19:17 - Kamis, 30 Oktober 2014

Muhammadiyah Juga Tetapkan Idul Adha 1434 H Jatuh Pada 15 Oktober 2013

Rubrik: Nasional | Kontributor: dakwatuna.com - 05/10/13 | 22:55 | 00 Dhul-Hijjah 1434 H

Ketua PP Muhammadiyah Yunahas Ilyas. (muhammadiyah.or.id)

Ketua PP Muhammadiyah Yunahas Ilyas. (muhammadiyah.or.id)

dakwatuna.com – PP Muhammadiyah menyatakan jika tanggal 1 Dzulhijjah bertepatan dengan 6 Oktober 2013. Hal ini didasarkan atas perhitungan hisab hakiki wujudul hilal yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada 13 Mei 2013.

Berdasarkan siaran pers PP Muhammadiyah, ijtimak jelang Zulhijah 1434 H terjadi pada hari Sabtu 5 Oktober 2013 pukul 07:36:13 WIB, sebagaimana dilansir Republika.

“Diputuskan, 1 Dzulhijah 1434 H jatuh pada Ahad 6 Oktober 2013 M dan 9 Dzulhijah 1434 H (Hari Arafah) jatuh pada Senin 14 Oktober 2013 M. Dengan begitu maka 10 Dzulhijah 1434 H (Idul Adha) jatuh pada Selasa 15 Oktober 2013 M,” ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahas Ilyas.

PP Muhammadiyah pun telah mensosialisasikannya ke wilayah, cabang dan ranting di seluruh Indonesia. PP Muhammadiyah menyerukan agar masyarakat meningkatkan ibadah dan silaturahmi antar-umat.

Pemerintah juga telah resmi menetapkan Hari Raya Idul Adha pada 15 Oktober. Artinya, tak ada perbedaan hari raya kurban antara Muhammadiyah dan pemerintah.

Kementerian Agama menetapkan awal Zulhijah 1434 H jatuh pada hari Minggu, 6 Oktober 2013 dan puncak pelaksanaan ibadah haji, yaitu wukuf pada 14 Oktober dan Idul Adha jatuh pada 15 Oktober 2013.

Seperti dikutip dari Antara, penetapan awal Zulhijah 1434 H tersebut diambil melalui sidang isbat di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin Jakarta, Sabtu petang, Pada rapat terebut hadir perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dari seluruh Indonesia.

Sidang isbat adalah sidang penetapan dalil syar’i di hadapan majelis untuk menetapkan suatu kebenaran atau peristiwa yang terjadi. Sidang isbat itu sendiri dipimpin Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil dan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Tengku Zulkarnain.

Sebelum sidang digelar, seperti juga pada sidang isbat awal Ramadhan dan 1 Syawal, dilakukan paparan mengenai posisi hilal dan matahari oleh Thomas Djamaluddin dari Planetarium Jakarta. Dari sisi astronomi, penjelasan Thomas tak ada yang menyangkal. Tetapi tatkala sidang hendak mengambil keputusan, muncul silang pendapat.

Memang pada sidang awal Zulhijah tersebut tak seramai penentuan awal Ramadhan atau 1 Syawal. Tetapi perhatian Ormas Islam terhadap persoalan ini tetap besar.

Sidang berlangsung sejak Pukul 16.30 WIb, dan usai shalat magrib dilanjutkan dengan pembahasan dan mendengarkan pendapat dari wakil- wakil ormas. Majelis sidang isbat akhirnya menyetujui keptusan yang ditetapkan Dirjen Bimas Islam. (Yulianingsih/Mansyur Faqih/ROL)

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 8,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
91 queries in 1,358 seconds.