Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Air Mata Pembersih Dosa

Air Mata Pembersih Dosa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Allah berfirman, yang artinya, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”. (Qs. Al-Maidah: 83)

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah berkhutbah kepada kami, sama sekali aku belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu sebelumnya. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika para sahabat bermajelis bersama Rasulullah mendengarkan wasiat-wasiat beliau, para sahabat merasakan seolah-olah seakan-akan bumi berhenti berputar. Seolah-olah hanya ada mereka bersama Rasulullah. Mereka melupakan harta dunia yang dimilikinya, melupakan anak dan istri di rumah. Hati mereka tertuju pada wasiat Rasulullah yang agung. Kata-kata dari lisan Rasulullah membasuh jiwa mereka sehingga jiwa mereka menjadi tenang.

Wasiat-wasiat Rasulullah tentang akhirat mampu mengucurkan air mata pada sahabat. Inilah kekuatan kalam Rasul. Seorang sahabat, Abu Najih Al ‘Irbad bin Sariyah berkata, “Rasulullah memberi kami wasiat yang membuat hati kami bergetar dan mata kami menangis.”

Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang mudah menangis karena takut kepada Allah. Begitu juga generasi setelah mereka. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari betapa kecil dan lemahnya diri mereka di hadapan Allah yang Maha Perkasa.

Ibnul Jauzi berkata,

  • “Wahai tawanan dunia, wahai budak nafsu, wahai sarang dosa, wahai wadah bencana, ingatlah apa yang telah kau perbuat dan takutlah kepada Tuhan!”
  • “Wahai saudaraku, sampai kapankah engkau menunda amal, larut dalam angan, terlena oleh kelapangan, dan lalai akan serangan ajal?”
  • “Wahai saudaraku, engkau telah menghabiskan usiamu dalam permainan. Orang lain berhasil meraih tujuan, sementara engkau malah semakin jauh. Orang lain bersungguh-sungguh, sementara engkau dalam lembah syahwat. Kapankah engkau akan sadar dan bertobat? Bilakah engkau keluar dari kubangan hawa nafsu dan kembali menuju Tuhan Yang Mahamulia dan Maha Terpuji?”
  • “Wahai saudaraku, cucilah noda dosa dengan linangan air mata.”

Ibnul Jauzi dikenal sebagai seorang ulama yang berpikir spontan, berperangai baik, dan selalu memberikan jawaban yang tepat setiap dihadapkan pada pertanyaan yang menyulitkan. Ibnul Jauzi adalah ahli nasihat. Kata-katanya lembut, menggugah semangat yang tertidur, mengingatkan hati yang lalai, dan mencairkan hati yang membatu. Ibnul Jauzi menyampaikan nasihat-nasihatnya dengan spontanitas.

Ia menyampaikan nasihat dengan diselingi sejumlah ayat Al-Quran sampai banyak orang yang mengucurkan air mata. Dalam benak mereka yang hadir dalam majelis Ibnul Jauzi, tersimpan kerinduan untuk selalu mendengarkan nasihat-nasihatnya. Karena dengan nasihatnya, banyak orang yang teringat akan dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah.

Dalam salah satu majelisnya Ibnul Jauzi melantunkan bait-bait syair mengenai rasa cinta kepada Allah yang sangat merasuk ke dalam jiwa, serta lembut nan indah. Bait-bait syair tersebut mampu menyalakan api cinta dalam hati. Di antara bait-bait syair itu adalah:

Di manakah hatiku yang dipenuhi gejolak cinta
Di manakah hatiku
Tiadalah ia akan sadar sesudahnya
Duhai Pemberi Harapan
Tambahkan daku rasa cinta
Dengan dzikir mereka kepada Allah
Maka aku akan menebusnya

Ia terus-menerus melantunkan bait-bait syairnya. Derai tangisan nyaris menutup pintu ucapan orang-orang yang hadir. Hingga akhirnya ia pun beranjak turun dari mimbar. Hati mereka yang hadir dipenuhi rasa takut kepada Allah. Mereka membakar jiwa mereka dengan air mata yang berderai.

Berikut ini adalah perkataan beberapa salafush shalih mengenai tangisan karena takut kepada Allah.

  • Ibnu Umar berkata, “Demi Allah, tangisanku dan tetesan air mata di kedua pipiku ini lebih aku sukai daripada aku bersedekah seribu dinar.”
  • Ka’ab Al-Ahbar berkata, “Tangisanku karena takut kepada Allah lebih aku cintai daripada aku bersedekah dengan emas seberat tubuhku.”
  • Ketika Muhammad bin Munkadir menangis, dia mengusapkan wajah dan janggutnya dengan air matanya, lalu berkata, “Aku mendengar bahwa api neraka tidak akan membakar tempat yang terbasuh oleh air mata.”
  • Wahb Al-Munabbih berkata, “Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang menangis karena Allah dan orang-orang yang bersabar akan diberikan tanpa perhitungan.”

Menangis karena takut kepada Allah adalah sifat dari hamba-hamba Allah yang bertakwa dari para Nabi dan orang-orang shalih, serta orang-orang yang mengikuti mereka. Menangis karena takut kepada Allah mempunyai banyak keutamaan. Beberapa keutamaan tersebut dijelaskan berdasarkan hadits-hadits berikut ini.

1. Mendapat naungan dari Allah
Dari Abu Hurairah, di berkata, Rasulullah bersabda, “Tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya.” Kemudian disebutkan salah satunya adalah, “… dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, lalu kedua matanya berlinangan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Selamat dari api neraka
Dari Abu Hurairah, di berkata, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke dalam kantong susunya. Dan debu (jihad) di jalan Allah tidak dapat berkumpul dengan asap jahanam.” (HR. Tirmidzi an An-Nasa’i)

3. Dicintai oleh Allah
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, Rasulullah bersabda, “Ada dua macam mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dalam peperangan di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

4. Selamat dari berbagai fitnah
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Ya Rasulullah, apakah kedamaian itu?” Rasulullah menjawab, “Tahanlah lisanmu, jadikan rumahmu nyaman (untuk beribadah) dan menangislah atas kesalahanmu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

5. Bahagia dunia dan akhirat
Dari Tsauban, bahwa Rasulullah bersabda, “Berbahagialah siapa pun yang dapat menguasai lisannya, yang rumahnya terasa luas baginya, dan dapat menangis atas kesalahan yang diperbuatnya.” (HR. Tabrani)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 7,55 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sukrisno Santoso
Seorang pecinta ilmu. Mengelola blog: www.risalahtarbiyah.blogspot.com dan www.sukrisnosantoso.blogspot.com Seorang guru di SMP IT MUTIARA INSAN SUKOHARJO. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Forum IMTAQ WA ROHMAH Sukoharjo.
  • menur

    khoufff dan rodjaa

  • eko wahyono

    Lebih bagus kalau ayat dan hadits ditulis dengan huruf Arab. Jadi kita yang baca lebih mantab…….. begitu masss!!!!

Lihat Juga

(Video) Kisah Haru Keislaman Gadis Mualaf Asal Perancis