-nunggu waktu. Selagi bisa berjalan dan memungkinkan, mereka pun pergi dengan berjalan. Kalau negerinya sangat jauh, mereka pun menunggang unta seadanya.

Bagaimana Rindu yang Proporsional?

Dalam pembahasan kerinduan pada Baitullah, tepat kiranya membahas sebuah fenomena yang sekarang terjadi, yaitu mengulang-ulang ibadah haji, atau haji sunnah. Berikut ringkasan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi tentang hal ini dalam buku Fiqih Prioritas:

“Di musim haji, masih banyak umat Islam kaya yang selalu ingin menikmati musim haji. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang juga melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Mereka demikian mudah mengeluarkan harta demi menikmati suasana ruhaniah musim haji dan Ramadhan. Kadang-kadang mereka juga mengajak beberapa orang fakir untuk melaksanakan ibadah haji dengan tanggungan mereka, padahal orang-orang itu tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakannya.

Namun mereka demikian berat mengeluarkan dana ketika diminta turut menyumbang untuk perjuangan Palestina melawan Yahudi, menghadapi gelombang kristenisasi di Indonesia atau Bangladesh, mendirikan Islamic Center, menyiapkan kader yang spesialis dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk dakwah, atau untuk menerbitkan buku yang sangat bermanfaat untuk umat Islam.

 

Padahal dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa amal-amal yang bernilai jihad lebih tinggi kedudukannya daripada amal-amal yang bernilai haji. Allah swt. berfirman:

 أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ. الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ. يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ.

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang lalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” [At-Taubah: 19-21].

Di sisi lain, ibadah haji yang mereka lakukan hukumnya adalah sunnah, sedangkan jihad melawan sekularisme, dekadensi moral, dan semua permasalahan umat Islam, hukumnya adalah wajib. Bahkan seorang penulis terkenal dari Mesir, Fahmi Huwaidi, mengatakan bahwa menyelamatkan Bosnia Herzegovina lebih wajib dari ibadah haji. Pendapat ini benar adanya. Karena kewajiban yang mendesak segera dilaksanakan lebih utama didahulukan daripada kewajiban yang masih bisa ditunda.

Menurut data, dari seluruh jamaah haji yang ada, hanya 15% saja yang melaksanakan ibadah haji wajib. Selebihnya melaksanakan ibadah haji sunnah. Demikian juga yang melaksanakan ibadah umrah di sepanjang tahun, terutama di bulan Ramadhan. Seandainya saja mereka mau berpikir dan merelakan ibadah haji sunnah mereka demi menolong saudara-saudara mereka yang sangat membutuhkan, tentu akan sangat bermanfaat. Banyak sekali umat Islam yang terangkat dari garis kemiskinan, banyak madrasah yang akan didirikan, dan sebagainya.

Aku mengenal beberapa orang kaya di Mesir dan Qatar. Ada beberapa di antara mereka yang setiap tahun melaksanakan ibadah haji sejak 40 tahun yang silam. Tidak sendirian berangkat, mereka juga mengajak sanak-saudara, kolega bisnis, dan sebagainya. Kadang jumlah rombongan mereka mencapai 100 orang. Suatu ketika saat pulang kunjungan dari Indonesia melihat begitu besar tantangan kristenisasi, aku bertemu dengan mereka. kukatakan, “Bagaimana kalau kalian berniat tahun depan tidak pergi haji? Ongkos haji masing-masing kalian kalau dikumpulkan bisa untuk membangun sebuah proyek Islami yang cukup besar.”

Seorang dari mereka menjawab, “Kalau sudah datang bulan Dhulhijjah, kami benar-benar merasakan kerinduan yang tidak bisa ditahan untuk melaksanakan ibadah haji. Ruh-ruh kami seakan melayang-layang di sana. Kami benar-benar merasa bahagia dapat turut menikmati wuquf di Arafah bersama jamaah yang lain.”

Seandainya pemahaman mereka benar, iman mereka kuat, dan mereka memahami fiqih prioritas, tentu mereka akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar ketika berhasil mendirikan proyek Islami untuk menyantuni anak yatim, memberi tempat tinggal bagi para pengungsi, mendidik orang-orang yang putus sekolah, atau memberikan lapangan pekerjaan untuk para pengangguran.” (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • okabasi doma

    MENTAL dan ambisi umat Islam masa klasik ( masa kenabian Rasulallah SAW) berbeda jauh bila disandingkan umat Islam masa kini(sekarang abd 21). Umat Islam masa klasik MALU untuk mengemis kalau tidak terpaksa samasekali, dalam artian mereka bukan umat yg malas, ustru umat yg siap bekerja keras, walau yg didapatkan hanya Ilmu (immateriel) bukan dalam bentuk harta riel(uang).
    Umat yg berharta waktu itu, tidak segan-segan memberikan sebagian bahkan seluruhnya untuk menolong saudaranya yg nasibnya miskin/melarat, namun iman dan ilmu agamanya hebat. Saat itu yg kaya maupun yg miskin/melarat sama-sama memahami dan menghayati apa tujuan hidupnya setelah memeluk Islam, sama sama senasib, terentas dari kekafiran yg akut, untuk berpindah / hijrah KE IMANAN yg tulus dan murni dan bersih serta seteril dari kemusrikan(tauhid murni), dibawah asuhan dan bimbingan serta KEPEMIMPINAN Rasulallah SAW. yg integritasnya, dedikasinya, pengabdiannya terhadap keselamatan NASIB umatnya kelak, tidak diragukan lagi. Sehingga masa itu. boleh disebut masa keeamasan Umat Islam.
    yg dibuktikan dengan adanya 10 sahabat Rasulaalh SAW, yg diberitakan kabar gembira : bagi mereka SURGA.
    Berbeda jauh (bagaikan Timur dan Barat) umat Islam masakini(abad 21) dan terus kedepan> Umat Islam masa kini sudah tercabik cabik, tercerai berai baik fisiknya maupun mentalnya terutama Iman yg teguhmemegang manhaj Islam (Allah dan Rasul.Nya).
    Salah satu sebab ini semua adalah, rakusnya dan hausnya yg tidak mengenal jeda terhadap HARTA DUNIA, KEKUASAAN dan akirnya merembet ke sek/zina/minum air keras/judi/suap menyuap/licik/gemar dusta/saksi dusta dan sedert lainnya dan sebagai pelengkapnya adalah gempuran dari pihak musuh Islam yg senantiasa –tidak mengenal jeda– menghancurkan kekuatan Umat baik fifiknya,imannya, sekaligus merampas seluruhnya harta umat Islam.

    Kembali ke Umat yg gemar berhaji dan berumrah berkali-kali, saya merasakan atau kalau diijinkan menilai, merupakan umat yg kadaannya sedang SUNTUK, jenuh, gerah, muak melihat keadaan umat Islamasam kini– untuk bagaimana MENEGAKAN EKSISTENSI iSLAM.
    Sehingga, salah satu jalan harus ditempuh untuk menentramkan hatinya, jiwanya, fisiknya,
    hanya dengan mengunjungi baitullah(ka”bah/masjidil haram) dan Mesijid Nabawi, sekaligus mengunjungi makam Rasulallah SAW.

    Umat Islam masa kini, sudah berkurang kekeuatannya atau malahan habis kekeuatannya untuk menolong sesama umat yg sedang terimpa peperangan, kekeurangan pangan, ditindas sewenang-wenang oleh musuh Islam, dan lain sebagainya, sebab masing-masing umat yg berada diwilayah nya sendiri yg terserak dimuka bumi, mengalami hal sama.

    Sebenarnya umat Islam itu tidak kikir, asal kondisinya harus seimbang, paling tidak hampir menyamai masa kenabian Rasulallah SAW, tetapi sekarang apabila kita menoleh ke keadaan umat Islam di halaman sini (Indonesia), semua menunjukan facta yg jelas, umat Islam disini sudah saling berkelahi, saling bunuh membunuh, saling merusak, yg miskin imannya semakin rusak–akibat tiadanya ilmu yg dimilikinya– Kejujuran sudah menjadi fosil–zakad diselewengkan penggunaannya., dan lain sebagainya.

    Perjalanan Islam meninggalkan manusia dibumi sudah semakin jauh, terus menjauh, yg nantinya Islam akan kembali ASING yg awal datangnya juga ASING, dan klimaksnya
    kalimat tasbih, akan merupakan kalimat yg amat asing/aneh bagi pendengaran manusia yg akan datang, seperti halnya anda melihat gerobak pedati memasang roda kayu bulat.
    melintas dijalanan yg sarat mobil modern.

Lihat Juga

Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rajiun, Penghias Rumah Allah Meninggal Dunia