Home / Pemuda / Cerpen / Orang Miskin Boleh Kuliah

Orang Miskin Boleh Kuliah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Ruang kuliah. (cs.ui.ac.id)
Ilustrasi – Ruang kuliah. (cs.ui.ac.id)

dakwatuna.com Aku tidak pernah memimpikan untuk kuliah. Keluarga saya adalah keluarga miskin. Hidup di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo yang sebagian besar wilayahnya berupa tanah pertanian. Sebagian besar penduduk di kampungku adalah petani. Termasuk kedua orang tuaku.

Kakekku adalah seorang petani yang mempunyai beberapa petak sawah, sedangkan orang tuaku tidak mempunyai sepetak sawah pun. Baru di kemudian hari kakekku mewariskan tanah sawahnya kepada ahli warisnya, termasuk ayahku. Selain membantu mengerjakan sawah kakekku, orang tuaku juga menggarap sawah dengan system beli kontrak. Biasanya beli kontrak satu tahun atau beberapa tahun dari orang yang mempunyai sawah yang luas. Tentu penghasilan dari menggarap sawah beli kontrak lebih rendah jika dibandingkan menggarap sawah sendiri.

Biaya di SD tidak terlalu besar sehingga tidak membebani orang tuaku. Sewaktu SD aku termasuk siswa yang pintar. Sering menduduki peringkat satu di kelas. Namun, tidak ada beasiswa untuk prestasi itu. Barulah ketika EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) –sekarang namanya Ujian Nasional– pihak sekolah memberikan hadiah kepadaku berupa beberapa perlengkapan sekolah karena nilai EBTA-ku menduduki peringkat keempat di sekolah.

Aku dari keluarga miskin. Dahulu aku pernah meminta dibelikan sepeda saat masuk SMP. Namun, hal itu tidak pernah dikabulkan oleh orang tuaku. Aku pun harus rela memakai sepeda kakakku yang pernah dipakainya sekolah dulu. Biaya di SMP lebih besar daripada di SD dulu sehingga ayahku pernah datang ke sekolah untuk meminta keringanan dari pihak sekolah. Ayahku mengajukan beasiswa agar tidak terlalu berat membiayai sekolahku. Namun, sepertinya aku tidak berjodoh dengan yang namanya beasiswa. Dengan segala jerih payah, akhirnya orang tuaku pun bisa meluluskan aku.

Sebenarnya sewaktu di SMP prestasi akademikku agak menonjol. Meskipun tidak bisa menduduki peringkat tiga besar, teman-temanku banyak yang meminta bantuan kepadaku jika ada kesulitan memahami pelajaran. Bahkan, saat ujian pun aku menjadi tumpuan harapan bagi mereka. Mungkin karena baik hati dan tidak sombong serta suka menabung (hehe…) sehingga aku mau membantu mereka.

Saat itu aku tidak menganggap penting sebuah nilai. Apalah arti peringkat akademik. Apalah arti angka-angka di raport. Angka yang tinggi dan peringkat tiga besar pun kita tetap membayar biaya sekolah yang sama. Maka, kegairahanku terhadap kegiatan belajar di sekolah mulai berkurang.

Aku mulai berani beralasan sakit agar tidak mengikuti suatu pelajaran yang membosankan. Aku mulai berani membolos. Saat malas berangkat sekolah, aku membolos. Saat pelajarannya sulit dan aku tidak suka mengikutinya, aku membolos. Saat bangun kesiangan, aku membolos. Saat tidak mau mengikuti upacara hari Senin, aku membolos. Rata-rata aku membolos satu minggu sekali. Meskipun begitu, peringkat akademik di kelas aku tetap menduduki sepuluh besar. Dan teman-temanku tetap mengandalkanku saat ada PR atau saat ujian.

Aku adalah orang yang malas belajar di sekolah. Perasaan malas belajar itu sudah berada pada titik didihnya. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan belajar di sekolah. Setelah lulus SMP, tanpa berpikir panjang aku pun melabuhkan langkahku di SMK. Memang ada pilihan untuk masuk ke SMA. Namun, dengan masuk SMA tentu setidaknya aku harus melanjutkan kuliah. Bukankah sulit mencari pekerjaan dengan bermodalkan ijazah SMA.

Aku sadar diri dengan kondisi ekonomi keluargaku. Aku tidak akan kuliah. Lagi pula, aku sudah tidak betah berlama-lama duduk di bangku belajar. SMK adalah pilihan yang tepat. Setelah lulus SMK aku bisa langsung bekerja. Setidaknya lulusan SMK lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada lulusan SMA.

Meskipun saat SMK kebiasaan membolosku sudah berkurang, aku masih saja malas belajar. Untungnya, di SMK pelajaran praktek mempunyai porsi yang besar sehingga aku tidak terlalu dibosankan dengan pelajaran teori di dalam kelas. Prestasi akademikku pun tidak terlalu mengecewakan. Sekali lagi, aku memang tidak menduduki peringkat tiga besar, namun banyak teman-temanku yang mengharapkan uluran tanganku saat ada PR atau saat ujian.

Saat itu aku baru menyadari bahwa dengan nilai raport yang bagus dan menjadi peringkat satu di kelas bisa mendatangkan keuntungan. Teman-temanku yang pintar mendapat beasiswa dari sekolah. Aku sendiri tahu sebagian dari mereka termasuk dari keluarga yang mampu. Mereka mendapatkan beasiswa karena prestasinya. Sebenarnya aku juga ingin mendapatkan beasiswa, namun kesadaranku untuk hal itu sudah terlambat karena sudah kelas tiga dan mendekati Ujian Nasional.

Suatu pagi saat matahari hendak beranjak naik, aku datang ke kantor piket untuk meminta surat izin tidak mengikuti pelajaran karena sakit. Aku sedang tidak benar-benar sakit, hanya pura-pura sakit agar aku bisa pulang karena aku merasa malas sekali waktu itu. Aku ingat waktu itu pelajaran Fisika. Salah satu pelajaran yang menjadi musuh bebuyutanku. Saat SMP aku juga pernah pura-pura sakit sehingga minta izin istirahat di UKS sewaktu pelajaran Fisika.

Aku mendatangi kantor piket dan mengajukan izin untuk tidak mengikuti pelajaran. Namun, sepertinya aku tidak pandai berakting sebagai orang sakit. Yang menulis surat izin di kantor piket saat itu adalah seorang guru wanita. Dia tidak percaya kalau aku sakit –aku memang tidak sakit, kan. Ia pun menasihatiku habis-habisan tentang kedisiplinan, pentingnya rajin belajar, dan bla bla bla. Rasanya pedas sekali dan menohok ke dalam hati.

Guru piket itu mengatakan bahwa dalam dunia kerja itu yang dibutuhkan adalah kedisiplinan. Begitu juga di sekolah. Aku tidak akan menjadi orang pandai kalau tidak disiplin dan tidak rajin belajar. Bahkan, mungkin saja aku tidak akan lulus Ujian Nasional kalau sikapku masih seperti itu. Dicerca habis-habisan seperti itu aku berteriak akan kubuktikan bahwa aku bisa lulus Ujian Nasional dengan nilai terbaik. Tentu teriakan itu hanya bergema dalam hatiku saja.

Setelah selesai memberi wejangan yang pedas kepadaku, guru piket itu pun menulis surat izin dan memberikannya kepadaku. Meminta surat izin saja mesti melewati hal seperti itu. Saat aku berikan surat izin kepada guru Fisika –saat itu guru Fisikanya seorang wanita yang masih agak muda– guru itupun menyindirku dengan kata-kata, “Orang sakit kok wajahnya tetap cerah begitu”. Sekali lagi, aku tidak pandai berakting. Namun, tetap saja aku diperbolehkan pulang.

Begitulah kondisiku sewaktu SMK. Tekadku untuk lulus Ujian Nasional dengan nilai terbaik tetap membara. Saat mendekati Ujian Nasional, aku pun belajar sungguh-sungguh. Lalu Ujian Nasional aku lewati dengan lancar. Biasa-biasa saja. Beberapa hari setelah Ujian Nasional aku bersama teman-temanku langsung berangkat ke Bekasi untuk bekerja di sebuah perusahaan besar. Jadi, aku tidak tahu dengan hasil Ujian Nasional. Bisa dibilang, aku sudah mulai bekerja meski belum lulus dari SMK.

Saat itu aku sedang mengoperasikan sebuah mesin di departemen tempatku bekerja sewaktu nilai Ujian Nasional diumumkan. Jadi, aku tidak tahu siapa yang lulus, siapa yang tidak lulus, siapa mendapat nilai berapa, dan berapa nilaiku. Baru di hari setelahnya seorang temanku memberikan kabar bahwa aku menduduki peringkat kedua di sekolah. Dan satu hal lagi, aku mendapat nilai 10 untuk pelajaran Matematika. Siswa yang mendapat peringkat lima besar dan siswa yang mendapat nilai 10 dipanggil maju saat acara Perpisahan. Hadiahnya berupa beberapa peralatan sekolah dan uang pembayaran SPP selama tiga tahun dikembalikan serta dikalungkan selembar selendang.

Semua itu diceritakan oleh temanku. Saat itu aku beberapa bulan kerja di perusahaan sehingga tidak menghadiri acara Perpisahan. Juga tidak bisa tampil maju untuk diberikan penghargaan. Aku membayangkan tentu orang tuaku sangat bangga jika mereka dan aku bisa hadir dalam acara itu. Aku juga tidak bisa mengambil ijazah. Baru setahun kemudian aku pulang kampung dan mengambil ijazah di sekolah. Soal pengembalian uang SPP selama tiga tahun tadi, aku meminta temanku untuk mengurusnya dan memberikannya kepada orang tuaku.

Dua tahun aku bekerja di perusahaan. Kemudian pulang kampung dan mendirikan toko perlengkapan sekolah di daerahku. Saat itu kondisi ekonomi keluargaku masih di bawah angka kesejahteraan. Maka, perasaan kagetlah saat aku mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku akan kuliah. Tentu pikiran mereka bertanya-tanya, dari mana biayanya.

Aku jelaskan bahwa untuk uang masuk kuliah, aku akan menjual sepeda motorku yang dulu aku beli dari hasil kerjaku. Untuk uang SPP nanti akan diusahakan bersama-sama. Untuk uang kebutuhan sehari-hari aku berjanji tidak akan meminta kepada orang tua. Kalau dihitung-hitung kebutuhan sehari-hari untuk kuliah itu juga besar. Seperti untuk membeli kertas atau untuk print tugas. Juga untuk biaya transportasi sehari-hari, untuk iuran kalau ada tugas, dan lain-lain.

Pada awal-awal kuliah memang terasa berat. Rasa-rasanya aku tidak ditakdirkan untuk bisa menyelesaikan kuliah. SPP yang besar membuat aku dan keluargaku kewalahan. Beberapa kali aku meminjam uang kepada temanku untuk membayar kuliah. Rasanya aku tidak bisa melanjutkan lagi. Biaya kuliah terlalu besar bagiku dan keluargaku.

Sebenarnya pada semester tiga aku pernah mengajukan beasiswa PPA. Beasiswa PPA adalah beasiswa untuk mahasiswa berprestasi. Aku sangat mengharapkan untuk mendapatkannya. Nilai IP-ku semester 1 yaitu 3,8 (lumayan tinggi, kan). Aku juga aktif di organisasi kampus. Dengan bekal itu seharusnya aku bisa mendapatkan beasiswa. Namun, saat pengumuman penerima beasiswa PPA ditempelkan, namaku tidak tercantum di sana. Kecewa.

Hatiku menyimpan keheranan mengapa aku tidak mendapatkan beasiswa. Dengan nilai IP setinggi itu mestinya aku termasuk mahasiswa yang mendapatkan beasiswa itu karena beasiswa PPA memang diperuntukkan untuk mahasiswa dengan prestasi akademik yang baik. Aku bertambah heran ketika mengetahui bahwa temanku yang nilai IP-nya lebih rendah dariku malah mendapatkan beasiswa. Saat itu aku merasa hal itu tidak adil.

Saat semester lima aku kembali mengajukan beasiswa. Kali ini beasiswa BBM. Aku sudah kecewa dengan beasiswa PPA sehingga aku beralih ke beasiswa BBM. Beasiswa BBM diperuntukkan untuk mahasiswa yang keluarganya tidak mampu secara ekonomi. Seharusnya aku pantas mendapatkan beasiswa ini. Aku sangat membutuhkannya. Apalagi saat itu panen padi tidak terlalu bisa diharapkan karena ada serangan hama sehingga banyak petani yang merugi, termasuk orang tuaku.

Aku menunggu pengumuman beasiswa BBM dengan harap-harap cemas. Aku harus mendapatkannya. Aku dan keluargaku sudah tidak kuat lagi menanggung biaya kuliah. Aku harus merasa kecewa lagi saat membaca pengumuman para penerima beasiswa. Namaku tidak ada. Kecewa lagi.

Yang membuatku semakin bertambah kecewa yaitu ada teman-temanku yang aku tahu bahwa keluarga mereka mampu, tetapi mereka mendapatkan beasiswa. Bahkan, ada yang orang tuanya PNS, tapi mahasiswa itu mendapatkan beasiswa. Kembali aku merasa tidak mempunyai alasan untuk mencintai system pendidikan.

Perasaan kecewa itu tidak bertahan lama. Aku berusaha untuk bersikap lapang dada dan berpikiran jernih. Tidak sepantasnya aku berprasangka buruk terhadap sistem penyeleksian beasiswa. Bukankah takdir manusia itu sudah ditentukan. Bukan rezeki manusia itu sudah tertulis. Orang-orang yang mendapatkan beasiswa itu adalah takdir mereka untuk mendapatkannya. Dan mungkin saja aku tidak mengetahui kriteria penentuan penerima beasiswa. Bukankah sudah menjadi hak panitia penyeleksi untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkannya. Aku pun mulai tenang. Aku mulai tidak mengharapkan beasiswa lagi.

Inilah jalan yang ditunjukkan kepadaku. Meskipun terasa berat, jalan ini aku lalui selangkah demi selangkah. Ketiadaan beasiswa membuat beban kuliah semakin berat. Apalagi orang tuaku juga mengatakan bahwa panen padi sudah tidak bisa diharapkan lagi karena serangan hama semakin merajalela.

Dalam sebuah kesulitan selalu ada beberapa kemudahan. Jika saat itu aku menyerah mungkin saja aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan kuliahku. Namun, aku sudah bertekad untuk berjuang. Aku tidak akan mengandalkan orang tuaku. Aku tidak akan mengandalkan bantuan orang lain. Aku tidak akan mengandalkan beasiswa. Aku akan mengandalkan diriku sendiri.

Aku mulai semakin bersemangat dalam mencari rezeki. Aku menjual buku, menjual, menjual pulsa, menjual makanan kecil. Saat itu aku sudah menutup toko perlengkapan sekolah milikku karena aku tidak mempunyai waktu untuk mengelolanya. Hasilnya pun juga tidak terlalu besar. Lalu aku pun mulai merintis usaha percetakan dengan nama AUF DESAIN.

Inilah jalan yang ditunjukkan kepadaku. Aku mulai menapaki jalan bersama AUF DESAIN. Dengan menerima orderan berupa pamflet, sertifikat, stiker, bloknote, undangan pernikahan, dan lainnya, aku mengais rezeki sedikit demi sedikit. Ketidakmampuan dalam ekonomi mendorongku untuk semakin kukuh dalam berjuang untuk mendapatkan rezeki agar aku bisa menyelesaikan kuliah.

Selangkah demi selangkah akhirnya aku berhasil menapaki sisa semester yang harus aku tempuh. Hingga akhirnya penyusunan skripsi dan pendaftaran wisuda. Aku melangkah dan melihat ke belakang. Inilah jalanku. Inilah kehidupanku. Maka aku bersyukur kepada Tuhan atas karunianya.

Aku orang miskin.

Aku bisa kuliah.

Orang miskin bisa kuliah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sukrisno Santoso
Seorang pecinta ilmu. Mengelola blog: www.risalahtarbiyah.blogspot.com dan www.sukrisnosantoso.blogspot.com Seorang guru di SMP IT MUTIARA INSAN SUKOHARJO. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Forum IMTAQ WA ROHMAH Sukoharjo.
  • Zulfayumna Athaillah

    Untuk menceritakan diri sendiri, mau pakai ‘aku’ atau ‘saya’?

    Baiknya 1 aja…
    Supaya yang baca nggak bingung… :D

Lihat Juga

Jangan Ragu Menggambarkan Cita-Cita