Home / Berita / Nasional / PBNU: Akil Mochtar Harus Dihukum Berat, Tapi Bukan Dihukum Mati

PBNU: Akil Mochtar Harus Dihukum Berat, Tapi Bukan Dihukum Mati

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (prioritasnews.com)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (prioritasnews.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar oleh KPK merupakan pukulan berat bagi penegakan hukum di Indonesia. Reaksi keras terus bermunculan dari tokoh-tokoh politik, penegak hukum dan ulama.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak agar Akil Mochtar dijatuhi hukuman seberat-beratnya jika nanti pengadilan memutuskan Ketua Mahkamah Konstitusi itu terbukti bersalah menerima suap.

“Akil Mochtar harus dihukum seberat-beratnya,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis malam.

Menurut Said Aqil, Akil Mochtar harus dihukum lebih berat dari orang lain karena dia justru tokoh penegak hukum.

“Harus dihukum lebih berat dari orang biasa karena beliau itu bukan orang biasa. Beliau pentolan penegak hukum yang bertanggung jawab terhadap hukum di negeri ini,” katanya.

Dengan tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi dalam kasus dugaan suap, kata Said Aqil, maka semakin terbukti bahwa negara ini mengalami krisis keteladanan, krisis tokoh nasional yang bisa dijadikan panutan oleh rakyat.

“Kalau Ketua MK saja menerima suap, melanggar hukum, apalagi yang bukan Ketua MK. Kan begitu logikanya. Pasti akan menjadi contoh yang jelek,” katanya.

Said Aqil mengaku terperanjat dan sedih ketika mendengar Akil Mochtar tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumah dinasnya, Rabu (2/10) malam, dengan dugaan menerima suap terkait Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah yang ditangani Mahkamah Konstitusi.

“Kita malu, sedih, kecewa. Bangsa ini kehilangan kepercayaan di bidang hukum. Rakyat tidak percaya kepada penegak hukum, luar negeri menilai negeri ini penuh pelaku kriminal, baik korupsi maupun kejahatan yang lain,” katanya.

Meski demikian, Said Aqil tidak setuju jika Akil Mochtar dijatuhi hukuman mati. Mengacu pada hasil Munas NU di Cirebon tahun lalu, hukuman mati hanya layak diberikan kepada pelaku korupsi yang membangkrutkan negara, yang menimbulkan kerusakan negara.

“Kalau hanya merugikan negara maka dihukum sesuai aturan hukum yang ada, tapi hukumannya ditambah karena beliau justru penegak hukum,” katanya. (ant/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • hamdan

    Itulah agil pst kl yg korup dr partai islam pasti ocehan lebih keras

  • okabasi doma

    Seandainya orang yg namanya Akil Machmud dengan tindakan kejahatannya saat ini, dilakukan pada masa kenabian Rasulallah SAW, saya yakin hukuman yg diterimanya adalah dipenggal/dipancung lehernya, dan ini mengartikan pula seandainya sahabat Umar bin Khattab menemui orang seperti Aqil Siraj ini, dipastikan orang inipun pasti terpenggal lehernya.
    Orang Islam yg sejati akan berbahagia sekali manakala dihukum mati(penggal leher/rajam) karna kejahatannya:zina,korupsi/membunuh/dan lainnya yg semakna dan sederajat, sebab saat nyawa –yg masih dibadan yg masih waras– belum lepas dari tenggorokannya(jangan disamakan orang sekarat karena sakit), tobatnya dipastikan diterima oleh Tuhan yg maha pengasih dan maha pengampun. Model manusia seperti ini hanya dapat ditemui pada masa generasi pertama Islam lahir/masa kenabian Rasullah SAW.
    Hukuman mati itu suatu keniscayaan di Islam, wajib hukumnya, mengapa dijauhi/ditakuti?
    termasuk potong tangan siapa yg mencuri, potong kaki bersilang kalau mencuri lagi, hukum cambuk dan seterusnya, sebab hukum ini Tuhan-lah yg menurunkan ke bumi untuk dilaksanakan, bukan direkayasa menjadi ini dan itu.
    Indonesia ini negara termasuk bukan negara Islam, jadi dasar undang-undangnya –misalnya menghukum orang– tidak mengenal untuk mengacu/bersandar/bersumber hukum Tuhan, Tuhannya umat Islam, sehingga kalau ada orang seperti Kejahatan Akil Machmud , ternyata hukumannya tidak dihukum mati, maka itu hal biasa/tidak heran, karena undang-uandang dibuat oleh manusia, hanya –perlu dicatat — kelak siapa yg membuat undang undang ini yg menyimpang dari hukum Tuhan, pasti ada perhitungannya di hari akir nanti didepan ,mizan, INI PASTI.

Lihat Juga

Ilustrasi. (change.org)

SNH: Lamban Tangani Kasus Penistaan, Polisi Diujung Tanduk