Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dosa yang Terus Mengalir

Dosa yang Terus Mengalir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSebelumnya pembahasan ini telah diuraikan oleh M Lili Nur Aulia di Majalah Tarbawi edisi 277 bab Nasihat Nurani, semoga menjadi ladang pahala bagi Bapak dan insya Allah saya di sini akan lebih menjelaskan tentang karakteristik dosa yang terus mengalir tersebut. Alangkah baiknya pula ilmu yang bermanfaat ini, kita sampaikan kembali sehingga ganjaran yang didapat pun bisa berlipat ganda bahkan mengalir walaupun kita sudah masuk liang lahat. Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Kita mungkin sudah sering mendengar tentang amalan yang pahalanya tidak akan terputus sekalipun ruh yang telah memasuki alam barzakh. Tapi coba kita renungkan kembali, apa yang tersirat di pikiran kita kalau pahala yang terus mengalir itu dibarengi dengan dosa yang terus mengalir pula, ataupun dosa yang berlipat ganda namun pahala yang didapat sama sekali tidak ada. Sungguh ini merupakan peringatan besar buat kita semua untuk kembali bermuhasabah diri dan merenungkan kembali semua amalan yang telah kita persembahkan kepada Allah SWT.

Yang menjadi sebuah pertanyaan besar di benak kita adalah “apakah ada dosa yang bisa mengalir sampai liang lahat? Dosa apakah itu?”. Coba kita sama-sama pahami firman Allah dalam surat Yaasin ayat 12 ini

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Allah mengisyaratkan dalam kata وَآثَارَهُمْ yang berarti “bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. Apa maksud dari “bekas bekas yang mereka tinggalkan?”. Para ulama telah sepakat bahwa seorang manusia yang meninggal dunia akan termasuk dalam 2 kategori sebagai berikut:

  1. Kategori seseorang yang meninggal dunia, kemudian terputus semua amal kebaikan dan keburukannya. Dalam hal ini berarti hanya amal dan perbuatan di dunia yang akan menentukan dirinya apakah masuk surga atau neraka, apakah nikmat kubur ataukah siksa kubur yang ia dapatkan.
  2. Kategori seseorang yang meninggal dunia, tetapi masih tetap mengalir pahala ataupun dosa. Dalam hal ini seseorang bisa mengalami salah satu dari beberapa kategori berikut:
    • Pahala yang terus mengalir, mungkin sudah sering kita dengar tentang 3 amalan yang pahalanya terus mengalir walaupun seorang hamba tersebut sudah masuk alam kubur yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih/ah yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
    • Pahala dan dosa yang terus mengalir, kategori ini akan bergantung pada timbangan amal baik dan buruknya, lebih berat mana antara dosa dan pahalanya.
    • Dosa yang terus mengalir, kategori inilah yang akan kita bahas sebagaimana dalam surat yaasin tadi bahwa ada bekas yang ditinggalkan dari dosa-dosa tersebut.

Allah SWT pernah menjelaskan dalam surah An-Nahl ayat 25 yang artinya “menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”

Rasulullah SAW pernah bersabda “Barang siapa yang melakukan tradisi buruk dalam Islam maka atasnya balasannya dan balasan orang yang melakukan keburukan itu tanpa mengurangi sedikit pun balasan keburukan atas mereka” (HR Muslim).

Imam Abu Hamid pernah berkata pula dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Beruntunglah orang-orang yang apabila ia mati, mati bersama dosa-dosanya. Maka kesengsaraan panjanglah bagi orang yang mati tapi dosa-dosanya tidak mati selama ratusan tahun atau lebih lama dari itu yang membuatnya tersiksa dalam kuburnya” (Ihya Ulumuddin 2/73).

Dari ketiga uraian tersebut sudah dapat kita simpulkan bahwa dosa itu dapat mengalir sebagaimana pahala sampai kita memasuki liang lahat. Tapi dosa apa yang membuat seseorang itu tersiksa dalam kuburnya?

Coba kita pahami kembali hadits Rasulullah SAW dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dosa yang dimaksud adalah membuat tradisi buruk dalam Islam atau yang lebih tepatnya lagi yaitu bid’ah. Namun tentunya bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah yang keluar dari syariat Islam. Lain halnya dengan bid’ah hasanah.

Membuat tradisi buruk dalam Islam ini bukan hanya bid’ah tapi ajaran yang menyimpang dari syariat Islam pun bisa termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai tradisi yang buruk. Ajaran masih bersifat umum, kalau kita melirik dari sifat khususnya ajaran ini bisa dikatakan sebagai ilmu, pelajaran, tulisan, ide, teori, pemikiran, hukum dan masih banyak lagi yang intinya ajaran itu bisa diamalkan oleh orang lain. Bilamana tradisi yang kita sampaikan itu baik atau sesuai dengan syariat Islam maka yang akan kita dapatkan adalah pahala yang tiada putu-putusnya dan apabila tradisi yang kita ajarkan ataupun yang kita sebarkan itu buruk atau menyimpang dari syariat Islam maka dosalah yang akan kita pikul. Bukan dosa kita saja yang akan kita dapatkan tapi dosa seluruh manusia yang mengamalkan dan mengikuti tradisi buruk yang kita sampaikan, na’udzubillahi mindzalik.

Maka dalam forum ini saya ingin mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin wabilkhusus kepada para muballigh, para da’i, para guru, orang tua, para penulis, para motivator dan umumnya kepada seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk kembali bermuhasabah diri, merenungkan kembali ilmu, teori, tulisan, ide, pemikiran dan sebagainya yang pernah kita sampaikan kepada anak didik kita kepada murid-murid kita, boleh jadi ajaran yang kita sampaikan adalah sesuatu yang menyimpang dari syariat Islam. Boleh jadi buku-buku hasil olah pikir kita adalah bid’ah yang jelas-jelas sebagai tradisi buruk dalam Islam. Boleh jadi postingan yang kita kirim ke sebuah situs adalah sebuah pemikiran yang justru jauh dari ajaran Islam. Maka dari itu marilah kita sama-sama saling mengingatkan saling mengoreksi diri, alangkah lebih baiknya sebelum kita mengajarkan ilmu sebelum kita menulis untuk penerbitan buku ataupun yang lainnya, kita cek kembali seluruh ilmu kita, kalaupun itu hadits kita cek sanadnya ataupun seorang motivator periksa kembali teori yang kita sampaikan. Dan kalaupun itu sudah terlanjur kita sampaikan maka segeralah bertaubat dengan taubat yang sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat at Tahrim ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menutupi semua kesalahan (dosa) jikalau hambanya tersebut mau bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya (taubatannasuuha).

Maka sangat jelaslah bahwa maksud Allah dari وَآثَارَهُمْ ini adalah ajaran atau tradisi yang buruk dalam Islam yang pernah kita sampaikan yang membuat dosa itu terus mengalir. Maka dari itu mari kita sama-sama bertaubat karena kita yakin bahwa Allah maha pengampun dan maha pemaaf kepada hamba-hambanya yang selalu memohon dan meminta ampunan dari kasih sayang dari-Nya. Teruslah bermuhasabah agar ilmu yang kita sampaikan adalah ladang pahala yang tiada putus-putusnya bukan dosa yang terus mengalir. Wallahu a’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (130 votes, average: 9,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fauzi Al Masthuri
Aktivitas sehari-hari lebih diutamakan dalam mengulang hafalan Al-Quran (murajaah). Karena mempunyai amanat yang besar yang dititipkan Allah untuk menjaga kemurnian Al-Quran.
  • Dede Fauzi

    syukron jazakallah atas pemuatan artikelnya..semoga menjadi ladang amal bag kita semua amin.. sukses dakwatuna

  • Dede Fauzi

    syukron jazakallah atas pemuatan artikelnya..semoga menjadi ladang amal bag kita semua amin.. sukses dakwatuna

  • erawatisyukur

    semoga menjadi masukan bagi kita bahwa tidak semua yg baik itu benar karena zaman sekarang terlalu bnyk hasil pemikiran seseorang yg mungkin cuma bid’ah tapi ternyata jauh sekali lari dari syariat islam

  • R.M.AMIN

    Bagus pak, Syukron…
    Tapi maaf apakah ada Bid’ah yang baik..???
    Sedangkan nabi SAW bersabda tiap tiap bid’ah adalah Tertolak !
    ALLAH sudah sempurnakan Islam di tangan Rasulullah SAW

  • Dede Fauzi

    Pendapat Ulama Tentang Bidah Hasanah

    Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar hal bid’ah dan
    sunnah. bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak
    harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau
    berlapang dada. Oleh karenanya menjadi penting bagi umat muslim untuk
    mengetahui apakah bid’ah itu, dan bid’ah seperti apa yang boleh
    dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan?
    Menurut para
    ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah
    dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua
    kategori ini adalah:

    1. Imam Syafi’i
    Menurut Imam Syafi’i,
    bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah
    yang mencocoki sunah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunah
    adalah madzmumah.
    Bid’ah hasanah/mahmudah dibagi menjadi dua. Yang
    pertama adalah bid’ah wajib seperti kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an
    pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan pengumpulan hadits ke dalam
    kitab-kitab besar pada zaman sesudahnya.
    Sedangkan bid’ah hasanah yang kedua adalah bid’ah sunah, seperti shalat tarawih 20 rakaat pada zaman khalifah Umar bin Khathab.

    2. Imam al-Baihaqi

    Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghairu
    madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunah, dan
    Ijma’ adalah bid’ah mahmudah atau ghairu madzmumah. Sedangkan bid’ah
    yang tercela (madzmumah) adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar syar’i
    sama sekali.

    3. Imam Nawawi
    Bid’ah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah.

    4. Imam al-Hafidz Ibnu Atsir

    Ibnu Atsir juga membagi Bid’ah menjadi dua; bid’ah yang terdapat
    petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak
    ada petunjuk nash di dalam¬nya.
    Jadi setiap bentuk bid’ah yang
    menyalahi kitab dan sunah adalah tercela dan harus diingkari. Akan
    tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam
    kategoti terpuji.

    Lalu bagaimana dengan hadits

    “Setiap bid’ah adalah sesat”.

    Berikut ini adalah pendapat para ulama’:

    1. Imam Nawawi
    Hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditakhshish (diperinci).

    2. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab

    Hadits di atas adalah dalam kategori ‘am akan tetapi yang dikehendaki
    adalah khash (‘am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits
    tersebut bersifat umum, namun dalam pemaknaannya dibutuhkan
    rincian-rincian.

    Ada sebagian ulama’ yang membagi bid’ah menjadi lima bagian sebagai berikut,

    1. Bid’ah yang wajib dilakukan : contohnya, belajar ilmu nahwu,
    belajar sistematika argumentasi teologi dengan tujuan untuk menunjukkan
    kepada orang-orang atheis dan orang-orang yang ingkar kepada agama
    Islam, dll.
    2. Bid’ah yang mandub (dianjurkan): contohnya, adzan
    menggunakan pengeras suara, mencetak buku-buku ilmiah, membangun
    madrasah, dan lain-lain.
    3. Bid’ah yang mubah : contohnya, membuat hidangan makanan yang berwarna warni, dan sejenisnya.
    4. Bid’ah yang makruh : contohnya, berlebihan dalam menghias mushaf, masjid dan sebagainya.

    5. Bid’ah yang haram: yaitu setiap sesuatu yang baru dalam hal agama
    yang bertentangan dengan keumuman dalil syar’i. misalnya solat isya
    tujuh rekaat dll.

    Yang jelas mencintai, mengikuti, dan
    mempercayai pendapat para Habib (Keturunan Nabi Muhammad saw) lebih
    dapat dipercaya, lebih berkah, dan lebih selamat daripada mempercayai
    seseorang yang baru belajar beberapa hadist lalu mengaku-ngaku menguasai
    dan memahami Al-Quran dan Hadist dan menyesat-nyesatkan yang lain. Yang
    membenci para Habib jangan harap dapat syafaat Nabi Muhammad saw

    sumber islmic motivation

  • Dede Fauzi

    silahkan koleksi buku referensinya

  • anambas

    Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.

    Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !

    Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

    wassalam…..

  • Karyono Abdul Rosyad

    entahlah.. penjelasan mengenai bid,ah dan perbedaan pendapat yang masing2 mempunyai dalilnya membuat saya sebagai orang awam bingung dalam menentukan pilihan mau ikut yg mana.

  • Igen Aja

    sebetulnya .. jika meninggal anak adam .. maka terputus semuanya kecuali 3 … maka dalil آثَارَهُمْ (yang anda jelaskan sebagai dosa yang mengalir terus) apa masih berlaku ? … tapi terimakasih telah mengingatkan .. semoga kita dijauhkan dari bid’ah ..

  • Dede Fauzi

    alhamdulillah syukron jazakallah atas komentarnya semoga alloh merahmati kita semua..saya sangat mengharapkan kritik dan sarannya.agar dengan itu saya dapat menjalani hidup menjadi lebih baik,,saya sebenarnya tidak berani untuk menjelaskan tentang bid’ah karena memang kterbatsan ilmu yang saya miliki..saya takut prtanggungjawaban alloh nanti diakhirat kelak karena memberikan penjelasan dengan ilmu yan seadanya..dan saya takut dengan terbatsnya ilmu yang saya miliki malah menyalahi syariat islam yang ada…belum cukup dengan gelar sarjana agama saja atau pernah belajar di univesitas islam tertentu..karena masalah bid’ah ini sangat memerlukan asupan dan penguasaan ilmu tertentu yang mungkin kita sebagai orang awam belum bisa mencapainya..alangkah lebih baiknya kita serahkan kepada para ulama kita yang sudah banyak memperdalam ilmu agama dan kita juga harus tetap belajar lagi,mengkaji lagi serta banyak2 bertanya kpda ustadz2 dan ulama2 kita..dan masalah bida’h ini kita jangan berbantah2 bantahan dengan orang lain..sedikit2 ini bid’ah sedikit2 ini sesat..alangkah lebih baiknya kita kaji dulu..para ulama tidak semata2 menganggap bid’ah hasanahh itu ada..mereka sebelmunya mengkaji dulu dari semua sumber islam..barulah mereka menetapkan..dan penetepan itu diserati dengan niat yang baik dan tawakal kpd alloh tidak ada campur tangan hawa nafsu semuanya utk kepentingan ummat…apa yang tersirat didalam pikiran jika bid’ah hasanah ini tidak ada..kemungkinan kita tidak boleh adzan dengn speaker,kita tidak boleh menentukan waktu sholat dengan jam dinding,kita tidak boleh sholat pakai karpet atau sajadah,kita juga tidak boleh baca quran dengan mushaf dsb karena memang tidak ada contoh dari rosul..nah mari kita renungkan kembali tentang bid’ah ini..kalaupun bid’ah ni melanggar syari’at maka sudah pasti itu sesat tpi kalau bid’ah ini menjadikan syiar islam ini lebih baik,lebih tertata,lebih rapi,lebih menarik,yang intinya lebih sempurna sehingga syiar ini mampu membuka hidayah..kenapa enggak kita jadikan bid’ah hasanah…dan yang harus digaris bawahi disini adalah cakupan ilmu yang kita miliki..saya juga masih harus banyak2 belajar lagi..karena jujur saya masih dalam belajar..kalaupun ada unek2 atau pertanyaan seputar pembahsab ini silahkan bisa ditanyakan kepada bapak m lili nur aulia, karena artikel ini pernah disampaikan beliau di majalah tarbawi edisi 277..hati2 dengan bid’ah yang skarang sedang berkembang di indonesia yaitu ajaran2 sesat yang harus kita jauhi dan kita waspadai..mereka akan memporakporandakan aqidah kita,,kuatkanlah iman dan islam kita,,dan tetaplah berpegang teguh dalam keyakinan dan aqidah kita,kita jangan terkecoh dengan pemikiran dan logika mereka..semoga alloh menjga kita semua,,,amin,,wallahua’lambishshowab..

    • Sab Durrahmank

      karpet, jam, speaker bukan urusan ibadah, tapi ururusan dunia (mu’amalah) jadi bukan bid’ah,,,,,bid’ah itu urusan dengan agama/ibadah madlah….contohnya anda jawab sendiri…..karena saya yakin anda tahu karena banyak tersebar di sekitar kita ibadah2 tambahan yang tidak pernah dituntun oleh Nabi kita Muhammad SAW

      • Heri Setia Budi

        setuju

  • Abah Tutup Lawang Sigotaka

    … bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah yang keluar dari syariat Islam. Lain halnya dengan bid’ah hasanah.

    Bid’ah hasanah itu yang bagaimana ?? contohnya ??

    Setau saya bid’ah itu hanya ada dalam urusan agama/ibadah mahdlah, sedangkan dalam mu’amalah tidak ada bid’ah. semua bid’ah itu sesat, karena itu berarti menambah sesuatu yang sudah sempurna… yang perlu diingat, Rasulullah diutus salah satunya sebagai penyempurna syari’at sebelumnya, jadi tak perlu lagi ditambah..

    wallahu a’lam

  • Abah Tutup Lawang Sigotaka

    … bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah yang keluar dari syariat Islam. Lain halnya dengan bid’ah hasanah.

    Bid’ah hasanah itu yang bagaimana ?? contohnya ??

    Setau saya bid’ah itu hanya ada dalam urusan agama/ibadah mahdlah, sedangkan dalam mu’amalah tidak ada bid’ah. semua bid’ah itu sesat, karena itu berarti menambah sesuatu yang sudah sempurna… yang perlu diingat, Rasulullah diutus salah satunya sebagai penyempurna syari’at sebelumnya, jadi tak perlu lagi ditambah..

    wallahu a’lam

  • Evi Eca

    enggak ngerti?

  • Evi Eca

    enggak ngerti?

  • ahmad

    alhamdulillah…

  • Wisnuwardhana

    lagi2 masalah bid`ah ya ?
    menurut paham saya, sesuatu yg buruk pasti juga mengandung kebaikan, bagitu pula sebaliknya.
    karna di setiap warna hitam pasti ada warna putih walau hanya setitik, begitu pula dengan warna putih, pasti ada warna hitam walaupun cuma setitik..
    jd saya pikir. ambil saja hikmah dari setiap kejadian yang ada..
    yang menurut anda semua baik ya silahkan di teruskan, tapi bila menurut anda itu sebuah keburukan sebaiknya di ulang, bukan di ulang buruknya tapi di ulang untuk segera di perbaiki. jangan di tinggalkan begitu saja. bukanya setiap kebaikan pasti di catat sebagai amal baik ya ?
    jadi bila meluruskan kekeliruan yang ada, insha`allah itu akan menjadi amal jariah.

    cuma itu saja komentar saya tentang bid`ah, semoga kalian semua mendapatkan hidayah atas forum ine. Amin Y.R.A

  • Novi Harianto Masan

    wahabi

    • Dede Fauzi

      astagpirulloh ukhti…

  • Ipoel

    Tulisan yang bagus…tentu jangan dipahami dengan hati yg tertutup dan dimaknai secara sempit. kata kuncinya adalah “muhasabah” jangan di bawa kepada “perbedaan pendapat yg berujung perpecahan”. Kedepankan toleransi dan ukhuwah islamiah..kalau dengan agama lain saja bisa, kenapa dengan sesama muslim yg ketauhidannya sama kok ..terpecah. sekali lagi …lupakan perpecahan, kedepankan persatuan…bila tidak ingin menjadi buih di lautan dan terhina… (seperti saat ini). Mulailah dari diri sendiri, keluarga..kerabat dan seterusnya..semoga Allah SWT meridloi niat baik dan tulus kita untuk mewujudkan Islam menjadi rohmatan lil’alaamin (tak terkecuali kaum muslimin sendiri)..aamiin

    • Dede Fauzi

      mantap..setuju banget

  • Roy Sari Milda Siregar

    Bagaimana bila begini, seorang aktor yang berperan di film2 yang tidak laik (mungkin disebabkan karena film yang berisi pesan ‘sesat’ atau membuka aurat), tetapi kemudian dia bertaubat dan meninggal dunia. Tetapi, film2nya masih terus diputar berulang-ulang. Bukankah di luar kuasa dia sehingga hal tersebut terjadi?

    • Dede Fauzi

      wallahua’lam ukhti..ayo kita sama mendalami alquran kembali surat at tahrim ayat 8..baca juga tafsirnya..ya..

      • Aziz

        ooke mas ustadz alim

  • Dede Fauzi

    akhi dan ukhti yang dirahmati..mari kita sama2 belajar berpendapat dengan merujuk kepada alquran dan assunnah …Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berfirman : “Apabila kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Quran dan As-sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (balasannya)”. (Q.S. An Nisaa’ : 59)..Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shollalahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga,).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

  • Dede Fauzi

    jangan ketika berpendapat ” menurut pendapat saya”..”kata ustad saya”..”menurut pemikiran saya”..”setahu saya”..dan masih banyak lagi..alangkah lebih baiknya kita cantumkan sumbernya..atau kalau kata ustad,sebutkan buku yang dibacanya..karena ingat akhi..akal dan pikiran kita terbatas..cukuplah kita ucapkan wallahua’alam dan jangan memaksakan diri kalau memang kita tidak tahu..itu lebih baik dari pada kita memaksakan diri hingga akhirnya kita berbohong naudzubillah..jangan kita seperti orang syiah yang selalu mengajarkan tadzkiyyah (berbohong) dan hanya memakai akal pikiran mereka..ingat akhi “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. ( QS. Ali Imran : 103 )

  • syukranibnuabdurrahim

    Subhannalloh ,,, smeoga ALLAH Mengampuni dosa yang

    kita lakukan yang sengaja atau pun tidk di sengaja..tafi sekarang bayank perdebatan di antara ummat islam, Perbedaan adalah Rahmat ,tetapi terkadang perbedaan selisih paham sering membuat perpecahan

Lihat Juga

(Dasar!) Sok Tahu