Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merefleksikan Kebaikan di Jejaring Sosial

Merefleksikan Kebaikan di Jejaring Sosial

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sekarang ini kita sudah mendapat berjuta kemudahan dalam sekejap, seumpama ilmu magic zaman dahulu kala, semua yang kita butuhkan dapat kita dapatkan dengan sekejap… dengan hanya memainkan jari-jari kita, di hadapan dunia internet.

Begitulah berjalannya dunia maya. Seakan tak nyata dan tak mungkin, tapi niscaya dan nyata kemudian.

Seketika dunia yang sulit kita lampaui, seperti mencari gambaran bagaimana situasi Palestina saat ini, hingga kutub utara pun dapat kita saksikan situasi aktualnya.

Demikian pula dari sisi kita. Sekarang ini seakan tiada lagi sisi tertutup dari diri kita. Karena yang pemalu dan pendiam pun seketika mampu mengungkapkan situasi hatinya melalui status di jaring sosialnya. Tak khayal, bahkan dapat diakses oleh siapapun di belahan dunia lain. Dalam sekejap.

Maka tak hanya pejabat dan artis, kita pun seketika bisa menjadi penting, dengan publikasi kata-kata kita, sebebas-bebasnya. Semakin disukai atau diberi jempol, bahkan hingga dikomentari ini itu, maka semakin ‘berarti’ wujud kita di dunia sosial yang kita masuki. Namun benarkah selalu begitu adanya?

Hinggakah kita lupa akan nilai nurani? Bahwa apa yang kita tuliskan maka itulah yang akan orang terima energinya… Maka apa yang kita tuang, itulah yang akan kita reguk nantinya, maka bila kebaikan yang kita tulis, maka refleksi kebaikan akan diterima seseorang yang membacanya, sebagaimana energi positif yang kita tularkan dalam kata kata bahkan gambar..

Maka masih perlukah menyampaikan kata-kata yang sia-sia, yang sekadar untuk menyampaikan isi hati agar tidak pecah semata di dalam hati? Ataukah itu keinginan kita sesungguhnya agar seseorang di dunia maya merasakan kesusahan yang kita rasakan? Padahal Allah SWT dalam sabda-Nya telah menyampaikan, bahwa cobaan diberikan sesuai dengan kadarnya, maka bersabarlah wahai orang-orang beriman…

Ataukah kita yang suka berburu berita lalu seakan gagap mentransfer kesimpulan pribadi di dunia jaring sosial kita? Meski semua berita tak melulu berupa fakta, namun bisa pula berupa opini yang hiperbolis, dan mengundang su’udzon dan fitnah..?

Ataukah kita yang masih suka berbicara dengan untaian kata yang menyinggung seseorang, namun mengemasnya dengan ‘tanpa nama’, lalu kemudian merefleksikan komentar sosial yang penuh tanda tanya akan kemisteriusan kita?

Bergeraklah atas nama kebaikan, namun berpikirlah sebelum kita memilih untuk mengirimnya, lalu kemudian seluruh teman dalam jaringan sosial kita, bahkan hingga seluruh dunia tahu, akan rumor yang kita tulis, akan gubahan hati yang ingin kita sampaikan, atau sekadar kata-kata penghibur hati, sebatas kemampuan, tanpa memilah kebaikan yang ingin kita sampaikan.

Ingatlah bagaimana para Nabi dan orang-orang shalih dulu menimba ilmu dan menebar kebaikan. Bermil-mil jauhnya, namun mereka tak pernah mengeluh lalu berhenti.

Namun kita yang telah diberi kemudahan masa kini bernama teknologi, kini memakainya atas nama hiburan, iseng, curhat, hingga sia-sia yang melenakan hingga menebar su’uzhan hingga fitnah…? Semoga kita bukan di antaranya. Tapi mari kita mengubahnya. Bersama!

Sekarang hingga nanti, torehkan kebaikan, meski hanya satu kata. …

Satu kata positif,
Tularkan beribu kebaikan

Atau diam,
menjaga konsistensi keshalihan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Komisi I DPR RI: Pemblokiran 11 Situs oleh Kominfo Bisa Memanaskan Suasana